Haramkah Zakat Untuk Keluarga Nabi?

Haramkah Zakat Untuk Keluarga Nabi?

Haramkah Zakat Untuk Keluarga Nabi?

«ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู…» (3/ 118):

ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู…ุทู„ุจ ุจู† ุฑุจูŠุนุฉ ุจู† ุงู„ุญุงุฑุซ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅِู†َّ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉَ ู„َุง ุชَู†ْุจَุบِูŠ ู„ِุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุฅِู†َّู…َุง ู‡ِูŠَ ‌ุฃَูˆْุณَุงุฎُ ‌ุงู„ู†َّุงุณِ

Dari Abdul Muthalib bin Rabi’ah bin al-Harits, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh sedekah/zakat itu tidak layak bagi keluarga Muhammad. Harta sedekah itu hanyalah kotoran manusia” HR Muslim no 1072.

«ุดุฑุญ ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ุนู„ู‰ ู…ุณู„ู…» (7/ 179):

«(ุฅِู†َّ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉَ ู„َุง ุชَู†ْุจَุบِูŠ ู„ِุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ) ุฏَู„ِูŠู„ٌ ุนَู„َู‰ ุฃَู†َّู‡َุง ู…ُุญَุฑَّู…َุฉٌ ุณَูˆَุงุกٌ ูƒَุงู†َุชْ ุจِุณَุจَุจِ ุงู„ْุนَู…َู„ِ ุฃَูˆْ ุจِุณَุจَุจِ ุงู„ْูَู‚ْุฑِ ูˆَุงู„ْู…َุณْูƒَู†َุฉِ ูˆَุบَูŠْุฑِู‡ِู…َุง ‌ู…ِู†َ ‌ุงู„ْุฃَุณْุจَุงุจِ ‌ุงู„ุซَّู…َุงู†ِูŠَุฉِ ูˆَู‡َุฐَุง ู‡ُูˆَ ุงู„ุตَّุญِูŠุญُ ุนِู†ْุฏَ ุฃَุตْุญَุงุจِู†َุง ูˆَุฌَูˆَّุฒَ ุจَุนْุถُ ุฃَุตْุญَุงุจِู†َุง ู„ِุจَู†ِูŠ ู‡َุงุดِู…ٍ ูˆَุจَู†ِูŠ ุงู„ْู…ُุทَّู„ِุจِ ุงู„ْุนَู…َู„َ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุจِุณَู‡ْู…ِ ุงู„ْุนَุงู…ِู„ِ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุฅِุฌَุงุฑَุฉٌ ูˆَู‡َุฐَุง ุถَุนِูŠูٌ ุฃَูˆْ ุจَุงุทِู„ٌ ูˆَู‡َุฐَุง ุงู„ْุญَุฏِูŠุซُ ุตَุฑِูŠุญٌ ูِูŠ ุฑَุฏِّู‡ِ 

Imam an-Nawawi mengatakan, 

Sabda Nabi SAW “Sungguh sedekah/zakat itu tidak layak bagi keluarga Muhammad” adalah dalil yang menunjukkan bahwa harta sedekah/zakat itu haram bagi keluarga Nabi SAW baik dengan sebab kerja (baca: menjadi amil zakat) atau pun karena sebab kefakiran, kemiskinan atau salah dari 8 sebab/ashnaf lainnya. Ini pendapat yang shahih/benar menurut para ulama Mazhab Syafii. 

Ada sebagian ulama Syafiiyah yang membolehkan harta zakat diterima oleh Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib karena sebab kerja mengurusi zakat sehingga menerima jatah amil zakat. Dengan alasan ada akad ijarah/jual jasa dalam hal ini. 

Akan tetapi pendapat ini lemah bahkan bathil (lemah sekali). Hadis di atas adalah dalil yang demikian gamblang menyanggah pendapat ini.

ู‚َูˆْู„ُู‡ُ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… (ุฅِู†َّู…َุง ู‡ِูŠَ ุฃَูˆْุณَุงุฎُ ุงู„ู†َّุงุณِ) ุชَู†ْุจِูŠู‡ٌ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู„ุฉ ูِูŠ ุชَุญْุฑِูŠู…ِู‡َุง ุนَู„َู‰ ุจَู†ِูŠ ู‡َุงุดِู…ٍ ูˆَุจَู†ِูŠ ุงู„ْู…ُุทَّู„ِุจِ ูˆَุฃَู†َّู‡َุง ู„ِูƒَุฑَุงู…َุชِู‡ِู…ْ ูˆَุชَู†ْุฒِูŠู‡ِู‡ِู…ْ ุนَู†ِ ุงู„ْุฃَูˆْุณَุงุฎِ ูˆَู…َุนْู†َู‰ ุฃَูˆْุณَุงุฎُ ุงู„ู†َّุงุณِ ุฃَู†َّู‡َุง ุชَุทْู‡ِูŠุฑٌ ู„ِุฃَู…ْูˆَุงู„ِู‡ِู…ْ ูˆَู†ُูُูˆุณِู‡ِู…ْ ูƒَู…َุง ู‚َุงู„َ ุชَุนَุงู„َู‰ ุฎُุฐْ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْูˆَุงู„ِู‡ِู…ْ ุตَุฏَู‚َุฉً ุชُุทَู‡ِّุฑُู‡ُู…ْ ูˆَุชُุฒَูƒِّูŠู‡ِู…ْ ุจู‡ุง ูَู‡ِูŠَ ูƒَุบَุณَّุงู„َุฉِ ุงู„ْุฃَูˆْุณَุงุฎِ»

Sabda Nabi SAW “Harta sedekah itu hanyalah kotoran manusia” ini mengandung isyarat kausa hukum (illah) di balik keharaman sedekah/zakat bagi Bani Hasyim dan Bani al-Muththallib. Kausa hukumnya adalah karena keluarga Nabi SAW itu manusia-manusia mulia yang harus dibersihkan dan dijauhkan dari kotoran.

Yang dimaksud dengan “kotoran manusia” adalah zakat itu membersihkan harta dan jiwa manusia sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya “ambillah dari sebagian harta mereka sedekah/zakat yang membersihkan dan mensucikan mereka” QS at-Taubah: 60. Jadi zakat itu seperti pembersih kotoran badan”

al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj 7/179

ูุฃู‡ู„ ุจูŠุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‡ู… ุจู†ูˆ ู‡ุงุดู…، ูˆุจู†ูˆ ุงู„ู…ุทู„ุจ.

ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู…، ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: "ุฅู†ู…ุง ุจู†ูˆ ุงู„ู…ุทู„ุจ، ูˆุจู†ูˆ ู‡ุงุดู… ุดูŠุก ูˆุงุญุฏ" ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ.

ูˆุฐู‡ุจ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ู‡ู… ุจู†ูˆ ู‡ุงุดู… ูู‚ุท، ูˆู‡ูˆ ุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ุฃุญู…ุฏ.

Keluarga Nabi SAW adalah Bani Hasyim= Bani Abdil Muththalib dan Bani al-Muththalib. Demikianlah pendapat Imam asy-Syafii dan sejumlah ulama selainnya mengingat sabda Nabi SAW ‘Bani al-Muththalib dan Bani Hasyim itu satu kesatuan’ HR al-Bukhari. Sedangkan Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa ahli bait atau keluarga Nabi SAW itu hanya Bani Hasyim. Ini adalah salah satu pendapat Imam Ahmad.

Keharaman zakat dan sedekah untuk keluarga dan keturunan Nabi SAW secara realita masa silam karena adanya sumber bantuan finansial yang lain bagi anggota keluarga Nabi SAW yang membutuhkan bantuan terutama dari khumus. Sebagian dari seperlima (khumus) dari total harta rampasan perang kaum muslimin dengan orang kafir itu distribusinya untuk keluarga Nabi SAW. 

Oleh karena itu maka kala bantuan finansial dari harta rampasan perang tidak ada sebagaimana kondisi di era kontemporer saat ini lantas tidak ada sumber bantuan finansial untuk anggota keluarga Nabi SAW yang miskin kecuali harta zakat maka menurut Ibnu Taimiyah harta zakat boleh bahkan wajib diberikan kepadanya. 

Bahkan dalam kondisi seperti ini keluarga Nabi SAW lebih berhak mendapatkan harta zakat dibandingkan selainnya mengingat Nabi SAW berwasiat agar kita memberikan perlakuan baik kepada keluarga Nabi SAW.

«ุงู„ูุชุงูˆู‰ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู„ุงุจู† ุชูŠู…ูŠุฉ» (5/ 373):

«ูˆุจู†ูˆ ู‡ุงุดู… ุฅุฐุง ู…ู†ุนูˆุง ‌ู…ู† ‌ุฎู…ุณ ‌ุงู„ุฎู…ุณ ุฌุงุฒ ู„ู‡ู… ุงู„ุฃุฎุฐ ู…ู† ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ูŠุนู‚ูˆุจ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ูˆู‚ุงู„ู‡ ุฃุจูˆ ูŠูˆุณู ูˆุงู„ุฅุตุทุฎุฑูŠ ู…ู† ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู…ุญู„ ุญุงุฌุฉ ูˆุถุฑูˆุฑุฉ»

“Bani Hasyim jika sudah tidak lagi mendapatkan bantuan finansial dari harta rampasan perang boleh mendapatkan zakat. Ini adalah pendapat Qadhi Ya’qub, salah seorang ulama Mazhab Hanbali, Abu Yusuf (murid Imam Abu Hanifah) dan al-Ishthakhari, salah seorang ulama Syafiiyah. Alasan kebolehannya adalah adanya kebutuhan dan kondisi darurat untuk dibantu dengan zakat” al-Fatawa al-Kubra karya Ibnu Taimiyah 5/373.

Pandangan fikih yang progresif Ibnu Taimiyah ini menunjukkan bahwa terkadang hukum itu berubah karena adanya perubahan kondisi sosial masyarakat meski kausa hukum tidak berubah. Kausa hukum keharamana sedekah/zakat untuk keluarga Nabi di era kontemporer tetap ada yaitu kemuliaan nasab keluarga Nabi.

Meski demikian hukum ini berubah karena faktor sosial yaitu tidak ada lagi harta rampasan perang yang bisa digunakan sebagai bantuan finansial kepada keluarga Nabi SAW yang fakir dan miskin.

Lebih menarik lagi perubahan ini terkait hukum yang jelas-jelas memiliki dalil nash (teks keagamaan) yang jelas dan lugas. 

Alhasil, hukum dalam Islam itu memiliki berbagai dimensi dan pernik-pernik, tidak sesederhana anggapan orang awam dan pelajar pemula dalam kajian hukum Islam. Wallahu a’lam bish shawab.

Aris Munandar

Foto kenangan sowan Habib Ahmad al-Mujtaba hafizhahullahu ta'ala Selasa 31 Maret 2026 di kediaman beliau Pasar Minggu Jakarta Selatan plus diberi hadiah kitab kumpulan fatwa Mufti Tarim yang tidak diketahui makamnya karena diculik oleh komun** kala itu rahimahullahu ta'ala. 

Sumber FB Ustadz : Aris Munandar

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Haramkah Zakat Untuk Keluarga Nabi?". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru