Ketika Dunia Menjadi Ujian Terbesar Umat

Ketika Dunia Menjadi Ujian Terbesar Umat

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Uqbah bin Amir, diceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ suatu hari keluar menuju para syuhada Perang Uhud, lalu beliau mendoakan mereka setelah delapan tahun berlalu. Doa itu bukan sekadar penghormatan, tetapi seperti perpisahan—baik kepada yang telah wafat maupun kepada yang masih hidup.

Setelah itu, beliau ﷺ naik ke mimbar dan menyampaikan pesan yang sangat dalam. Beliau ﷺ bersabda bahwa dirinya akan mendahului umatnya (sebagai farath), menjadi saksi atas mereka, dan bahwa janji pertemuan mereka adalah di telaga (haudh). Bahkan beliau ﷺ menyatakan seakan-akan melihat telaga itu dari tempatnya berdiri saat itu—sebuah gambaran keyakinan yang begitu nyata terhadap akhirat.

Namun, inti peringatan Nabi ﷺ bukanlah tentang kesyirikan. Beliau ﷺ menegaskan:

 “Aku tidak khawatir kalian akan berbuat syirik setelahku. Tetapi aku khawatir kalian akan saling berlomba dalam urusan dunia.”

Dalam riwayat lain, beliau ﷺ menambahkan bahwa persaingan dunia itu akan berujung pada pertikaian dan kehancuran, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat sebelum Islam.

Bukan Syirik, Tapi Dunia

Ini adalah peringatan yang mengejutkan. Kita mungkin mengira bahwa bahaya terbesar bagi umat adalah kembali kepada kesyirikan. Namun Nabi ﷺ justru mengalihkan perhatian kita kepada sesuatu yang lebih halus, lebih tersembunyi, dan lebih dekat: cinta dunia yang berlebihan.

Dunia bukanlah sesuatu yang tercela pada dirinya. Ia adalah ladang amal, tempat ujian, dan sarana menuju akhirat. Namun ketika dunia berubah menjadi tujuan utama—diperebutkan, dibanggakan, dan dijadikan ukuran kemuliaan—di situlah kehancuran mulai tumbuh.

Kompetisi yang Berubah Menjadi Konflik

Nabi ﷺ tidak sekadar mengatakan “berlomba dalam dunia”, tetapi juga menjelaskan konsekuensinya: kalian akan saling membunuh.

Ini menunjukkan bahwa ambisi duniawi yang tidak terkendali akan melahirkan hasad (iri hati), permusuhan, ketidakadilan, bahkan pertumpahan darah.

Sejarah membuktikan hal ini. Banyak konflik, baik dalam skala kecil maupun besar, berakar dari perebutan kekuasaan, harta, dan pengaruh.

Pelajaran yang Sangat Relevan Hari Ini

Hadis ini terasa sangat hidup jika kita melihat kondisi zaman sekarang: persaingan ekonomi yang keras, ambisi terhadap jabatan dan popularitas, ukuran kesuksesan yang semata-mata materi.

Semua itu, jika tidak dikendalikan oleh iman dan akhlak, dapat menjerumuskan manusia pada kehancuran yang sama seperti umat terdahulu.

Menata Sikap terhadap Dunia

Pesan Nabi ﷺ bukanlah untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk menempatkannya pada posisi yang benar. Dunia di tangan, bukan di hati.

Seorang Muslim dituntut untuk bekerja dan berusaha, tetapi tidak rakus. Ia juga dituntut untuk mencapai keberhasilan tetapi tidak sombong, bersaing tetapi tetap adil dan berakhlak.

Jadi,

Hadis ini merupakan salah satu nasihat terakhir yang disampaikan Nabi ﷺ di atas mimbar—sebuah pesan perpisahan yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa ujian terbesar umat ini bukanlah kehilangan iman secara terang-terangan, tetapi tergelincir oleh gemerlap dunia secara perlahan.

Jika kita ingin selamat, maka kuncinya bukan hanya menjaga tauhid, tetapi juga menjaga hati dari ketergantungan berlebihan pada dunia.

Karena kehancuran seringkali tidak datang dari sesuatu yang kita takuti—melainkan dari sesuatu yang kita cintai tanpa batas.

Semoga Allah menjaga iman kita sampai akhir hayat kita. Aamiin.

Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ketika Dunia Menjadi Ujian Terbesar Umat". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.