
๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก ๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐จ๐๐จ๐ ๐ ๐๐ฆ๐๐จ๐ค
Izin bertanya kiyai, bagaimana posisi duduk bagi masbuq dalam raka’at terakhir bersama imam yang akan salam? Apakah Tawaruk yakni duduk tasyahud akhir atau Iftirasy duduk tasyahud awal? Dan apakah bacaannya cukup sampai bacaan tasyahud awal atau sampai selesai?
๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Para ulama berbeda pendapat tentang cara duduk dan bacaan masbuq saat duduk tasyahud akhir bersama imam. Menurut pendapat mu'tamad dalam madzhab Hanbali dan sebagian Syafi'iyyah duduknya Tawarruk. Sedangkan Pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i dan sebagian Hanbali adalah duduk dengan Ifitrasy. Berkata al imam Nawawi rahimahullah:
ุงูู ุณุจูู ุฅุฐุง ุฌูุณ ู ุน ุงูุฅู ุงู ูู ุขุฎุฑ ุตูุงุฉ ุงูุฅู ุงู ููู ูุฌูุงู ุงูุตุญูุญ ุงูู ูุตูุต ูู ุงูุฃู ، ูุจู ูุทุน ุงูุดูุฎ ุฃุจู ุญุงู ุฏ ูุงูุจูุฏููุฌู ูุงููุงุถู ุฃุจู ุงูุทูุจ ูุงูุบุฒุงูู ูุงูุฌู ููุฑ : ูุฌูุณ ู ูุชุฑุดุง ; ูุฃูู ููุณ ุจุขุฎุฑ ุตูุงุชู
“Makmum masbuq apabila duduk bersama imam pada akhir shalat imam, maka ada dua pendapat. Pendapat yang sahih dan dinyatakan dalam al Umm, serta dipastikan oleh Syaikh Abu Hamid, al Bandaniji, al Qadhi Abu ath Thayyib, al Ghazali dan jumhur: ia duduk iftirasy, karena itu bukan akhir shalatnya.”
Sedangkan untuk bacaannya cukup sampai dzikir tasyahud awal menurut Hanabilah. Al imam Ibnu Qudamah al Hanbali rahimahullah berkata:
ูุฅุฐุง ุฃุฏุฑู ุจุนุถ ุงูุตูุงุฉ ู ุน ุงูุฅู ุงู ูุฌูุณ ุงูุฅู ุงู ูู ุขุฎุฑ ุตูุงุชู ูู ูุฒุฏ ุงูู ุฃู ูู ุนูู ุงูุชุดูุฏ ุงูุฃูู ุจู ููุฑุฑู ูุต ุนููู ุฃุญู ุฏ ููู ู ุฃุฏุฑู ู ุน ุงูุฅู ุงู ุฑูุนุฉ ูุงู ููุฑุฑ ุงูุชุดูุฏ ููุง ูุตูู ุนูู ุงููุจู ๏ทบ ููุง ูุฏุนู ุจุดูุก ู ู ุง ูุฏุนู ุจู ูู ุงูุชุดูุฏ ุงูุฃุฎูุฑ ูุฃู ุฐูู ุฅูู ุง ูููู ูู ุงูุชุดูุฏ ุงูุฐู ูุณูู ุนููุจู ูููุณ ูุฐุง ูุฐูู
“Apabila seseorang mendapatkan sebagian shalat bersama imam, lalu imam duduk pada tasyahud akhir, maka makmum tidak menambah bacaan selain tasyahud awal, bahkan ia mengulanginya. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad tentang orang yang mendapatkan satu rakaat bersama imam.
Beliau berkata: ia mengulang bacaan tasyahud, dan tidak membaca shalawat kepada Nabi ๏ทบ, serta tidak berdoa dengan doa-doa yang biasa dibaca pada tasyahud akhir. Karena hal itu hanya dilakukan pada tasyahud yang setelahnya diikuti salam, sedangkan ini bukan demikian.”
Adapun kalangan Syafi’iyyah berpendapat boleh hanya sampai bacaan tasyahud awal namun yang dipandang afdhal turut membaca bacaan tasyahud hingga akhir bahkan dengan ditambahkan doa-doa lainnya. Al imam Ibnu Hajar al Haitami rahimahullah berkata:
ุฃู ุง ุงูู ุณุจูู ุฅุฐุง ุฃุฏุฑู ุฑูุนุชูู ู ู ุงูุฑุจุงุนูุฉ ูุฅูู ูุชุดูุฏ ู ุน ุงูุฅู ุงู ุชุดูุฏู ุงูุฃุฎูุฑ ููู ุฃูู ููู ุฃู ูู ููุง ููุฑู ุงูุฏุนุงุก ูู ููู ุจู ูุณุชุญุจ
“Adapun makmum masbuq yang mendapatkan dua rakaat dari shalat empat rakaat, maka ia bertasyahud bersama imam sesuai tasyahud akhir imam, padahal itu merupakan tasyahud awal baginya. Maka tidak makruh baginya untuk berdoa di dalamnya, bahkan dianjurkan.”
๐๐ฎ๐น๐ถ๐น & ๐๐ถ๐ธ๐บ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐๐ฑ๐๐ธ ๐๐ณ๐๐ถ๐ฟ๐ฎ๐๐
Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab al Majmu' Syarah al Muhadzdzab (3/451):
“Hikmah dari duduk iftirasy pada tasyahud awal dan tawaruk pada tasyahud akhir adalah agar lebih membantu dalam mengingat shalat dan tidak terjadi kekeliruan dalam jumlah rakaat.
Selain itu, karena sunnahnya tasyahud awal diringankan, maka duduk iftirasy lebih memudahkan untuk segera bangkit berdiri.
Sedangkan tasyahud akhir disunnahkan untuk dipanjangkan dan tidak ada lagi berdiri setelahnya, maka duduk tawaruk lebih membantu dan lebih mantap sehingga memungkinkan untuk memperbanyak doa.
Dan juga agar makmum masbuq ketika melihatnya dapat mengetahui ia berada pada tasyahud yang mana.”
Kami tidak mendapati pembahasan masalah ini dari dua mazhab lainnya, yakni dari kalangan mazhab Hanafiyah dan Malikiyyah.
Simak penjelasan lengkapnya di: https://astofficial.id/.../716/bacaan-dan-model-duduk-masbuq
•┈┈•••○○❁༺ⒶⓈⓉ༻❁○○•••┈┈•
Punya pertanyaan yang butuh penjelasan komperehensif atau sekedar jawaban ringkas yang langsung ke tehnis? Ajukan di : https://astofficial.id/tanya-ustadz
baca juga : Duduk Iftirasy dan Tawarruk
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq