Kesalahan Memahami Dalil Wujud Allah: Mengapa Banyak Orang Mengira Ada Lompatan Logika?

Lompatan kesimpulan dalam pelajaran akidah/kalam

Lompatan kesimpulan dalam pelajaran akidah/kalam

Ketika belajar akidah atau ilmu kalam, hampir selalu ditemukan lompatan kesimpulan yang kebanyakan orang tidak sadar. Sebagian lagi menyadarinya lalu merasa musykil. Lompatan tersebut adalah penyebutan nama Allah di bagian pembahasan sifat wajib.

Mengapa itu lompatan, sebab pembahasan sifat wajib alias sifat niscaya adalah pembahasan awal tentang ciri-ciri ketuhanan. Di tahap ini masih belum ada nama, hanya ada ada status Tuhan saja. Misalnya di pembahasan sifat wujud (keberadaan Tuhan), disebutkan pembuktian logis keniscayaan adanya Tuhan pencipta alam semesta yang terbukti huduts (punya awalan dan akhiran). Segala yang huduts pasti butuh sosok lain yang menciptakannya dari tiada. Sosok pencipta dari tiada itulah yang disebut Tuhan.

Di titik ini tidak ada nama Allah, yang ada hanya Tuhan saja. Demikian sampai akhir ketika membahas bahwa sosok Tuhan yang benar pasti berbeda secara mutlak dengan segala makhluk, pasti punya kuasa dan pengetahuan sempurna dan seterusnya.

Nama "Allah" baru bisa disebut ketika pembahasan sudah sampai pada bab kenabian sebab Nabi lah yang mengajarkan tentang siapa nama Tuhan tersebut, apa saja sifat sifat lain yang dimiliki Tuhan tersebut yang keberadaannya tidak bisa dipastikan oleh akal, apa yang diperintah dan dilarang olehnya dan seterusnya.

Namun urutan sistematis ini terlalu panjang bila diajarkan kepada seseorang yang sudah mengenal syahadat. Untuk mempersingkat, maka nama Allah disebut sejak awal sebab memang itu intinya. Lompatan logika itu akhirnya menjadi sesuatu yang dimaklumi.

Ada juga lompatan lain di alur pembuktian logis wujudnya Allah, yakni semesta yang terkesan tetiba dibilang huduts dan pencipta huduts yang terkesan ujug-ujug disebut sebagai Tuhan. Kesan lompatan ini biasanya hanya ada di kitab-kitab matan yang memang redaksinya dibuat sependek mungkin. Dalam kitab-kitab syarah ini tidak terjadi sebab ruang penjelasannya bisa runtut dan panjang. Awalnya dijelaskan bahwa perubahan semesta membuktikan bahwa ia huduts, kemudian huduts membuktikan adanya awalan, adanya awalan membuktikan adanya penciptaan dari tiada menjadi ada oleh sosok lain.

Ada pun rangkaian permulaan keberadaan sosok huduts yang dimulai dari efek tindakan sosok huduts lain, seperti misalnya manusia itu bermula dari bayi, bayi dari sperma dan sel telur, keduanya dari manusia sebelumnya dan seterusnya ke belakang, maka yang "mencipta" bayi itu tidak bisa disebut Tuhan sebab ia tidak mencipta dari tiada tapi dari bahan baku yang tersedia. Demikian pula "pencipta" barang-barang di sekitar kita juga tidak disebut Tuhan. Yang disebut Tuhan hanyalah pencipta bahan mentahnya dari tiada dan perancang sistem pembuatan bahan mentah tersebut sehingga bisa diubah menjadi sosok/bentuk lain oleh sesama sosok huduts.

Tetapi keterangan seperti ini terlalu panjang dan berbelit, jadilah dikatakan segan ringkas bahwa segala yang huduts diciptakan oleh Allah. Akhirnya bagi yang tidak paham alurnya seolah agama mengajarkan bahwa kita langsung diciptakan Allah tanpa adanya orang tua atau bahwa kursi diciptakan langsung oleh Allah tanpa adanya tukang, demikian juga bumi diciptakan langsung tanpa adanya proses pembentukan galaksi dan seterusnya.

Beberapa orang yang tak paham alur panjang ini kemudian menjadi ateis yang merasa dirinya pintar dengan alasan merasa tahu bahwa bentuk permulaan sosok huduts sebenarnya berasal dari sosok huduts lainnya sehingga lalu tetiba menyimpulkan bahwa Tuhan itu tidak ada. Sebenarnya dia tidak perlu ribet membahas asal-usul bumi dan bahkan semesta hingga terjadinya big-bang untuk sampai pada kesimpulan bodohnya itu sebab dia sama dengan orang yang berkata bahwa dirinya bukan ciptaan Tuhan sebab sains membuktikan bahwa dirinya berasal dengan sperma bapaknya yang bertemu dengan sel telur ibunya. Sama juga dengan orang yang berkata bahwa kursinya bukan ciptaan Tuhan tapi ciptaan tukang. Ini mah semua orang sudah tahu. Yang tidak semua orang sadar adalah bahwa sistem yang menyebabkan sperma dan sel telur itu bisa jadi manusia, dan begitu juga sistem yang membuat big-bang memulai alam semesta yang kita lihat sekarang adalah rangkaian sistem, yang kita sebut sebagai fisika, yang diciptakan oleh sosok yang pasti tidak huduts tapi pasti qidam (tak berawal) dan baqa' (tak berakhir), yakni Tuhan. Dan, Tuhan ini dikabarkan bernama Allah oleh para Nabi yang berhasil membuktikan bahwa dirinya benar seorang Nabi bukan seseorang yang halu. Pembuktian bahwa Nabinya benar-benar asli Nabi dan bukan orang halu atau penipu butuh penjelasan logis yang panjang lagi. 

Dengan memahami alur panjang ini, maka kesan adanya lompatan logika itu bisa hilang. Semoga bermanfaat. 

​Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Kesalahan Memahami Dalil Wujud Allah: Mengapa Banyak Orang Mengira Ada Lompatan Logika?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.