
BID'AH HASANAH IMAM BUKHARI
Imam Bukhari mengatakan, "Saya tidak pernah memasukkan satu hadis pun ke dalam Kitab Shahih ini, kecuali saya mandi terlebih dahulu sebelumnya dan shalat dua rakaat." (Hadyus Sฤriy, Ibn Hajar, h. 513)
Kalau Shahih Bukhari memuat 7.563 hadis, berarti beliau telah mandi sebanyak 7.563 kali dan shalat sebanyak 15.126 rakaat.
Dinamakan bid'ah karena amalan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Dinamakan hasanah karena amalan itu baik dan tidak bertentangan dengan syariat.
BID'AH HASANAH PUNYA DALIL?
Amalan Imam Bukhari tergolong baru karena menggabungkan 3 amalan baik yang tidak pernah digabungkan oleh Rasulullah SAW atau sahabat. Meskipun tergolong baru, semua komponennya adalah baik dan berdalil sehingga menjadi perkara baru yang baik alias bid'ah hasanah.
Alhamdulillah, akhirnya ada yang sadar bahwa jika setiap perkara harus tertulis dengan detail maka akan menjadi tebal kitab rujukan kita nantinya. Oleh sebab itu, kita tidak membutuhkan dalil yang detail untuk perkara yang sudah dijelaskan oleh dalil yang umum. Contohnya, berjabatan tangan setelah shalat. Karena berjabatan tangan dan shalat adalah amalan-amalan baik sehingga jika digabungkan pun menjadi baik pula. Kita tidak perlu mencari dalilnya secara detil karena sudah tercover oleh dalil-dalil umun tentang keutamaan berjabatan tangan dan keutamaan shalat.
Inilah yang dikenal istilah KAIDAH yang mampu merangkum perkara-perkara detil ke dalam sebuah bingkai.
Contoh lain, membaca surat Yasin setiap malam Jumat. Ini juga baik, meskipun tidak ada dalil detil yang menyebutkannya secara khusus. Cukup dalil umum yang menyebutkan keutamaan membaca Al Quran.
Begitulah hakikat bid'ah hasanah yang selama ini disalahpahami oleh sebagian orang.
BID'AH HASANAH IBNU TAIMIYYAH
Semakin ditelusuri, ternyata semakin banyak ditemukan fakta bahwa dahulu para imam dan ulama telah terbiasa melakukan bid'ah hasanah. Kali ini saya akan menunjukkan satu lagi bid'ah hasanah yang dilakukan oleh seorang ulama bernama Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).
Diceritakan oleh murid terbaik beliau, yaitu Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Madarijus Salikin bahwa salah satu wirid (bacaan rutin) kesukaan Ibnu Taimiyyah adalah "Ya Hayyu, ya Qayyum. La ilaha illa anta."
Beliau berkata:
ูู ู ุชุฌุฑูุจุงุช ุงูุณุงูููู ุงูุชู ุฌุฑุจููุง ูุฃููููุง ุตุญูุญุฉ ุฃู ู ู ุฃุฏู ู ูุง ุญู ูุง ูููู ูุง ุฅูู ุฅูุง ุฃูุช ุฃูุฑุซู ุฐูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ ูุงูุนูู
"Salah satu tajribat (amalan yang terbukti khasiatnya) yang dilakukan oleh para peniti jalan akhirat adalah siapa yang membiasakan membaca “ya Hayyu ya Qayyum, la ilaha illa anta” maka hati dan pikirannya akan selalu hidup."
ููุงู ุดูุฎ ุงูุฅุณูุงู ุงุจู ุชูู ูุฉ ูุฏุณ ุงููู ุฑูุญู ุดุฏูุฏ ุงูููุฌ ุจูุง ุฌุฏุง، ููุงู ูู ููู ุง: ููุฐูู ุงูุงุณู ูู ููู ุง ุงูุญู ุงููููู ุชุฃุซูุฑ ุนุธูู ูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ، ููุงู ูุดูุฑ ุฅูู ุฃููู ุง ุงูุงุณู ุงูุฃุนุธู ، ูุณู ุนุชู ูููู: ู ู ูุงุธุจ ุนูู ุฃุฑุจุนูู ู ุฑุฉ ูู ููู ุจูู ุณูุฉ ุงููุฌุฑ ูุตูุงุฉ ุงููุฌุฑ "ูุง ุญู ูุง ูููู ، ูุง ุฅูู ุฅูุง ุฃูุช، ุจุฑุญู ุชู ุฃุณุชุบูุซ" ุญุตูุช ูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ، ููู ูู ุช ููุจู.
"Dahulu guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sangat suka dengan bacaan itu. Bahkan suatu ketika beliau pernah berkata kepada saya bahwa kedua kata itu, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan hati. Dia termasuk nama yang teragung.
Saya pernah mendengar beliau mengatakan: Barangsiapa yang rutin membaca sebanyak 40 kali setiap hari, di waktu antara shalat sunnah fajar dan shalat shubuh 'ya Hayyu ya Qayyum la ilaha illa anta, bi rahmatika astaghits', maka hatinya akan selalu hidup dan tak akan pernah mati. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, hal. 446)
Hal lain yang menjadi wirid (rutinitas) Ibnu Taimiyyah di waktu tertentu adalah membaca surat al-Fatihah secara berulang-ulang setelah shalat Subuh sampai waktu Dhuha.
Diceritakan oleh salah seorang murid Ibnu Taimiyyah yang lain, yaitu Sirajuddin Abu Hafsh al-Bazzar (w. 749 H) tentang kebiasaan gurunya:
ูููุช ู ุฏุฉ ุงูุงู ุชู ุจุฏู ุดู ู ูุงุฒู ู ุฌู ุงูููุงุฑ ููุซูุฑุง ู ู ุงูููู ููุงู ูุฏูููู ู ูู ุญุชู ูุฌูุณูู ุงูู ุฌุงูุจู ูููุช ุงุณู ุน ู ุง ูุชูู ูู ุง ูุฐูุฑ ุญููุฆุฐ ูุฑุฃูุชู ููุฑุฃ ุงููุงุชุญุฉ ูููุฑุฑูุง ูููุทุน ุฐูู ุงูููุช ููู ุงุนูู ู ู ุงููุฌุฑ ุงูู ุงุฑุชูุงุน ุงูุดู ุณ ูู ุชูุฑูุฑ ุชูุงูุชูุง
"Dulu, selama tinggal di Damaskus saya selalu bersama beliau, kalau siang hampir seharian penuh dan kalau malam lumayan lama juga. Beliau sering menyuruh saya berada di dekatnya dan duduk di sampingnya. Saya biasa mendengar bacaan ataupun dzikir beliau. Ternyata beliau membaca Surat Al Fatihah dan mengulang-ulangnya sehingga waktu itu habis, yaitu sejak selepas Subuh sampai matahari terbit agak tinggi hanya untuk mengulang-ulang surat itu." (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Bazzar, al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib ibn Taimiyyah, hal. 38).
Tidak ada riwayat yang shahih bahwa dahulu Rasulullah SAW atau sahabat melakukan amalan-amalan yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyyah di atas. Namun demikian, amalan tersebut adalah baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Kalau mau disebut bid'ah, maka menjadi bid'ah hasanah.
Wallahu a'lam.
Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono