Bukan Turun dari Langit, Pemimpin Besar Dibentuk oleh Generasi

Bukan Turun dari Langit, Pemimpin Besar Dibentuk oleh Generasi

𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗧𝗨𝗥𝗨𝗡 𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗟𝗔𝗡𝗚𝗜𝗧, 𝗧𝗔𝗣𝗜 𝗗𝗜𝗧𝗨𝗠𝗕𝗨𝗛𝗞𝗔𝗡 𝗗𝗜 𝗕𝗨𝗠𝗜

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq

Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami sunnatullah perubahan dan kebangkitan adalah anggapan bahwa perubahan besar dalam sejarah hanya membutuhkan hadirnya seorang tokoh besar yang mampu mengubah keadaan. Banyak orang memandang bahwa keterpurukan umat akan berakhir hanya dengan munculnya seorang pemimpin luar biasa yang datang membawa solusi, memperbaiki segala persoalan, dan mengangkat umat menuju kejayaan. 

Padahal, sejarah dan realitas kehidupan menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah lahir hanya karena kehadiran satu individu, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan perubahan manusia, pembentukan generasi, dan kesiapan sebuah masyarakat untuk memikul tanggung jawab perubahan.

Dari sinilah kemudian muncul sebuah kesalahan cara berpikir yang lain, yaitu membangun harapan kepada lahirnya sosok “pemimpin mukjizat”. Sebuah anggapan bahwa akan datang seorang tokoh luar biasa yang mampu mengubah keadaan hanya dengan kekuatan dirinya sendiri; mengangkat umat dari keterpurukan menuju kejayaan dalam waktu singkat. 

Padahal, perubahan besar tidak pernah berjalan dengan cara demikian. Ia selalu lahir melalui proses panjang yang melibatkan perubahan manusia, pembentukan generasi, dan kesiapan sebuah masyarakat.

Kesalahan cara pandang ini membuat banyak orang lupa bahwa perubahan adalah tanggung jawab bersama. Mereka lebih sibuk membicarakan kapan akan muncul seorang pemimpin besar, siapa orangnya, bagaimana cirinya, dan apa yang akan ia lakukan, tetapi lupa bertanya: “Apa yang telah kita persiapkan untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut?”

Ketika sebuah masyarakat hanya menunggu datangnya seorang penyelamat, maka yang lahir adalah sikap pasif, ketergantungan, dan hilangnya kesadaran akan tanggung jawab bersama. Mereka menginginkan kemenangan, tetapi tidak ingin menempuh jalan perjuangan yang menjadi sebab datangnya kemenangan tersebut. Mereka mendambakan kejayaan, tetapi enggan menjalani proses panjang yang harus dilalui berupa kerja keras, kesabaran, pengorbanan, serta kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Masyarakat dengan pola pikir seperti ini, ketika diseru untuk bergerak dan berkorban, sering kali memiliki sikap yang menyerupai sebagian Bani Israil ketika diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihissallam untuk memasuki tanah yang dijanjikan. Mereka berkata:

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

"Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sementara kami tetap duduk di sini." (QS. Al Ma’idah: 24)

Mereka menunggu perubahan, tetapi tidak melakukan perubahan. Mereka berharap hadirnya pemimpin besar, tetapi tidak berusaha membangun generasi yang mampu melahirkan pemimpin besar.

Para Pembaharu Tidak Turun dari Langit

Sejarah umat ini telah dipenuhi dengan kisah tokoh-tokoh besar yang mengubah arah peradaban. Kita mengenal Shalahuddin al Ayyubi yang berhasil menyatukan kekuatan umat dan membebaskan al Quds dari cengkraman penjajah salib. Kita mengenal Muhammad al Fatih yang membuka Konstantinopel dan mewujudkan cita-cita besar yang telah diimpikan kaum Muslimin selama berabad-abad. 

Kita mengenal Umar bin Abdul Aziz yang menjadi simbol keadilan dan pembaharuan pemerintahan. Kita juga mengenal tokoh-tokoh besar lainnya yang meninggalkan jejak perubahan dalam sejarah dan kisah dari berbagai tokoh-tokoh besar lainnya.

Namun satu hal yang sering dilupakan: mereka semua tidaklah lahir secara tiba-tiba. Mereka bukan manusia yang turun dari langit tanpa proses. Mereka adalah hasil dari pendidikan, pembinaan, lingkungan, ilmu, perjuangan, dan generasi yang mempersiapkan mereka. 

Semisal tokoh agung seperti Shalahuddin al Ayyubi rahimahullah, keberhasilannya tidak dapat dilepaskan dari generasi sebelumnya yang telah bekerja mempersiapkan umat. Ada para ulama yang membimbing, para pendidik yang membentuk, lembaga-lembaga ilmu yang menanamkan kesadaran, masyarakat yang mendukung, serta generasi yang memiliki tekad untuk memperbaiki keadaan.

Sebelum munculnya Shalahuddin, telah berlangsung proses kebangkitan ilmu dan perbaikan umat yang panjang. Di antaranya melalui gerakan pembaharuan keilmuan dan pemikiran yang dilakukan oleh para ulama besar seperti Imam Abu Hamid al Ghazali rahimahullah, yang berusaha menghidupkan kembali semangat keilmuan, memperbaiki kondisi keagamaan umat, serta mengkritik berbagai penyimpangan yang melemahkan kekuatan masyarakat Muslim pada zamannya.

Kemudian dilanjutkan oleh para tokoh pembinaan ruhani dan pendidikan umat seperti Syaikh Abdul Qadir  al Jailani rahimahullah, yang melalui majelis ilmu dan dakwahnya membangun kesadaran keagamaan, memperkuat akhlak, serta mendidik manusia agar kembali kepada nilai-nilai Islam yang kokoh.

Dari rangkaian proses panjang inilah lahir sebuah generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman. Maka ketika kemudian muncul Shalahuddin al Ayyubi, ia bukanlah sosok yang hadir secara tiba-tiba di tengah masyarakat yang kosong. Ia adalah buah dari sebuah perjalanan panjang: perjalanan ilmu, pendidikan, pembinaan jiwa, dan perubahan masyarakat yang telah berlangsung selama beberapa generasi sebelumnya. 

Begitulah sunnatullah dalam perubahan. Allah tidak menghadirkan para pembaharu besar tanpa sebab. Mereka lahir dari rahim masyarakat yang mengalami proses panjang dalam membangun kualitas manusianya.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya tidak hanya: “Kapan akan lahir kembali Shalahuddin baru?” atau: “Kapan akan muncul pemimpin seperti al Fatih?”

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah kita telah mempersiapkan masyarakat yang mampu melahirkan generasi seperti mereka?”

Karena itu, persoalan terbesar umat bukan hanya mencari siapa pemimpin yang akan datang, tetapi bagaimana membangun manusia-manusia yang layak melahirkan dan mendukung pemimpin tersebut. Kebangkitan tidak dimulai dengan menunggu seseorang datang menyelamatkan kita.

 Kebangkitan dimulai dengan memperbaiki diri, membangun keluarga, mendidik generasi, menghidupkan ilmu, memperbaiki akhlak, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap keadaan umat.

Kita tidak akan keluar dari keterpurukan hanya dengan berharap kepada tokoh tertentu, sebagaimana kita juga tidak akan mencapai kejayaan hanya dengan mengandalkan slogan dan kerinduan kepada masa lalu. Perubahan membutuhkan usaha nyata. Sebab sejarah tidak pernah bisa dibangun oleh orang-orang yang hanya mau duduk menunggu, tetapi oleh generasi yang berusaha berdiri lalu bergerak mulai mengerjakan pekerjaan nyata yang mereka mampu.

Wallahu a’lam.

•┈┈•••○○❁🌻 𝐀𝐒𝐓🌻❁○○•••┈┈•

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Bukan Turun dari Langit, Pemimpin Besar Dibentuk oleh Generasi". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru
⭐ Kajian Pilihan