
Abdul Malik bin Marwan, seorang khalifah Bani Umayyah, ingin menikahkan putera mahkotanya; al-Walid dengan puteri dari tokoh tabiin yang sangat disegani; Said bin Musayyab. Tapi Said menolak lamaran itu. Ia menolak menjadi besan seorang khalifah dan mertua bagi khalifah selanjutnya.
Dengan siapa ia nikahkan puterinya yang terkenal cantik dan alim itu? Dengan muridnya yang bernama Abu Wada`ah. Beberapa hari Abu Wada’ah tidak datang ke majelis gurunya. Ketika ia muncul, Said bertanya, “Kemana saja engkau?” Ia menjawab, “Isteri saya baru saja meninggal.”
“Kenapa engkau tidak memberitahu kami agar kami bisa menghadiri pemakamannya?”.
Said melanjutkan, “Apakah engkau sudah menikah lagi?” Abu Wada’ah menjawab, “Bagaimana mungkin saya menikah lagi sementara saya seorang yang fakir.”
“Engkau mau aku bantu?”
“Mau.”
Akhirnya Said bin Musayyab menikahkah puterinya dengan Abu Wada’ah, seorang duda yang alim.
***
Salah seorang anak al-Mahdi, khalifah Bani Abbasiyah, hadir di majelis Syarik al-Qadhi. Anak khalifah ini mendengar pelajaran sambil bersandar ke dinding. Lalu ia bertanya tentang sebuah hadits pada sang guru; Syarik. Tapi Syarik tidak menoleh sama sekali. Anak khalifah itu kembali mengulangi pertanyaannya tapi Syarik tetap tidak menoleh ke arahnya.
Anak khalifah itu merasa tidak dihargai. Ia berkata dengan nada emosi, “Engkau menganggap enteng anak khalifah?” Dengan tenang Syarik menjawab, “Tidak, hanya saja ilmu ini terlalu indah untuk disia-siakan pada orang yang tidak menghargainya.”
***
Imam Syafii menceritakan awal keinginannya untuk belajar pada Imam Malik di Madinah. Untuk memudahkan ia bertemu dengan Imam Malik, Syafii membawa surat dari Gubernur Mekah untuk diserahkan pada Gubernur Madinah dengan tujuan Gubernur Madinah bersedia menemaninya bertemu Imam Malik.
Setelah menyerahkan surat itu pada Gubernur Madinah, sang Gubernur berkata, “Wahai anak muda, sungguh berjalan tanpa alas kaki dari Madinah sampai ke Mekah lebih mudah bagiku daripada harus datang ke pintu rumah Malik bin Anas. Aku tak pernah merasa lebih hina selain saat berada di depan pintu rumahnya.”
Tapi setelah dibujuk akhirnya ia bersedia menemani Imam Syafii datang ke rumah Imam Malik. Sesampainya di rumah sang Imam, setelah menyampaikan maksud kedatangan, Imam Malik berkata: “Subhanallah, sejak kapan ilmu dituntut menggunakan perantara-perantara…”.
***
Suatu ketika Harun ar-Rasyid, seorang Khalifah Abbasi, lewat di depan halaqah Muhammad bin al-Hasan. Melihat Khalifah mendekat semua orang berdiri memberi hormat, kecuali Muhammad bin al-Hasan. Setelah Khalifah berlalu, seorang utusan Khalifah memanggil Muhammad bin al-Hasan untuk menghadap. Ia pun pergi menghadap.
Setelah pulang, orang-orang bertanya apa yang terjadi. Ia menjawab, “Harun bertanya padaku, “Kenapa engkau tadi tidak ikut berdiri seperti orang lain?” Aku jawab, “Karena aku tidak mau keluar dari level ulama dan masuk ke level orang awam.”
رحم الله علماءنا وأدبنا بآدابهم
[YJ]
Sumber FB Ustadz : Yendri Junaidi