4 Kritik Ulama Salafi-Wahabi terhadap Syekh Al-Albani yang Perlu Diketahui

4 Kritik Ulama Salafi-Wahabi terhadap Syekh Al-Albani yang Perlu Diketahui

4 KRITIKAN SALAFI-WAHABI KEPADA SYEKH AL-ALBANI

Oleh: Dr. Fuad Fansuri, Lc., M.Th.I

(Ketua Prodi S3 Studi Islam UINSI Samarinda)

Ternyata, kritik keras terhadap Al-Albani juga datang dari lingkungan Salafi-Wahabi sendiri.

Menariknya, kritik tersebut sudah muncul sejak 3 dekade lalu (tahun 1997), ketika Al-Albani masih hidup. Jadi, perdebatan tentang Al-Albani di lingkungan Salafi sendiri bukan fenomena baru.

Referensi:

الفتح الرباني في الرد على أخطاء دعوة الألباني

Judul: “Pertolongan Tuhan dalam membantah kesalahan-kesalahan Dakwah Al-Albani”

Ditulis oleh Abdul Lathif Muhammad Ahmad Basyamil di Jeddah, 29 Jumadil Awal 1418 H (Tahun 1997)

1. AL-ALBANI DIKRITIK KARENA MENGKRITIK FANATISME WAHABI

Ketika Syekh Bin Baz memuji gerakan Wahabi dengan ungkapan “شريف و عظيم” (kemuliaan dan keagungan), Syekh Shalih Al-Fauzan menyebut sebutan Wahabi sebagai “فخر لنا” (kebanggaan untuk kita), Syekh Al-Albani justru mengkritik sikap fanatik terhadap nama dan tokoh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Menurut Al-Albani, yang menjadi ukuran kebenaran bukan nama atau kebesaran tokoh, tapi kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Kecintaan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab tidak semestinya berubah menjadi fanatisme yang membuat seseorang sulit menerima kritik.

Ini menarik karena, di satu sisi, para ulama Saudi membela dan membanggakan identitas Wahabi, tapi di sisi lain, Al-Albani mengingatkan bahaya keterikatan berlebihan terhadap nama dan tokoh tertentu.

2. AL-ALBANI DIKRITIK KARENA MEMUJI HASAN AL-BANNA

Hasan Al-Banna adalah pendiri Ikhwanul Muslimin yang sering dikritik oleh kelompok Salafi-Wahabi. Namun, menariknya, Syekh Al-Albani pernah mengakui kontribusi Hasan Al-Banna terhadap dakwah Salafiyah.

Al-Albani mengatakan:

فأقول إن حسن البنا خدم الدعوة السلفية بهذا الأصل

Artinya: “Saya mengatakan bahwa Hasan Al-Banna telah berjasa kepada dakwah Salafiyah melalui prinsip ini.”

Pernyataan tersebut dipersoalkan oleh Abdul Lathif Basyamil. Menurutnya, memberikan apresiasi kepada Hasan Al-Banna dapat mengaburkan persoalan mendasar dalam akidah dan metode dakwah Ikhwanul Muslimin.

3. AL-ALBANI BERBEDA PANDANGAN DENGAN ULAMA SAUDI

Perang Teluk 1990–1991 ternyata tidak hanya memicu konflik politik, tetapi juga perbedaan fatwa di kalangan ulama Salafi.

Al-Albani mengecam tindakan Saddam Hussein yang menginvasi Kuwait. Namun, ia juga menolak kebijakan Arab Saudi yang meminta bantuan militer Amerika Serikat untuk menghadapi Irak.

Di sisi lain, ulama Arab Saudi membolehkan bantuan militer dengan pertimbangan keamanan dan keadaan darurat.

4. PENDUKUNG AL-ALBANI DIANGGAP TERLALU FANATIK

Pesan yang sering disampaikan dalam dakwah Salafi adalah larangan mengikuti pendapat ulama secara fanatik. Namun, Abdul Lathif Basyamil justru mengkritik pengikut Al-Albani terlalu membela pandangannya dan kurang terbuka terhadap kritik ulama lain.

Sama-sama mengaku salafi tapi sama-sama fanatik kepada masing-masing tokohnya 😇

Tentu, kritik terhadap perilaku sebagian pengikut tidak otomatis membuktikan bahwa Al-Albani sendiri mengajarkan fanatisme tersebut.

Durusul mustafadah:

Membaca kritik terhadap Syekh Al-Albani bukan berarti kita harus menolak seluruh karya dan kontribusinya dalam bidang hadis. Demikian pula, membaca kitab Abdul Lathif Basyamil bukan berarti seluruh tuduhannya harus kita terima tanpa pemeriksaan.

Kita boleh menghormati seorang ulama tanpa harus membenarkan semua pendapatnya. Kita juga boleh mengkritik seorang ulama tanpa harus merendahkan seluruh jasanya.

Wallahu A’lam..

Salam Harmoni!

Sumber Facebook Ustadz : Fuad Fansuri

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "4 Kritik Ulama Salafi-Wahabi terhadap Syekh Al-Albani yang Perlu Diketahui". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#albani #salafiwahabi