Tidak Ada Salaf yang Menafsirkan Istiwa dengan Bersemayam: Bukti dari Imam Malik dan Ibnu Hibban

Tidak Ada Salaf yang Menafsirkan Istiwa dengan Bersemayam: Bukti dari Imam Malik dan Ibnu Hibban

Tidak ada satupun Salaf mengatakan Allah itu bersemayam diatas arsy

Salaf membiarkan lafadz "Istiwa" itu tanpa mengartikannya ke arah bersemayam atau makna apapun.

Ibnu Hibban dalam kitab Shahih Ibnu Hibban menegaskan bahwa dalam bahasa Arab, kata istiwa' memiliki 15 makna:

1. Al-I'tidal (الإِعْتِدَالُ): Tegak lurus, seimbang, atau lurus setelah sebelumnya bengkok.

2. Al-Kamal (الْكَمَالُ): Sempurna (seperti dalam ayat: wa lamma balagha asyuddahu was-tawa / ketika dia telah cukup umur dan sempurna akalnya).

3. Al-Iqbal 'ala asy-Syai' (الإِقْبَالُ عَلَى الشَّيْءِ): Menghadap atau menuju kepada sesuatu (seperti dalam ayat: tsumma-stawa ilas-sama' / kemudian Dia menuju penciptaan langit).

4. Al-Istiqlal (الإِسْتِقْلَالُ): Berdiri sendiri atau mandiri.

5. Al-Isti'la' (الإِسْتِعْلَاءُ): Berada di atas atau meninggi.

6. Al-Uluw (الْعُلُوُّ): Ketinggian (secara kedudukan atau derajat).

7. Al-Istiqlrar (الإِسْتِقْرَارُ): Menetap atau tinggal di suatu tempat.

8. Al-Ghalabah (الْغَلَبَةُ): Mengalahkan atau menguasai.

9. Al-Istimrar (الإِسْتِمْرَارُ): Terus-menerus atau kontinu.

10. Al-Qasdu (الْقَصْدُ): Bermaksud atau berniat menuju sesuatu.

11. An-Nudhju (النُّضْجُ): Matang (biasanya digunakan untuk tanaman atau masakan yang sudah siap).

12. Al-Ittisal (الإِتِّصَالُ): Bersambung.

13. Al-Musawah (الْمُسَاوَاةُ): Sama rata atau sebanding antara dua hal.

14. Al-Isti'rab (الإِسْتِعْرَابُ): Menjadi jelas atau fasih.

15. Al-Qahr / Al-Mulk (الْقَهْرُ / الْمُلْكُ): Menundukkan, menguasai, atau memegang tampuk kekuasaan (seperti makna Istawla).

(Rujukan: Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban, Kitab Al-Ad'iyyah, Bab Al-Bayan bi Anna Al-Istiwa fi Al-Lughah Lahu Khamsata 'Asyara Ma'nan)

Tidak ada definisi bersemayam disitu

Kutipan dari Shahih Ibnu Hibban ini membuktikan bahwa penempatan kata "bersemayam" dalam terjemahan-terjemahan modern bukanlah representasi dari teks Arabnya, melainkan penyusupan akidah tajsim (antropomorfisme) secara halus ke dalam ranah bahasa.

Jika kaum Wahabi berdalih: "Kami mengambil makna dzahir!" 

Maka kita tanyakan balik: Dzahir yang mana? Ibnu Hibban, sang pakar hadis dan bahasa abad ke-4 Hijriah, mencatat ada 15 makna dzahir dalam bahasa Arab. 

Atas dasar apa Anda membatasi dan memaksakan bahwa makna dzahirnya harus mengarah pada arti 'bersemayam' (duduk fisik) yang justru menyerupai makhluk? 

Apakah Anda lebih paham bahasa Arab daripada Imam Ibnu Hibban?

Beliau berargumen bahwa karena kata tersebut memiliki banyak cabang makna dalam bahasa Arab, maka kita wajib mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (bila kaifa wa bila tasybih).

Imam Malik mengatakan Al-Kaifu Majhul, sebagian riwayat Al-Kaifu Ghairu 

Jika orang masa kini mengartikannya sebagai "bersemayam/duduk", maka kaif-nya menjadi tidak majhul lagi, melainkan sudah diketahui (yaitu cara duduk fisik). 

Imam Malik tetap memakai kata original dari Al Qur'an "Al-Istiwa"

Tanpa disertai pembahasan panjang lebar atau menterjemahkannya menjadi "Jalasa" (Duduk, menetap, atau menghuni suatu tempat), 

Tanpa menjelaskan kepada penanya, bahwa maksud Istiwa adalah Qa'ada (Duduk, tinggal, tidak bergerak, atau berdiam diri), 

Tanpa mengatakan istaqarra (Tetap, menetap, diam di tempat, kokoh), atau Halla (Menempati, singgah, turun di suatu tempat), 

Tanpa mengatakan Aqoma (Berdiri tegak, menetap (di suatu tempat).

Jika benar makna istiwa adalah 'bersemayam/duduk/menetap' secara hakiki sebagaimana klaim Wahabi, 

Mengapa Imam Malik tidak menjelaskan demikian dan tidak pernah sekalipun mengizinkan muridnya mengganti kata istiwa dengan kata-kata fisik tersebut?

Imam Malik tidak membahasnya panjang lebar, tidak menetapkan arah. Tidak menetapkan fisik. 

Tidak mengatakan Allah diatas langit, bersemayam diarsy, dsb.

Beliau hanya mengakui kebenaran ayat itu ada, nggak usah ditanya, diartikan, dikorek-korek. 

Imam Malik mengajarkan: "Ayat itu ada, kita terima ayat itu sebagai kebenaran, tapi kita tidak tahu

Maka, diamnya Imam Malik dari mengartikan kata tersebut adalah bukti bahwa beliau melakukan tafwid.

Inilah yg tidak dipahami Wahabi, Karena tak punya sanad keguruan. Modal mereka cuma nukil2 saja.

Ulama mereka cuma nukil2 dari kitab.

Pengikutnya nggak beda jauh, cuma nukil2 dari postingan di internet.

Copasan sepanjang2nya, tanpa peduli apakah copasan itu hasil tahrif, permak, penyelewengan makna, palsu, dsb

Ketika ulama dahulu menuliskan kata-kata seperti Itsbat (menetapkan) sifat dalam kitab-kitab akidah salaf (seperti Al-Ibanah atau As-Sunnah), makna itsbat di sana adalah menetapkan lafadznya sebagai sifat Allah yang layak bagi-Nya, bukan menetapkan makna lahiriyah jasmaniahnya.

Tanpa guru yang membimbing, orang modern yang membaca teks tersebut akan mengira itsbat artinya "menetapkan makna kamus/makna fisik". Di sinilah letak distorsi maknanya. Mereka membaca teks abad ke-3 H dengan kacamata pemahaman abad ke-15 H yang kering dari ilmu alat (nahwu, sharf, balaghah, mantiq, ushul fiqh).

Wallahu a'lam 

​Sumber FB Ustadzah : Diah Al-Asy'ariyyah

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Tidak Ada Salaf yang Menafsirkan Istiwa dengan Bersemayam: Bukti dari Imam Malik dan Ibnu Hibban". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru