
𝗞𝗘𝗗𝗨𝗗𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗚𝗨𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗠𝗨𝗛𝗔𝗗𝗜𝗧𝗦
Oleh: Ust. Ahmad Syahrin Thoriq
Para ulama ahli hadis memiliki kedudukan yang sangat agung dalam khazanah keilmuan Islam. Mereka bukan sekadar orang-orang yang menghafal dan meriwayatkan hadits, tetapi juga menjadi penjaga agama, peneliti riwayat, dan pembela Sunnah dari berbagai bentuk penyimpangan dan kedustaan. Berikut ini adalah perkataan sebagian ulama tentang bagaimana posisi ahli hadits dan jasanya untuk agama ini.
Al imam Syafi’i rahimahullah berkata:
عليكم بأصحاب الحديث فإنهم أكثر الناس صوابا
“Hendaklah kalian berpegang kepada para ulama hadits, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling banyak kebenarannya.”[6]
Beliau rahimahullah juga berkata:
إذا رأيت رجلاً من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلاً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجزاهم الله خيراً فهم حفظوا لنا الأصل، فلهم علينا فضل
“Apabila aku melihat salah seorang ashabul Hadits seolah-olah aku sedang melihat salah seorang Sahabat Nabi ﷺ. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka. Mereka telah menjaga dalil (hadits) untuk kita. Oleh sebab itu kita sangat berhutang budi kepada mereka.”[7]
Al imam Ahmad bin Sinan al Qaththan rahimahullah berkata:
ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث، وإذا ابتدع الرجل نزع حلاوة الحديث من قلبه
“Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid’ah kecuali dia pasti membenci ahli hadits. Maka apabila seorang membuat ajaran bid’ah niscaya akan dicabut manisnya hadits dari dalam hatinya.”[8]
Al imam Sufyan ats Tsauri rahimahullah berkata:
الملائكة حراس السماء، وأصحاب الحديث حراس الأرض
“Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.”[9]
Al imam Yazid bin Zurai‘ rahimahullah berkata:
لكل دين فرسان وفرسان هذا الدين أصحاب الأسانيد
“Setiap agama memiliki para ksatria, dan ksatria agama ini adalah para pemilik sanad.”[10]
Meremehkan mereka tanda kebodohan
Meskipun kedudukan mereka begitu agung dan derajat mereka begitu tinggi, para imam ahli hadits bukanlah manusia yang ma‘shum. Karena jelas dalam aqidah kita hanya para nabi dan Rasul yang bisa terbebas dari segala bentuk kesalahan. Terkadang salah satu dari mereka mengalami kekeliruan bahkan jatuh ke dalam kesalahan yang cukup serius, namun itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan dan kedudukan agung mereka. Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
ونحن لا ندعي العصمة في أئمة الجرح والتعديل، لكن هم أكثر الناس صوابا، وأندرهم خطأ، وأشدهم إنصافا، وأبعدهم عن التحامل.وإذا اتفقوا على تعديل أو جرح، فتمسك به، واعضض عليه بناجذيك، ولا تتجاوزه، فتندم، ومن شذ منهم، فلا عبرة به. فخل عنك العناء، وأعط القوس باريها، فوالله لولا الحفاظ الأكابر، لخطبت الزنادقة على المنابر، ولئن خطب خاطب من أهل البدع، فإنما هو بسيف الإسلام، وبلسان الشريعة، وبجاه السنة، وبإظهار متابعة ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم فنعوذ بالله من الخذلان.
“Kami tidak mengklaim bahwa para imam dalam ilmu jarh wa ta‘dil adalah orang-orang yang terbebas dari kesalahan. Namun begitu, mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya, paling sedikit kesalahannya, paling kuat sikap objektifnya, dan paling jauh dari sikap fanatik atau memihak.
Apabila mereka sepakat memberikan penilaian ta‘dil atau jarh terhadap seorang perawi, maka peganglah penilaian tersebut dengan kuat dan jangan menyelisihinya, agar engkau tidak menyesal. Adapun jika ada salah seorang dari mereka yang menyelisihi mayoritas, maka pendapatnya tidak perlu dijadikan pegangan. Tinggalkanlah perdebatan yang melelahkan dan serahkan perkara kepada ahlinya.
Demi Allah, seandainya tidak ada para penghafal hadits yang besar, niscaya kaum zindiq akan berkhutbah di atas mimbar. Kalaupun ada seorang pembicara dari kalangan ahli bid‘ah yang berkhutbah, sesungguhnya ia dapat melakukannya dengan memanfaatkan nama Islam, menggunakan bahasa syariat, memperoleh kedudukan dengan mengatasnamakan Sunnah, serta menampakkan seolah-olah mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Karena itu, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan dan tidak adanya pertolongan.”[11]
Dalam tradisi keilmuan Hadits, ada standar yang ketat untuk bisa seseorang dikatakan sebagai muhadits. Di mana misalnya seorang belum bisa untuk disebut sebagai hafizh hadits sampai ia menguasai ratusan ribu riwayat, bertemu dengan ratusan guru, dan lama bergaul serta belajar langsung bersama mereka. Di samping itu, ia juga menulis berbagai karya di bidang ilmu ini dan senantiasa melakukan mudzakarah bersama sesama mereka.
Maka di tengah lautan ilmu dan karya besar mereka tersebut, kesalahan yang mereka lakukan tidak akan mencemari amal-amal yang telah mereka lakukan. Sebagaimana air yang sangat banyak tidak menjadi keruh apalagi ternajiskan hanya karena sedikit kotoran yang jatuh ke dalamnya, seperti dikatakan: “Jika air itu sudah lebih dari dua kullah, maka ia tidak ternajiskan oleh kotoran yang jatuh ke dalamnya.”
Al imam Ahnaf bin Qais rahimahullah berkata:
الكامل من عدت سقطاته
‘Orang yang sempurna adalah orang yang kesalahannya dapat dihitung.”[12]
Namun kemudian di zaman kita sekarang ini, ada mereka yang baru membaca satu kitab ringkas tentang ilmu musthalah hadits dan baru beberapa tahun melakukan takhrij hadits, tetapi sudah berani mengadili bahkan merendahkan para imam besar di bidang ilmu hadits.
Ada Salah seorang dari mereka berkata, “Bukan seperti ini cara menilai cacat hadits, wahai Ibnu al Madini!” Kemudian ia menambahkan berbagai tanda seru dan tanda tanya sesuai keinginannya. Yang lain ada yang mengkritik Imam Abdurrahman bin Mahdi karena beliau menggunakan istilah munkar untuk hadits yang syadz.
Yang lain lagi mencela al imam Ibnu Abi Hatim ketika beliau memberikan penilaian terhadap sebuah sanad dengan mengatakan, “Sanadnya munkar, hanya fulan yang meriwayatkannya secara tafarrud.”
Dan berbagai kalimat rendahan yang justru menunjukkan betapa mereka ini tidak memahami sama sekali hakikat keilmuan apalagi ilmu serumit ilmu hadits. Semoga Allah merahmati Abu Amr bin al Ala yang berkata:
ما نحن فيمن مضى إلا كبقل في أصول نخل طوال
“Dibandingkan dengan para ulama yang telah berlalu, kedudukan kita hanyalah seperti tumbuhan kecil di pangkal pohon-pohon kurma yang menjulang tinggi.”[13]
Al imam Mujahid rahimahullah juga berkata:
ذهب العلماء فلم يبق إلا المتعلمون، وما المجتهد فيكم اليوم، إلا كاللاعب فيمن كان قبلكم
“Para ulama telah pergi, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang sedang belajar. Adapun seorang mujtahid di antara kalian pada hari ini, dibandingkan dengan para ulama terdahulu, hanyalah seperti seorang pemain dibandingkan dengan para ahli yang telah berlalu.”[14]
Al imam Ayub as Sakhtiyani rahimahullah Ta‘ala pernah ditanya: “Apakah ilmu pada zaman sekarang lebih banyak atau lebih sedikit?”
Beliau menjawab:
الكلام اليوم أكثر، والعلم كان قبل اليوم أكثر
“Konten pada zaman sekarang lebih banyak, sedangkan ilmu pada masa sebelum zaman ini jauh lebih banyak.”[15]
Karena itulah al imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata: “Banyak orang dari kalangan generasi belakangan tertipu oleh hal ini—yakni tentang banyaknya konten/pembicaraan. Mereka mengira bahwa orang yang paling banyak berbicara, berdebat, dan berselisih dalam persoalan agama berarti lebih berilmu daripada orang yang tidak demikian. Ini adalah kebodohan yang nyata!”[16]
𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽
Mengenal kedudukan para imam ahli hadits semestinya menjadikan seorang penuntut ilmu semakin berhati-hati dalam berbicara tentang mereka. Kita tidak menganggap mereka ma‘shum dari kesalahan, karena mereka tetap manusia yang dapat keliru. Namun, kesalahan yang sedikit tidak boleh membuat kita melupakan keluasan ilmu, ketekunan, wara‘, dan jasa besar yang telah mereka curahkan untuk menjaga hadits Rasulullah ﷺ.
Kritik terhadap kesalahan mereka tentu bukan sesuatu yang tercela, selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan inshaf. Para imam sendiri telah mengoreksi dan mengkritik satu sama lain. Akan tetapi, mengoreksi sebuah kekeliruan tidaklah sama dengan merendahkan orang yang melakukan kekeliruan tersebut. Seseorang bisa saja salah dalam satu masalah, sementara dalam ribuan masalah lainnya ia menjadi rujukan umat.
Karena itu, hendaknya kita belajar membedakan antara menilai sebuah pendapat dengan menilai orang yang mengucapkannya. Sebuah kesalahan boleh dijelaskan, sebuah kekeliruan boleh dikoreksi, dan sebuah riwayat boleh ditolak berdasarkan kaidah ilmiah. Tetapi semua itu tidak mengharuskan kita mencabut penghormatan kepada para ulama dan melupakan kedudukan mereka.
Semakin baik dan luas ilmu seseorang, semestinya semakin luas pula inshaf-nya. Ia mengetahui bahwa ilmu yang dimilikinya belum seberapa, sementara warisan ilmu para imam begitu luas dan dalam. Ia tidak menutup mata dari kesalahan mereka, tetapi juga tidak membiarkan kesalahan itu menutup matanya dari lautan kebaikan dan ilmu mereka.
Inilah adab yang seharusnya dimiliki seorang penuntut ilmu: menerima kebenaran dari siapa pun, mengakui kesalahan siapa pun, tetapi tetap menempatkan para ulama pada kedudukan yang layak bagi mereka. Sebab, menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka tidak pernah salah, sebagaimana menemukan kesalahan mereka bukan berarti kita telah memiliki kedudukan untuk merendahkan mereka.
Semoga Allah ta'la menganugerahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat, hati yang adil dalam menilai, lisan yang terjaga ketika berbicara tentang para ulama, dan adab yang baik kepada orang-orang yang telah berjasa menjaga agama ini.
Wallahu a'lam.
________
[1] Syarah al ‘Ilal hlm. 12, Mukhtashar ash Shawa‘iq (2/358)
[2] Al Intishar li Ahl al Hadits hlm. 41
[3] Syarah al ‘Ilal (2/256)
[4] Syarah al ‘Ilal (2/256)
[5] Ibid
[6] Siyar A’lam an Nubala’ (10/70)
[7] Hilyah al Auliya’ (9/901)
[8] Ma’rifah Ulum al Hadits hlm. 4
[9] Syaraf Ashhab al Hadits hlm. 44
[10] Siyar A’lam an Nubala’ (7/308)
[11] Siyar A’lam an Nubala’ (11/82)
[12] Siyar A’lam an Nubala’ (4/93)
[13] Nihayah al Mathlab (4/4)
[14] Tarikh al Kabir hlm. 177
[15] Al Ma‘rifah wat Tarikh (2/232)
[16] Fadhl ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hlm. 23
Selengkapnya di: https://astofficial.id/.../919/kedudukan-agung-para-muhadits
Sumber Facebook Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq