
SALAHPAHAM MENYAMAKAN TABARRUK KUBURAN DENGAN YAHUDI
Oleh : Dr. Ali Alhinduan, M.Pd.
Lagi dan lagi, saya menemukan kesalahpahaman yang kesannya sederhana tapi dampaknya sangat fatal sekali. Saya sudah menonton video ustat Ahmad Ubaidillah di chanel youtube beliau yang durasinya 35 menit. Beliau mengutarakan banyak sekali dalil baik dari Hadits, kalam salaf bahkan dari buku-buku karangan kaum Yahudi juga di masukkan di pptx beliau.
Hanya saja, kesalahan beliau dari awal sampai akhir adalah tidak mengecek dahulu apa yang dimaksudkan "Allah melaknat kaum Yahudi karena menjadi kuburan mereka sebagai masjid". Jika merujuk kepada pendapat ulama diantaranya imam Nasiruddin al-Baidhawi :
ويقول الإمام البيضاوي (رحمه الله تعالى) : فيما نقله عنه الحافظ ابن حجر العسقلاني وغيره من شراح السنن حيث قال البيضاوي : «لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء، تعظيمًا لشأنهم، ويجعلونها قبلة، ويتوجهون في الصلاة نحوها فاتخذوها أوثانًا، لعنهم الله، ومنع المسلمين عن مثل ذلك، ونهاهم عنه.
أما من اتخذ مسجدًا بجوار صالح أو صلى في قبرته وقصد به الاستظهار بروحه، ووصول أثر من آثار عبادته إليه، لا التعظيم له، والتوجه فلا حرج عليه، ألا ترى أن مدفن إسماعيل في المسجد الحرام ثم الحطيم؟ ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلي بصلاته، والنهي عن الصلاة في المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة». انتهى.
فتح الباري شرح الزرقاني فيض القدير
Imam al-Baiḍāwī رحمه الله تعالى berkata—sebagaimana dinukil darinya oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan selainnya dari ulama ia berkata:
“Ketika orang-orang Yahudi bersujud kepada kubur para nabi sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan mereka, serta menjadikannya sebagai kiblat dan menghadap ke arahnya dalam salat, lalu mereka menjadikannya sebagai berhala-berhala, maka Allah melaknat mereka. Dan kaum Muslimin dilarang dari perbuatan semacam itu serta dicegah darinya.
Adapun orang yang membangun masjid di dekat seorang yang saleh atau salat di sisi kuburnya, dengan tujuan mengambil keberkahan melalui ruhnya dan agar sampai kepadanya pengaruh dari bekas-bekas ibadahnya bukan untuk mengagungkannya dan bukan pula untuk menjadikannya sebagai arah tujuan (ibadah) maka tidak ada dosa baginya.
Tidakkah engkau melihat bahwa makam Nabi Ismail berada di dalam Masjidil Haram, tepatnya di Hijr (al-Ḥaṭīm)? Bahkan masjid tersebut adalah tempat paling utama yang dicari oleh orang yang salat untuk menunaikan salatnya.
Dan larangan salat di kuburan itu khusus pada kuburan yang terbongkar (tanahnya) karena di dalamnya terdapat najis.”
Dinukil dalam Fath al-Bari, Syarḥ az-Zarqani, dan Fayd al-Qadir.
Begitu juga dalam kitab Tafsir Qurthubi dijelaskan :
قال القرطبي: روى الأئمة عن أبي مرصد الغنوي قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: «لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا إليها» (لفظ مسلم) أي لا تتخذوها قبلة، فتصلوا عليها أو إليها كما فعل اليهود والنصارى
Al-Qurthubi berkata: Para imam (ahli hadis) meriwayatkan dari Abu Martsad al-Ghanawi, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian salat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” (lafaz riwayat Muslim)
Maksudnya: janganlah kalian menjadikannya sebagai kiblat, sehingga kalian salat di atasnya atau menghadap kepadanya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Sehingga konklusinya, penjabaran dalil yang disampaikan oleh ustat Ahmad Ubaidillah kepada kaum muslimin adalah SALAH ALAMAT. Karena kaum muslimin yang berziarah ke kuburan orang soleh tidak sampai menjadikan kuburan mereka sebagai kiblat, atau mengkultuskan seperti pengkultusan para Nabi. Wallahu a'lam.
Sumber FB Ustadz : Dr. Habib Ali Alhinduan