Cemburu Ilahi; Ketika Allah Melarang dan Manusia Melanggar

Cemburu Ilahi, Ketika Allah Melarang dan Manusia Melanggar

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ الله تَعَالَى يَغَارُ، وَغَيرَةُ الله تَعَالَى، أَنْ يَأتِيَ المَرْءُ مَا حَرَّمَ الله عَلَيهِ 

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala itu memiliki rasa cemburu, dan kecemburuan Allah Ta‘ala adalah ketika seorang hamba melakukan apa yang telah Allah haramkan atasnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Kata ghirah (الغيرة) dalam hadis ini bermakna kecemburuan, yang asalnya adalah rasa tidak rela atau tidak menerima adanya pelanggaran terhadap sesuatu yang dijaga dan dimuliakan.

Makna Cemburu dalam Sifat Allah

Cemburu yang disandarkan kepada Allah bukanlah seperti cemburu manusia yang sering diliputi emosi, prasangka, atau kelemahan. Cemburu Allah adalah sifat yang sempurna, yang menunjukkan betapa Dia sangat membenci perbuatan maksiat dan pelanggaran terhadap batasan-batasan-Nya.

Ketika seorang hamba melakukan sesuatu yang telah diharamkan—baik itu zina, riba, dusta, atau bentuk kemaksiatan lainnya—maka ia telah menabrak batas yang Allah tetapkan. Di sinilah tampak “ghirah” Allah: ketidaksenangan-Nya terhadap dosa yang dilakukan oleh hamba-Nya.

Mengapa Allah “Cemburu”?

Cemburu Allah muncul karena dua hal besar:

 1. Kesucian hukum-Nya

Allah menetapkan halal dan haram bukan tanpa alasan. Semua itu demi menjaga kemaslahatan manusia. Ketika manusia melanggarnya, berarti ia meremehkan aturan yang penuh hikmah tersebut.

2. Kasih sayang-Nya kepada hamba

Larangan-larangan Allah bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk melindungi. Maka ketika seorang hamba melanggar, ia sebenarnya sedang mencelakakan dirinya sendiri. Allah “cemburu” karena tidak rela hamba-Nya terjerumus dalam kebinasaan.

Pelajaran Penting dari Hadis Ini

 1. Menjauhi yang haram adalah bentuk penghormatan kepada Allah. Setiap kali seseorang menahan diri dari dosa, ia sedang menjaga hubungan dengan Rabb-nya.

 2. Maksiat bukan sekadar pelanggaran, tapi bentuk ketidakpedulian. Dosa menunjukkan bahwa seseorang tidak memedulikan batasan yang telah Allah tetapkan.

 3. Rasa malu kepada Allah harus ditumbuhkan. Jika Allah “cemburu” ketika kita bermaksiat, maka sudah seharusnya kita memiliki rasa malu untuk melanggar di hadapan-Nya, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.

Jadi,

Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan antara manusia dan Allah bukan sekadar hubungan perintah dan larangan, tetapi juga hubungan yang diwarnai dengan penjagaan, kehormatan, dan rasa tidak rela terhadap pelanggaran.

Semakin seseorang memahami sifat Allah ini, semakin ia berhati-hati dalam bertindak. Ia akan menyadari bahwa setiap dosa bukan hanya kesalahan, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap batasan yang telah Allah tetapkan dengan penuh hikmah.

Maka, menjaga diri dari yang haram bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk adab dan penghormatan kepada Allah Ta‘ala.

Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Aamiin.

Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Cemburu Ilahi; Ketika Allah Melarang dan Manusia Melanggar". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.