
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan, maka ikutilah As-Sawadul A’dzom." (HR. Ibnu Majah)
Apakah As-Sawadul A’dzom itu?
Imam Suyuthi menafsirkan Sawadul A'dzom dengan mayoritas umat Islam. (Syarah Sunan Ibnu Majah: 1/283)
Rasulullah SAW bersabda:
"Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, 70 golongan di neraka dan 1 golongan di surga. Umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan 1 golongan di surga. Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan di neraka dan 1 golongan di surga." Kami (para sahabat) bertanya, "Tunjukkan sifatnya untuk kami." Beliau menjawab, "As-Sawad Al-A’zhom." (HR. Ath-Thabrani)
Kenapa harus mengikuti mayoritas?
Karena mayoritas itu pada dasarnya bukanlah sekelompok orang yang membentuk golongan atau sekte sendiri, melainkan mereka adalah umat Islam itu sendiri.
Mayoritas umat Islam itu benar. Rasulullah SAW sendiri yang telah menjamin, "Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan."
Cara salat, misalnya: mana yang benar? Lihat cara salat mayoritas umat Islam, itulah yang benar.
Cara memandang akidah, fikih: lihat cara mayoritas umat Islam, itulah yang benar.
Siapa mayoritas sekarang?
Tidak ada yang lebih mayoritas di dalam Islam selain Ahlussunnah Wal Jamaah yang terdiri dari mazhab Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hambali.
Kita empat mazhab berbeda, tapi satu dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.
Meski berbeda, kita tidak saling bertentangan. Tidak sedikit ulama mazhab Syafi'i berguru kepada ulama mazhab Maliki, Hanbali, atau Hanafi. Dan tidak sedikit ulama mazhab Hanbali, Maliki, Hanafi berguru kepada ulama mazhab Syafi'i.
Jadi, sanad keguruan dan rantai keilmuan empat mazhab ini saling bertautan, silang-menyilang. Kita adalah empat mazhab besar yang saling bersaudara.
Dulu jumlah mazhab di dalam Islam ada banyak. Tidak hanya empat, puluhan bahkan ratusan mujtahid mutlak dan mazhab fikih mandiri muncul. Tapi tidak semuanya bertahan menembus zaman. Banyak yang telah punah karena ketiadaan generasi penerus atau pengikut yang melanjutkan. Akhirnya sirna ditelan zaman.
Empat mazhab ini usianya sudah lebih 1000 tahun. Sudah sangat tua, tapi masih bertahan sampai detik ini, meski tidak ditopang kekuatan politik atau kekuatan negara apa pun.
Allah lah yang telah menjaganya.
Kita tidak pernah melihat Rasulullah SAW secara langsung, tidak pernah melihat sahabat, tabi'in, atau tabi'ut tabi'in. Tapi kita mempelajari Islam ini dari guru-guru kita.
Seperti makmum yang berdiri di saf ke-100. Kita tidak dapat melihat pergerakan imam secara langsung, tetapi kita melihat gerakan makmum yang berdiri di depan kita di saf ke-99.
Ketika jemaah di depan kita rukuk, kita ikut rukuk; ketika dia sujud, kita ikut sujud. Itulah guru kita. Guru kita di saf ke-99 juga melihat gerakan jemaah di saf ke-98.
Jemaah di saf ke-98 melihat jemaah di saf ke-97, demikian seterusnya, hingga ke saf ke-3 (tabi'ut tabi'in), saf ke-2 (tabi'in), saf pertama (para sahabat), dengan Rasulullah SAW sebagai imam.
Kita di saf ke-100 tetap mendapat pahala salat berjemaah seperti makmum di depan kita.
Inilah Ahlussunnah Wal Jamaah.
Salat berjemaah tidak sah jika Anda berdiri di saf ke-100, sementara dari saf ke-99 sampai ke-1 tidak ada sambungan hukum (ittishal hukmi) dengan imam—tidak melihat gerakan imam atau mendengar imam secara langsung karena jarak dan tidak ada perantara makmum yang menghubungkan.
Salat orang tersebut tidak sah sebagai salat berjemaah. Jika dia berniat berjemaah dengan imam, salatnya batal atau tidak teranggap jemaah (hanya menjadi salat sendiri-sendiri).
Bahkan dalam sebagian pendapat ulama, jika dia tahu tidak tersambung tapi tetap mengikuti, salatnya tidak sah secara mutlak karena menambahkan gerakan mengikuti imam yang tidak bisa diikuti dengan sah.
Maka Anda tidak bisa langsung berpedoman kepada salaf, karena Anda tidak pernah melihat mereka. Kecuali harus mengikutinya melalui ketersambungan sanad keilmuan dengan saf di depannya, di depannya, di depannya, dan seterusnya. Demikian dari generasi ke generasi umat ini hingga kini.
Kita tidak melihat Rasulullah SAW (imam) secara langsung, tidak pula melihat makmum saf pertama (para sahabat), makmum saf kedua (tabi'in), makmum saf ketiga (tabi'ut tabi'in). Tetapi kita mengikuti tuntunan guru-guru kita.
Guru-guru kita mengikuti tuntunan guru-guru mereka pula, guru-guru mereka mengikuti tuntunan guru di atasnya lagi, demikian terus menerus, menyambung hingga para imam, tabi'ut tabi'in, tabi'in, para sahabat, hingga Rasulullah SAW. Bersambung satu sama lain.
Inilah konsep sanad atau mata rantai keilmuan dalam Islam, yang merupakan ciri khas dan keunggulan agama ini.
Inilah Ahlussunnah Wal Jamaah sesungguhnya. Bagaikan rantai yang tak terputuskan: jika bergerak satu mata rantai, maka bergetar seluruh rantai hingga ujungnya.
Imam Syafii dalam Risalah menegaskan:
"Ijma’ kaum muslimin adalah hujjah yang tidak boleh diselisihi."
(Kitab Ar Risalah, bab ushul istidlal, hlm. 20–25)
Imam Al-Ghazali berkata:
"Ijma’ adalah hujjah yang pasti, dan tidak mungkin umat ini bersepakat di atas kesesatan."
(Al-Mustashfa, Juz 1 hlm. 110)
Imam As-Suyuthi berkata:
"Ijma’ adalah hujjah syar‘i yang wajib diikuti."
(Al-Asybah wa an-Nazhair, hlm. 90)
Jadi jangan pernah memisahkan diri dari saf-saf ini.
Rasulullah SAW bersabda:
"Allah tidak akan membiarkan umatku dalam kesesatan selamanya. Ikutilah Sawadul A'dzom. Tangan (rahmat dan perlindungan) Allah bersama jemaah. Barang siapa menyendiri/menyempal, ia akan menyendiri/menyempal di dalam neraka." (HR. Imam Hakim)
Tidak main-main: "Barang siapa menyendiri/menyempal, ia akan menyendiri/menyempal di dalam neraka."
Menyendiri, membedakan diri dari mayoritas dengan mengikuti kelompok ini, ikut firqah itu, tapi jumlahnya cuma sedikit—hati-hati. Yang menyempal, kata Rasulullah SAW, akan menyempal juga di neraka.
Wallahu a'lam
Sumber FB Ustadzah : Ainul Mardiyah
lanjutkan baca :
Ada aja yg bilang Syeikh Buthi Syiah🤦♀️
Syekh Buthi bukan Syiah. Beliau adalah salah satu ulama besar Aswaja, bermazhab Syafii, beraqidah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, sama dengan Habib Umar bin Hafidh di Yaman dan Syeikh Ali Jum'ah di Mesir.
Syekh Buthi sudah wafat 21 Maret 2013, akibat di bom saat sedang berceramah.
Beliau sosok yang sangat lembut, tutur katanya, kerendahan hatinya, cara beliau menyikapi perbedaan pendapat, dan didikan spiritual yang menyejukkan.
Tawadhu' beliau yang sangat dalam. Beliau menolak segala bentuk penghormatan berlebihan yang ditujukan kepada dirinya.
Jika ada yg datang mau salami dan cium tangan beliau, beliau selalu menolak
"Duduklah!! Aku tidak perlu dihormati"
"Aku tidak pantas dihormati, karena aku bukan orang yang saleh"
Beliau juga pernah berkata kepada muridnya, "Apa yang bisa aku banggakan? Aku hanya dititipi sangat sedikit. Kalau seandainya Allah membuka aibku, aku akan malu keluar rumah untuk berjumpa dengan kalian"
Tapi beliau memiliki pendapat tegas. Meski demikian, beliau tidak pernah memutus tali persaudaraan atau bersikap kasar kepada mereka yang berbeda pandangan.
"Aku memaafkan tiap orang yang berbeda denganku dalam pendapat, termasuk yang mencaci makiku, baik karena ketidaktahuan atau karena hasil ijtihadnya. Bahkan aku berdoa kepada Allah agar Allah memberi pahala atas niatnya" .
Habib Ali al-Jufri berbeda pandangan politik dengan Syaikh al-Buthi. Mereka sempat berdebat. Habib Ali Al-Jufri menceritakan bahwa setelah berdebat, Syaikh al-Buthi tidak berubah sedikit pun sikapnya, beliau tetap akrab dan santun, "Beliau tetap guru saya", kata Habib Ali Al-Jufri.
Beliau berpendapat bahwa belajar agama tidak cukup hanya menghafal kaidah dan hukum, tetapi harus "ditenun dengan nilai-nilai ruhaniah yang mendekatkan hati kepada Allah", Tujuan akhirnya adalah melahirkan rasa khauf (takut yang disertai pengagungan) kepada Allah, bukan sekadar pengetahuan kering.
Dalam kajiannya, beliau sering menyentuh hati
"Bukan maksiat yang membuat manusia terhalang dari Allah, tapi rasa angkuh dan sombonglah yang menjadi penghalang. Rasa angkuh dan sombong itulah membuat manusia berani bermaksiat"
Kualitas kelembutan dan kezuhudan beliau juga tercermin dari kesederhanaan hidupnya hingga akhir hayat. Beliau tinggal di rumah sederhana dan jauh dari kesan mewah . Ketika beliau wafat syahid karena kena bom saat mengajar pada 21 Maret 2013, warisan yang ditinggalkan bukanlah harta melainkan sebuah pulpen dan uang 75 Lira di saku bajunya. Bahkan seminggu sebelum wafat, beliau membagikan hartanya untuk para penuntut ilmu.
Berkat semua ini, banyak kalangan menjulukinya sebagai "al-Ghazali kecil dari Suriah" atau "Ghazaliyu-l-ashr" (Imam Ghazali masa kini) , mengakui kedalaman spiritual dan kelembutan ilmunya yang menyerupai Imam al-Ghazali.
Sumber FB Ustadzah : Ainul Mardiyah