
Sunnahnya menyembelih hewan kurban itu di lapangan. Hal ini sesuai dengan hadits shahih:
ุนู ุงุจู ุนู ุฑ ุฑุถู ุงููู ุนููู ุง ุฃู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุงู ููุญุฑ ุฃู ูุฐุจุญ ุจุงูู ุตูู
Dari Ibnu Umar ra, “Nabi Saw menyembelih di tempat shalat ied (lapangan).”
Namun menurut Imam Malik, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Baththal, hal ini khusus untuk pemimpin tertinggi (imam) umat, agar tidak ada yang menyembelih sebelum imam (sebagai bentuk kepatuhan kepada pemimpin) dan agar umat belajar dan melihat langsung bagaimana menyembelih yang benar.
Berikut redaksi ucapan Imam Batthal:
ุงูุณูุฉ ูุงููู ุฃุนูู ุจุงูุฐุจุญ ูู ุงูู ุตูู ูุฆูุง ูุชูุฏู ุงูุฅู ุงู ุจุงูุฐุจุญ، ููู ุง ูุงูุช ุฃูุนุงู ุงูุนูุฏูู ูุงูุฌู ุงุนุงุช ุฅูู ุงูุฅู ุงู ูุฌุจ ุฃู ูููู ู ุชูุฏู ุง ูู ุฐูู ูุงููุงุณ ูู ุชุจุน، ูููุฐุง ูุงู ู ุงูู: ูุง ูุฐุจุญ ุฃุญุฏ ุญุชู ูุฐุจุญ ุงูุฅู ุงู
Disamping untuk syiar, hal ini juga untuk menyegerakan penyembelihan, agar yang pertama kali dimakan di hari Idul Adha itu adalah daging hewan kurban.
Bagaimana kalau shalat ied dilakukan di masjid bukan di lapangan, atau shalatnya di lapangan tapi penyembelihannya di pekarangan masjid, apakah boleh?
Para ulama tidak membolehkan menyembelih kurban di dalam masjid karena akan mengotori masjid. Dan sepertinya, tidak ada juga yang berpikir untuk menyembelih kurban di dalam masjid.
Bagaimana dengan pekarangan masjid? Sampai saat ini saya tidak menemukan larangan yang tegas untuk itu. Bahkan beberapa ulama membolehkannya selama kebersihannya dijaga. Artinya setelah selesai menyembelih, bekas darah dan kotoran lainnya segera dibersihkan.
Syekh Ibnu Utsaimin mensyarahkan hadits shahih diatas sebagai berikut:
ูุฐุง ููู ุฏููู ุนูู ุฃูู ููุจุบู ููุฅู ุงู ุฃู ูุฐุจุญ ูู ุงูู ุตูู، ููู ูุง ู ูุงู ุงูุตูุงุฉ ูุฃู ู ูุงู ุงูุตูุงุฉ ู ุณุฌุฏ ููุง ูุฌูุฒ ุฃู ูููุซ ุจุงูุฏู ุงููุฌุณ ููู ุจุงููุฑุจ ู ูู ููุงู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุฎุฑุฌ ุจุฃุถุญูุชู ุฅูู ุงูุฎุงุฑุฌ ููุฐุจุญูุง
“Hadits ini menjadi dalil bahwa seorang imam semestinya menyembelih di mushalla (lapangan), tapi bukan di tempat shalatnya karena tempat shalat adalah masjid, dan masjid tidak boleh dikotori dengan darah yang najis, tapi (boleh) di dekatnya. Jadi Nabi Saw membawa hewan kurbannya keluar (dekat dari tempat shalat) dan menyembelihnya disana.”
Berarti Nabi Saw menyembelih hewan kurbannya masih di area lapangan, tapi tidak di tempat shalatnya. Sebagaimana para panitia kurban menyembelih hewan kurban di pekarangan masjid, bukan di dalamnya.
Kapan penyembelihan tidak dibolehkan di pekarangan masjid? Kalau masjid adalah wakaf dari seseorang dan ia mensyaratkan bahwa pekarangan masjid tidak boleh digunakan untuk penyembelihan. Syekh Malibari dalam Fathul Mu’in menegaskan:
ููู ุดุฑุท (ุฃู ุงููุงูู) ุดูุฆุง ุงุชุจุน
“Kalau pewakaf mensyaratkan sesuatu maka mesti diikuti.”
Tapi itu juga bukan harga mati. Ketika mensyarahkan ibarah di atas, ia mengatakan:
ุงุชุจุน ูู ุบูุฑ ุญุงูุฉ ุงูุถุฑูุฑุฉ
“Diikuti di selain kondisi darurat…”
Artinya, jika area yang tersedia hanya lapangan masjid maka dibolehkan. Apalagi pelaksanaan ibadah kurban adalah untuk kepentingan ibadah dan masyarakat yang notabene juga jamaah masjid. Panitianya pun sebagian besar adalah pengurus masjid. Maka tak semestinya masalah ini dipersempit.
Kesimpulannya:
Pertama, sebaiknya menyembelih hewan kurban dilakukan di lapangan setelah pelaksanaan shalat dan khutbah ied sebagaimana yang Nabi Saw lakukan.
Kedua, tidak ada larangan menyembelih hewan kurban di pekarangan masjid dengan catatan tidak menganggu kegiatan ibadah di dalam masjid dan segera dibersihkan jika penyembelihan sudah selesai.
Ketiga, akan lebih baik penyembelihan dilakukan di area khusus untuk itu, jauh dari masjid, untuk tetap menjadi kesucian masjid, kebersihannya, ketertibannya dan kenyamanan jamaah untuk beribadah tanpa diganggu oleh suara keramaian dan bau busuk bekas darah hewan kurban.
ูุงููู ุฃุนูู ูุฃุญูู
[YJ]
Sumber FB Ustadz : Yendri Junaidi