Adab Dalam Berdzikir Selesai Shalat

Adab Dalam Berdzikir Selesai Shalat

๐—”๐——๐—”๐—• ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—˜๐—ฅ๐——๐—ญ๐—œ๐—ž๐—œ๐—ฅ ๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—˜๐—ฆ๐—”๐—œ ๐—ฆ๐—›๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ง

Ahmad Syahrin Thoriq 

Berikut ini adalah diantara adab-adab yang hendaknya dijaga ketika berdzikir selesai shalat.

๐Ÿญ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Dzikir secara umum diperintahkan untuk diucapkan dengan suara yang rendah, namun dibolehkan mengeraskannya bila ada maslahat yang hendak dicapai. Tentang mengeraskan dzikir ini telah disebutkan dalam beberapa hadits di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, di mana beliau berkata :

ูƒَุงู†َ ุฑَูْุนُ ุงู„ุตَّูˆْุชِ ุจِุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุญِูŠู†َ ูŠَู†ْุตَุฑِูُ ุงู„ู†َّุงุณُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َูƒْุชُูˆุจَุฉِ ุนَู„َู‰ ุนَู‡ْุฏِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ 

“Dulu, meninggikan suara ketika berdzikir setelah menunaikan shalat fardhu adalah biasa dilakukan pada masa Nabi ๏ทบ.” (HR. Bukhari) 

Yang dimaksudkan mengeraskan di  sini adalah memperdengarkan lafadz dzikir tersebut, bukan  dibaca terlalu pelan apalagi hanya dilafadzkan di dalam hati. Ukuran di sini tentu dengan batasan tidak sampai mengganggu orang lain jika itu dilakukan saat shalat berjama’ah. Hal ini dipahami dengan mengkompromikan anjuran umum dalam berdzikir untuk memelankan suara ketika melafadzkan kalimat-kalimat dzikir, Allah ta’ala berfirman :

ูˆَุงุฐْูƒُุฑ ุฑَّุจَّูƒَ ูِูŠ ู†َูْุณِูƒَ ุชَุถَุฑُّุนุงً ูˆَุฎِูŠูَุฉً ูˆَุฏُูˆู†َ ุงู„ْุฌَู‡ْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚َูˆْู„ِ

"Dan sebutlah (ingatlah) Tuhanmu dalam dirimu dengan penuh kerendahan hati dan rasa takut, dan janganlah kamu melakukannya dengan suara keras, kecuali sedikit ucapan." (QS. Al A’raf :205)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa mengangkat suara di sini boleh dengan suara nyaring bila tujuannya untuk memberikan pengajaran, seperti imam yang menyaringkan dzikirnya untuk mengajari jama’ah agar hafal dzikir-dzikir ba’da shalat. 

Al Imam Syafi‘i rahimahullah menjelaskan:

ูˆุฃุญุณุจ ุฅู†ู…ุง ุฌู‡ุฑ ู‚ู„ูŠู„ุงً ุฃูŠ: ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูŠุชุนู„ู… ุงู„ู†ุงุณ ู…ู†ู‡؛ ูˆุฐู„ูƒ ู„ุฃู† ุนุงู…ุฉ ุงู„ุฑูˆุงูŠุงุช ุงู„ุชูŠ ูƒุชุจู†ุงู‡ุง ู…ุน ู‡ุฐุง ูˆุบูŠุฑู‡ุง ู„ูŠุณ ูŠุฐูƒุฑ ููŠู‡ุง ุจุนุฏ ุงู„ุชุณู„ูŠู… ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆู„ุง ุชูƒุจูŠุฑ، ูˆู‚ุฏ ูŠุฐูƒุฑ ุฃู†ู‡ ‌ุฐِูƒْุฑُ ‌ุจุนุฏ ‌ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจู…ุง ูˆุตูุช.

“Dan saya menduga beliau sedikit menjadikan suara nyaring— maksudnya Rasulullah ๏ทบ — agar orang-orang belajar darinya; karena sebagian besar riwayat yang kami tulis bersama ini dan selainnya, tidak disebutkan di dalamnya setelah salam terdapat ucapan tahmid atau takbir, meskipun kadang disebutkan bahwa itu adalah dzikir setelah shalat sebagaimana yang saya jelaskan.”

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐——๐˜‡๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜

 Adab dan kesunnahan ini bisa dipahami dari dalil hadits seperti :

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ๏ทบ ุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ู‚َุงู„َ: "ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ูˆَู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ

“Rasulullah ๏ทบ apabila telah selesai shalat, beliau membaca: ‘Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.’”(HR. Muslim)

Ketika menjelaskan hadits tersebut al imam Batthal rahimahullah berkata :

ู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ุชุญุท ุนู†ู‡ ุฐู†ูˆุจู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุชุนุจ ูู„ูŠุบุชู†ู… ู…ู„ุงุฒู…ุฉ ู…ุตู„ุงู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ูŠุณุชูƒุซุฑ ู…ู† ุฏุนุงุก ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ูˆุงุณุชุบูุงุฑู‡ู… ู„ู‡، ูู‡ูˆ ู…ุฑุฌูˆ ุฅุฌุงุจุชู‡

“Siapa yang ingin agar dosa-dosanya dihapus tanpa usaha yang berat, hendaklah ia memanfaatkan kesempatan untuk tetap berada di tempat shalatnya setelah shalat, agar ia memperbanyak kesempatan mendapatkan doa para malaikat dan istighfar mereka untuknya. Dan doa mereka itu diharapkan lebih dikabulkan.”

๐Ÿฏ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ถ๐—ฏ๐—น๐—ฎ๐˜

Rasulullah ๏ทบ bersabda :

ุฅِู†َّ ‌ู„ِูƒُู„ِّ ‌ุดَูŠْุกٍ ‌ุณَูŠِّุฏًุง، ‌ูˆَุฅِู†َّ ‌ุณَูŠِّุฏَ ‌ุงู„ْู…َุฌَุงู„ِุณِ ‌ู‚ُุจَุงู„َุฉَ ‌ุงู„ْู‚ِุจْู„َุฉِ

“Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki pemimpin/yang utama, dan sesungguhnya yang utama dalam majelis adalah menghadap ke arah kiblat.” (HR. Thabrani)

Al imam as Safarini rahimahullah berkata :

ูˆู…ู† ูƒู…ุงู„ ู‡ูŠุฆุฉ ‌ุงู„ุฐุงูƒุฑ ุฃู† ‌ูŠุณุชู‚ุจู„ ‌ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ู„ุฃู†ู‡ ุฃูุถู„ ุงู„ุฌู„ูˆุณ

“Dan termasuk dari kesempurnaan adab orang yang berdzikir ialah hendaknya menghadap kiblat, karena itu adalah posisi duduk yang terbaik.” 

Sedangkan dalam shalat berjama’ah justru dimakruhkan bagi imam untuk terus menerus menghadap kiblat setelah selesainya shalat berjama’ah. Ia disunnahkan untuk segera menghadapkan wajahnya ke arah jama’ah atau bergeser ke samping kanan atau kirinya.”

Al imam Buhuti rahimahullah berkata : 

(ูˆ) ูŠูƒุฑู‡ (ู…ูƒุซู‡) ุฃูŠ: ‌ุงู„ุฅู…ุงู… (‌ูƒุซูŠุฑุง) ‌ุจุนุฏ ‌ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉ (ู…ุณุชู‚ุจู„ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ูˆู„ูŠุณ ุซู…) ุจูุชุญ ุงู„ู…ุซู„ุซุฉ، ุฃูŠ: ู‡ู†ุงูƒ (ู†ุณุงุก) ู„ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ «ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ุณู„ู… ู„ู… ูŠู‚ุนุฏ ุฅู„ุง ู…ู‚ุฏุงุฑ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„: ุงู„ู„ู‡ู… ุฃู†ุช ุงู„ุณู„ุงู…، ูˆู…ู†ูƒ ุงู„ุณู„ุงู… ุชุจุงุฑูƒุช ูŠุง ุฐุง ุงู„ุฌู„ุงู„ ูˆุงู„ุฅูƒุฑุงู…

“Makruh bagi imam untuk tinggal lama setelah shalat fardhu menghadap kiblat bukan karena ada kebutuhan lain seperti wanita keluar. Artinya : Imam tidak disunnahkan duduk terlalu lama di tempat shalatnya setelah selesai shalat fardhu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah ๏ทบ apabila selesai salam, beliau tidak duduk lebih lama daripada yang diucapkannya: ‘Allahumma anta as-salam wa minka as-salam, tabarakta ya dhal-jalali wal-ikram.’” 

๐Ÿฐ. ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜‚๐—ฐ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ต

ุฅِู†ِّูŠ ูƒَุฑِู‡ْุชُ ุฃَู†ْ ุฃَุฐْูƒُุฑَ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุฅِู„َّุง ุนَู„َู‰ ุทَู‡َุฑٍ

"Sesungguhnya aku tidak suka menyebut (berdzikir kepada) Allah, Yang Maha Agung, kecuali dalam keadaan suci." (HR. Ahmad)

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata :

ูˆู…ู† ุงู„ุงุฏุจ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุฐุงูƒุฑ ู†ุธูŠู ุงู„ุซูˆุจ ุทุงู‡ุฑ ุงู„ุจุฏู† ุทูŠุจ ุงู„ุฑุงุฆุญุฉ، ูุฅู† ุฐู„ูƒ ู…ู…ุง ูŠุฒูŠุฏ ุงู„ู†ูุณ ู†ุดุงุทุง

“Dan termasuk adab bagi orang yang berdzikir adalah: berpakaian bersih, badan dalam keadaan suci dan wangi. Karena hal itu menambah semangat jiwa.”

๐Ÿฑ. ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐˜‡๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ณ๐—ฎ๐—ฑ๐˜‡ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ’๐˜๐˜€๐˜‚๐—ฟ

Dalilnya untuk adab ini tentu adalah pengajaran dari Nabi ๏ทบ terhadap dzikir-dzikir selesai shalat ini. Seandainya itu bukan perkara penting dan besar manfaatnya tentu Nabi tidak akan mengajarkannya. Al imam Thurthusi rahimahullah berkata : 

ู…ู† ุงู„ุนุฌุจ ุงู„ุนุฌุงุจ ุฃู† ุชุนุฑุถ ุนู† ุงู„ุฏุนูˆุงุช ุงู„ุชูŠ ุฐูƒุฑู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุนู† ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูˆุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก ูˆุงู„ุฃุตููŠุงุก ู…ู‚ุฑูˆู†ุฉ ุจุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุซู… ุชู‚ุชูู‰ ุฃู„ูุงุธ ุงู„ุดุนุฑุงุก ูˆุงู„ูƒุชุงุจ ูƒุฃู†ูƒ ููŠ ุฒุนู…ูƒ ููŠ ุฏุนูˆุช ุจุฌู…ูŠุน ุฏุนูˆุงุชู‡ู… ุซู… ุงุณุชุนู†ุช ุจุฏุนูˆุงุช ู…ู† ุณูˆุงู‡ู….

"Sungguh mengherankan bahwa seseorang meninggalkan doa-doa yang disebutkan Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya tentang para nabi, wali, dan orang-orang pilihan, yang disertai dengan janji dikabulkannya, kemudian ia mengikuti kata-kata para penyair dan penulis, seolah-olah ia dalam keyakinannya telah memanjatkan semua doa mereka, lalu menambahkan doa-doa dari orang lain.”

๐Ÿฒ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‡๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ

Disunnahkan ketika berdzikir untuk menghitungnya dengan jari jemari. Hal ini disandarkan kepada sebuah dalil hadits, di mana Rasulullah ๏ทบ bersabda : 

ุนู„ูŠูƒู†َّ ุจุงู„ุชّุณุจูŠุญِ ูˆุงู„ุชَّู‡ู„ูŠู„ِ ูˆุงู„ุชَّู‚ุฏูŠุณِ ูˆุงุนู‚ِุฏْู†َ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ِ ูุฅู†ู‡ู† ู…َุณุฆูˆู„ุงุชٌ ู…ُุณุชู†ุทَู‚ุงุชٌ ูˆู„ุง ุชุบْูَู„ْู†َ ูุชู†ุณِูŠู† ุงู„ุฑَّุญู…ุฉَ

“Hendaknya kalian bertasbih, bertahlil, menyucikan Allah dan hitunglah dengan jari-jari. Karena jari-jari tersebut akan ditanya dan akan bisa bicara (di hari Kiamat) maka janganlah kalian lalai sehingga lupa terhadap rahmat Allah.” (HR. Tirmidzi)

Adapun menghitung dzikir dengan menggunakan tasbih, hukumnya adalah diperbolehkan. Berikut adalah fatwa para ulama dalam masalah ini :

Al imam Nawawi rahimahullah berkata :

ูˆู„ูˆ ุงุชุฎุฐ ุณุจุญุฉ ููŠู‡ุง ุฎูŠุท ุญุฑูŠุฑ ู„ู… ูŠุญุฑู… ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ุง

“Seandainya seseorang berdzikir dengan menggunakan tasbih yang ada bundelan dari bahan sutra, maka itu tidaklah haram untuk digunakan.” 

๐Ÿณ. ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ณ๐—ฎ๐—ฑ๐˜‡๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐˜‚๐˜€๐˜†๐˜‚’

Allah ta’ala berfirman :

‌ุงุฏْุนُูˆุง ‌ุฑَุจَّูƒُู…ْ ‌ุชَุถَุฑُّุนุงً ‌ูˆَุฎُูْูŠَุฉً ‌ุฅِู†َّู‡ُ ‌ู„ุง ‌ูŠُุญِุจُّ ‌ุงู„ْู…ُุนْุชَุฏِูŠู†َ 

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan merendah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf : 55)

Dan firmanNya :

ุงุฏْุนُูˆุง ‌ุฑَุจَّูƒُู…ْ ‌ุชَุถَุฑُّุนุงً ‌ูˆَุฎُูْูŠَุฉً ‌ุฅِู†َّู‡ُ ‌ู„ุง ‌ูŠُุญِุจُّ ‌ุงู„ْู…ُุนْุชَุฏِูŠู†َ 

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan merendah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf : 55)

Dinyatakan dalam Darr Ifta’ Mishriyah :

ุฃู…ุง ุงู„ู„ุณุงู†ู‰ ูู‚ุท ู…ุน ุงู„ุบูู„ุฉ ุนู† ู…ุนู†ู‰ ‌ุงู„ุฐูƒุฑ ูˆุนุฏู… ุงู„ุฅุญุณุงุณ ุจุฌู„ุงู„ ู…ู† ูŠุฐูƒุฑู‡ ุงู„ุฐุงูƒุฑ ูู„ุง ุฃุซุฑ ู„ู‡ ูู‰ ุงู„ูˆุฌุฏุงู† ูˆุงู„ุณู„ูˆูƒ، ูˆุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠู‚ุฏุฑู‡

“Adapun dzikir yang hanya sekadar lisan, sementara hati lalai dari makna dzikir dan tidak merasakan keagungan Zat yang diingat, maka dzikir itu tidak memberi pengaruh dalam jiwa maupun perilaku. Allah-lah yang menilai kadar nilainya.”

๐Ÿด. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฟ๐—ป๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Tentang adab atau kesunnahan ini, kita dapati bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ูŠุง ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃูŠُّ ุงู„ุฏุนุงุกِ ุฃَุณْู…َุนُ ؟ ู‚ุงู„ ุฌَูˆْูَ ุงู„ู„ูŠู„ِ ุงู„ุขุฎِุฑِ ูˆุฏُุจُุฑَ ุงู„ุตู„ูˆุงุชِ ุงู„ู…َูƒْุชُูˆุจุงุชِ

“Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Di akhir malam dan di akhir salat wajib” (HR. Tirmidzi)

Atas dasar hadits ini, sebagian ulama menganjurkan untuk berdoa setelah salat. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

ูˆุงุณุชุญุจ ุฃูŠุถุงً ุฃุตุญุงุจู†ุง ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุงู„ุฏุนุงุก ุนู‚ุจ ุงู„ุตู„ูˆุงุช، ูˆุฐูƒุฑู‡ ุจุนุถ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ุงุชูุงู‚ุงً

“Ulama madzhab Hambali dan juga madzhab Syafi’i menganjurkan untuk berdoa setelah salat, bahkan sebagian Syafi’iyyah menukil adanya ittifaq (sepakat dalam hal ini).” 

Wallahu a'lam

_______________

Ini adalah petikan bab dari buku kami yang berjudul Dzikir Ma’tsur Bada Shalat Wajib yang sudah bisa disimak sebagiannya di https://astofficial.id 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Adab Dalam Berdzikir Selesai Shalat". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Cari Kajian Islam