Menjawab Fitnah Pengkafiran Terhadap Asy'ariyah

Menjawab Fitnah Pengkafiran Terhadap Asy'ariyah Bagian III

𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗪𝗔𝗕 𝗙𝗜𝗧𝗡𝗔𝗛 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗞𝗔𝗙𝗜𝗥𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗔𝗦𝗬'𝗔𝗥𝗜𝗬𝗔𝗛 𝗕𝗔𝗚𝗜𝗔𝗡 𝗜𝗜𝗜

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq 

Di bab ini agar kita bisa memahami besarnya bahaya cara berpikir tersebut, akan kami sampaikan berbagai pujian para ulama dari kubu yang berbeda dengan madzhab Asy’ariyyah, di antara tujuannya sebagai pembanding agar kita tidak mudah mengobral vonis kafir kepada sesama muslim hanya karena mengikuti satu dua pendapat yang keras bernas namun belum tentu benar.

𝗣𝘂𝗷𝗶𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗹𝘂𝗮𝗿 𝗸𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝘀𝘆’𝗮𝗿𝗶𝘆𝗮𝗵

Berikut ini adalah pernyataan dari para ulama yang bukan saja dari luar Asy’ariyyah namun sebagian mereka telah terlibat dalam banyak konfrontasi serta saling kritik dengan madzhab ini. Namun demikian sikap mereka jelas, meski memberikan koreksi dan bantahan terhadap Asy’ariyyah mereka tidak sampai mengkafirkan, bahkan memberikan pujian terhadap madzhab ini.

Al Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

في كلامهم من الأدلة الصحيحة وموافقة السنة ما لا يوجد في كلام عامة الطوائف؛ فإنهم أقرب طوائف أهل الكلام إلى السنة والجماعة والحديث، وهم يعدون من أهل السنة والجماعة عند النظر إلى مثل المعتزلة والرافضة ونحوهم، بل هم أهل السنة والجماعة في البلاد التي يكون أهل البدع فيها المعتزلة والرافضة ونحوهم

“Di dalam perkataan mereka (Asy’ariyah) terdapat dalil-dalil yang benar dan kesesuaian dengan Sunnah yang tidak ditemukan pada kebanyakan kelompok lain. Karena sesungguhnya mereka adalah kelompok ahli kalam yang paling dekat kepada Sunnah, Jamaah, dan hadits. 

Mereka juga dihitung sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah jika dibandingkan dengan kelompok seperti Mu‘tazilah, Rafidhah, dan selainnya. Bahkan mereka menjadi Ahlus Sunnah wal Jamaah di negeri-negeri yang ahli bid‘ahnya adalah Mu‘tazilah, Rafidhah, dan yang semisal mereka.”[2]

Beliau juga berkata:

ما من هؤلاء إلا من له في الإسلام مساع مشكورة، وحسنات مبرورة، وله في الرد على كثير من أهل الإلحاد والبدع، والانتصار لكثير من أهل السنة والدين: ما لا يخفى على من عرف أحوالهم، وتكلم فيهم بعلم وصدق وعدل وإنصاف.

 “Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali memiliki jasa yang patut disyukuri dalam Islam dan kebaikan yang diterima. Mereka memiliki peran besar dalam membantah banyak ahli ilhad dan ahli bid‘ah, serta membela banyak perkara Ahlussunnah dan agama. 

Hal itu tidak samar bagi siapa pun yang mengenal keadaan mereka dan berbicara tentang mereka dengan ilmu, kejujuran, keadilan, dan inshaf.” [3]

Lembaga Fatwa kerajaan Arab Saudi, Lajnah Daimah menyatakan:

الأشعرية هم: أتباع أبي الحسن الأشعري، وأنصار مذهبه عقيدة واستدلالا، وهو ومن تبعه أقرب الطوائف إلى أهل السنة والجماعة، فيحمدون على ما وافقوا فيه أهل السنة والجماعة، ويخطؤون فيما خالفوهم فيه

“Asy‘ariyyah adalah para pengikut Abu al Hasan al Asy’ari dan pendukung madzhabnya dalam aqidah dan metode istidlal. Beliau dan orang-orang yang mengikutinya merupakan kelompok yang paling dekat kepada Ahlussunnah wal Jamaah. 

Maka mereka dipuji pada perkara yang mereka sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan disalahkan pada perkara yang mereka menyelisihinya.”[4]

Dan dinyatakan:

الأشاعرة ليسوا كفارا، وإنما أخطؤوا في تأويلهم بعض الصفات

“Asy‘ariyyah bukanlah orang-orang kafir. Akan tetapi mereka keliru dalam ta’wil sebagian sifat.”[5]

Syaikh bin Baz rahimahullah berkata:

الأشاعرة من أهل السنة في غالب الأمور، ولكنهم ليسوا منهم في تأويل الصفات، وليسوا بكفار، بل فيهم الأئمة والعلماء والأخيار، ولكنهم غلطوا في تأويل بعض الصفات

“Asy‘ariyyah termasuk Ahlussunnah dalam kebanyakan perkara. Akan tetapi mereka tidak termasuk di dalamnya dalam masalah ta’wil sifat-sifat. Mereka bukan orang kafir. Bahkan di tengah mereka terdapat para imam, ulama, dan orang-orang saleh. Hanya saja mereka telah keliru dalam menakwil sebagian sifat.”[6]

Dan beliau ketika membantah orang yang menuduh bahwa kalangan Salafi mengkafirkan tokoh Asy‘ariyyah atau menjadikan dasar kritikan ulama Salafiyah Wahabiyah sebagai dalil pengkafiran, beliau dengan tegas berkata:

ليس من أهل العلم السلفيين من يكفر هؤلاء الذين ذكرتهم. إنما يوضحون أخطاءهم في تأويل الكثير من الصفات

“Tidak ada dari kalangan ahli ilmu Salafi yang mengkafirkan tokoh-tokoh yang engkau sebutkan. Yang mereka lakukan hanyalah menjelaskan kesalahan mereka dalam menakwil banyak sifat, serta menjelaskan bahwa hal tersebut menyelisihi manhaj salaf umat.”[7]

Di antara contoh yang menunjukkan bagaimana para ulama bersikap terhadap Asy‘ariyyah adalah apa yang terjadi pada keluarga al imam Ibnu Qudamah ketika mereka berjihad di bawah panji Sultan Shalahuddin al Ayyubi, yang dikenal luas berada di atas madzhab Asy‘ari dan menjadikan pengajaran aqidah Asy‘ariyyah sebagai kebijakan pada masa pemerintahannya. 

Al imam Ibnu Katsir berkata tentang hal ini:

هو أخو الشيخ موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة، وكان أبو عمر أسن منه... وكان هو وأخوه وابن خالهم الحافظ عبد الغني وأخوه الشيخ العماد لا ينقطعون عن غزاة يخرج فيها الملك صلاح الدين إلى بلاد الفرنج، وقد حضروا معه فتح القدس الشريف وغيرها.

“Beliau adalah saudara dari Syaikh Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah, dan Abu Umar lebih tua darinya… Beliau bersama saudaranya, sepupu mereka al Hafizh Abdul Ghani, serta saudaranya Syaikh al Imad senantiasa ikut dalam peperangan yang dipimpin oleh raja Shalahuddin menuju negeri-negeri Frank. Mereka juga hadir bersama beliau dalam pembebasan al Quds yang mulia dan peperangan lainnya.”[8]

Dan secara jelas al imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan Shalahuddin sebagai salah satu penguasa dari Ahlus Sunnah—padahal beliau tentu mengetahui bahwa Shalahuddin berafiliasi kepada madzhab Asy‘ari—beliau berkata:

...ثم بعد موته فتحها ملوك السنة، مثل صلاح الدين، وظهرت فيها كلمة السنة المخالفة للرافضة، ثم صار العلم والسنة يكثر بها ويظهر.

“Kemudian setelah kematiannya, wilayah itu dibuka oleh para raja Ahlussunnah, seperti Shalahuddin. Lalu tampaklah syiar Sunnah yang menyelisihi Rafidhah, kemudian ilmu dan Sunnah semakin banyak dan semakin tampak di sana.”[9]

Selanjutnya yang juga patut untuk diketahui kita akan dapati kalimat yang berisi doa  permohonan rahmat untuk para ulama Asy‘ariyah, yang itu telah tersebar luas dalam kitab-kitab yang bukan dari kalangan Asy’ari seperti dari para ulama Hanabilah dan Salafiyah Wahabiyah.

 Ini menunjukkan bahwa mereka mengakui keislaman para ulama Asy’ariyah tersebut dan tidak mengeluarkan mereka dari lingkaran ahlul kiblat. Karena mendoakan rahmat bagi orang kafir tidak dibolehkan menurut ijma’ ulama. Doa ampunan dan rahmat hanya ditujukan bagi orang yang meninggal di atas Islam, meskipun pada dirinya terdapat bid‘ah atau kesalahan dalam masalah aqidah.

Maka sangat sulit  untuk bisa diterima bagaimana mungkin ada pihak yang mengangkat slogan berpegang teguh kepada pendapat salaf namun justru berpaling dari perkataan para ulama besar mereka, bahkan meremehkan ucapan mereka, lalu mendahulukan ijtihad pribadinya dan tidak menerima kecuali apa yang dianggap baik oleh pandangannya yang terbatas.

Namun perlu diingat bahwa sikap berlebihan bukan hanya ada pada satu pihak atau kelompok tertentu saja. Sebagaimana di kalangan yang Salafiyah Wahabiyah ada yang berlebihan hingga mengkafirkan Asy‘ariyyah, demikian pula di sebagian kalangan Asy‘ariyah ada yang berlebihan hingga mengkafirkan kelompok di luar mereka, semisal karena terlalu menggampangkan tuduhan menjisimkan Allah.

Namun demikian yang mampu bersikap inshaf dan berlaku adil dari Asy’ariyyah jumlahnya jauh lebih banyak, sebagaimana itu pula yang kami ketahui dari kalangan Salafiyah atau Wahabiyah, mereka yang bisa bersikap adil dan berlaku inshaf sangatlah banyak. Karena siapapun yang jujur dengan ilmu, pasti akan melakukan itu. 

Dan untuk melengkapi bab ini kami menukil di sini beberapa contoh pujian dari sebagian ulama Asy‘ari yang terkenal terhadap lawan yang paling keras  tentang yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. 

Hal ini agar kita mau belajar lebih luas, ketika mendapati celaan ulama terhadap lawannya, ada baiknya kita juga mengetahui pujiannya kepada lawannya tersebut. Agar kita tidak mengartikan celaan berarti kebencian apalagi penyesatan bahkan pengkafiran.

Al imam Ibnu Daqiq al Id rahimahullah berkata:

لما اجتمعت بابن تيمية رأيت رجلا العلوم كلها بين عينيه يأخذ منها ما يريد ويدع ما يريد

“Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang lelaki yang seakan-akan seluruh ilmu berada di depan kedua matanya; ia mengambil darinya apa yang ia kehendaki dan meninggalkan apa yang ia kehendaki.”[10]

Dan sang imam bahkan pernah berkata langsung kepada al imam Ibnu Taimiyah:

ما كنت أظن أن الله تعالى بقي يخلق مثلك

“Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah masih menciptakan orang seperti dirimu.”[11] 

Al imam Ibn Hajar al Asqalani rahimahullah berkata tentang beliau:

وشهرة إمامة الشيخ تقي الدين ابن تيمية أشهر من الشمس، وتلقيبه بشيخ الإسلام باق إلى الآن على الألسنة الزكية، ويستمر غدا لما كان بالأمس، ولا ينكر ذلك إلا من جهل مقداره وتجنب الإنصاف، فما أكثر غلط من تعاطى ذلك، وأكثر غباره! فالله تعالى هو المسؤول أن يقينا شرور أنفسنا وحصائد ألسنتنا بمنه وفضله

“Kemasyhuran keimaman Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah lebih terang daripada matahari. Penyebutan beliau dengan gelar Syaikhul Islam tetap hidup hingga hari ini di lisan-lisan yang baik, dan akan terus berlanjut sebagaimana dahulu. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali orang yang tidak mengetahui kadar kedudukannya dan meninggalkan sikap inshaf.

Betapa banyak kesalahan orang yang menempuh jalan itu, dan betapa banyak debu yang ditimbulkannya. Maka kepada Allah kita memohon agar menjaga kita dari keburukan diri kita dan hasil lisan kita dengan karunia dan keutamaan-Nya.”[12] 

Al imam As Suyuthi rahimahullah berkata tentang beliau: 

ابن تيمية الشيخ الإمام العلامة الحافظ الناقد الفقيه المجتهد المفسر البارع شيخ الإسلام، علم الزهاد، نادرة العصر: تقي الدين أبو العباس أحمد بن المفتي شهاب الدين عبد الحليم ابن الإمام المجتهد شيخ الإسلام مجد الدين عبد السلام ... وكان من بحور العلم، ومن الأذكياء المعدودين، والزهاد والأفراد، ألف ثلاثمائة مجلدة، وامتحن وأوذي مرارا

 “Ibnu Taimiyah adalah seorang syaikh, imam, ulama besar, hafidz, kritikus hadits, ahli fikih, mujtahid, mufassir yang sangat menonjol, Syaikhul Islam, panutan para ahli zuhud, dan sosok langka pada zamannya.

Beliau adalah Taqiyuddin Abu al Abbas Ahmad bin al Mufti Syihabuddin Abdul Halim, putra dari imam mujtahid, Syaikhul Islam Majduddin Abdus Salam… 

Beliau termasuk lautan ilmu, termasuk orang-orang yang sangat cerdas dan diakui kecerdasannya, termasuk ahli zuhud dan tokoh yang istimewa. Beliau menulis sekitar tiga ratus jilid karya, dan berkali-kali diuji serta disakiti.”[14]

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa metode yang benar menuntut adanya sikap adil terhadap pihak yang berbeda dan sikap inshaf terhadap para ulama apapun latar belakang kelompok dan madzhab mereka. 

Orang yang diberi taufik adalah mereka yang menempuh jalan beragama yang telah dicontohkan oleh para pendahulu yang shalih: Mengkritik tanpa mencela, memuji tanpa kultus berlebihan, menggabungkan antara menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan, sekaligus menjaga kedudukan pihak yang dibantah serta mendoakan rahmat dan ampunan untuk mereka.

Karena inshaf adalah jalan tengah di antara dua sisi yang berlebihan: Antara pihak yang menjatuhkan Asy‘ariyyah secara total, menghapus jasa-jasa mereka, membid‘ahkan ulama mereka yang saleh, menyesatkan bahkan mengkafirkan mereka; dan antara pihak yang berlebihan dalam memuliakan mereka hingga menjadikan madzhab ini seakan-akan satu-satunya kebenaran, serta menganggap hanya merekalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

Alangkah indahnya ungkapan berikut ini:

العدل أساس الإنصاف، والإنصاف قرين العلم، ومن لم ينصف لم يعدل، ومن لم يعدل لم يصب الحق.

“Keadilan adalah fondasi inshaf, dan inshaf adalah pasangan ilmu. Barang siapa tidak bersikap inshaf, maka ia tidak berlaku adil. Dan barang siapa tidak berlaku adil, maka ia tidak akan sampai kepada kebenaran.”

Wallahu a’lam.

Bagian I : https://astofficial.id/contents/787/inshaf-dalam-menilai-dan-menghukumi-bagian-i

Bagian II : https://astofficial.id/contents/788/inshaf-dalam-menilai-dan-menghukumi-bagian-ii

Bagian IV & V : Coming Soon di AST Official

_______________________

[1] Majmu’ al Fatawa (35/100)

[2] Bayan Talbis al Jahmiyah (3/538)

[3] Dar Ta’arud (6/289)

[4] Fatawa Lajnah Daimah (2/140)

[5] Fatawa Lajnah Daimah (3/220)

[6] Majmu’ Fatawa bin Baz (28/256)

[7] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Matnu’ah (3/72)

[8] Al Bidayah wa an Nihayah (17/20)

[9] Majmu’ Fatawa (3/281)

[10] Ar Rad al Wafir hlm. 60

[11] Ar Rad al Wafir hlm. 60

[12] Ibid 

[13] Al Jawahir wa ad Durar (2/736)

[14] Tabaqal al Hafidz li as Suyuthi hlm. 250 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Menjawab Fitnah Pengkafiran Terhadap Asy'ariyah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.