
Mata Rantai Bermazhab Dalam Islam
Ketika kebanyakan pesantren mendominasi Fikih, sebagian Tafsir dan Hadis (belakangan disesuaikan dengan Ma'had Aly), Pondok Sidogiri mencakup semua. Setiap Ramadan, Pondok Sidogiri mengadakan Daurah Aswaja. Para pematerinya beragam, ada alumni Sidogiri seperti Kiai Idrus, Ust Dairobi dan Ust Wafi, ada Gus Muhib alumni Lirboyo, saya lulusan Ploso, Gus Wahab alumni Buduran, Dr Hasib pengajar di Pondok Dalwa dan Habib Bagir. Peserta juga beragam, mulai santri aktif Sidogiri, peserta dari luar, bahkan kemarin diikuti oleh Dr Aris Munandar. Denyut nadi Aswaja terasa hidup sekali di Sidogiri, baik perpustakaan hingga karya tulisnya.
Saya kebagian dua tema, Akidah dan Bermazhab. Soal Akidah sudah pernah saya upload sebelum Ramadan. Kali ini soal bermazhab. Sebenarnya sistem bermazhab, dalam arti mengikuti ulama yang kompeten di bidangnya, sudah ada sejak zaman Nabi.
Contoh yang mudah adalah sistem Mazhab dalam ilmu bacaan Al-Qur'an. Nabi sudah memuji beberapa Sahabatnya yang memiliki keunggulan dalam penguasaan ilmu. Misalnya dalam hadis:
ﻭﺃﻓﺮﺿﻬﻢ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﺃﻗﺮﺅﻫﻢ ﺃﺑﻲ ﻭﺃﻋﻠﻤﻬﻢ ﺑﺎﻟﺤﻼﻝ ﻭاﻟﺤﺮاﻡ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ
"Paling mengerti Faraid dari umatku adalah Zaid bin Tsabit. Paling menguasai Ilmu Al-Qur'an adalah Ubay bin Kaab. Paling mengerti hukum halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal" (HR Abu Ya'la)
Dari sekian banyak Sahabat, Nabi memerintahkan belajar Al-Qur'an mengikuti 4 Sahabat, yang terdapat dalam hadis berikut:
« خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ - فَبَدَأَ بِهِ - وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِى حُذَيْفَةَ ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ ، وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ »
Hadis; “Pelajari Quran dari 4 orang. Ibnu Mas’ud, Salim yang dimerdekakan Abu Hudzaifah, Muadz bin Jabal dan Ubay bin Kaab” (HR Bukhari)
Masa Sayidina Umar
Sebelum menyuruh berijtihad pada Syuraih, Sayidina Umar memerintahkan untuk mengikuti pendapat para Sahabat yang menjadi panutan:
عَنِ الشَّعْبِىِّ قَالَ : كَتَبَ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى شُرَيْحٍ إِذَا أَتَاكَ أَمْرٌ فِى كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَاقْضِ بِهِ وَلاَ يَلْفِتَنَّكَ الرِّجَالُ عَنْهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللَّهِ وَكَانَ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَاقْضِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللَّهِ وَلاَ فِى سُنَّةِ رَسُولِهِ فَاقْضِ بِمَا قَضَى بِهِ أَئِمَّةُ الْهُدَى فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللَّهِ وَلاَ فِى سُنَّةِ رَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ فِيمَا قَضَى بِهِ أَئِمَّةُ الْهُدَى فَأَنْتَ بِالْخِيَارِ إِنْ شِئْتَ تَجْتَهِدُ رَأْيَكَ وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تُؤَامِرَنِى وَلاَ أَرَى مُؤَامَرَتَكَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَسْلَمَ لَكَ
Umar menulis surat kepada Syuraih: “Jika ada masalah, maka jawablah dengan al-Quran. Jika tidak ada maka dengan sunah Nabi. Jika tidak ada, maka putuskanlah dengan pendapat imam yang dapat hidayah. Jika semua tidak ada, maka ijtihadlah kamu, jika mau, atau bermusyawarah denganku. Menurutku, jika kamu bermusyawarah dengan akan lebih selamat bagimu” (Sunan al-Baihaqi)
Masa Ali Al-Madini (234 H)
Beliau cukup populer sebagai ulama yang memberi penilaian status perawi. Beliau menjelaskan bahwa sistem Mazhab sudah ada sejak Masa Sahabat:
ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺻﺤﺒﺔ ﻳﺬﻫﺒﻮﻥ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﻭﻳﻔﺘﻮﻥ ﺑﻔﺘﻮاﻩ ﻭﻳﺴﻠﻜﻮﻥ ﻃﺮﻳﻘﺘﻪ ﺇﻻ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻭﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ
Tidak ada di antara Sahabat Nabi yang Mazhab dan Fatwanya diikuti kecuali 3, yaitu Abdullah bin Mas'ud, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas
ﻗﺎﻝ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﻨﺨﻌﻲ ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﻘﺮﺅﻭﻥ ﻭﻳﻔﺘﻮﻥ ﺳﺘﺔ ﻋﻠﻘﻤﺔ ﻭاﻷﺳﻮﺩ ﻭﻣﺴﺮﻭﻕ ﻭﻋﺒﻴﺪﺓ ﻭﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺷﺮﺟﺒﻴﻞ ﻭاﻟﺤﺎﺭﺙ اﻷﻋﻮﺭ
Ibrahim Nakhai berkata bahwa para murid Abdullah bin Mas'ud yang mengajar dan berfatwa ada 6 orang, Alqamah, Aswad, Masruq, Ubaidah, Amr bin Syurahbil dan Haris (Al-Ilal, 43)
Masa Ibnu Shalah (577 H)
نَقَلَ ابْنُ الصَّلاَحِ اْلإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ أَىْ حَتَّى الْعَمَلَ لِنَفْسِهِ فَضْلاً عَنِ الْقَضَاءِ وَالْفَتْوَى لِعَدَمِ الثِّقَةِ بِنِسْبَتِهَا ِلأَرْبَابِهَا بِأَسَانِيْدَ تَمْنَعُ التَّحْرِيْفَ وَالتَبْدِيْلَ
Ibnu Shalah manukil ijma’ sesungguhnya tidak boleh taqlid / mengikuti selain kepada imam empat artinya sampai amal untuk dirinyapun tidak boleh. Apalagi untuk menghukumi, menfatwakan, karena tidak dapat dipertanggung jawabkan nisbatnya pada imamnya, yang menjamin kemurnian dan perubahan (Bughyah, 😎
Masa Syekh Ibrahim Al-Bajuri (1860 M)
Beliau salah satu Syaikhul Azhar, Mesir, satu kurun di atas para ulama Nusantara. Beliau menjelaskan tentang Mazhab:
َلاَ يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِهِمْ أَىِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ وَلَوْ كَانَ مِنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ ِلأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ لَمْ تُدَوَّنْ وَلَمْ تُضْبَطْ كَمَذَاهِبِ هَؤُلآَءِ لَكِنْ جَوَّزَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ فِي غَيْرِ اْلإِفْتَاءِ
"Tidak boleh taqlid kepada selain mereka yaitu imam-imam empat meskipun dari pembesar-pembesar sahabat Rasul. Karena madzab mereka tidak dikodifikasikan (tidak dibukukan) dan tidak dibuat pedoman seperti madzab-madzab mereka (imam empat); namun sebagian ulama’ ada yang memperbolehkan asal tidak untuk difatwakan". (Tuhfat Al-Murid, 90)
Masa Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama
Beliau berkata:
قَدْ كَانَ مُسْلِمُوا الْأَقْطَارِ الْجاوِيةِ فِي الْأَرْمَانِ السَّاافَةِ مُقْلدِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ وَمُتَّحدِي الْمَأْحَدِ وَالْمَشْرب، فكلهم في الفقه عَلَى الْمَذْهَبِ النفيْسِ مَذهبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ، وَفِي أصُولِ الدِّينِ عَلَى مَذهبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِي، وَفِي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحَسَنِ الشَّاذلِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أجمعين
Umat Islam yang berada di wilayah Kepulauan Jawa (maksudnya Nusantara zaman itu) sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya. Di bidang fiqh, mereka berpegang kepada madzhab Imam al-Syafi'i, di bidang ushuluddin (aqidah) berpegang kepada madzhab Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, dan di bidang tasawwuf berpegang kepada madzhab Imam Abu Hamid al-Ghazali dan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili, semoga Allah meridhai mereka semua. (Risalah Ahlussunah wal Jama'ah, Hal. 4)
Apa yang saya jalani dalam Islam, mengikuti sistem Mazhab, terkhusus Akidah, Fikih, Akhlak, Ilmu Qiraat, dan Ilmu lainnya adalah mengikuti jalan bermazhab, sebagaimana saya jelaskan di atas bahwa jalan ini telah dirintis sejak masa Sahabat hingga kiai-kiai pesantren.
Sumber FB Ustadz : Ma'ruf Khozin