
TAFWIDH itu apa sih??
TAFWIDH artinya membiarkan lafadz itu apa adanya, bukan menterjemahkan, bukan dibahas panjang lebar.
Yad cukup disebut Yad, Nuzul cukup disebut Nuzul, Istiwa cukup disebut Istiwa [JANGAN DITERJEMAHKAN!]
Ketika Imam Malik ditanya tentang sifat-sifat Allah, beliau menjawab :
ุงَْูุงِุณْุชَِูุงุกُ ู َุนُْْููู ٌ، َูุงَُْْูููู ู َุฌٌُْْููู، َูุงْูุฅِْูู َุงُู ุจِِู َูุงุฌِุจٌ، َูุงูุณُّุคَุงُู ุนَُْูู ุจِุฏْุนَุฉٌ
"Istiwa' itu bukan sesuatu yang tidak diketahui, kafiat tidak masuk akal, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah. Dan aku tidak melihatmu melainkan seorang ahli bid'ah."
Coba perhatikan, disini Imam Malik tetap memakai kata original dari Al Qur'an "Al-Istiwa".
Beliau tidak panjang lebar menjelaskan atau menterjemahkannya kepada Si Penanya "Al-istiwa'u ma'nahu jalasa, aw qa'ada, aw istaqarra, aw sakana fi makan (Oh,, Istiwa itu artinya Jalasa Duduk, menetap, atau menghuni suatu tempat)
Beliau juga tidak mengatakan "Itu artinya Allah itu diatas, bersemayam di arsy"
TIDAK PERNAH ADA!
Imam Malik tidak panjang lebar, tapi langsung mengatakan IMANI!
"Dan aku tidak melihatmu melainkan seorang ahli bid'ah."
Beliau marah, itu si penanya langsung di usir.
Imam Syafi'i juga demikian.
Ketika beliau ditanya tentang sifat-sifat Allah, Imam Syafii menjawab :
ุฃَู َْูุชُ ุจِุงَِّููู َูุจِู َุง ุฌَุงุกَ ุนَِู ุงَِّููู ุนََูู ู ُุฑَุงุฏِ ุงَِّููู، َูุขู َْูุชُ ุจِุฑَุณُِูู ุงَِّููู َูุจِู َุง ุฌَุงุกَ ุนَْู ุฑَุณُِูู ุงَِّููู ุนََูู ู ُุฑَุงุฏِ ุฑَุณُِูู ุงَِّููู
“Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan kehendak (murad) Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan kehendak Rasulullah.”
(Ibn Qudamah al-Maqdisi, Dzamm ut-Ta’wil dan juga diisyaratkan dalam Lum’at ul-I’tiqad)
Lihat, Imam Syafii tidak panjang lebar mengatakan bahwa Allah itu diatas, dilangit, bersemayam, punya tangan, punya kaki.
Lautan Ilmu setingkat Imam Malik, Imam al-Syafii, hingga Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai manusia yang paling gemetar dan "pelit" bicara jika sudah masuk ke wilayah sifat-sifat Allah.
Mengapa? Karena bagi mereka, membicarakan Zat Allah tanpa keperluan syar'i yang mendesak adalah bentuk kelancangan, wilayah suci yang harus dijaga dengan ketat melalui sukut (diam) dan imsak (menahan diri).
Inilah yg disebut Tafwidh Salaf.
Sebaliknya, fenomena hari ini di media sosial memperlihatkan pemandangan yang ironis, akun-akun awam, yang masih sangat hijau dalam ilmu agama, justru menjadikan topik "di mana Allah", "tangan Allah", dan "betis Allah" sebagai konten harian yang digandrungi, diperdebatkan berulang-ulang, dan dijadikan alat untuk menguji (bahkan mengkafirkan/membid'ahkan) sesama muslim.
Dalam memahami ayat Tasybih Mazhab Asy'ariyyah lebih mendahulukan Tafwidh, adapun takwil adalah metode kedua
Imam Nawawi mengatakan:
َูุงْูู َุฐَْูุจُ ุงูุฃََُّูู ََُููู ู َุฐَْูุจُ ุฌَู َุงِููุฑِ ุงูุณََِّูู ุฃَْู ُِِّูููู ْ: ุฃََُّูู ูุงَ ُูุชَََّููู ُ ِูู ู َุนَْูุงَูุง، ุจَْู َُููุงُู: ُูุคْู ُِู ุจَِูุง ََููุนْุชَِูุฏُ ุฃَََّููุง ุญٌَّู ุนََูู ู َุง َُِูููู ุจِุฌَูุงِู ุงَِّููู ุชَุนَุงَูู َูุนَุธَู َุชِِู، ู َุนَ ุงุนْุชَِูุงุฏَِูุง ุงْูุฌَุงุฒِู ِ ุฃََّู ุงََّููู ุชَุนَุงَูู َْููุณَ َูู ِุซِِْูู ุดَْูุกٌ، َูุฃََُّูู ู َُูุฒٌَّู ุนَِู ุงูุชَّุฌْุณِูู ِ َูุงูุงِْูุชَِูุงِู َูุงูุชَّุญَُّูุฒِ ِูู ุฌَِูุฉٍ
َูุงْูู َุฐَْูุจُ ุงูุซَّุงِูู ََُููู ู َุฐَْูุจُ ู ُุนْุธَู ِ ุงْูู ُุชََِّููู َِูู: ุฃَََّููุง ุชُุชَุฃََُّูู ุนََูู ูุงุฆٍู ุจَِูุง ุญَุณَุจَ ู ََูุงِูุนَِูุง. ََููุง َูุฌْุชَุฑِุฆُ ุนََูู َูุฐَุง ุฅَِّูุง ู َْู َูุงَู ู ِْู ุฃَِْูู ِูุณَุงِู ุงْูุนَุฑَุจِ، ุนَุงุฑًِูุง ุจََِููุงِِِูููู، ู َุงِูุฑًุง ِูู ุงุณْุชِุนْู َุงِِูู.
"Madzhab pertama, yaitu madzhab mayoritas ulama Salaf atau bahkan seluruhnya: Bahwa makna ayat/hadis sifat tersebut tidak usah dibicarakan (tidak dikorek-korek maknanya). Melainkan cukup dikatakan: 'Kami mengimaninya dan meyakini bahwa hal itu benar adanya sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala', disertai keyakinan yang pasti bahwa Allah tidak menyerupai sesuatu pun, dan Dia maha suci dari tajsim (memiliki fisik), intiqal (berpindah-pindah), serta tahayyuz (mengambil ruang/bertempat) di suatu arah.
Dan mazhab kedua, yaitu mazhab sebagian besar ulama ahli kalam: Bahwa ayat/hadis sifat tersebut ditakwilkan dengan makna yang layak bagi Allah sesuai dengan konteks kalimatnya. Dan tidak boleh ada orang yang berani melakukan hal ini (takwil) kecuali orang yang termasuk ahli dalam bahasa Arab, mengetahui kaidah-kaidahnya, serta mahir dalam penggunaannya."
(Imam Nawawi, dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, Kitab Al-Iman, Bab Fi Atsbatir Ru'yah )
Kakek saya mengatakan, ini dari dua guru beliau, Syekh Abdul Hayy al-Khattani dan Syekh Hasan Masyath, Mereka berkata yg kurang lebih maksudnya:
"Tafwidh adalah utama. Kita mengimani teks, kita mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, lalu kita serahkan makna hakikinya kepada Allah. Ini paling aman. Ini yang diajarkan kepada para awam. Adapun Takwil adalah garis pertahanan kedua. Ini untuk para ulama. Mengalihkan teks sesuai kaidah bahasa Arab, misalnya Yad menjadi kekuasaan, Istawa menjadi menguasai. Ini paling kokoh secara argumen (ahkam) untuk mematahkan syubhat. Tapi ingat, sepakat. Takwil hanya untuk level akademis. Butuh perangkat bahasa Arab yang tinggi. Para ulama pun tak mengeluarkan takwil di mimbar awam, cukup di ruang kelas madrasah untuk menjawab pertanyaan kritis atau saat mengkaji kitab-kitab syarah tingkat tinggi."
JIKA ADA YANG MENGIRA MAZHAB ASY'ARI HANYA MEMAKAI TAKWIL INI SALAH BESAR. KITA MENDAHULUKAN TAFWIDH, DAN TIDAK MENGINGKARI TAKWIL SEBAGAI ALTERNATIF KEDUA
Tafwidh artinya membiarkan lafadz itu apa adanya, bukan menterjamahkan, bukan sok tau maknanya.
Bukan malah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tangan, kaki, betis, bersemayam, turun.
Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata:
ุฃََّู َُّูู ู َْู َََููู َูุฐِِู ุงْูุฃََْููุงุธَ ุฅَِูู ุงُّููุบَุฉِ ุงَْููุงุฑِุณَِّูุฉِ ู َุซًَูุง ุฃَْู ุบَْูุฑَِูุง ู َِู ุงُّููุบَุงุชِ، ََُููู ู ُุจْุชَุฏِุนٌ َูุฌَุงٌِูู... ุจَْู َْููุจَุบِู ุฃَْู َُููุฑَّ ุงَّْูููุธُ ุนََูู ู َุง َูุฑَุฏَ
"Sesungguhnya setiap orang yang menukil (menerjemahkan) lafaz-lafaz (mutasyabihat) ini ke dalam bahasa Persia, misalnya, atau bahasa lainnya, maka ia adalah pelaku bid'ah dan orang yang bodoh... Sebaliknya, wajib hukumnya untuk membiarkan lafaz tersebut tetap sebagaimana ia datang (apa adanya)."
[Al-Iqtisad fi al-I'tiqad, Bab al-Qaul fi al-Tanzih (Pembahasan tentang Penyucian Allah]
Ini yg disebut Tajsim Khafi
Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:
ุฅَّู َُّูู ู َْู ุฃَุซْุจَุชَ َِِّููู ุชَุนَุงَูู ู ََูุงًูุง ุฃَْู ุฌَِูุฉً، ََููุฏْ ุฌَุนََُูู ุฌِุณْู ًุง ุถَุฑُูุฑَุฉً، َูุฅِْู ุฃََْููุฑَ َْููุธَ ุงْูุฌِุณْู ِ ََููุง َูุงุฆِุฏَุฉَ ِูู ุฅَِْููุงุฑِ ุงَّْูููุธِ ู َุนَ ุฅِุซْุจَุงุชِ ุงْูู َุนَْูู.
"Sesungguhnya setiap orang yang menetapkan bagi Allah Ta'ala tempat atau arah, maka ia secara otomatis telah menjadikannya sebagai fisik (jism). Dan jika ia mengingkari lafaz jism (menolak disebut mujassim), maka tidak ada gunanya pengingkaran lafaz tersebut selagi ia tetap menetapkan maknanya."
(Kitab: Asasut Taqdis, Bab Pertama tentang Penafian Sifat Jismiah, Jihah, dan Makan dari Allah SWT)
Wallahu a'lam
__________
Tambahan :
Imam Malik tentang Istawa: Perbandingan Riwayat Sahih vs Dhaif
Tentang perkataan Imam Malik terkait Istawa, memiliki beberapa riwayat yang maknanya senada dan sering dikutip dalam literatur turots
1. Riwayat dengan lafaz Ma'lum dan Majhul
ุงَْูุงِุณْุชَِูุงุกُ ู َุนُْْููู ٌ، َูุงَُْْูููู ู َุฌٌُْْููู، َูุงْูุฅِْูู َุงُู ุจِِู َูุงุฌِุจٌ، َูุงูุณُّุคَุงُู ุนَُْูู ุจِุฏْุนَุฉٌ
Al-istiwa'u ma'lum, wa al-kayfu majhul, wa al-imanu bihi wajib, wa as-su'alu 'anhu bid'ah.
Ini yang paling populer, dan sering dijadikan dasar argumen kalangan kaum tekstualis/Wahabi, padahal dari segi sanad, riwayat ini dikritik keras oleh para ulama hadis.
Riwayat dengan lafaz majhul ini umumnya bersumber dari kitab Hilyat al-Auliya' karya Imam Abu Nu'aim atau As-Sifat karya Imam Al-Daraqutni, melalui jalur dari Ja'far bin Abdullah dari seorang laki-laki (perawi anonim/mubham) yang mendatangi Imam Malik bin Anas.
2. Riwayat Imam Yahya bin Yahya At-Tamimi (Murid Imam Malik)
ุงَْูุงِุณْุชَِูุงุกُ ุบَْูุฑُ ู َุฌٍُْْููู، َูุงَُْْูููู ุบَْูุฑُ ู َุนٍُْْููู، َูุงْูุฅِْูู َุงُู ุจِِู َูุงุฌِุจٌ، َูุงูุณُّุคَุงُู ุนَُْูู ุจِุฏْุนَุฉٌ، َูู َุง ุฃَุฑَุงَู ุฅَِّูุง ู ُุจْุชَุฏِุนًุง
Al-istiwa'u ghairu majhul, wa al-kayfu ghairu ma'qul, wa al-imanu bihi wajib, wa as-su'alu 'anhu bid'ah, wa ma araka illa mubtadi'an.
"Istiwa' itu bukan sesuatu yang tidak diketahui (maknanya secara bahasa), kafiat (bagaimana-nya) tidak masuk akal (mustahil bagi Allah), mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah. Dan aku tidak melihatmu melainkan seorang ahli bid'ah."
Ini yang shahih.
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Al-Asma' wa As-Sifat dari Imam Al-Hakim Al-Mustadrak dari Abu Bakar Ahmad bin Ishaq bin Ayyub al-Faqih dari Isma'il bin Qutaibah dari Yahya bin Yahya At-Tamimi (salah satu murid utama Imam Malik dan periwayat kitab Al-Muwatta') dari Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Berstatus Sahih dengan lafaz “Al-kayfu ghairu ma'qul” (Kaifiat itu tidak masuk akal). Beliau mengkritik secara implisit jalur-jalur lemah yang menyelundupkan lafaz “Al-kayfu majhul” karena jalur tersebut mengandung perawi yang tidak dikenal (majhul/mubham).
[Al-Asma' wa al-Sifat, Bab Ma Ja'a fi al-Istiwa']
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:
َูุฃَุฎْุฑَุฌَ ุงุจُْู ุฃَุจِู ุญَุงุชِู ٍ ู ِْู ุทَุฑِِูู ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุจِْู َูุงِูุนٍ َูุงَู: َูุงَู ู َุงٌِูู: ุงُููู ِูู ุงูุณَّู َุงุกِ َูุนِْูู ُُู ِูู ُِّูู ู ََูุงٍู... َูุฃَุฎْุฑَุฌَ ุจٌََِّْูููู ุจِุณََูุฏٍ ุตَุญِูุญٍ ุนَْู َูุญَْูู ุจِْู َูุญَْูู... َูุฐََูุฑَ ู ِุซَُْูู ุจَِْููุธِ: ุงْูุงِุณْุชَِูุงุกُ ุบَْูุฑُ ู َุฌٍُْْููู َูุงَُْْูููู ุบَْูุฑُ ู َุนٍُْْููู
"Dan Al-Baihaqi mengeluarkan dengan sanad yang sahih dari Yahya bin Yahya... lalu ia menyebutkan riwayat yang serupa dengan lafaz: Al-istiwa' ghairu majhul (bukan sesuatu yang tidak diketahui maknanya secara bahasa) dan al-kayf ghairu ma'qul (kaifiat/bentuknya tidak masuk akal/mustahil bagi Allah)."
[Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Kitab al-Tauhid, Bab Wakana 'Arsyuhu 'ala al-Ma'.]
Imam Al-Dzahabi bahkan menegaskan:
ََููุฐِِู ุงِْููุตَّุฉُ ุฑََูุงَูุง ุฌَุนَْูุฑُ ุจُْู ุนَุจْุฏِ ุงِููู، ุนَْู ุฑَุฌٍُู، ุนَْู ู َุงٍِูู
"Dan kisah ini diriwayatkan oleh Ja'far bin Abdullah, dari seorang laki-laki (mubham), dari Malik."
Siyar A'lam al-Nubala', Biografi Imam Malik bin Anas.]
Meskipun Imam Al-Dzahabi sering dikutip oleh kelompok Wahabi, dalam kitabnya Siyar A'lam al-Nubala', beliau secara jujur mengakui cacat sanad yang melalui jalur Ja'far bin Abdullah ini karena adanya perawi anonim.
Dalam ilmu hadis, perawi majhul seperti ini membuat riwayat berstatus Dhaif.
Bagaimana mungkin akidah umat Islam dibangun di atas hadis dhaif, sementara ada riwayat yang Sahih dari Imam Malik dalam kitab Al-Asma' wa al-Sifat karya Al-Baihaqi dengan lafaz ‘Al-kayfu ghairu ma'qul’ (Kaifiat itu tidak masuk akal bagi Allah)?
Wallahu a'lam
___________
Tambahan :
Imam al-Asy'ari berkata:
َูุฃََُّูู َูุง ُูุดْุจُُِูู ุดَْูุกٌ، ََููุง ُููุตَُู ุจِุฃََُّูู ุฌِุณْู ٌ، ََููุง ุฃََُّูู ู َุญْุฏُูุฏٌ، ََููุง ุฃََُّูู ุชَุญِِْููู ุงْูุฃَู َุงُِูู، ََููุง ุชَุฌْุฑِู ุนََِْููู ุงْูุฃَุฒْู َุงُู ... َูุจُِِّูู ู َุง ุฐََูุฑَْูุง ู ِْู َِِْููููู ْ َُُูููู، َูุฅَِِْููู َูุฐَْูุจُ.
"Dan bahwasanya Allah tidak menyerupai sesuatu pun, tidak disifati dengan jism (fisik/materi), tidak pula mahdud (terbatas), tidak diliputi oleh tempat-tempat, dan tidak berlaku bagi-Nya waktu (zaman)... Dan dengan semua yang telah kami sebutkan dari perkataan mereka itulah kami berpendapat, dan kepadanyalah kami menuju (bermazhab)."
[Maqalat al-Islamiyyin, Juz 1, pada bab Hikayatu Qawli Ashhab al-Hadits wa Ahli as-Sunnah.]
Sumber FB Ustadzah : Diah Al-Asy'ariyyah
