
HADITS DHAIF LEBIH AKU SUKAI KETIMBANG PERKATAANKU SENDIRI
Pernyataan "hadits dhaif lebih aku sukai ketimbang perkataan ulama" merujuk pada prinsip yang dipegang oleh sebagian imam mazhab, terutama Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Mereka sering kali lebih memilih hadis yang lemah (dhaif) daripada pendapat pribadi (ra'yu) atau kias (analogi) dari seorang ulama, selama hadis tersebut tidak palsu (maudhu').
**^^^**
Di jaman sekarang ketika kita berada jauh dari masa nabi saw — tak selamanya perkataan ulama bisa dijadikan hujjah. Sering kali subyektifitas lebih dominan.
Banyak riwayat didhaifkan atau di abaikan karena tidak sesuai selera. Tidak sesuai dengan identitas atau tidak sesuai dengan haluan organisasi.
Ada beberaoa hadits yang populair di kalangan nahdhiyin atau salafi atau LDII tapi tidak di kalangan Muhammadiyin. Sebaliknya ada yang polulair di kalangan Muhammadiyin tapi tidak di kalangan Nahdhiyin atau lainnya.
*^^^^*
Sebut saja hadits masyhur tentang majelis dzikir, hadiah pahala buat kedua orang tua yang sudah meninggal, dikotomi sunah hasanah dan sunah sayyi’ah, sedekah untuk kedua orang tua yang sudah meninggal, kisah masyhur tiga pemuda bertawashul, tabarruk kepada orang alim seperti hilang tak berbekas di kalangan Muhammadiyyin.
Sebaliknya beberapa hadits tentang bid’ah itu sesat yang sesat pasti masuk neraka, shalat lail 11 rakaat, tidak bertabarruk di kuburan yang dianggap keramat, tidak ada kultus, tidak populair di kalangan Nahdhiyin.
Atau sunah sunah poligami yang populair di kalangan salafi dan LDII tidak demikian di kalangan Muhammadiyyin. Atau khuruj yang hanya populair di kalangan Tabligh. Atau kisah kisah para jihadis yang sering menggunakan ayat ayat perang, dan pertumpahan darah hal mana tak populair di kalangan Muhammadiyyin dan Nahdhiyin
*^^^^*
Hadits tentang jidat gosong. Celana cingkrang dan jenggot sangat populair dikalangan salafi atau simpatisan salafi yang tinggal di Muhammadiyah NU atau lainnya,
Qunut dalam Shalat shubuh jelas tak di amalkan warga Muhammadiyah dengan alasan nabi saw tidak mengamalkan terus menerus— padahal yang namanya sunah sudah pasti tidak di amalkan nabi saw terus menerus: puasa senin kemis tidak terus menerus, shalat dhuha tidak terus menerus, senyum tidak terus menerus kalau terus menerus menjadi wajib … sebab yang tidak di amalkan Nabi saw terus menerus bukan berati tidak boleh di amalkan …
@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
Ketua Takmir Masjid Gedhe Padhang Makhsyar
Sumber FB Ustadz : Nurbani Yusuf