
Sufi Perlente
Biasanya ulama sufi dikenal dengan tampilan yang sederhana, bahkan terkesan lusuh, sebagai penanda bahwa mereka telah bercerai dengan dunia dan tidak terlarik lagi kepadanya. Namun tidak semua sufi demikian. Sebagian ulama sufi justru tampil perlente dengan pakaian bagus, kendaraan bagus dan manakan minum enak dalam batas yang tidak dicela oleh syariat. Di antara yang demikian adalah Imam Abul Hasan asy-Syadzili.
Imam Abul Hasan asy-Syadzili adalah pendiri tarikat Syadziliyah yang menyebar di seluruh dunia. Sebelum dikenal sebagai sufi, beliau dikenal sebagai seorang pakar dalam berbagai ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, fikih dan ushul. Syaikh Ibrahim ibn Muhammad ibn Nasiruddin ibn al-Milq berkata tentangnya:
ولو قِيلَ لي من في الرِّجالِ مُكمَّلٌ * لقلتُ إمامي الشَّاذليُّ أبو الحسنْ
"Sekiranya dikatakan kepadaku: siapakah di antara para lelaki yang sempurna? Niscaya kukatakan: imamku, Abul Hasan asy Syadzili"
لقد كانَ بحرًا في الشرائع راسخًا * ولا سيَّما علمَ الفرائض والسننْ
"Sungguh, beliau adalah lautan yang kokoh dalam syariat, terutama dalam ilmu faraidh dan sunah"
ومن مَنهلِ التَّوحيدِ قد عبَّ وارتوى * فللَّه كم أَرْوى قلوبًا بها مِحَنْ
"Dan dari sumber tauhid beliau telah mencedok dan minum sepuasnya; maka—betapa banyak beliau telah mengenyangkan hati-hati yang dilanda cobaan."
Tentang gaya perlente beliau dan alasannya, Syaikh Mani’ telah menulis dengan apik dalam bukunya yang berjudul Manahij al-Mufassirin (metode para mufassir) di mana Imam Syadzili ini adalah salah satu ahli tafsir yang dibahas. Saya terjemahkan saja penjelasan buku tersebut sebagai berikut:
“Dan beliau—semoga Allah meridhainya—selalu mengenakan pakaian terbaik ketika menuju masjid. Ketika Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.’ Maksudnya, seluruh bumi adalah masjid bagi manusia di mana pun ia berada sehingga Abul Hasan selalu tampil dengan pakaian yang indah. Beliau tidak pernah suka mengharuskan satu jenis saja setiap waktu.
Suatu hari, Abul ʿAbbas al Mursi masuk menemui Syekh Abul Hasan, sementara dalam dirinya ada keinginan untuk hidup dengan makanan dan pakaian kasar. Maka sang syaikh berkata:
يا أبا العباس: اعرف الله وكن كيف شئت ومن عرف الله فلا عليه أيضا ان أكل هنيئا وشرب مريئا
‘Wahai Abul ʿAbbas, kenalilah Allah, lalu hiduplah sebagaimana engkau kehendaki.Dan siapa yang telah mengenal Allah, maka tidak mengapa baginya makan hidangan yang lezat dan minum yang enak."
Abul Hasan tidak pernah memaksakan diri makan makanan kasar atau membatasi diri dari minum selain air sejuk yang jernih. Ia berkata:
‘'Wahai anakku, dinginkanlah air; sebab jika engkau minum air panas lalu berkata alhamdulillah, engkau mengatakannya dengan kaku; tetapi jika engkau minum air dingin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka seluruh anggota tubuhmu menyambutnya dengan memuji Allah.’
Tentang hal ini, dan untuk menjelaskan manhaj tariqah Syadziliyyah yang digariskan oleh Abul Hasan, Imam Ibnu ʿAta’illah berkata:
وأما لبس اللباس اللين، وأكل الطعام الشهى، وشرب الماء البارد فليس القصد إليه بالذى يوجب العتب من الله، إذا كان معه الشكر لله، ا. هـ
‘Adapun memakai pakaian lembut, makan makanan lezat, dan minum air sejuk, maka tujuannya bukan hal yang mengundang celaan dari Allah apabila disertai rasa syukur kepada Allah’
Ini semua selaras dengan firman Allah Ta‘ala:
“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan bagi hamba hamba Nya, dan rezeki rezeki yang baik? Katakanlah: semuanya itu adalah bagi orang orang yang beriman di dalam kehidupan dunia, dan khusus bagi mereka pada hari kiamat.” (QS. al A‘raf: 32)
Ustadz ʿAli Salim ʿAmmar berkata:
"asy-Syadzili memakai pakaian bagus, menunggangi hewan yang baik, dan memiliki kuda kuda pilihan.”
(Manīʿ ibn ʿAbd al Ḥalīm Maḥmūd, Manāhij al Mufassirīn, I, 164-165)
Begitulah cara bertasawwuf yang dipilih Sang Imam. Ia memilih untuk berdamai dengan kenikmatan duniawi dengan cara mengekpresikan rasa syukur setulus-tulusnya dengan menampakkan nikmat Allah dalam batas yang tidak dicela oleh syariat. Ini jalan yang sebelumnya juga ditempuh oleh Imam Abu Hanifah demi mengamalkan hadis Nabi:
إنَّ اللَّهَ يحبُّ أن يرى أثرَ نعمتِهِ على عبدِهِ
“Sesunnguhnya Allah menyukai melihat bekas nikmatnya atas hambanya” (HR. Turmudzi)
Semoga bermanfaat
Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad