Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah

Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Tauhid merupakan inti dan ruh ajaran Islam. Seluruh risalah para nabi dan rasul, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, bertumpu pada satu misi utama: mengajak manusia untuk mengenal, mengimani, dan menyembah Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya. Tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi yang membentuk cara pandang, sikap hidup, serta orientasi ibadah seorang muslim.

Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tauhid dipahami sebagai keyakinan yang utuh dan menyeluruh tentang keesaan Allah, tanpa memecah-mecah iman ke dalam kategori-kategori yang berdiri sendiri. Keimanan kepada Allah mencakup pengenalan terhadap keagungan-Nya, penyucian dari segala kekurangan, serta penghambaan yang ikhlas hanya kepada-Nya.

Makna Tauhid dalam Tradisi Keilmuan Islam

Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada yang berarti mengesakan. Dalam pengertian syar‘i, tauhid adalah keyakinan pasti bahwa Allah ﷻ Maha Esa, tidak memiliki sekutu, tidak menyerupai makhluk, dan tidak membutuhkan apa pun. Keyakinan ini tertanam kuat di dalam hati dan menjadi landasan seluruh amal perbuatan.

Tradisi keilmuan Islam yang berkembang di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menempatkan tauhid sebagai ilmu yang paling utama. Karena itu, pembahasan tauhid selalu diajarkan sejak awal dalam pendidikan keislaman, baik di pesantren, majelis taklim, maupun kitab-kitab dasar aqidah. Tauhid bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihayati dan diamalkan.

Tauhid sebagai Pondasi Seluruh Ibadah

Seluruh bentuk ibadah dalam Islam hanya bernilai di sisi Allah apabila dibangun di atas tauhid yang benar. Shalat, puasa, zakat, haji, serta amal kebajikan lainnya tidak akan bermakna apabila tercampur dengan keyakinan yang menyimpang atau pengagungan kepada selain Allah.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa tauhid adalah syarat diterimanya amal. Oleh karena itu, menjaga kemurnian tauhid menjadi kewajiban setiap muslim. Kesalahan dalam aqidah tidak hanya berdampak pada aspek keyakinan, tetapi juga dapat merusak bangunan ibadah dan akhlak.

Pembahasan tentang pentingnya menjaga kemurnian iman dapat ditelusuri lebih jauh dalam kajian: Sumber Keimanan yang Kokoh .

Kesatuan Tauhid dalam Aqidah Aswaja

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tidak memahami tauhid secara terpisah-pisah. Keimanan kepada Allah dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh: mengenal Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya, menyucikan-Nya dari penyerupaan dengan makhluk, dan mengesakan-Nya dalam ibadah serta penghambaan.

Pendekatan ini menjaga umat Islam dari dua sikap ekstrem: menyerupakan Allah dengan makhluk atau menafikan apa yang telah Allah tetapkan tentang diri-Nya. Jalan tengah inilah yang diwariskan oleh para ulama Aswaja dan terus dijaga dalam tradisi keilmuan Islam.

Penjelasan tentang prinsip penyucian Allah juga dapat dibaca dalam: Prinsip Tanzih dalam Ahlussunnah wal Jama’ah .

Tauhid dan Pembentukan Sikap Hidup

Tauhid tidak berhenti pada ranah keyakinan, tetapi membentuk sikap hidup seorang muslim. Keyakinan bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa melahirkan tawakal, ketenangan batin, dan keberanian dalam menghadapi kehidupan. Seorang yang bertauhid tidak mudah terombang-ambing oleh ketakutan berlebihan terhadap makhluk.

Tauhid juga membebaskan manusia dari ketergantungan batin kepada selain Allah. Ia bekerja, berusaha, dan berdoa dengan penuh kesungguhan, namun tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah ﷻ. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan kepasrahan yang diajarkan Islam.

Refleksi tauhid dalam kehidupan batin juga dibahas dalam: Makna Wujud dalam Istilah Para Sufi .

Adab dalam Perbedaan Pembahasan Tauhid

Dalam sejarah Islam, terdapat perbedaan pendekatan ulama dalam menjelaskan sebagian aspek aqidah. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan agar perbedaan tersebut disikapi dengan adab, kehati-hatian, dan sikap ilmiah, bukan dengan emosi atau vonis serampangan.

Para ulama besar senantiasa menjaga persatuan umat dan menghindari sikap mudah menyesatkan apalagi mengkafirkan. Tradisi ini menjadi ciri khas keilmuan Aswaja yang menempatkan ilmu dan akhlak sebagai pilar utama dalam beragama.

Pembahasan tentang adab dalam perbedaan dapat dilihat pada: Hanabilah Mentafwidh Makna? .

Urgensi Tauhid di Era Kontemporer

Di era kontemporer, tantangan terhadap tauhid semakin kompleks. Arus informasi yang deras, potongan ceramah tanpa konteks, serta narasi keagamaan yang dangkal berpotensi mereduksi makna tauhid menjadi slogan kosong atau alat pembenaran sikap ekstrem.

Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah hadir sebagai penopang agar umat Islam tetap beragama secara ilmiah, berakar pada tradisi ulama, serta menjaga keseimbangan antara teks, akal, dan realitas. Dengan tauhid yang lurus, umat tidak mudah terpecah oleh perbedaan yang bersifat cabang.

Renungan tentang makna yang layak bagi Allah dapat dibaca dalam: Makna yang Layak bagi Allah .

Penutup

Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan fondasi iman yang menjaga kemurnian agama dan keselamatan umat. Ia bukan hanya konsep teologis, tetapi kekuatan spiritual yang membentuk kepribadian, akhlak, dan arah hidup seorang muslim.

Dengan memahami tauhid secara utuh, seorang muslim akan mampu beribadah dengan ikhlas, bersikap moderat, serta menjaga persatuan umat. Inilah warisan keilmuan Islam yang terus dijaga oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepanjang zaman.


Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Tauhid dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit