
Biasa kita temukan dalam komentar para mufassir bahwa ada huruf dalam sebuah ayat dikatakan zaidah (tambahan), ta`kid (penguat) atau muqhamah (dimasukkan).
Ketiga hal ini ditolak mentah-mentah oleh Syekh Dr. Muhammad Abdullah Darraz seorang ulama besar dari al-Azhar. Beliau tak setuju kalau dikatakan dalam al-Quran ada huruf yang dikategorikan sebagai sesuatu yang berlebih, terutama yang ketiga; muqhamah. Sesuatu yang di-iqham-kan terkesan keberadaannya dipaksakan. Sementara yang pertama dan kedua, konotasinya meski ia tak ada tak mengapa. Keberadaannya tak banyak memberi arti. Hanya sebagai pelengkap.
Ini tampak dalam penjelasan beliau terhadap ayat: ููุณ ูู ุซูู ุดูุก "Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia."
Sebagian besar mufassir menyebut bahwa huruf ู dalam ayat ini adalah zaidah. Dengan demikian maka makna ayat ini adalah: ููุณ ู ุซู ุงููู ุดูุก “Tidak ada sesuatupun seperti Allah…”, atau: ููุณ ูุงููู ุดูุก .
Kenapa huruf ู dikatakan sebagai tambahan? Karena kalau huruf ู tetap pada fungsi aslinya sebagai adat tasybih, maka ayat ini berarti menafikan sesuatu yang serupa dengan sesuatu yang serupa dengan Allah Swt (ูุงููุฉ ุงูุดุจูู ุนู ู ุซู ุงููู). Dan ini pada gilirannya berarti menetapkan adanya sesuatu yang serupa dengan Allah Swt (ุงูุชุณููู ุจุซุจูุช ุงูู ุซู ูู ุณุจุญุงูู). Jelas bukan ini makna yang ingin disampaikan oleh ayat. Karena itulah huruf ู dalam ayat ini -menurut para mufassirin- bersifat zaidah.
Ini diperkuat oleh perkataan ulama Nahwu bahwa sebuah penafian ditujukan pada muqayyad dan qayd-nya sekaligus. Misalnya dalam sebuah kalimat: ููุณ ูููุงู ููุฏ ูุนุงููู “Fulan tidak punya anak yang membantunya”. Ini bisa diartikan bahwa si Fulan tidak punya anak sama sekali. Tapi bisa juga diartikan, ia punya anak namun tidak membantunya.
Memang ada beberapa mufassir yang berpendapat bahwa huruf ู dalam ayat tersebut bukanlah tambahan. Ia tetap sebagai adat tasybih. Kenapa demikian? Karena penafian tentang adanya sesuatu yang serupa dengan sesuatu yang serupa (ููู ู ุซู ุงูู ุซู) pada hakikatnya adalah penafian sesuatu yang serupa (ููู ุงูู ุซู). Penjelasannya: seandainya ada sesuatu yang serupa dengan Allah, tentu sesuatu ini memiliki sesuatu yang serupa dengannya yaitu Allah Swt sendiri -ุญุงุดุง ููู-, karena keduanya serupa. Nah, menafikan sesuatu yang serupa dengan Allah tidak akan sempurna kecuali dengan menafikan sesuatu yang serupa dengan sesuatu yang serupa dengan Allah Swt.
Namun penjelasan ini tidak memuaskan bagi Syekh Darraz. Ia lebih sekedar ‘menyelamatkan’ makna ayat dari ‘efek negatif’ huruf ู jika dikatakan ia berfungsi sebagaimana mestinya sebagai adat tasybih, bukan sebagai tambahan. Bahkan penafsiran ini terkesan berputar-putar. Tak bedanya dengan seseorang ketika ingin berkata, “Itu si Fulan”, ia malah berkata: “Itu putra dari saudari bibi si Fulan”.
Lalu bagaimana tafsir ayat ini menurut Syekh Darraz? Beliau menjelaskan ada dua langkah penafsiran. Yang pertama lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum. Sementara yang kedua lebih dalam. Kedua cara ini tidak menganggap huruf ู sebagai ุฒุงุฆุฏุฉ , ู ุคูุฏุฉ, apalagi ู ูุญู ุฉ.
Langkah pertama, seandainya ayat tersebut berbunyi: ููุณ ู ุซูู ุดูุก “Tidak ada yang seperti-Nya sesuatupun…” maka ini artinya menafikan sesuatu yang serupa (ููู ุงูู ุซู) yang sifatnya sepadan, setara atau seimbang (ุงูู ูุงูุฆ). Ini makna yang langsung muncul dari kata ุงูู ุซู “Tidak ada yang seperti Allah…” artinya tidak ada yang sebanding, setara atau sepadan dengan Allah Swt.
Namun hal ini berpotensi menyisakan anggapan bahwa: memang tidak ada yang sebanding dengan Allah, tapi boleh jadi ada level di bawah level ketuhanan. Level ini bisa saja ditempati oleh malaikat, nabi, bintang-bintang, jin, berhala, para peramal dan sebagainya. Jika benar begitu, berarti ada kekuatan yang mirip -atau dibawah sedikit- dari kekuatan Tuhan. Pemahaman ini sangat potensial menjadi jalan menuju kemusyrikan. Karena itulah diletakkan huruf ู dalam ayat ini untuk menepis setiap anggapan bahwa ada kekuatan yang mirip dengan kekuatan Allah Swt. Seolah-olah ayat ini ingin mengatakan, “Tidak ada sesuatupun yang punya kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang mirip dengan Allah Swt, apalagi untuk langsung mirip dengan Allah Swt.” Dalam kaidah bahasa hal ini dikenal dengan : ุงูุชูุจูู ุจุงูุฃุฏูู ุนูู ุงูุฃุนูู.
Langkah kedua, perlu dipahami bahwa maksud utama dari ayat ini adalah menafikan syabih (sesuatu yang mirip) dengan Allah Swt. Meskipun sebenarnya maksud ini sudah tersampaikan dengan kalimat seperti: ููุณ ูุงููู ุดูุก, atau ููุณ ู ุซูู ุดูุก, namun ia tidak sepenuhnya mewakili maksud ayat. Kenapa demikian? Karena disamping ingin menegaskan bahwa tidak ada satupun yang mirip dengan Allah, ayat ini juga ingin sekalian menyertakan hujjah atau argumentasinya.
Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, ketika kita ingin menepis tuduhan dari seseorang yang kita kenal bersih, kita berkata: “Ia tidak mungkin berbohong.” Tapi kalimat ini sekedar pernyataan biasa yang tak punya argumentasi apa-apa. Tapi ketika kita berkata: “Orang seperti dia tidak mungkin berbohong,” ini berbeda dengan kalimat pertama tadi.
Dalam kalimat kedua ini, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada orang lain yang sama dengannya dan tidak berbohong. Sesungguhnya kita sedang menepis tuduhan bohong dari dirinya secara total dan maksimal. Kalimat ini bermakna, “Orang yang memiliki sifat mulia dan akhlak yang terpuji seperti dirinya tidak akan mungkin berbohong, karena sangat kontras antara sifat-sifat yang dimilikinya dengan kebohongan yang dituduhkan padanya.”
Dalam pengertian inilah hufur ู tadi ditempatkan. Artinya, Zat seperti Allah Swt tidak akan mungkin punya ุงูู ุซู (sesuatu yang mirip dengan-Nya), dan tidak akan mungkin ada dua zat seperti Dia dalam wujud. Argumentasi ini jika diperdalam bahkan bisa menjadi salah satu bukti eksistensi Allah Swt yang lebih kuat dibanding berbagai argumentasi yang telah dibangun para ahli kalam.
ูุงููู ุชุนุงูู ุฃุนูู ูุฃุญูู
[YJ]
Sumber FB Ustadz : Yendri Junaidi