
APA SIH MAKNA ISTIWA?
Para pakar bahasa dan ahli tafsir menyebutkan bahwa kata istiwa’ memiliki banyak makna. Tergantung konteks kalimat dan huruf jar yang menyertainya.
Kebanyakan ulama merangkum makna pokoknya menjadi 4, 9, atau 15 makna. Namun, jika dirinci berdasarkan perluasan makna (tawassu' fi al-kalam), jumlahnya bisa dikembangkan hingga puluhan makna.
Ibnu Hibban dalam kitab Shahih Ibnu Hibban menegaskan bahwa dalam bahasa Arab, kata istiwa' memiliki 15 makna:
1. Al-I'tidal (الإِعْتِدَالُ): Tegak lurus, seimbang, atau lurus setelah sebelumnya bengkok.
2. Al-Kamal (الْكَمَالُ): Sempurna (seperti dalam ayat: wa lamma balagha asyuddahu was-tawa / ketika dia telah cukup umur dan sempurna akalnya).
3. Al-Iqbal 'ala asy-Syai' (الإِقْبَالُ عَلَى الشَّيْءِ): Menghadap atau menuju kepada sesuatu (seperti dalam ayat: tsumma-stawa ilas-sama' / kemudian Dia menuju penciptaan langit).
4. Al-Istiqlal (الإِسْتِقْلَالُ): Berdiri sendiri atau mandiri.
5. Al-Isti'la' (الإِسْتِعْلَاءُ): Berada di atas atau meninggi.
6. Al-Uluw (الْعُلُوُّ): Ketinggian (secara kedudukan atau derajat).
7. Al-Istiqlrar (الإِسْتِقْرَارُ): Menetap atau tinggal di suatu tempat.
8. Al-Ghalabah (الْغَلَبَةُ): Mengalahkan atau menguasai.
9. Al-Istimrar (الإِسْتِمْرَارُ): Terus-menerus atau kontinu.
10. Al-Qasdu (الْقَصْدُ): Bermaksud atau berniat menuju sesuatu.
11. An-Nudhju (النُّضْجُ): Matang (biasanya digunakan untuk tanaman atau masakan yang sudah siap).
12. Al-Ittisal (الإِتِّصَالُ): Bersambung.
13. Al-Musawah (الْمُسَاوَاةُ): Sama rata atau sebanding antara dua hal.
14. Al-Isti'rab (الإِسْتِعْرَابُ): Menjadi jelas atau fasih.
15. Al-Qahr / Al-Mulk (الْقَهْرُ / الْمُلْكُ): Menundukkan, menguasai, atau memegang tampuk kekuasaan (seperti makna Istawla).
(Rujukan: Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban, Kitab Al-Ad'iyyah, Bab Al-Bayan bi Anna Al-Istiwa fi Al-Lughah Lahu Khamsata 'Asyara Ma'nan)
Imam Abu Bakr bin Furak al-Asy'ari al-Syafi'i juga mengatakan ada 15 makna:
واعلم أن للاستواء في اللغة خمسة عشر وجها
"Ketahuilah bahwa bagi kata al-istiwa' dalam bahasa Arab memiliki lima belas makna (wajah)."
[Musykil al-Hadits wa Bayanuhu]
Sementara Al-Imam Al-Qurthubi mengatakan Istiwa memiliki 50 makna:
وقال بعض لغويي الكوفة: للاستواء في كلام العرب خمسون وجها
"Dan sebagian ulama ahli bahasa dari madrasah Kufah berkata: 'Bagi kata al-istiwa' dalam kalam Arab memiliki lima puluh wajah (makna)'."
[Tafsir Qurtubi saat menafsirkan Surat Al-A'raf ayat 54]
Sementara itu para ulama lughah dan pakar tafsir (seperti yang diisyaratkan dalam tradisi kajian Al-Wujuh wa Al-Nazha'ir) tidak hanya melihat makna dasar (al-makna al-ashli), tetapi juga melihat perluasan makna berdasarkan konteks ayat, perubahan huruf jar (shilah), serta majas (tawassu’ fi al-kalam).
Berikut adalah makna istiwa’ yang mencakup makna hakiki, majazi, serta kontekstual dalam kalam Arab.
1. Al-Kamal (الكمال) : Sempurna
Perkembangan fisik atau akal yang mencapai puncaknya.
Wa lamma balagha asyuddahu wastawa
(Dan setelah dia [Musa] dewasa dan sempurna akalnya). QS. Al-Qashash 14
2. Al-Nudhuj (النضوج) : Matang/Masak
Ranahnya makanan atau buah-buahan yang siap disantap.
Istawa al-tha'am (Makanan itu telah matang).
3. Al-I'tidal (الاعتدال) : Lurus/Seimbang
Fisik benda yang tadinya bengkok menjadi lurus.
Istawa al-`ud (Kayu itu menjadi lurus).
4. Al-Istiqaamah (الاستقامة) : Konsisten/Tegak Lurus
Sikap atau jalan yang tidak berbelok-belok.
QS. Al-Najm: 6 (Dzu mirratin fastawa / Yang mempunyai keteguhan, maka ia menampakkan diri dengan tegak lurus).
5. Al-Qasdu wa al-Iqbal (القصد والإقبال) : Menuju/Meniatkan
Ketika kata istawa diikuti oleh huruf jar ila (إلى).
QS. Al-Baqarah: 29 (Tsummastawa ila al-sama' / Kemudian Dia menuju ke langit).
6. Al-Istiula' wa al-Ghalabah (الاستيلاء والغلبة) : Menguasai/Menundukkan
Menguasai suatu wilayah atau takhta setelah sebelumnya ada dinamika politik/peperangan.
Qad istawa Basyarun ala al-Iraq (Basyar telah menguasai Irak).
7. Al-Musawah (المساواة) : Sama Rata
Perbandingan antara dua hal yang nilainya setara.
Istawa al-turab wa al-ma' (Tanah dan air itu sama rata permukaannya).
8. Al-Irtifa' al-Maknawi (الارتفاع المعنوي) : Tinggi Kedudukan
Ketinggian derajat, kemuliaan, atau otoritas, bukan jarak fisik.
Makna yang digunakan ulama tanzih untuk istiwa’ ala al-Arsy (Maha Tinggi kedudukan-Nya di atas Arsy).
9. Al-Istiqrar (الاستقرار) : Menetap (Bagi Makhluk)
Makna fisik ketika makhluk bertumpu di atas suatu tempat.
QS. Al-Mu'minun: 28 (Fa idzastawaita anta wa man maaka ala al-fulk / Dan apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal).
10. Al-Rukub (الركوب) : Mengendarai
Menaiki hewan tunggangan atau kendaraan.
QS. Az-Zukhruf: 13 (Li tastawu ala zhuhurihi / Agar kamu duduk di atas punggungnya).
11. Al-Tanaasub (التناسب) : Simetris/Proporsional
Penciptaan atau postur yang sangat proporsional tanpa cacat.
QS. Al-Infitar: 7 (Alladzi khalaqaka fa sawwaka fa `adalak > akar kata sawwa berkaitan dengan istiwa').
12. Al-Imtila' (الامتلاء) : Penuh/Meluap
Wadah atau sungai yang terisi penuh hingga airnya rata dengan tepian.
Istawa al-wadi (Lembah itu telah penuh airnya hingga rata).
13. Al-Inthibaq (الانطباق) : Pas/Sesuai Ukuran
Dua benda yang ketika ditempelkan memiliki ukuran yang persis sama.
Istawa al-ghitha' `ala al-ina' (Tutup itu pas ukurannya dengan wadah).
14. Al-Inhiyas (الانحياز/القبول) : Condong/Menerima Sepenuhnya
Seseorang yang menerima suatu pendapat tanpa keraguan lagi.
Istawa ila qawlihi (Dia condong/menerima perkataannya secara penuh).
15. Al-Suquuth wa al-Huthuth (السقوط والخطوط) : Jatuh/Rata dengan Tanah
Bangunan atau tanaman yang ambruk hingga sejajar dengan permukaan bumi.
QS. Al-Fath: 29 (Fastawa `ala suqihi / Lalu tanaman itu tegak lurus di atas batangnya - dalam perluasan makna maknanya adalah kokohnya tanaman yang sebelumnya merunduk/jatuh).
16. Al-Hukm wa al-Qadha' (الحكم والقضاء) : Memutuskan Perkara
Otoritas penuh seorang qadhi atau raja dalam menetapkan hukum secara adil (lurus).
Istawa al-amir bayna al-khashmayn (Pemimpin itu berlaku adil/memutuskan perkara di antara dua orang yang berselisih).
17. Al-Ihaathah (الإحاطة) : Meliputi
Sesuatu yang melingkupi atau mengitari sesuatu dari segala penjuru secara merata.
18. Al-Dawaam (الدوام) : Langgeng/Ketetapan yang Terus Menerus
Keadaan yang stabil tanpa mengalami perubahan atau guncangan.
19. Al-Tark (الترك) : Meninggalkan (Dalam Konteks Tertentu)
Beralih dari suatu pekerjaan menuju pekerjaan lain (serupa dengan makna al-qasdu namun dari sudut pandang meninggalkan pekerjaan pertama).
20. Al-Zhuhur (الظهور) : Tampak Jelas
Sesuatu yang tadinya tersembunyi kemudian naik dan tampak jelas di permukaan.
Jika diteruskan lagi.....
Al-Huda (الهدى) > Petunjuk/Lurus Jalannya: Diambil dari frasa rajulun sawiyyun (lelaki yang lurus moral dan manhajnya).
Al-Shihhah (الصحة) > Sehat/Bebas Cacat: Terbebas dari penyakit atau cacat fisik (seperti dalam QS. Maryam: 10, sawiyya).
Al-Tashfiya (التصفية) > Memurnikan/Menjernihkan: Menghilangkan kotoran dari sesuatu hingga permukaannya rata dan jernih.
Al-Tamkin (التمكين) > Pemberian Kedudukan Kokoh: Membuat seseorang mantap di atas posisinya.
Al-Inshaf (الإنصاف) > Bersikap Adil Ditengah-tengah: Berada tepat di titik tengah antara dua pihak tanpa condong ke salah satunya.
Al-Wasath (الوسط) > Berada di Tengah-tengah (Konteks Jarak): Tempat yang jaraknya sama dari segala penjuru (makanan siwa).
Dan masih banyak lagi
Mengapa kata-kata yang menggunakan wazan atau turunan seperti sawiyya (سَوِيًّا), sawwa (سَوَّى), atau siwa (سِوًى) dimasukkan ke dalam pembahasan makna istiwa' (اِسْتِوَاء)?
Ini terjadi karena ulama lughah (khususnya madrasah Kufah) menggunakan metode Isytiqaq Kabir (Isytiqaq al-Akbar) atau pengembalian makna ke akar kata universal (Maddah al-Ashliyyah), yaitu huruf Sin-Wawu-Ya' (س - و - ي).
Dalam tradisi Al-Wujuh wa Al-Nazha'ir, ketika membahas variasi makna suatu kata di dalam Al-Qur'an, para ulama kerap mengumpulkan seluruh makna yang lahir dari satu akar kata yang sama, bukan hanya dari satu wazan ifftala (اِسْتَوَى - يَسْتَوِي) saja.
Misalnya, kenapa Al-Huda (الهدى) dan Al-Shihhah (الصحة) disebut Istiwa'?
Kata sawiyyan (سَوِيًّا) berarti sesuatu yang lurus, utuh, dan tidak bengkok.
Orang yang mendapat petunjuk (al-huda) adalah orang yang jalannya "lurus/istiqamah" (tidak melenceng). Begitu pula orang yang sehat (al-shihhah), fisiknya "lurus/sempurna" tanpa cacat yang membengkokkan atau mengurangi fungsinya. Dalam QS. Maryam: 10, Nabi Zakariya tidak bisa berbicara selama tiga malam dalam keadaan sawiyya (sehat walafiat/sempurna tanpa cacat). Karena istiwa' juga bermakna al-i'tidal (lurus/seimbang), maka sifat lurus pada hidayah dan kesehatan ini diserap dari akar kata tersebut.
Kenapa Al-Tashfiya (التصفية) disebut Istiwa'? Karena diambil dari fi'il sawwa (سَّوَى) yang artinya meratakan sesuatu hingga tidak ada bagian yang menonjol atau mengganggu.
Ketika Anda membersihkan atau memurnikan sesuatu, misal, meratakan tanah dari kerikil-kerikil tajam, atau membersihkan air dari buih), Anda sedang membuat permukaannya menjadi rata (istawa). Tindakan meratakan dan membersihkan ini disebut tashfiyah, yang tujuannya adalah mencapai kondisi istiwa' (rata/seimbang).
Dan seterusnya...
Menyamakan begitu saja kata istiwa’ dengan kata 'bersemayam' adalah sebuah kekeliruan fatal dalam metodologi bahasa Arab. Karena kata istiwa’ itu lafz musytarak yang punya puluhan makna.
Kita tidak bisa serta-merta mengartikannya sebagai "bersemayam" secara fisik, atau memastikan salah satu makna di atas secara sepihak tanpa perangkat ilmu. Secara metodologis, ketika menghadapi ayat "Ar-Rahmanu 'alal 'arsyis-tawa", para ulama Ahlussunah memakai dua jalur, tafwidh dan Takwil.
Wallahu a'lam
_____tambahan_______
Pahami 3 metode ini
1. Tafwidh > Kami tidak tau maknanya, kami serahkan kepada Allah.
2. Takwil > Kami tidak tau maknanya, kami alihkan kepada Makna Lain atau Meminjam Sifat Allah yang Lain yang Sudah Pasti (Muhkamat)
3. Wahabi > Kami tau maknanya, Tangan Allah, Kaki Allah, Allah turun, Allah bersemayam, tapi tidak tau bentuknya gimana, atau tapi tidak sama dengan makhluk
Mari gunakan akal sehat.
Jika Anda sudah menetapkan maknanya "Tangan Allah, Kaki Allah, Allah turun, Allah bersemayam" artinya anda sudah tau bentuk itu, "bila kayf" (tanpa bentuk) sudah tidak berlaku, meski ditutup dengan "tapi tidak tau bentuknya gimana", atau "tapi tidak sama dengan makhluk"
Padahal anda sudah menggiring orang ke makna "Tangan Allah, Kaki Allah, Allah Bersemayam", setelah itu "tapi tidak sama dengan makhluk"
Uniknya, kalau ada orang awam yang akhirnya terlanjur membayangkan bentuk fisik bahwa Allah punya tangan, punya kaki, bersemayam diarsy karena giringan Anda, Anda malah menyalahkan mereka dengan berkata: "Otakmu yang rusak, pikiranmu yang tasybih!"
Lho, yang salah itu Anda yang sejak awal menggiring imajinasi mereka ke kata "Tangan dan Kaki, bersemayam", tapi giliran mereka membayangkannya, Anda cuci tangan dengan dalih "tapi tidak sama dengan makhluk"
Kami Asy'ariyyah mendahulukan yg No 1 Tafwidh
Adapun No 2, Takwil, adalah alternatif yang hanya dibutuhkan pada masa tertentu
Kenapa No. 1 didahulukan? Karena ini adalah jalan paling selamat, jalannya para ulama Salaf terdahulu. Begitu ketemu ayat mutasyabihat, kunci lafaznya, tolak makna fisiknya, jangan mikir kemana2. Serahkan kepada Allah. Pikiran bersih total dari bayangan benda.
Kenapa No. 2 jadi alternatif? Ini digunakan ketika muncul zaman di mana paham Tajsim (kelompok nomor 3) mulai menyebar dan meracuni pikiran orang awam. Takwil dipakai sebagai obat darurat untuk menyelamatkan akal awam agar tidak membayangkan Allah punya organ fisik, yaitu dengan mengalihkannya ke sifat abstrak Allah yang sudah pasti, tsabit (pasti/muhkam) berdasarkan dalil naqli dan aqli, seperti sifat Qudrah (Kekuasaan), Iradah (Kehendak), atau In'am (Pemberian Nikmat). Itu semua memang Sifat Allah berdasarkan dalil.
Tafwidh adalah makanan pokok sehari-hari. Takwil adalah obat yg baru digunakan saat wabah.
Keduanya aman. Sudah dikunci duluan di otak. Kita tidak mengutak atik lafadz originalnya.
Beda sama yg nomor 3 itu. Mereka buka pintu imajinasi fisik, lalu menetapkan makna benda, lalu menyalahkan orang lain yang terlanjur membayangkannya.
Nggak jelas asal pemahaman itu dari mana
______tambahan________
Sesungguhnya ilmu itu berada pada ulama, bukan pada kitab. Kitab hanyalah syawahid dan pelengkap, bukan rujukan utama.
Mempelajari kitab tanpa bimbingan ulama tidak ada artinya. Tidak ada ilmu yang benar-benar didapatkan. Mereka justru akan terjebak di dalam kebodohan mereka sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka berfatwa tanpa ilmu, lalu sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari-Muslim).
Di sini sangat jelas bahwa Rasulullah SAW tidak mengatakan, "tetapi dengan menghilangkan semua kitab," melainkan "tetapi dengan mewafatkan para ulama."
Orang yang hanya pandai membaca kitab, tetapi tidak di bawah bimbingan ulama yang bersanad (tersambung rantai keilmuannya), maka ia tidak akan memperoleh ilmu yang hakiki.
Bayangkan dengan mereka yang tidak pernah membaca kitab sama sekali, ilmunya hanya hasil copasan dari Google dan terjemahan semata. Gimana mereka itu?
Tapi biasanya golongan itu paling berisik di medsos
Sumber FB Ustadzah : Diah Al-Asy'ariyyah