
Salaf vs Wahabi
Apa arti Salaf?
Karena Wahabi pun banyak yg tak paham arti Salaf.
Secara bahasa, Salaf artinya pendahulu.
Di dalam Islam, Salaf artinya Pendahulu kita dalam Islam ini.
Siapa saja mereka?
1 Rasulullah SAW
2 Sahabat Rasulullah SAW
3 Tabiin (Generasi setelah Sahabat Rasulullah SAW)
4 Tabiut Tabiin (Generasi setelah Sahabat Rasulullah SAW)
Sahabat, artinya mereka yg pernah bertemu Rasulullah SAW secara langsung
Tabiin, mereka bertemu para Sahabat, tetapi tidak pernah bertemu Rasulullah SAW secara langsung
Tabiut Tabiin, mereka bertemu Tabiin, tetapi tidak pernah bertemu Sahabat, terlebih Rasulullah SAW
Jadi jika disebut Salaf, atau Salafusshalih, maksudnya adalah 3 Golongan diatas
Tapi tidak sedikit Wahabi yg tidak paham definisi salaf.
Dari mereka ada yg mengatakan bahwa Syekh Albani, bin Baz, Utsaimin, Muhammad bin Abdul wahab sebagai ulama Salaf.
Itu konyol. Bagaimana mungkin itu bisa?
Untuk dikategorikan Salaf, seseorang minimal harus tergolong Tabiut Tabiin.
Kapan era Tabiut Tabiin berakhir?
Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa pergantian generasi ini tidak terjadi secara serentak dalam satu tahun mutlak, melainkan berupa masa transisi (tadaakhul).
Oleh karena itu, predikat "Tabi'ut Tabi'in terakhir" secara kolektif disematkan kepada para ulama ahli hadis khibar (besar) yang wafat antara tahun 240 H hingga kurun 260 H.
Ada banyak nama disitu, ada Imam Al-Bukhari (256 H), Imam Muslim (261 H), Abu Khubayb bin al-Barki (Wafat 249 H), Bisyr bin al-Hakam (Wafat 238 H), Ahmad bin Hanbal (Wafat 241 H), Al-Hasan bin Arafeh al-Abdi al-Baghdadi (Wafat 257 Hijriah).
Setelah seluruh Tabiut Tabiin berakhir, wafat semua, maka era Salaf dianggap telah berakhir.
Siapa pun yang hidup setelah kurun abad ke-3 Hijriah secara otomatis berada di era Khalaf.
Seseorang atau sebuah kelompok di masa kini tidak bisa mengklaim bahwa diri mereka adalah "Salaf", kecuali jika dia punya pintu ajaib doraemon. Melewati lorong waktu.
Secara fisik, geografis, dan zaman, tidak ada satu pun ulama Wahabi yang dapat dikategorikan Salaf.
Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1703 Masehi.
Jika dihitung dari awal masa Salaf (masa Nabi Muhammad dan Sahabat pada abad ke-7 Masehi), maka jarak rentang waktunya mencapai lebih dari 1.000 tahun.
---------------------
Kenapa Wahabi mengklaim Salafi? Karena mereka mengklaim, bahwa mereka adalah kelompok yang paling sesuai dengan cara para Salaf di muka bumi.
Itu sebabnya mereka menamakan diri mereka Salafi.
Salafi diartikan pengikut Salaf.
Meski sebenarnya ini tidak lebih dari pengakuan sepihak saja.
Adapun Asy'ariyyah dan 4 mazhab fiqih Ahlussunah wal Jamaah, bagi mereka sudah menyimpang dari para Salaf.
Tetapi 90% kitab rujukan utama mereka untuk mengetahui siapa itu Salaf adalah karya ulama Asy'ariyyah dan ulama bermadzhab fiqih.
Karena mereka tidak pernah bertemu salaf, mereka lahir ribuan tahun setelahnya.
Faktanya, mereka tidak sedang mengikuti Salaf secara utuh, melainkan mengikuti Salaf yang telah disaring, ditafsirkan, dan didefinisikan ulang oleh Ibnu Taimiyyah (Wafat 728 H) dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab (Wafat 1206 H).
Jika pendapat Salaf asli seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Malik tidak sejalan dengan pemahaman ulama2 mereka, mereka akan meninggalkan pendapat Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Malik, dan lebih memilih pendapat Ibnu Taimiyyah, Albani, bin Baz, Utsaimin,
Misalnya Imam Syafi'i menyaksikan penduduk Makkah shalat 36 rakaat dan Madinah 20 rakaat, dan beliau menyatakan tidak ada batasan dalam hal ini karena termasuk kebaikan yang luas. Imam Ahmad bin Hanbal pun memilih 20 rakaat.
Tetapi Wahabi memilih pendapat Syaikh Al-Albani, yang berpendapat bahwa salat tarawih (termasuk witir) tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Dalam kitab Shalatut Tarawih, beliau menegaskan bahwa menambah rakaat melebihi batasan yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ adalah suatu bid'ah
Di sini mereka jelas-jelas membid'ahkan atau menyalahkan amalan yang dibenarkan oleh para ulama Salaf asli.
Termasuk pembagian Bid'ah menjadi dua oleh Imam Syafii, dan bolehnya membaca Al Qur'an di kuburan oleh Imam Ahmad bin Hambal, mereka menolak itu, lebih patuh kepada Ulama Wahabi Modern.
Artinya, otoritas tertinggi untuk menentukan mana pendapat Salaf yang "sah" dan mana yang "menyimpang" berada di tangan Ibnu Taimiyyah dan syeikh-syeikh Wahabi modern. Jika Imam Syafi'i berpendapat tentang kebolehan Tabarruk (mengambil berkah) atau Tawassul, mereka tidak akan mengikuti Imam Syafi'i; mereka akan menuduh pemahaman Imam Syafi'i "belum murni" atau mengklaim bahwa syeikh modern mereka lebih tahu tentang Sunnah daripada Imam Syafi'i.
Ya memang, Jargon "Kembali kepada Pemahaman Salaf" mereka itu runtuh seketika saat dihadapkan pada kitab turats. Faktanya, mereka hanya mau mengikuti "Salaf" jika pendapat Salaf itu kebetulan cocok dengan fatwa ulama kelompok mereka sendiri. Jika berbeda, pendapat Salaf asli pun akan didepak.
Sumber FB Ustadzah : Diah Al-Asy'ariyyah