Mengapa Pemimpin Shalih Menjadi Kunci Persatuan Umat Islam?

Mengapa Pemimpin Shalih Menjadi Kunci Persatuan Umat Islam?

𝗣𝗘𝗠𝗜𝗠𝗣𝗜𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗜𝗛 𝗣𝗘𝗠𝗘𝗥𝗦𝗔𝗧𝗨 𝗨𝗠𝗔𝗧

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq

Persatuan umat merupakan cita-cita yang selalu diperjuangkan oleh para nabi, ulama, dan orang-orang saleh. Tidak ada kekuatan yang lebih ditakuti oleh musuh-musuh Islam selain bersatunya kaum muslimin di atas kebenaran. Sebaliknya, tidak ada keadaan yang lebih menguntungkan mereka selain ketika umat terpecah, saling mencurigai, dan sibuk dengan pertikaian di antara sesamanya.

Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga persatuan dan melarang segala sebab yang dapat menimbulkan perpecahan. Dakwah, pendidikan, penyebaran ilmu, serta dialog yang baik merupakan sarana utama untuk mewujudkan tujuan tersebut. Namun realitas kehidupan menunjukkan bahwa tidak semua perselisihan dapat diselesaikan hanya dengan penjelasan ilmu dan penyampaian hujjah.

Sebagian orang memang berbeda karena belum mengetahui kebenaran. Ketika dalil sampai kepadanya, ia pun menerimanya. Akan tetapi sebagian yang lain tidak demikian. Perselisihan terkadang tetap berlangsung meskipun kebenaran telah jelas. Penyebabnya bukan lagi kekurangan ilmu, melainkan hawa nafsu, fanatisme, kepentingan pribadi, ambisi kedudukan, atau dorongan-dorongan lain yang menghalangi seseorang untuk tunduk kepada apa yang benar.

Di sinilah kita memahami mengapa keberadaan pemimpin yang shalih dan berwibawa menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan umat. Sebab ada perkara-perkara yang tidak cukup diselesaikan dengan nasihat semata, tetapi memerlukan kekuatan otoritas yang mampu menjaga keteraturan dan mengarahkan masyarakat kepada kemaslahatan bersama. Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan:

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

"Sesungguhnya Allah membereskan suatu urusan dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dibereskan oleh Al-Qur'an sekalipun."[1]

Al imam al Muhallab bin Abi Shufrah pernah berpesan kepada anak-anaknya:

إذا وليتم فلينوا للمحسن، واشتدوا على المريب، فإن الناس للسلطان أهيب منهم للقرآن

"Apabila kalian memegang kekuasaan, maka bersikaplah lembut kepada orang yang berbuat baik, dan bersikap tegaslah terhadap orang yang mencurigakan. Karena manusia itu pada umumnya lebih segan kepada penguasa daripada kepada Al-Qur'an."[2]

 Maksudnya bukan karena petunjuk Al-Qur'an tidak memadai, melainkan karena tidak semua manusia mau tunduk kepada petunjuk tersebut. Ada orang yang tidak berhenti berbuat dzalim meskipun telah diingatkan dengan ayat-ayat Allah, apalagi Cuma nasehat biasa, tetapi pihak-pihak yang seperti ini akan mudah ditundukkan ketika berhadapan dengan hukum dan kewibawaan pemerintahan.

Oleh sebab itu, para ulama kaum muslimin sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang adil. Mereka memahami bahwa kebaikan seorang pemimpin akan memberikan dampak yang sangat luas kepada bangsa, negara bahkan agama. Dalam wasiat Ardashir sampai dikatakan:

عدل السلطان أنفع للرعية من خصب الزمان

"Keadilan seorang penguasa lebih bermanfaat bagi rakyat daripada suburnya masa dan melimpahnya hasil bumi."[3]

Betapa banyak negeri yang sebenarnya kaya raya tetapi rakyatnya hidup sengsara karena penguasanya durjana. Mereka pun akhirnya saling berebut kepentingan, dan kehilangan rasa aman. 

Sebaliknya, ketika keadilan ditegakkan, berbagai lapisan masyarakat dapat hidup dengan tenang, hak-hak mereka terlindungi, dan berbagai potensi konflik dapat diminimalisir dan pada akhirnya kemakmuran bisa diwujudkan. Karena itulah keadilan sering kali lebih berharga daripada sekadar kemakmuran.

Karena itulah syariat memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada pemimpin yang adil, di mana dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِساً إِمَامُ عَادِلٌ

"Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat tempat duduknya dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil." (HR. Tirmidzi)

Maka ketika kita berbicara tentang proyek membangun ukhwah dan persatuan umat, jangan hanya memikirkan bagaimana memperbanyak diskusi dan kajian, meskipun itu semua tentu penting dan sama sekali tidak boleh disepelekan.

Namun  juga yang harus disadari adalah pentingnya upaya menghadirkan lagi kepemimpinan yang shalih, adil, dan memiliki keberpihakan kepada kemaslahatan umat.

Karena itu, tidak selayaknya seorang muslim bersikap acuh tak acuh terhadap persoalan kepemimpinan dan urusan publik yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Lebih tidak tepat lagi jika ada yang mengatakan bahwa kepemimpinan tidak ada kaitannya dengan agama, atau menganggap pembahasan tentang pemimpin, kebijakan, dan arah pengelolaan masyarakat sebagai sesuatu yang harus dijauhkan sama sekali dari masjid dan majelis ilmu.

Pandangan seperti ini sering lahir karena ketidakmampuan membedakan antara politik praktis yang penuh persaingan kepentingan dengan pembahasan syariat tentang kepemimpinan, keadilan, kemaslahatan umum, dan pengelolaan urusan umat. Padahal Islam sejak awal tidak pernah memisahkan urusan ibadah dari urusan kehidupan. 

Syariat datang bukan hanya mengatur tata cara wudhu, shalat, puasa, dan haji, tetapi juga mengatur keadilan, keamanan, hak-hak masyarakat, penegakan hukum, dan berbagai urusan yang menjadi tanggung jawab para pemimpin.

Sesungguhnya banyak orang tidak menyadari bahwa pelaksanaan ajaran Islam, bahkan sampai pada rukuk dan sujud yang dilakukan setiap hari, dalam banyak keadaan sangat dipengaruhi oleh keputusan-keputusan yang bersifat politik atau tidak lepas dari kebijakan dan arah kepemimpinan sebuah negeri.  Seorang tokoh muslim kontemporer yang berpengaruh di abad ini, Erbakan pernah mengungkapkan:

المسلمون الذين لا يهتمون بالسياسة يحكمهم سياسيون لا يهتمون بالإسلام

"Kaum muslimin yang tidak peduli terhadap politik akan diperintah oleh para politisi yang tidak peduli terhadap Islam."

Simak lengkapnya di https://astofficial.id

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Mengapa Pemimpin Shalih Menjadi Kunci Persatuan Umat Islam?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

🔥 Kajian Populer

Kumpulan kajian Islam yang paling banyak dibaca dan direkomendasikan.