Hukum Memakan Buah di Kebun Orang Menurut Ulama

Hukum Memakan Buah di Kebun Orang Menurut Ulama

Penulis kitab Al-Muhadzdzab -semoga Allah merahmatinya- berkata:

“Jika seseorang melewati kebun milik orang lain sementara ia tidak dalam keadaan terpaksa (darurat), maka tidak boleh baginya mengambil apa pun darinya tanpa izin pemiliknya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: ‘Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan hatinya.’”

Penulis kitab Al-Majmu‘ (penjelasan al-Muhadzdzab) berkata:

(Penjelasan) Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Kitab al-Ghashb melalui jalur Ali bin Zaid bin Jud‘an dari Abu Hurrah ar-Raqasyi, dari ayahnya, dari pamannya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” Sanadnya lemah karena Ali bin Zaid adalah perawi yang lemah.

Namun dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi ﷺ berkhutbah kepada manusia pada Haji Wada‘, lalu menyebutkan hadis yang di dalamnya terdapat sabda: “Tidak halal bagi seseorang mengambil harta saudaranya kecuali apa yang diberikan dengan kerelaan hati.” Riwayat ini dibawakan al-Baihaqi dalam Kitab al-Ghashb dengan sanad yang sahih.

Para ulama kami berkata: apabila seseorang melewati buah-buahan atau tanaman milik orang lain, maka tidak boleh baginya mengambil atau memakannya tanpa izin pemiliknya, kecuali jika ia dalam keadaan darurat. Dalam kondisi itu ia boleh makan, tetapi wajib mengganti (nilainya) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Para ulama kami juga berkata: hukum buah yang jatuh dari pohon sama seperti buah yang masih di pohon jika buah yang jatuh itu berada di dalam pagar. Jika berada di luar pagar, hukumnya juga sama apabila tidak ada kebiasaan masyarakat yang membolehkannya.

Namun jika ada kebiasaan membolehkan, maka ada dua pendapat:

 1. Pendapat pertama: tetap tidak halal, sebagaimana yang berada di dalam pagar, karena mungkin saja pemiliknya tidak mengizinkan.

 2. Pendapat yang lebih kuat: halal, karena kebiasaan yang terus berlangsung menunjukkan adanya dugaan kuat bahwa pemilik merelakannya, sebagaimana anak kecil yang sudah mumayyiz boleh menerima hadiah dan memakannya. Wallahu a’lam.

Apa yang disebutkan para ulama ini berkaitan dengan harta orang asing (bukan kerabat).

Adapun kerabat dan sahabat:

 • Jika seseorang ragu apakah mereka ridha bila ia makan dari buah, tanaman, atau rumah mereka, maka tidak halal baginya memakan apa pun tanpa perbedaan pendapat.

 • Jika ia memiliki dugaan kuat bahwa mereka ridha dan tidak keberatan, maka boleh baginya makan sesuai kadar yang ia yakini mereka ridhai. Hal ini berbeda-beda tergantung orang, waktu, keadaan, dan harta.

Karena itu banyak dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta praktik generasi salaf dan khalaf. Allah Ta‘ala berfirman:

“Tidak ada dosa atas kalian untuk makan di rumah kalian atau rumah bapak-bapak kalian … atau rumah sahabat kalian.”

Hadis-hadis sahih dari Nabi ﷺ juga menjelaskan hal serupa. Wallahu a’lam.

Pendapat para ulama tentang orang yang melewati kebun orang lain:

Menurut mazhab kami (Syafi‘i), tidak boleh memakan apa pun darinya kecuali dalam keadaan darurat yang membolehkan bangkai.

Pendapat ini juga dipegang oleh Malik, Abu Hanifah, Dawud, dan mayoritas ulama.

Imam Ahmad berkata: jika seseorang melewati kebun yang memiliki buah segar dan tidak berpagar, maka boleh baginya makan tanpa darurat dan tanpa kewajiban mengganti. Ini menurut riwayat yang paling sahih darinya. Dalam riwayat lain, hal itu hanya dibolehkan saat darurat tanpa kewajiban ganti.

Ia berdalil dengan riwayat Mujahid dari Abu ‘Iyadh bahwa Umar bin Khattab RA berkata:

 “Siapa saja di antara kalian melewati sebuah kebun, hendaklah ia makan untuk perutnya dan tidak membawa pulang.”

Juga riwayat Zaid bin Wahb bahwa Umar berkata:

 “Jika kalian bertiga, angkatlah salah satu sebagai pemimpin. Jika kalian melewati penggembala unta, panggillah ia. Jika ia menjawab, mintalah minum. Jika tidak menjawab, datangi unta itu, lepaskan talinya, minumlah, lalu ikat kembali.”

Keduanya diriwayatkan al-Baihaqi dan dinilai sahih darinya. Namun menurut kami, itu dipahami dalam kondisi darurat.

Para ulama kami berdalil dengan hadis yang disebutkan penulis, serta hadis Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Janganlah salah seorang dari kalian memerah susu ternak orang lain kecuali dengan izinnya. Apakah salah seorang dari kalian suka jika gudang makanannya didatangi lalu dibuka dan makanannya diambil? Sesungguhnya ambing ternak mereka menyimpan makanan bagi mereka. Maka janganlah seseorang memerah ternak orang lain kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam masalah ini terdapat banyak hadis dengan makna serupa.

Imam Syafi‘i RH berkata: siapa yang melewati tanaman, buah, ternak, atau harta orang lain, tidak boleh mengambil apa pun darinya kecuali dengan izin, karena tidak ada dalil Al-Qur’an maupun Sunnah yang sahih yang membolehkannya. Maka hukumnya terlarang kecuali dengan izin pemilik. Ada riwayat: “Siapa yang melewati kebun, hendaklah ia makan dan tidak membawa pulang.” Namun jika hadis itu sahih menurut kami, tentu kami tidak akan menyelisihinya. Akan tetapi dalil Al-Qur’an dan hadis sahih menunjukkan bahwa tidak boleh memakan harta seseorang tanpa izinnya.

Al-Baihaqi menjelaskan bahwa hadis yang dimaksud Syafi‘i adalah riwayat Yahya bin Sulaim ath-Thaifi dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

 “Siapa yang masuk kebun, hendaklah ia makan dan tidak membawa pulang.”

Namun Yahya bin Ma‘in menilai ini sebagai kesalahan. At-Tirmidzi juga menukil bahwa Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) mengatakan Yahya bin Sulaim sering keliru dalam meriwayatkan hadis dari Ubaidullah.

Hadis ini juga datang dari jalur lain, tetapi tidak kuat.

Di antaranya hadis Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya: seorang dari Muzainah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang buah yang didapati seseorang. Nabi bersabda:

 • Jika ia mengambil buah dari pucuk pohon dan membawanya, maka ia wajib membayar harga dan tambahan hukuman.

 • Jika buah itu sudah di tempat penyimpanan lalu diambil, maka dikenai potong tangan bila mencapai nisab.

 • Jika ia memakannya tanpa membawa pulang, maka tidak ada hukuman.

Al-Baihaqi berkata: jika sahih, maka dipahami bahwa tidak ada potong tangan karena tidak dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

Di antaranya juga hadis dalam Sunan Abu Dawud dari al-Hasan, dari Samurah bin Jundub bahwa Nabi ﷺ bersabda:

 “Jika salah seorang dari kalian mendatangi ternak dan pemiliknya ada, mintalah izin. Jika diizinkan, perahlah dan minumlah. Jika pemiliknya tidak ada, panggillah tiga kali. Jika dijawab, mintalah izin; jika tidak, perahlah dan minumlah, tetapi jangan membawa pulang.”

Al-Baihaqi berkata: sebagian ahli hadis tidak menetapkan riwayat al-Hasan dari Samurah kecuali hadis aqiqah. Jika pun sahih, maka dipahami dalam keadaan darurat.

Ada pula hadis dari Abu Sa‘id al-Khudri dengan makna serupa, namun al-Baihaqi menyebutkan bahwa perawinya Sa‘id al-Jurairi mengalami kekacauan hafalan di akhir hidupnya, dan riwayat Yazid bin Harun darinya terjadi setelah masa itu, sehingga tidak sahih.

Bahkan ada riwayat lain dari Abu Sa‘id yang bertentangan:

 “Tidak halal bagi siapa pun membuka ikatan susu unta tanpa izin pemiliknya, karena ikatan itu adalah tanda milik mereka.”

Ini sejalan dengan hadis sahih Ibnu Umar sebelumnya.

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam bahwa hadis Umar dan Amr bin Syu‘aib tentang keringanan itu dimaksudkan bagi orang lapar yang terpaksa, yang tidak memiliki sesuatu untuk membeli makanan dan sedang dalam kesulitan.

Dalam riwayat Ibnu Juraij dari ‘Atha disebutkan:

 “Rasulullah ﷺ memberi keringanan bagi orang lapar yang terpaksa jika melewati kebun untuk makan darinya tanpa membawa pulang.”

Ada pula riwayat dari Abu Hurairah bahwa orang-orang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang halal bagi seseorang dari harta saudaranya?” Beliau menjawab:

 “Ia boleh makan tanpa membawa pulang dan minum tanpa membawa pulang.”

Namun al-Baihaqi menilai sanadnya majhul dan tidak bisa dijadikan hujah; di dalamnya juga ada al-Hajjaj bin Arthah yang tidak dapat dijadikan dalil. Riwayat lain menunjukkan bahwa hal itu khusus bagi orang yang terpaksa.

Allah Ta‘ala Yang Paling Mengetahui.

Sumber: Al Majmu’ Syarhul Muhadzab, 9/53-57.

Teks asli:

قَالَ صاحب المهذب رَحِمَهُ اللَّهُ:

(وإن مر ببستان لغيره وهو غير مضطر لم يجز أن يأخذ منه شيئا بغير إذن صاحبه لقوله صلى الله عليه وسلم: لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إلَّا بِطِيبِ نفسه) 

قال صاحب المجموع شرح المهذب:

(الشَّرْحُ) هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِ الْغَصْبِ مِنْ رِوَايَةِ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ أَبِي حُرَّةَ الرَّقَاشِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مسلم إلا بطيب نفس منه) إسناده ضعيف، علي ابن زَيْدٍ ضَعِيفٌ. وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ (لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ مِنْ مَالِ أَخِيهِ إلَّا مَا أَعْطَاهُ مِنْ طِيبِ نَفْسٍ) رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِ الْغَصْبِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ . 

قَالَ أَصْحَابُنَا إذَا مَرَّ الْإِنْسَانُ بِثَمَرِ غَيْرِهِ أَوْ زَرْعِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ وَلَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ بِغَيْرِ إذْنِ صَاحِبِهِ إلَّا أَنْ يَكُونَ مُضْطَرًّا فَيَأْكُلَ حِينَئِذٍ وَيَضْمَنَ كَمَا سَبَقَ. قَالَ أَصْحَابُنَا: وَحُكْمُ الثِّمَارِ السَّاقِطَةِ مِنْ الْأَشْجَارِ حُكْمُ الثِّمَارِ الَّتِي عَلَى الشَّجَرِ إنْ كَانَتْ السَّاقِطَةُ دَاخِلَ الْجِدَارِ وَإِنْ كَانَتْ خَارِجَةً فَكَذَلِكَ إنْ لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُمْ بِإِبَاحَتِهَا. فَإِنْ جَرَتْ فَوَجْهَانِ :

أَحَدُهُمَا: لَا يَحِلُّ كَالدَّاخِلَةِ وَكَمَا إذَا لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُمْ لِاحْتِمَالِ أَنَّ هَذَا الْمَالِكَ لَا يُبِيحُ. 

وَأَصَحُّهُمَا: يَحِلُّ لِاطِّرَادِ الْعَادَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ بِذَلِكَ وَحُصُولِ الظَّنِّ بِإِبَاحَتِهِ كَمَا يَحْصُلُ تَحَمُّلُ الصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ الْهَدِيَّةَ وَيَحِلُّ أَكْلُهَا. وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ الْأَصْحَابُ حُكْمُ مَالِ الْأَجْنَبِيِّ 

* أَمَّا الْقَرِيبُ وَالصَّدِيقُ فَإِنْ تَشَكَّكَ فِي رِضَاهُ بِالْأَكْلِ من ثمره وزرعه وبيته لم يحل الا كل مِنْهُ بِلَا خِلَافٍ وَإِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ رضاه به وأنه يَكْرَهُ أَكْلَهُ مِنْهُ جَازَ أَنْ يَأْكُلَ الْقَدْرَ الَّذِي يَظُنُّ رِضَاهُ بِهِ وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْأَزْمَانِ وَالْأَحْوَالِ وَالْأَمْوَالِ وَلِهَذَا تَظَاهَرَتْ دَلَائِلُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَفِعْلُ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَخَلَفِهَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى (وَلا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا من بيوتكم أو بيوت آبائكم إلى قوله تعالى أو صديقكم) وَبَيَّنَتْ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوٍ مِنْ هَذَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ 

* (فَرْعٌ) 

فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي من مَرَّ بِبُسْتَانِ غَيْرِهِ وَفِيهِ ثِمَارٌ أَوْ مَرَّ بزرع غيره فمذهبنا أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ شَيْئًا إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي حَالِ الضَّرُورَةِ الَّتِي يُبَاحُ فِيهَا الْمَيْتَةُ 

* وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حنيفة ودواد والجمهور 

* وقال أَحْمَدُ إذَا اجْتَازَ بِهِ وَفِيهِ فَاكِهَةٌ رَطْبَةٌ وَلَيْسَ عَلَيْهِ حَائِطٌ جَازَ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ وَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ عِنْدَهُ فِي أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ وَفِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى يُبَاحُ لَهُ ذَلِكَ عِنْدَ الضَّرُورَةِ وَلَا ضَمَانَ 

* وَاحْتَجَّ بِمَا رَوَى مُجَاهِدُ عَنْ أَبِي عِيَاضٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال (مَنْ مَرَّ مِنْكُمْ بِحَائِطٍ  فَلْيَأْكُلْ فِي بَطْنِهِ ولا يتخذ خبنة) وعن زيدب ن وَهْبٍ قَالَ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَأَمِّرُوا عَلَيْكُمْ وَاحِدًا مِنْكُمْ فَإِذَا مَرَرْتُمْ بِرَاعِي الْإِبِلِ فَنَادُوا يَا رَاعِيَ الْإِبِلِ فَإِنْ أَجَابَكُمْ فَاسْتَسْقُوهُ وَإِنْ لَمْ يُجِبْكُمْ فَأْتُوهَا فَحُلُّوهَا وَاشْرَبُوا ثُمَّ صُرُّوهَا) رَوَاهُمَا الْبَيْهَقِيُّ وَقَالَ هَذَا صَحِيحٌ عَنْ عُمَرَ بِإِسْنَادَيْهِ جَمِيعًا قَالَ وَهُوَ مَحْمُولٌ عِنْدَنَا عَلَى حَالِ الضَّرُورَةِ 

* وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا بِالْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مَعَ مَا ذَكَرْتُهُ مِمَّا سَبَقَ مِنْهُ وَبِحَدِيثِ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (لَا يَحْلِبَنَّ أَحَدُكُمْ مَاشِيَةَ غَيْرِهِ إلَّا بِإِذْنِهِ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يؤتى مَشْرُبَتُهُ فَتُكْسَرَ خِزَانَتُهُ فَيُنْتَقَلَ طَعَامُهُ فَإِنَّمَا تَخْزُنُ لَهُمْ ضُرُوعُ مَوَاشِيهِمْ أَطْعِمَتَهُمْ فَلَا يَحْلِبَنَّ أَحَدٌ مَاشِيَةَ أَحَدٍ إلَّا بِإِذْنِهِ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَفِي الْمَسْأَلَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ بِمَعْنَى مَا ذَكَرْتُهُ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ مَرَّ لِرَجُلٍ بِزَرْعٍ أَوْ ثَمَرٍ أَوْ مَاشِيَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَالِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَخْذُ شئ مِنْهُ إلَّا بِإِذْنِهِ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا لَمْ يَأْتِ فِيهِ كِتَابٌ وَلَا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ بِإِبَاحَتِهِ فَهُوَ مَمْنُوعٌ إلَّا بِإِذْنِ مَالِكِهِ قَالَ وَقَدْ قيل من مر بحائط  فاليأكل ولا يتخذ خبنة ورى فِيهِ حَدِيثٌ لَوْ كَانَ ثَبَتَ عِنْدَنَا لَمْ نُخَالِفْهُ وَالْكِتَابُ 

وَالْحَدِيثُ الثَّابِتُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَكْلُ مَالِ أَحَدٍ إلَّا بِإِذْنِهِ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ فَالْحَدِيثُ الَّذِي أَشَارَ إلَيْهِ الشَّافِعِيُّ هُوَ حَدِيثُ يحيى بن سليم الطائفي عن عبيد الله بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَنْ دَخَلَ حَائِطًا فَلْيَأْكُلْ وَلَا يَتَّخِذْ خُبْنَةً) قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ السُّكَّرِيُّ فَذَكَرَ إسْنَادَهُ إلَى يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ قَالَ حديث يحيى بن سليم هذا عن عبيد الله فِي الرَّجُلِ يَمُرُّ بِالْحَائِطِ فَيَأْكُلُ مِنْهُ قَالَ هَذَا غَلَطٌ وَقَالَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ سَأَلْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إسْمَاعِيلَ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ يحيى بن سليم يروى أحاديث عن عبيد الله يَهِمُ فِيهَا قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَقَدْ جَاءَ مِنْ أَوْجُهٍ أُخَرَ وَلَيْسَتْ بِقَوِيَّةٍ (مِنْهَا) عَنْ عَمْرِو ابن شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ (سَمِعْتُ رَجُلًا مِنْ مُزَيْنَةَ سَأَلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ الضَّالَّةِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ ثُمَّ سَأَلَهُ عَنْ الثِّمَارِ يُصِيبُهَا الرَّجُلُ فَقَالَ (مَا أَخَذَ فِي أَكْمَامِهِ يَعْنِي رؤس النَّخْلِ فَاحْتَمَلَهُ فَثَمَنُهُ وَمِثْلُهُ مَعَهُ وَضَرْبُ نَكَالٍ وَمَا كَانَ فِي أَجْرَانِهِ فَأَخَذَهُ فَفِيهِ الْقَطْعُ إذَا بَلَغَ ذَلِكَ ثَمَنَ الْمِجَنِّ وَإِنْ أَكَلَ بفيه ولم يأخذ فيتخذ خبنة فليس عليه شئ) قال البيهقي وهذا إن صح فمحمول على أَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ قَطْعٌ حِينَ لَمْ يُخْرِجْهُ مِنْ الْحِرْزِ (وَمِنْهَا) مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي سُنَنِهِ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ عَلَى مَاشِيَةٍ فَإِنْ كَانَ فِيهَا صَاحِبُهَا فَلْيَسْتَأْذِنْهُ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ فليحلب وليشرب وان لم يكن فيها فَلْيُصَوِّتْ ثَلَاثًا فَإِنْ أَجَابَهُ فَلْيَسْتَأْذِنْهُ وَإِلَّا فَلْيَحْلُبْ وَلْيَشْرَبْ وَلَا يَحْمِلْ) قَالَ الْبَيْهَقِيُّ أَحَادِيثُ الْحَسَنِ عن سمرة لَا يُثْبِتُهَا بَعْضُ الْحُفَّاظِ وَيُزْعَمُ أَنَّهَا مِنْ كِتَابٍ غَيْرِ حَدِيثِ الْعَقِيقَةِ الَّذِي ذُكِرَ فِيهِ السَّمَاعُ فَإِنْ صَحَّ فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى حَالِ الضرورة (ومنها) حديث يزيد بن هرون عَنْ سَعِيدِ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ عَلَى راع فليناد يا راع الْإِبِلِ ثَلَاثًا فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا فَلْيَحْلُبْ وَلْيَشْرَبْ ولا يَحْمِلَنَّ وَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ عَلَى حَائِطٍ فَلْيُنَادِ ثَلَاثًا يَا صَاحِبَ الْحَائِطِ فَإِنْ أَجَابَهُ فَلْيَأْكُلْ وَلَا يَحْمِلَنَّ) قَالَ الْبَيْهَقِيُّ تَفَرَّدَ بِهِ سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ وَهُوَ ثِقَةٌ إلَّا أَنَّهُ اخْتَلَطَ فِي آخر عمره وسماع يزيد بن هرون مِنْهُ بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ فَلَا يَصِحُّ قَالَ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافُهُ ثُمَّ ذَكَرَهُ بِإِسْنَادِهِ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ (لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَحُلَّ صِرَارَ نَاقَةٍ إلَّا بِإِذْنِ أَهْلِهَا فَإِنَّ خَاتَمَ أَهْلِهَا عَلَيْهَا فَقِيلَ لِشَرِيكٍ أَرْفَعُهُ 

قَالَ نَعَمْ) قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَهَذَا يُوَافِقُ حَدِيثَ ابْنِ عُمَرَ الصَّحِيحَ السَّابِقَ ثُمَّ روى البيهقى باسناده عن أبى عبيد القسيم بْنِ سَلَّامٍ قَالَ إنَّمَا هَذَا الْحَدِيثُ يَعْنِي حَدِيثَ عُمَرَ وَحَدِيثَ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ فِي الرُّخْصَةِ أَنَّهُ أَرْخَصَ فِيهِ لِلْجَائِعِ الْمُضْطَرِّ الَّذِي لا شئ معه يشترى به وهو معسر في حَدِيثِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ (رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْجَائِعِ الْمُضْطَرِّ إذَا مَرَّ بِالْحَائِطِ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ ولا يتخذ خبنة) وعن الحجاج ابن أَرْطَاةَ عَنْ سَلِيطِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التَّمِيمِيِّ عن ذهيل بن عوف بن سماح عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ (كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ نَاسٌ يارسول اللَّهِ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ مَالِ أَخِيهِ قَالَ (أَنْ يَأْكُلَ وَلَا يَحْمِلَ وَيَشْرَبَ وَلَا يحمل) قال البيهقى هذا اسناد مجهول لا يقوم به حجة والحجاج ابن أَرْطَاةَ لَا يُحْتَجُّ بِهِ قَالَ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ الْحَجَّاجِ مَا دَلَّ عَلَى أَنَّهُ فِي الْمُضْطَرِّ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ 

(المجموع شرح المهذب) 

Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Hukum Memakan Buah di Kebun Orang Menurut Ulama". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Cari Kajian Islam