Umat Islam Tak Dikalahkan Musuh Luar, Tapi Perpecahan Internal

Umat Islam Tak Dikalahkan Musuh Luar, Tapi Perpecahan Internal

𝗨𝗠𝗔𝗧 π—¬π—”π—‘π—š π—§π—œπ——π—”π—ž π—”π—žπ—”π—‘ π——π—œπ—žπ—”π—Ÿπ—”π—›π—žπ—”π—‘ 𝗠𝗨𝗦𝗨𝗛 𝗗𝗔π—₯π—œ π—Ÿπ—¨π—”π—₯

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq 

Sejarah telah memberikan banyak pelajaran kepada kita, diantaranya adalah sebuah fakta bahwa umat Islam tidak pernah dikalahkan oleh kekuatan yang datang dari luar. Kelemahan dan kekalahan yang menimpa umat ini justru bermula dari dalam tubuh mereka sendiri, berupa perpecahan, perselisihan, pengkhianatan, dan kerja sama sebagian pihak dengan musuh-musuh Islam.

Catatan sejarah penuh dengan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa keruntuhan dan kemunduran peradaban kaum muslimin sering kali diawali oleh rapuhnya kondisi internal umat sebelum datangnya serangan dari luar. 

Gejala pertama yang menunjukkan bahaya tersebut tampak sejak masa awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah. Pada saat terjadinya perang Khandaq atau Perang Ahzab yang terjadi pada tahun kelima Hijriah, pasukan musyrikin datang mengepung Madinah dengan tujuan menghancurkan komunitas Islam yang baru tumbuh. Rasulullah ο·Ί bersama para sahabat telah menyiapkan berbagai langkah pertahanan untuk menghadapi ancaman itu.

Namun di tengah situasi yang sangat genting, sebagian orang enggan ikut berjuang dan memilih meninggalkan barisan kaum muslimin. Sikap tersebut menimbulkan keguncangan dalam masyarakat dan memperberat beban yang harus dihadapi umat saat itu. Pada saat yang sama, Yahudi Bani Quraizhah melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati dengan Rasulullah ο·Ί dan berpihak kepada pasukan musyrik. Akibatnya, kaum muslimin menghadapi ancaman dari luar sekaligus bahaya pengkhianatan dari dalam.

Seandainya para shahabat tidak tetap teguh mempertahankan Madinah hingga Allah memalingkan pasukan musuh dan memaksa mereka mundur, niscaya akibat yang ditimbulkan akan sangat besar, baik bagi kaum muslimin maupun bagi masa depan Islam yang ketika itu masih berada pada tahap awal perkembangannya. Peristiwa ini menjadi salah satu pelajaran penting tentang besarnya dampak ancaman internal terhadap keselamatan umat.

Sepanjang sejarahnya, umat Islam menunjukkan kekuatan yang luar biasa ketika mereka berada dalam keadaan bersatu. Pada masa Khulafaur Rasyidin, wilayah Islam berkembang luas ke berbagai penjuru dunia. Negeri-negeri baru masuk ke dalam kekuasaan Islam dan berbagai bangsa memeluk agama ini. Gelombang pembukaan negeri-negeri tersebut berlangsung terus nyaris tanpa henti hingga masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Pada masa beliau, konflik internal yang terjadi di kalangan kaum muslimin menyebabkan perhatian umat tersita oleh persoalan-persoalan dalam negeri. Akibatnya, gerakan ekspansi yang sebelumnya berlangsung pesat mengalami perlambatan bahkan nyaris terhenti. Perpecahan internal benar-benar telah menyita energi umat dan mengalihkan perhatian mereka dari tugas-tugas besar yang sebelumnya mereka emban.

Kemudian tampuk amanah berpindah ke tangan Bani Abbasiyah. Pada masa-masa awal pemerintahan baru ini, mereka berhasil mempertahankan kejayaan umat. Namun setelah beberapa dekade berlalu, tanda-tanda kelemahan di tubuh umat mulai tampak. Perselisihan yang sebelumnya masih dapat dikelola perlahan berubah menjadi perpecahan yang menggerogoti kekuatan umat dari dalam. 

Di bidang keilmuan, perbedaan pandangan yang semestinya menjadi sarana memperkaya khazanah pemikiran Islam, pada sebagian keadaan berubah menjadi persengketaan dan permusuhan antar kelompok. Fanatisme terhadap madzhab, tokoh, atau golongan tertentu kerap mengalahkan semangat ukhuwah dan mengorbankan pondasi penting berupa persatuan. Akibatnya, energi yang seharusnya diarahkan untuk membangun peradaban dan menghadapi tantangan umat justru banyak terkuras dalam konflik internal.

Di bidang politik, keadaan tidak kalah rumit. Otoritas pusat Abbasiyah semakin melemah, sementara berbagai dinasti dan kerajaan kecil mulai muncul di berbagai wilayah dunia Islam. Meskipun sebagian di antaranya tetap mengakui legitimasi khalifah Abbasiyah secara simbolis, pada praktiknya mereka menjalankan pemerintahan secara mandiri dan sering kali terlibat perseteruan yang sengit satu sama lain.

 Perpecahan politik pun menjadi fenomena yang semakin meluas, sehingga kekuatan umat yang dahulu terpusat berubah menjadi kekuatan-kekuatan yang tercerai-berai.

Dalam kondisi demikian, masing-masing kelompok lebih banyak disibukkan oleh kepentingan dan persoalannya sendiri. Ikatan persatuan yang sebelumnya menjadi sumber kekuatan umat perlahan memudar. Ketika solidaritas melemah dan perpecahan semakin mengakar, kemampuan umat untuk menghadapi ancaman dari luar pun ikut menurun. 

Kelemahan inilah yang pada akhirnya membuka peluang bagi musuh-musuh Islam untuk mencampuri urusan mereka, bahkan melancarkan serangan ke wilayah-wilayah kaum muslimin.

Dalam situasi seperti itulah bangsa-bangsa Eropa melancarkan Perang Salib pertama ke wilayah-wilayah Islam. Mereka memulai serangan ke Anatolia dan berhadapan dengan kaum Saljuk. Pasukan Salib berhasil mengalahkan mereka dengan mudah lalu merebut kota Nicaea pada tahun 1097 Masehi.

Dari sana mereka terus bergerak menuju negeri Syam. Kota Antiokhia jatuh ke tangan mereka pada tahun 1098 Masehi. Setelah itu satu demi satu wilayah pesisir Syam berhasil mereka kuasai hingga akhirnya mereka mencapai Baitul Maqdis pada tahun 1099 Masehi.

Ketika memasuki kota suci tersebut, pasukan Salib melakukan pembantaian yang mengerikan terhadap penduduknya, baik dari kalangan Muslim maupun Yahudi. Darah mengalir di jalan-jalan kota, ribuan manusia kehilangan nyawa mereka, dan Yerusalem mengalami salah satu tragedi paling kelam dalam sejarahnya. Banyak penduduk yang selamat kemudian ditawan dan dijual sebagai budak di pasar-pasar perbudakan.

Umat Islam tidak akan mengalami pukulan besar dan semengerikan ini dari luar seandainya tidak ada kelemahan dan perpecahan di dalam tubuhnya sendiri. Pada masa itu, para penguasa dan amir saling berebut kekuasaan atas kota-kota Islam, masing-masing berusaha memperluas pengaruhnya dengan menindas penduduk dan mengeksploitasi mereka.

 Umat pun mengalami bencana besar akibat munculnya berbagai dinasti kecil yang saling bertikai. Hal ini menyebabkan wilayah Islam yang luas terpecah-pecah, bahkan sebagian besar wilayahnya jatuh ke tangan kaum Salib yang kemudian mendirikan empat kerajaan dan kepangeranan di wilayah Syam.

Keadaan ini menjadikan kebutuhan akan penataan kembali kekuatan internal dan penyatuan barisan umat menjadi sangat mendesak. Proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang, di mulai dari masa akhir generasi imam Ghazali, berlanjut ke generasi Syaikh Abdul Qadir al Jailani hingga akhirnya muncul tokoh besar Nuruddin Zanki (1118–1174 M) yang berhasil menyatukan kaum muslimin di Mosul, Syam, dan Mesir dalam satu kekuatan politik. 

Hal ini merupakan kelanjutan dari upaya ayahnya, Imaduddin Zanki, yang telah lebih dahulu memulai perjuangan melawan pasukan Salib.

Dinasti Zanki berhasil meraih kemenangan penting dengan merebut salah satu wilayah utama tentara Salib, yaitu Emirat Edessa (al-Ruha) pada tahun 1144 M. Setahun kemudian, mereka juga berhasil menghadapi serangan Perang Salib Kedua yang dilancarkan terhadap dunia Islam.

Nuruddin Zanki kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Asaduddin Syirkuh ke Mesir untuk menghadapi pengaruh pasukan Salib. Perkembangan di Mesir akhirnya berpuncak pada keberhasilan Shalahuddin al Ayyubi menghapus kekuasaan Fathimiyah pada tahun 1171 M dan mengembalikan Mesir ke pangkuan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Setelah secara umum kondisi umat kembali stabil, barulah kemudian arah perjuangan mulai tertuju pada pembebasan Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib. Setelah wafatnya Nuruddin Zanki, kepemimpinan beralih kepada Shalahuddin. Ia berhasil memperkuat front internal, menyatukan kekuatan kaum muslimin di bawah satu komando, dan mempersiapkan langkah besar menuju pembebasan Palestina.

Puncaknya terjadi dalam perang Hattin pada tahun 1187 M, ketika pasukan Islam berhasil meraih kemenangan besar atas pasukan penjajah Salib. Kemenangan ini membuka jalan bagi pembebasan Baitul Maqdis pada tahun yang sama.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mampu meraih kemenangan atas musuh-musuhnya kecuali dengan mengawali langkah memperkuat persatuan internal dan menyatukan barisan mereka. Sebaliknya, ketika kelemahan dan perpecahan terjadi di dalam tubuh umat, maka berbagai musibah dan kekalahan akan datang berturut-turut.

Hal ini kembali terbukti beberapa dekade setelah masa Shalahuddin, ketika terjadi perselisihan di antara para penguasa Ayyubiyah. Konflik internal berkembang menjadi pertikaian bersenjata, saling menyerang, dan pertumpahan darah sesama muslim. Akibatnya, umat kembali menghadapi gelombang serangan baru dari pasukan Salib ke Mesir dan Syam.

Namun ancaman yang lebih besar dan mengerikan kemudian datang dari arah timur, yaitu serangan bangsa Mongol yang mulai menghancurkan kota-kota Islam satu per satu. Umat Islam kembali berada dalam kondisi lemah dan terpecah hingga mencapai puncaknya ketika Baghdad, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah, dikepung dan jatuh ke tangan Mongol pada tahun 1258 M.

Dalam peristiwa itu, musuh internal di dalam pusat kekhalifahan dinilai lebih berbahaya daripada musuh eksternal. Perselisihan sengit antara Ibn al ‘Alqami, wazir khalifah, dengan panglima militer saat itu, al Duwaidar, dan persengketaan lain dari sebab perbedaan kecenderungan politik dan madzhab, menjadi faktor yang memperlemah pertahanan Baghdad. 

Bahkan kemudian Ibn al ‘Alqami memilih jalan pengkhianatan dengan bekerja sama dengan pasukan Mongol, sehingga membuka jalan bagi musuh untuk bisa memasuki kota dan menguasainya dengan leluasa. Akibatnya, barisan pertahanan melemah dan kota jatuh ke tangan musuh, disertai tragedi pembantaian besar yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masa itu.

Sejarah Islam kemudian terus mengulangi pola yang sama. Umat tidak dikalahkan semata-mata oleh kekuatan luar, tetapi oleh kerusakan yang terjadi dari dalam. Hal ini juga terlihat pada masa akhir Kekhalifahan Utsmaniyah, yang sebelum runtuhnya telah mengalami pelemahan internal akibat infiltrasi dan tekanan dari dalam. Ketika Perang Dunia Pertama pecah, kekhalifahan ini berada dalam posisi lemah hingga akhirnya kehilangan wilayah satu per satu.

Palestina yang kemudian berada di bawah mandat Inggris menjadi titik penting dalam sejarah modern umat Islam. Inggris tidak serta-merta menyerahkannya kepada gerakan Zionis, tetapi membutuhkan waktu sekitar tiga dekade untuk mengokohkan proyek tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa selama masih ada kekuatan internal di kalangan umat, proses penguasaan tidak berjalan mudah.

Setelah mandat Inggris berakhir pada tahun 1948 M, Zionis mendeklarasikan berdirinya negara Israel di Palestina. Perang pun pecah pada tahun yang sama. Kaum muslimin di Palestina, di bawah kepemimpinan Abdul Qadir al Husayni (1908–1948 M), berusaha menghadapi gelombang migrasi dan milisi bersenjata Zionis. Mereka berhasil memberikan perlawanan yang kuat dan mencatat sejumlah kemenangan di berbagai wilayah, terutama di kawasan pedesaan dan jalur strategis.

Namun kemudian Inggris membuka jalan bagi masuknya pasukan dari negara-negara Arab dengan dalih membantu Palestina. Akan tetapi, kenyataannya banyak dari pasukan tersebut berada dalam pengaruh politik Inggris sendiri, sehingga situasi di lapangan justru melemahkan posisi pejuang Palestina. Bantuan militer dan logistik terhadap para pejuang juga dibatasi, sementara tekanan terhadap mereka semakin meningkat.

Dalam kondisi tersebut, Abdul Qadir al Husayni gugur dalam pertempuran di al Qastal dekat Yerusalem pada tahun 1948 M setelah pertempuran sengit selama delapan hari. Setelah itu, pasukan Zionis berhasil menguasai sebagian besar wilayah Palestina, dan konflik terus berlanjut hingga hari ini.

Dalam konteks hari ini, sebuah kota kecil bernama Gaza sering dijadikan contoh wilayah yang mampu bertahan di tengah tekanan yang sangat berat.  Salah satu kunci utamanya terletak pada minimnya infiltrasi yang merusak barisan dari dalam, serta kuatnya ukhwah di antara masyarakatnya. Di tengah kondisi blokade yang panjang, tekanan militer yang terus-menerus, dan keterbatasan hidup yang sangat berat, masyarakat Gaza tetap mampu menjaga persatuan mereka dalam tingkatan yang mengagumkan.

Hal ini terlihat dari bagaimana rasa kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian antar sesama rakyatnya tetap terjaga, sehingga perbedaan-perbedaan internal tidak sampai berkembang menjadi faktor yang melemahkan. Justru dalam situasi sulit seperti itu, masyarakat cenderung menyatu oleh satu kepentingan besar yang sama, yaitu bertahan dan menjaga eksistensi mereka bahkan masih sanggup memberikan perlawanan yang cukup membuat penjajah zionis kewalahan. 

Begitulah, keterbatasan mereka justru tampak sebagai kekuatan ketika persatuan diantara mereka terjaga, sementara kelapangan yang dimiliki umat di luar Gaza sering kali berubah menjadi kelemahan akibat kita bertikai dan tercerai berai.

Pada akhirnya, sejarah terus menegaskan satu pola yang berulang: umat Islam tidak akan dapat dikalahkan hanya oleh kekuatan dari luar tanpa adanya kelemahan dari dalam. Selama tubuh umat tetap terjaga, bersih dari perpecahan, pengkhianatan, dan infiltrasi, maka umat ini memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dan mengembalikan kejayaannya di masa depan.

•┈┈•••○○❁༺ⒶⓈⓉ༻❁○○•••┈┈•

Simak lengkapnya di https://astofficial.id 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq 

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Umat Islam Tak Dikalahkan Musuh Luar, Tapi Perpecahan Internal". Semoga Allah ο·» senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.