
𝗕𝗘𝗥𝗦𝗔𝗠𝗔 𝗧𝗔𝗞 𝗛𝗔𝗥𝗨𝗦 𝗦𝗘𝗟𝗔𝗟𝗨 𝗦𝗔𝗠𝗔
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Tidak pernah kaum muslimin mengalami masa di mana mereka begitu membutuhkan solusi dan obat atas berbagai macam problem dan penyakit yang sedang menimpa seperti keadaan mereka hari ini.
Di mana berbagai persoalan dalam segala lini kehidupan umat datang silih berganti, kian menumpuk, sementara modal dasar yang diperlukan untuk menghadapinya, yaitu persatuan dan kekuatan barisan umat tak kunjung terwujud.
Hal itu karena musuh-musuh Islam telah memanfaatkan perpecahan dan retaknya hubungan di tengah umat sebagai celah untuk terus melemahkan mereka.
Banyaknya penderitaan yang menimpa umat ini telah mencapai tingkat yang hampir membuat mereka kehilangan sensitivitas terhadapnya. Hidup dengan berdampingan dengan berbagai luka yang menganga dan musibah itu seakan telah menjadi kenyataan yang biasa, telah mematikan sensitivitas, sebagaimana seorang penderita penyakit kronis yang lambat laun terbiasa dengan rasa sakit yang dideritanya.
Namun, ada kalanya sebagian musibah yang menghantam dan melampaui ambang penderitaan yang biasa dirasakan manusia sedikit menggugah kesadaran itu. Pada saat itulah muncul seseorang yang berseru penuh kepedihan: "Seandainya kita bersatu, tentu kita tidak akan sampai pada kondisi kehinaan dan keterpurukan seperti sekarang ini!"
Seruan semacam ini belakangan terus berulang dan semakin menguat, hingga melahirkan berbagai konferensi, forum, dan pertemuan yang bertujuan mendekatkan berbagai arus pemikiran, kelompok dan bagian-bagian umat ini untuk kembali menyatu, menjadi tubuh yang satu, tubuh umat Islam.
Harapannya adalah tercapai kesepakatan dalam persoalan-persoalan yang diperselisihkan, dengan anggapan bahwa kesepakatan tersebut merupakan syarat utama bagi terwujudnya persatuan umat.
Akan tetapi, tidak sedikit dari upaya tersebut berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Masing-masing pihak tetap bertahan pada pendapatnya, sementara perbedaan yang ada justru semakin mempertajam jarak di antara mereka. Bahkan terkadang pertemuan yang semula dimaksudkan untuk mendekatkan hati justru berakhir dengan ketegangan yang lebih besar daripada sebelumnya.
Apakah perbedaan merupakan ketentuan Allah yang melekat pada tabiat manusia sehingga tidak mungkin dihilangkan? Ataukah perbedaan hanyalah sesuatu yang datang kemudian, sementara keadaan asal manusia adalah kesepakatan dan keseragaman?
Dan apakah umat Islam pada masa kejayaan dan kemuliaannya dahulu benar-benar bersatu dalam segala hal tanpa adanya perbedaan sedikit pun?
Tulisan-tulisan kami berikut ini berusaha memberikan sedikit penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kerangka pembahasan tentang persatuan umat.
Bersama tak harus selalu sama
https://astofficial.id/contents/809/bersama-tak-harus-selalu-sama
Pentingnya mengetahui masalah khilafiyah
https://astofficial.id/contents/214/pentingnya-mengetahui-fiqih-perbedaan
Perbedaan pendapat dan adabnya bagian I
https://astofficial.id/contents/768/hakikat-perbedaan-pendapat-dan-cara-menyikapinya-i
Perbedaan pendapat dan adabnya bagian II
https://astofficial.id/contents/773/perbedaan-pendapat-dan-adabnya-bagian-ii
Perbedaan pendapat dan adabnya bagian III
https://astofficial.id/contents/775/perbedaan-pendapat-dan-adabnya-bagian-iii
Perbedaan pendapat dan adabnya bagian IV
https://astofficial.id/contents/778/perbedaan-pendapat-dan-adabnya-bagian-iv
Pentingnya inshaf terhadap masalah khilafiyah
https://astofficial.id/contents/793/pentingnya-sikap-inshaf-objektif
Inshaf dalam menilai dan menghukumi bagian I
https://astofficial.id/contents/787/inshaf-dalam-menilai-dan-menghukumi-bagian-i
Inshaf dalam menilai dan menghukumi bagian II
https://astofficial.id/contents/788/inshaf-dalam-menilai-dan-menghukumi-bagian-ii
Inshaf dalam menilai dan menghukumi bagian III
https://astofficial.id/contents/789/inshaf-dalam-menilai-dan-menghukumi-bagian-iii
Lalu bagaimana lagi bila kepada sesama muslim?
https://astofficial.id/contents/792/lalu-bagaimana-lagi-bila-kepada-sesama-muslim
Semoga bermanfaat.
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq