Rahasia dan Keutamaan Puasa dalam Islam

Rahasia dan Keutamaan Puasa dalam Islam

Rahasia Puasa (Bagian 1)

Puasa merupakan seperempat dari iman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.”[1] Dan kesabaran itu sendiri adalah setengah dari iman.[2]

Puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan rukun ibadah lainnya karena disandarkan langsung kepada Allah Ta‘ala. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman melalui Nabi ﷺ:

“Setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”[3]

Allah Ta‘ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Karena puasa adalah setengah dari kesabaran, maka pahalanya melampaui hukum perhitungan dan ukuran.

Cukuplah sebagai bukti keutamaannya sabda Nabi ﷺ:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi. Allah berfirman: ‘Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi Aku. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.’”[4]

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan; tidak ada yang memasukinya selain orang-orang yang berpuasa.”[5]

Dan sabdanya:

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya.”[6]

Beliau ﷺ bersabda lagi:

“Segala sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa.”[7]

Juga sabdanya:

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.”[8]

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan ada penyeru yang berseru: ‘Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’”[9]

Waki‘ menafsirkan firman Allah Ta‘ala, “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu,” (QS. Al-Haqqah: 24) bahwa yang dimaksud adalah hari-hari puasa, ketika mereka meninggalkan makan dan minum.

Rasulullah ﷺ juga menggabungkan derajat zuhud terhadap dunia dengan puasa dalam sabdanya:

“Sesungguhnya Allah membanggakan di hadapan para malaikat seorang pemuda yang rajin beribadah. Allah berfirman: ‘Wahai pemuda yang meninggalkan syahwatnya demi Aku dan mengorbankan masa mudanya untuk-Ku, engkau di sisi-Ku seperti sebagian malaikat-Ku.’”[10]

Dalam hadis tentang orang yang berpuasa, Allah berfirman:

“Lihatlah, wahai para malaikat-Ku, hamba-Ku ini meninggalkan syahwat, kenikmatan, makanan, dan minumannya demi Aku.”[11]

Ada pula yang menafsirkan firman Allah, “Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan,” (QS. As-Sajdah: 17) bahwa amal yang dimaksud adalah puasa. Sebab Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala tanpa batas,” (QS. Az-Zumar: 10) maka balasan bagi orang yang berpuasa diberikan tanpa hitungan dan tanpa batas, melampaui bayangan serta perkiraan.

Puasa pantas mendapatkan kemuliaan ini karena disandarkan langsung kepada Allah—meskipun semua ibadah pada hakikatnya milik-Nya—sebagaimana Ka‘bah dimuliakan dengan disandarkan kepada-Nya padahal seluruh bumi adalah milik-Nya. Hal itu karena dua makna:

Pertama, puasa adalah menahan diri dan meninggalkan sesuatu; ia merupakan rahasia batin yang tidak tampak sebagai perbuatan lahiriah. Semua amal ketaatan dapat disaksikan manusia, sedangkan puasa hanya diketahui oleh Allah, karena ia adalah amal batin yang dilakukan dengan kesabaran murni.

Kedua, puasa menundukkan musuh Allah, yaitu setan. Jalan setan—semoga Allah melaknatnya—adalah melalui syahwat, dan syahwat diperkuat oleh makan serta minum. Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti aliran darah, maka persempitlah jalannya dengan rasa lapar.”[12]

Beliau juga bersabda kepada Aisyah RA:

“Teruslah mengetuk pintu surga.”

Aisyah bertanya, “Dengan apa?”

Beliau menjawab, “Dengan rasa lapar.”[13]

Karena puasa secara khusus menekan setan, menutup jalan-jalannya, dan mempersempit alirannya, maka ia layak disandarkan kepada Allah. Dalam menundukkan musuh Allah terdapat pertolongan bagi agama-Nya, dan pertolongan Allah bergantung pada kesediaan hamba untuk menolong agama-Nya. Allah berfirman:

“Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan langkah kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Awalnya adalah kesungguhan dari hamba, sedangkan balasannya berupa petunjuk dari Allah. Karena itu Allah berfirman:

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)

Perubahan itu terjadi dengan memperbanyak syahwat, karena syahwat adalah padang gembalaan setan. Selama ia subur, setan akan terus datang dan pergi; dan selama mereka masih berkeliling, keagungan Allah tidak akan tersingkap bagi seorang hamba sehingga ia terhalang dari perjumpaan dengan-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya setan tidak berputar-putar di sekitar hati anak Adam, niscaya mereka akan melihat kerajaan langit.”[14]

Dari sisi inilah puasa menjadi pintu ibadah dan menjadi perisai.

_____________

Catatan Kaki

[1] Hadis “Puasa adalah setengah dari kesabaran” diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (dinilai hasan) dari seorang laki-laki Bani Sulaim, dan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

[2] Hadis “Kesabaran adalah setengah dari iman” diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam al-Ḥilyah dan al-Khatib dalam at-Tārīkh dari Ibnu Mas‘ud dengan sanad hasan.

[3] Hadis “Setiap kebaikan dilipatgandakan… kecuali puasa” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

[4] Hadis “Bau mulut orang yang berpuasa…” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah; merupakan bagian dari hadis sebelumnya.

[5] Hadis tentang pintu ar-Rayyan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa‘d.

[6] Hadis “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

[7] Hadis “Segala sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa” diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhd dan oleh Abu asy-Syaikh dalam ats-Tsawab dari Abu ad-Darda’ dengan sanad lemah.

[8] Hadis “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” diriwayatkan dalam Amali Ibnu Mandah dengan sanad lemah; juga diriwayatkan ad-Dailami namun terdapat perawi pendusta.

[9] Hadis tentang dibukanya pintu surga saat Ramadan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim; asal hadisnya muttafaq ‘alaih tanpa tambahan “ada penyeru”.

[10] Hadis tentang Allah membanggakan pemuda ahli ibadah diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas‘ud dengan sanad lemah.

[11] Hadis qudsi: “Lihatlah hamba-Ku meninggalkan syahwatnya…”

[12] Hadis “Setan mengalir dalam diri anak Adam seperti aliran darah” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim; tambahan “persempitlah jalannya dengan lapar” tidak terdapat dalam riwayat muttafaq ‘alaih.

[13] Hadis “Teruslah mengetuk pintu surga dengan lapar” — tidak ditemukan asal riwayatnya.

[14] Hadis “Seandainya setan tidak berputar-putar di sekitar hati anak Adam…” diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah. 

Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Rahasia dan Keutamaan Puasa dalam Islam". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Cari Kajian Islam