Benarkah Asy'ariyah Mengatakan Api Tidak Membakar?

Benarkah Asy'ariyah Mengatakan Api Tidak Membakar?

Sudah lama saya off dari dunia Facebook. Sengaja. Saya ingin hati lebih tenang, ibadah lebih khusyuk, dan tidak lagi menghabiskan waktu berdebat.

Namun beberapa hari ini saya iseng membuka lagi beberapa postingan. Ternyata saya menemukan satu tulisan yang cukup panjang tentang akidah Asy'ariyyah, khususnya mengenai pembahasan kasb dan pernyataan Imam al-Ghazali tentang api.

Jujur saya heran.

Kok bisa pembahasan yang sudah dijelaskan ulama Ahlus Sunnah selama berabad-abad masih dipahami seperti ini?

Menurut saya, akar masalahnya sederhana: gagal membedakan antara pelaku hakiki (الفاعل الحقيقي) dan sebab ('illah 'ādiyyah/sabab 'ādī).

Inilah sumber seluruh kesalahpahaman tersebut.

Penulis mengatakan Asy'ariyyah percaya "api tidak membakar."

Padahal tidak ada ulama Asy'ari yang mengatakan demikian.

Kalau kita melihat dengan mata kepala sendiri, tentu kita mengatakan:

Api membakar.
Pisau memotong.
Air menghilangkan dahaga.
Makanan mengenyangkan.
Obat menyembuhkan.

Semua itu benar menurut pengamatan manusia dan merupakan adat (sunnatullah) yang Allah tetapkan di alam semesta.

Pelaku Hakiki Berbeda dengan Sebab

Lalu apa yang dibahas Imam al-Ghazali?

Beliau tidak sedang membahas apa yang kita lihat, melainkan siapa pelaku hakiki yang menciptakan akibat tersebut.

Inilah yang gagal dipahami.

Misalnya seorang tukang menulis menggunakan pena.

Apakah pena menghasilkan tulisan?

Ya.

Tetapi apakah pena pencipta tulisan?

Tidak.

Yang menulis adalah manusia.

Pena hanyalah alat.

Begitu pula api.

Api memang menjadi sebab terjadinya pembakaran menurut sunnatullah.

Namun apakah api menciptakan pembakaran dari dirinya sendiri?

Tidak.

Allah-lah yang menciptakan panasnya. Allah menciptakan sifat api. Allah menciptakan proses pembakaran. Allah menciptakan berubahnya kapas menjadi abu.

Karena itu Imam al-Ghazali mengatakan bahwa pelaku hakiki pembakaran adalah Allah.

Beliau tidak pernah mengatakan manusia tidak melihat api membakar.

Beliau sedang menjelaskan hakikat tauhid dalam af'al Allah.

Mengapa Imam al-Ghazali Mengatakan Kapas Bisa Tidak Terbakar?

Inilah bagian yang paling sering dipotong oleh kelompok Wahabi.

Mereka membaca kalimatnya, tetapi tidak memahami konteksnya.

Imam al-Ghazali sedang membantah para filsuf yang mengatakan hubungan sebab dan akibat itu niscaya, artinya api wajib membakar dan tidak mungkin tidak membakar.

Lalu beliau mengatakan:

Kalau Allah menghendaki, kapas bisa saja bersentuhan dengan api tetapi tidak terbakar.

Apakah ini khayalan?

Tidak.

Justru Al-Qur'an sendiri telah memberikan contohnya.

Allah berfirman:

"Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim." (QS. Al-Anbiya': 69)

Mari kita bertanya dengan jujur.

Apakah Nabi Ibrahim terbakar?

Tidak.

Apakah beliau meleleh?

Tidak.

Apakah beliau menjadi abu?

Tidak.

Mengapa?

Karena Allah tidak menciptakan efek pembakaran pada saat itu.

Api tetap ada.

Nyala tetap ada.

Tetapi efek yang biasanya Allah ciptakan melalui api tidak Allah ciptakan pada Nabi Ibrahim.

Bukankah ini persis seperti yang dijelaskan Imam al-Ghazali?

Jadi mengapa sekarang dianggap bertentangan dengan akal, padahal Al-Qur'an sendiri telah membuktikannya?

"Api Membakar dengan Izin Allah"

Kalimat ini sering diucapkan.

Tetapi perlu dirinci.

Kalau maksudnya:

"Allah menciptakan api beserta sifatnya, dan setiap pembakaran terjadi dengan kehendak Allah."

Maka Ahlus Sunnah sepakat.

Tetapi kalau maksudnya:

"Allah hanya memberi tenaga di awal, lalu setelah itu api memiliki kekuatan independen untuk menciptakan pembakaran."

Inilah yang ditolak oleh Imam al-Ghazali.

Karena berarti ada pencipta pengaruh selain Allah.

Padahal Allah berfirman bahwa Dia adalah Pencipta segala sesuatu.

Sebab Bukan Pencipta Akibat

Ini sangat mudah dipahami.

Obat tidak selalu menyembuhkan.

Ada pasien yang sembuh.

Ada yang tidak.

Ada yang alergi.

Ada yang meninggal meskipun mendapatkan obat terbaik.

Mengapa?

Karena obat hanyalah sebab.

Kesembuhan diciptakan Allah.

Pisau pun demikian.

Ada orang tertusuk lalu meninggal.

Ada yang tertusuk puluhan kali tetapi selamat.

Mengapa?

Karena pisau hanyalah sebab.

Hidup dan mati tetap berada di bawah kehendak Allah.

Api pun sama.

Biasanya membakar.

Tetapi Allah menunjukkan kepada kita melalui mukjizat Nabi Ibrahim bahwa pembakaran itu bukan sesuatu yang wajib terjadi dengan sendirinya.

Wahabi Justru Mendekati Pemikiran Filsafat yang Dibantah Al-Ghazali

Ironisnya, ketika mereka mengatakan:

"Api pasti membakar."

Mereka justru semakin dekat kepada teori kausalitas niscaya yang dibantah Imam al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah.

Imam al-Ghazali tidak menolak adanya sebab.

Beliau menolak keyakinan bahwa hubungan sebab-akibat bersifat wajib secara independen dari kehendak Allah.

Perbedaan ini sangat mendasar.

Mereka Juga Salah Memahami Kasb

Kemudian pembahasan api dicampurkan dengan teori kasb.

Lalu disimpulkan bahwa Asy'ariyyah sama dengan Jabariyyah.

Ini juga tidak benar.

Jabariyyah mengatakan manusia sama sekali tidak memiliki pilihan.

Sedangkan Ahlus Sunnah menetapkan bahwa manusia memiliki kehendak (iradah) dan pilihan (ikhtiyar), kemudian Allah menciptakan perbuatannya sesuai pilihan tersebut.

Karena itulah manusia layak diberi pahala dan siksa.

Kalau manusia benar-benar dipaksa, tentu syariat kehilangan makna.

Tetapi Ahlus Sunnah tidak pernah mengatakan demikian.

Kesimpulan

Seluruh tulisan tersebut dibangun di atas kesalahan memahami istilah.

Penulis gagal membedakan antara:

  • Pelaku hakiki dengan sebab.
  • Pencipta akibat dengan perantara akibat.
  • Sunnatullah dengan pencipta sunnatullah.

Ahlus Sunnah tidak pernah mengatakan api tidak membakar.

Ahlus Sunnah mengatakan:

Api adalah sebab yang Allah ciptakan.
Panasnya Allah yang ciptakan.
Pembakarannya Allah yang ciptakan.

Dan apabila Allah menghendaki, sebagaimana pada mukjizat Nabi Ibrahim, api tetap menjadi api, tetapi tidak lagi membakar.

Inilah tauhid yang diajarkan para imam Ahlus Sunnah. Menetapkan adanya sebab tanpa menjadikannya pencipta. Mengakui sunnatullah tanpa mengurangi sedikit pun kekuasaan Allah atas setiap akibat yang terjadi.

Jadi, sebelum menuduh Imam al-Ghazali "bertentangan dengan akal", pahami terlebih dahulu apa yang sedang beliau bantah. Beliau tidak sedang membantah kenyataan bahwa api biasanya membakar. Beliau sedang membantah keyakinan bahwa api adalah pelaku hakiki pembakaran. Dalam akidah Islam, pelaku hakiki seluruh pengaruh hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

_____tambahan_____

Memahami Konsep Al-Kasb Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Secara bahasa, al-kasb (الكسب) berasal dari kata كَسَبَ – يَكْسِبُ yang berarti memperoleh, mengusahakan, atau mendapatkan.

Adapun secara istilah dalam ilmu kalam, Syekh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid dalam Hasyiyah An-Nidzam Al-Farid (hasyiyah atas Ittihaful Murid bi Jauharit Tauhid) menjelaskan:

«الأول: مذهب أهل السنة والجماعة، وحاصله : أن للعبد في أعماله الاختيارية كسبا، وأنه ليس له إلا ذلك الكسب ؛ فليس هو مجبوراً عليها كما يقول الجبرية، وليس هو خالقا لها كما يقول المعتزلة»

Artinya:

"Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah berpendapat bahwa seorang hamba memiliki kasb (usaha/andil dalam perbuatan) pada tindakan-tindakan pilihannya. Ia tidak memiliki selain kasb tersebut. Karena itu, ia tidak dipaksa sebagaimana keyakinan Jabariyah, dan juga bukan pencipta perbuatannya sebagaimana keyakinan Mu'tazilah."

Lalu, Apa Maksudnya?

Mudahnya begini.

Saat kita ingin salat, sedekah, atau sebaliknya berbuat maksiat, kitalah yang memilih.

Pilihan itulah yang disebut al-kasb.

Namun, kemampuan kita untuk bergerak, berpikir, berkehendak, dan terjadinya perbuatan tersebut semuanya diciptakan oleh Allah.

Jadi, Ahlus Sunnah mengajarkan bahwa:

  • Manusia memiliki pilihan (ikhtiar), sehingga layak diberi pahala atau dosa.
  • Tetapi manusia bukan pencipta perbuatannya. Yang menciptakan seluruh perbuatan hanyalah Allah Ta'ala.

Jalan Tengah Ahlus Sunnah

Karena itu, Ahlus Sunnah berada di tengah.

Bukan seperti Jabariyah yang mengatakan manusia dipaksa seperti robot.

Dan bukan pula seperti Mu'tazilah yang mengatakan manusia menciptakan sendiri perbuatannya.

Inilah yang dinamakan al-kasb, yaitu usaha dan pilihan seorang hamba dalam perbuatan yang ia lakukan.

Kesimpulan

Singkatnya:

Allah menciptakan perbuatan, sedangkan manusia memilihnya. Karena ada pilihan itulah manusia bertanggung jawab atas amalnya.

______tambahan______

Gagal Paham Al-Kasb, Akhirnya Salah Memahami Akidah Ahlus Sunnah

Sebagian Wahabi gagal memahami konsep al-kasb, sehingga muncul tuduhan bahwa Asy'ariyyah meyakini "api tidak membakar". Padahal tidak ada ulama Ahlus Sunnah yang mengatakan demikian.

Allah berfirman:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

«"Wahai api! Jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim." (QS. Al-Anbiya': 69)»

Coba renungkan.

Apinya tetap ada, tetapi Nabi Ibrahim tidak terbakar. Mengapa?

Karena yang menciptakan efek pembakaran bukan api, melainkan Allah. Api hanyalah sebab yang biasa Allah jadikan untuk membakar.

Jadi, para ulama tidak mengingkari bahwa api biasanya membakar. Yang mereka jelaskan adalah bahwa tidak ada sebab yang bekerja secara mandiri di luar kehendak Allah.

Kalau konsep sederhana ini dipahami sejak awal, tentu tidak akan muncul fitnah terhadap Imam al-Ghazali dan ulama Ahlus Sunnah.

Sumber FB : Aqidah Salaf

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Benarkah Asy'ariyah Mengatakan Api Tidak Membakar?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru