Langit Biru dalam Sains & Aqidah: Allah Tanpa Tempat Menurut Asy'ariyyah

Langit Biru dalam Sains & Aqidah: Allah Tanpa Tempat Menurut Asy'ariyyah

Secara sains dan fisika, langit biru yang kita lihat diatas itu bukanlah benda padat atau atap fisik

Warna biru diatas kita itu sebenarnya batas pandangan manusia. Mata kita cuma bisa melihat gelombang cahaya dalam rentang cahaya tampak

Artinya jika kita mencoba naik roket keatas untuk mengejar warna biru itu, kita tidak akan pernah jumpa

Semakin tinggi kita terbang, semakin sedikit molekul yang menghamburkan cahaya biru, semakin tipis, maka akan terlihat semakin gelap dan mendekati warna ungu kehitaman, hingga akhirnya kita melihat angkasa luar yang hitam dipenuhi bintang

Kayak lagu "Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh"

Tapi dalam meteorologi dan astronomi, langit didefinisikan sebagai lapisan atmosfer bumi dan ruang hampa udara di luarnya yang terlihat dari permukaan bumi. Jadi, jika definisinya adalah ruang dan udara yang menyelimuti bumi, maka langit itu ada secara fisik, berupa gas, uap air, dan partikel yang kasat mata namun bisa diukur massanya.

Disinilah mengapa pemahaman Asy'ariyyah itu masuk akal dan tidak bertentangan dengan Sains

Allah itu tidak tinggal di langit.

Imam al-Ghazali berkata:

"Dan sesungguhnya Dia (Allah) tidak diliputi oleh arah, tidak dibatasi oleh bumi maupun langit. Dan sesungguhnya Dia di atas segala sesuatu hingga ke dasar bumi, dengan keatasna yang tidak menambah kedekatan-Nya kepada Arsy maupun langit."

(Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Kitab Qawa'id al-Aqa'id, Al-Fasl al-Thani)

Imam al-Nawawi berkata:

"Karena langit adalah kiblat bagi orang-orang yang berdoa, sebagaimana Ka'bah adalah kiblat bagi orang-orang yang salat. Yang demikian itu bukanlah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala terkurung di dalam langit, sebagaimana Dia juga tidak terkurung di arah Ka'bah."

(Imam al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin al-Hajjaj, Kitab al-Masajid wa Mawadi' al-Salah, Bab Tahrim al-Kalam fi al-Salah)

Karena memang 'langit biru' yang kita lihat itu bukan benda padat atau atap fisik, melainkan hanyalah ilusi optik dari hamburan cahaya matahari di atmosfer bumi (Rayleigh Scattering). Kalau kita naik roket ke luar angkasa, langit biru itu hilang dan berubah jadi hitam hampa.

Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyyah) sangat logis dan ilmiah. Seperti kata Imam al-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim, langit itu hanyalah 'kiblat doa' (tempat kita menengadah), bukan tempat tinggal Allah. Allah ada tanpa tempat dan tidak butuh pada arah, karena Allah-lah yang menciptakan arah dan ruang tersebut.

Dalam bahasa Arab, kata Sama' (Langit) berasal dari akar kata "Sumuw" yang berarti segala sesuatu yang berada di atas Anda dan menaungi Anda.

Segenap ulama tafsir sepakat, atap rumah pun bisa disebut sama' secara bahasa. Termasuk plafon, langit-langit rumah, bisa disebut dengan Sama'

Imam Ibnu Manzhur  dalam kamus induk Lisan al-Arab menegaskan:

ุงู„ู†ุต ุงู„ุนุฑุจูŠ: ูˆَุงู„ุณَّู…َุงุกُ: ูƒُู„ُّ ู…َุง ุนَู„َุงูƒَ ูَุฃَุธَู„َّูƒَ، ูˆَู…ِู†ْู‡ُ ุณَู…َุงุกُ ุงู„ْุจَูŠْุชِ

"Dan al-Sama' adalah segala sesuatu yang berada di atasmu lalu menaungimu, dan termasuk dari bagian itu adalah langit-langit (plafon/atap) rumah."

Itu secara etimologi.

Akan tetapi secara Ilmu Al Qur'an, Tujuh lapis langit yang disebutkan dalam peristiwa Isra Mikraj dan teks-teks wahyu lainnya bukanlah lapisan atmosfer, dan juga bukan ruang angkasa fisik yang dicari oleh teleskop Hubble atau James Webb.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah menjelaskan bahwa tujuh langit tersebut adalah benda padat yang riil (makhluk fisik-metafisik) namun berada di ranah ghaib/alam Malakut, yang tidak bisa ditembus oleh indra manusia biasa maupun teknologi materi.

Imam Tajuddin al-Subki berkata:

"Sesungguhnya langit yang tujuh adalah realitas yang nyata dan berdiri sendiri. Ia termasuk dari alam Malakut yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra semata, melainkan diketahui melalui kabar/wahyu dari para nabi alaihimussalam."

(Imam Tajuddin al-Subki, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, Bab al-Aqa'id)

Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya :

"Dan langit-langit itu adalah jirm (benda padat/materi) yang wujud secara hakiki. Allah Ta'ala telah menciptakannya, menjadikannya memiliki pintu-pintu, dan menetapkan para malaikat penjaga untuknya. Keadaannya tidaklah seperti yang dikatakan oleh para ahli astronomi kuno dan para filosof bahwa langit hanyalah garis edar tempat bintang-bintang berputar, tidak lebih dari itu."

(Imam al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Tafsir Surah al-Baqarah ayat 29)

Imam Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya:

"Bahwasanya langit-langit itu adalah benda-benda fisik yang tebal dan kokoh, tidak menerima keretakan maupun penggabungan kecuali dengan izin Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya langit memiliki pintu-pintu yang nyata (haqiqiyyah) yang tidak dibuka kecuali bagi siapa yang Allah kehendaki dari kalangan malaikat dan ruh-ruh para nabi."

(Imam Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Tafsir Surah al-A'raf ayat 40)

Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir :

"Yaitu (langit) sebagai atap bagi bumi, dan ia adalah bangunan yang terjaga dari keruntuhan, serta terjaga dengan penjaga (malaikat) dan lontaran bintang agar tidak bisa dicapai oleh setan-setan."

(Al-Hafiz Ibnu Kathir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Tafsir Surah al-Anbiya ayat 32)

Jika Anda meyakini Allah berada di atas langit secara arah fisik, mari kita pakai logika matematika dan dalil

Hadis Mikraj menyatakan bahwa langit itu berlapis-lapis (1 sampai 7). 

Di atas langit ketujuh ada Sidratul Muntaha, di atasnya ada jembatan, di atasnya ada Arsy.

Antara langit satu ke langit berikutnya ada jarak perjalanan 

Artinya, langit-langit tersebut memiliki volume, batas, koordinat, jarak, dan ukuran fisik makhluk.

Jika Anda mengatakan Allah berada di 'atas' dalam arti arah spasial fisik, berarti Anda terjebak dalam dua konsekuensi fatal

Jika membayangkan Allah berada di atas "langit" dalam arti arah spasial fisik atas-bawah, maka secara astronomi mereka sedang meletakkan Tuhan pada koordinat bumi. 

Al-Qur'an dan Hadis (seperti hadis Mikraj) dengan tegas menyatakan langit itu berlapis-lapis, memiliki pintu, jarak perjalanan, dan dijaga malaikat. 

Para ulama seperti Imam al-Qurtubi dan Imam al-Razi menegaskan langit adalah jirm dan ajsam sulbah (benda padat riil) di alam gaib. 

Jadi, dalil sendiri menyatakan langit itu adalah makhluk yang memiliki ukuran, volume, dan batasan. Menempatkan Allah di atas benda yang berukuran berarti mengklaim bahwa Zat Allah juga memiliki batasan ukuran fisik.

Subhanallahi 'amma yaqulun

Ketika kaum Asy'ariyyah menegaskan bahwa "Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat arah," pendapat ini sama sekali tidak membentur tembok sains maupun dalil

Sesuai Sains. Asy'ariyyah tidak bingung dengan fakta bahwa bumi itu bulat atau langit itu hanyalah atmosfer. Karena bagi Asy'ariyyah, ruang, waktu, barat, timur, atas, dan bawah adalah makhluk yang baru diciptakan. Allah tidak berubah menjadi butuh tempat setelah tempat itu diciptakan. 

Bumi itu bulat dan berputar. Atasnya orang Indonesia itu bawahnya orang Amerika. Kalau Anda menyembah Tuhan yang secara fisik bertempat 'di atas langit' dalam arti arah, maka Tuhan Anda terjebak pada batasan atmosfer bumi yang semu dan arahnya berubah-ubah setiap jam akibat rotasi bumi.

Sesuai Dalil. Asy'ariyyah menerima semua dalil tentang sifat Allah dengan metode tafwidh (menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah) atau ta'wil yang sahih secara bahasa Arab (seperti penjelasan Imam al-Nawawi bahwa langit adalah kiblat doa, bukan tempat tinggal Allah).

Wallahu a'lam

Sumber FB Ustadzah : Diah Al-Asy'ariyyah

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Langit Biru dalam Sains & Aqidah: Allah Tanpa Tempat Menurut Asy'ariyyah". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.