Gua Hira Tempat Turunnya Wahyu Pertama kepada Rasulullah ﷺ

Gua Hira: Saksi Bisunya Turunnya Wahyu Pertama

Inilah Tempat Rasulullah ﷺ Menerima Wahyu Pertama Kali

Gua Hira: Saksi Bisunya Turunnya Wahyu Pertama

Di sebelah utara Masjidil Haram, sekitar empat kilometer dari Ka'bah, berdiri sebuah gunung yang dikenal dengan nama Jabal Nur. Pada ketinggian sekitar 634 mdpl, di salah satu celah puncaknya terdapat sebuah gua kecil yang memuat tidak lebih dari empat orang. Tempat itulah yang dikenal sebagai Gua Hira.

Di gua inilah Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama kali, sebuah peristiwa yang menjadi titik awal diutusnya beliau sebagai Rasul bagi seluruh alam.

Peristiwa Agung di Gua Hira Berdasarkan Riwayat Shahih

Kisah ini diriwayatkan secara shahih dari Ummul Mu'minin Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau menjelaskan bahwa masa awal kenabian Rasulullah ﷺ dimulai dengan ar-ru'ya ash-shadiqah atau mimpi yang benar. Kemudian beliau ﷺ gemar menyendiri atau berkhalwat di Gua Hira untuk bertahannuts, yaitu beribadah dan merenung dalam beberapa malam.

Hingga datanglah kebenaran itu saat beliau berada di Gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata, "Iqra' (Bacalah)". Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka Jibril memeluk beliau dengan kuat hingga merasa payah, kemudian melepaskannya dan mengulanginya hingga tiga kali. Pada kali ketiga, Jibril membacakan lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ - خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ - اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ - الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ - عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dengan hati yang bergetar, Rasulullah ﷺ kembali kepada Khadijah radhiyallahu 'anha dan berkata, "Selimuti aku, selimuti aku." Setelah rasa takutnya reda, beliau menceritakan kejadian tersebut. Khadijah kemudian membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal, yang membenarkan bahwa yang datang adalah An-Namus yang pernah datang kepada Nabi Musa 'alaihissalam.

Fakta Penting yang Wajib Diluruskan

1. Gua Hira Adalah Situs Sejarah, Bukan Tempat Ibadah Ritual.

Tidak terdapat satu pun dalil shahih yang menganjurkan untuk shalat, berdoa secara khusus, atau beri'tikaf di dalam Gua Hira untuk mencari keutamaan. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah kembali dan tidak pernah mensyariatkan ibadah khusus di tempat tersebut setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Para ulama menegaskan, kemuliaan Gua Hira adalah kemuliaan historis sebagai tempat turunnya awal Al-Qur'an, bukan kemuliaan pada dzat batu dan tanahnya.

2. Ziarah ke Gua Hira Bukan Bagian dari Manasik.

Kegiatan mendaki Jabal Nur untuk menuju Gua Hira tidak termasuk dalam rangkaian ibadah haji maupun umrah. Otoritas di Arab Saudi mengimbau jamaah untuk mengutamakan keselamatan fisik mengingat jalur pendakian yang terjal dan terik, serta menjaga kemurnian akidah agar tidak terjatuh pada praktik yang berlebihan seperti mengusap dinding gua untuk mencari berkah atau meyakini ada doa yang lebih mustajab di dalamnya.

Gua yang sempit dan sunyi ini menjadi pengingat bahwa risalah yang agung ini tidak diturunkan di dalam istana yang megah, melainkan bermula dari kesunyian, perenungan, dan ketaatan. Dari gua yang kecil itulah, Allah ﷻ memancarkan cahaya ilmu melalui perintah pertama: Membaca.

Sumber Rujukan Shahih:

Al-Qur'an Surah Al-'Alaq ayat 1-5.

Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari, No. 3 dalam Kitab Bad'ul Wahyi, dan Imam Muslim No. 160 dalam Kitab Al-Iman, dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang kisah awal wahyu di Gua Hira.

Sirah Ibnu Hisyam, Juz 1, tentang kronologi tahannuts Rasulullah ﷺ di Gua Hira.

Sumber Facebook Ustadz : Dafa Naufal

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Gua Hira Tempat Turunnya Wahyu Pertama kepada Rasulullah ﷺ". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#sejarah
Lebih lamaTerbaru