Kisah Kejujuran Ka'ab bin Malik dalam Perang Tabuk

Kisah Kejujuran Ka'ab bin Malik dalam Perang Tabuk

Harga Sebuah Kejujuran 

Kejujuran adalah harta paling berharga yang bisa dimiliki seseorang. Dengannya, nilai seseorang menjadi naik, dan tanpanya nilai dirinya akan rusak. Tapi, kadang sebuah kejujuran itu amat mahal sehingga harus ditebus dengan pengorbanan besar. Allah pernah menguji tiga orang Sahabat Nabi yang berani jujur mangaku salah dengan ujian yang sangat berat. Ketika banyak sahabat lain beralasan agar tidak mendapat murka Rasulullah, mereka bertiga justru jujur mengaku salah, dan ujian berat pun dimulai untuk memperlihatkan sampai mana komitmen mereka atas kejujurannya. 

Berikut ini adalah terjemah dari kisah mereka yang diceritakan oleh Abdullah bin Ka'ab tentang ayahnya, sebagaimana diceritakan ulang oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

Aku mendengar Ka'ab bin Malik menuturkan kisahnya sendiri — tentang saat ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Ka'ab berkata: "Aku tidak pernah sekalipun absen dari peperangan yang diikuti Rasulullah ﷺ, kecuali dalam Perang Tabuk ini. Memang benar, aku pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun saat itu tidak seorang pun dicela karena ketidakhadirannya — sebab Rasulullah ﷺ waktu itu hanya bermaksud mencegat kafilah dagang Quraisy, lalu Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa rencana sebelumnya. Dan sungguh, aku telah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam Aqabah, saat kami saling mengikat janji di atas Islam. Momen itu lebih kucintai daripada kehadiranku di Badar sekalipun — meski Badar jauh lebih masyhur dan dikenang orang."

Ia melanjutkan: "Adapun tentang kisahku ketika aku tidak ikut dalam Perang Tabuk: aku belum pernah merasa sekuat dan semampu itu seperti saat aku justru absen. Demi Allah, belum pernah sebelumnya aku memiliki dua ekor unta tunggangan sekaligus — dan baru kali itulah aku berhasil memiliki keduanya. Biasanya, Rasulullah ﷺ menyamarkan tujuan peperangannya dengan menyebut arah lain. Namun kali ini beliau berbeda — beliau terang-terangan menyatakan tujuan kepada kaum muslimin agar mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi musuh yang banyak. Perjalanan itu amat berat: cuaca sangat panas, jarak sangat jauh, medan sangat gersang, dan musuh sangat besar jumlahnya. Kaum muslimin yang menyertai beliau pun sangat banyak, sampai tidak tertampung dalam satu daftar catatan pun."

Ka'ab berkata: "Dalam situasi seperti itu, hampir tidak ada orang yang berniat absen tanpa wahyu Allah turun mempersoalkannya — sebab jumlah pasukan yang besar membuat kehadiran atau ketidakhadiran seseorang mudah tersembunyi."

Perang itu berlangsung tepat ketika buah-buahan mulai masak dan teduhan terasa begitu nyaman — dan aku sangat tergoda olehnya. Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin mulai bersiap-siap berangkat. Setiap pagi aku pergi seolah hendak mempersiapkan diri, namun setiap kali aku pulang tanpa menyelesaikan satu persiapan pun. Aku selalu berkata dalam hati: "Aku masih bisa menyiapkan segalanya kapan saja." Begitu terus berlarut-larut, hingga pasukan pun berangkat dengan penuh tekad. Rasulullah ﷺ bertolak di pagi hari bersama kaum muslimin, sementara aku belum menyiapkan apa-apa.

Aku berkata: "Biarlah, aku akan menyiapkan diri sehari atau dua hari lagi lalu menyusul." Keesokan harinya aku pergi lagi untuk bersiap, namun kembali tanpa hasil. Demikian terus terjadi hingga pasukan semakin jauh dan kesempatan untuk menyusul semakin tertutup. Sempat terlintas niatku untuk berangkat dan mengejar mereka — alangkah baiknya andai aku benar-benar melakukannya — namun takdir tidak mengizinkan. Sejak saat itu, setiap kali aku keluar berjalan di antara orang-orang, hatiku terasa pedih: yang kulihat hanyalah orang-orang yang dicurigai kemunafikannya, atau mereka yang benar-benar punya uzur yang dimaklumi Allah. Rasulullah ﷺ pun tidak menyebut namaku, hingga beliau sampai di Tabuk.

Di sana, saat beliau sedang duduk bersama para sahabat, beliau bertanya: "Apa kabar Ka'ab bin Malik?" Seorang lelaki dari Bani Salimah menjawab: "Ia tertahan oleh kedua jubahnya dan kekagumannya pada dirinya sendiri, ya Rasulullah." Maka Mu'adz bin Jabal menegur: "Buruk sekali yang kau ucapkan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan." Rasulullah ﷺ pun diam.

Ka'ab melanjutkan: "Ketika aku mendengar Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulang dari Tabuk, kesedihan menghimpitku. Aku mulai memikirkan berbagai alasan dusta: "Dengan apa aku akan menghindar dari murkanya esok hari?" Aku meminta pertimbangan setiap anggota keluargaku yang bisa diajak berpikir. Namun ketika dikabarkan bahwa beliau sudah hampir tiba, segala kepalsuan itu runtuh dari benakku. Aku sadar: tidak ada kebohongan apa pun yang akan menyelamatkanku. Maka aku membulatkan tekad untuk jujur."

Rasulullah ﷺ tiba, dan seperti kebiasaannya sepulang dari perjalanan, beliau langsung menuju masjid, shalat dua rakaat, lalu duduk menemui orang-orang. Para sahabat yang absen pun berdatangan — lebih dari delapan puluh orang — bersumpah dan berdalih. Rasulullah ﷺ menerima pernyataan lahiriah mereka, memintakan ampun bagi mereka, dan menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah.

Lalu tibalah giliranku. Ketika aku mengucapkan salam, beliau tersenyum — senyum orang yang menahan marah — lalu berkata: "Kemarilah." Aku berjalan mendekat hingga duduk di hadapannya. Beliau bertanya: "Apa yang membuatmu tinggal? Bukankah kamu sudah membeli kendaraan?"

Aku menjawab: "Ya Rasulullah, demi Allah — seandainya aku duduk di hadapan orang lain selain engkau, aku pasti akan mencari dalih untuk menghindar dari murkanya. Aku memang pandai berdebat. Namun demi Allah, aku tahu betul: jika hari ini aku berkata dusta dan engkau merasa puas, Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku. Dan jika aku berkata jujur — meski engkau marah kepadaku — aku berharap pada ujung yang baik dari Allah. Demi Allah, aku tidak punya uzur apa pun. Demi Allah, aku belum pernah sekuat dan selapang itu seperti saat aku justru absen darimu."

Rasulullah ﷺ bersabda: "Adapun orang ini, ia telah jujur. Pergilah, hingga Allah memutuskan urusanmu."

Aku pun pergi. Sejumlah orang dari Bani Salimah mengikutiku dan berkata: "Demi Allah, kami tidak tahu engkau pernah berbuat dosa sebelum ini. Sungguh, kamu telah lemah — mengapa tidak berdalih seperti yang lain? Cukuplah bagimu permohonan ampun Rasulullah ﷺ." Mereka terus mencercaku hingga hampir saja aku kembali dan menarik ucapanku. Namun lalu aku bertanya: "Adakah yang senasib denganku?". Mereka menjawab: "Ya, ada dua orang yang berkata sepertimu dan diperlakukan sepertimu." Aku bertanya: "Siapa mereka?". Mereka menjawab: "Murarah bin ar-Rabi' al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi." Keduanya adalah orang-orang saleh yang ikut dalam Perang Badar (1) dan dalam diri mereka aku menemukan teladan. Maka aku pun melanjutkan langkahku.

Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Orang-orang pun menjauhi kami dan berubah sikap terhadap kami, hingga bumi yang kupijak terasa asing — seakan bukan lagi bumi yang kukenal. Kami menjalani keadaan itu selama lima puluh malam. Kedua sahabatku lebih memilih berdiam di rumah mereka, menangis. Adapun aku, aku adalah yang paling tegar di antara kami. Aku tetap hadir shalat bersama kaum muslimin dan berkeliling pasar — namun tak seorang pun menyapa. Aku datang kepada Rasulullah ﷺ di majlisnya seusai shalat, mengucapkan salam, lalu berbisik dalam hati: Apakah bibirnya bergerak membalas salamku, ataukah tidak? Kemudian aku shalat di dekatnya dan mencuri-curi pandang. Setiap kali aku menghadap shalatku, beliau memandangiku — namun setiap kali aku menoleh ke arahnya, beliau berpaling dariku.

Ketika pengucilan itu terasa terlalu lama dan berat, aku berjalan hingga memanjat tembok kebun Abu Qatadah — sepupuku dan orang yang paling kucintai. Aku mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, ia tidak membalasnya. Aku berkata: "Wahai Abu Qatadah, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah — bukankah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Ia diam. Aku mengulangi pertanyaanku — ia tetap diam. Aku mengulanginya lagi — hingga akhirnya ia menjawab dengan singkat: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Ka'ab berkata: "Kedua mataku pun menitikkan air mata. Aku berbalik dan memanjat kembali tembok itu untuk pergi."

Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang lelaki Nabath dari Syam — salah satu pedagang yang datang menjual bahan makanan ke Madinah — berseru mencari-cari: "Siapa yang bisa menunjukkan aku kepada Ka'ab bin Malik?" Orang-orang pun beramai-ramai mengarahkannya kepadaku, hingga ia datang dan menyerahkan sebuah surat. Surat itu berasal dari Raja Ghassan. Aku memang bisa membaca dan menulis, maka kubuka dan kubaca surat itu. Isinya berbunyi:

"Amma ba'd. Telah sampai kepada kami kabar bahwa sahabatmu telah mengucilkanmu. Allah tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat yang hina dan sia-sia. Bergabunglah dengan kami — kami akan menghiburmu dan memuliakanmu."

Ka'ab berkata: "Ketika kubaca surat itu, aku berkata dalam hati: 'Ini pun bagian dari ujian.' Maka aku ambil surat itu menuju tungku api lalu kubakar hingga habis."

"Hingga ketika telah berlalu empat puluh malam dari lima puluh malam itu, tiba-tiba utusan Rasulullah ﷺ datang kepadaku menyampaikan: 'Rasulullah ﷺ memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.' Aku bertanya: 'Apakah aku harus menceraikannya, atau apa yang harus aku lakukan?' Ia menjawab: 'Tidak, cukup jauhi dia dan jangan mendekatinya.' Beliau juga mengutus pesan yang sama kepada kedua sahabatku."

"Maka aku berkata kepada istriku: 'Kembalilah kepada keluargamu dan tinggallah bersama mereka hingga Allah memutuskan perkara ini sesuai kehendak-Nya.'”

"Adapun istri Hilal bin Umayyah, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Hilal adalah seorang tua yang lemah dan tidak memiliki pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku melayaninya?' Beliau bersabda: 'Tidak, namun jangan sampai ia mendekatimu.' Ia berkata: 'Demi Allah, ia sama sekali tidak punya keinginan untuk itu. Demi Allah, ia tidak henti-hentinya menangis sejak terjadi apa yang terjadi pada dirinya hingga hari ini.'"

"Maka sebagian keluargaku berkata kepadaku: 'Bagaimana jika kau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu, sebagaimana beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk melayaninya?' Aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku meminta izin, sedangkan aku masih seorang lelaki muda.'"

Ka'ab berkata: "Kami pun menjalani sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang untuk diajak bicara."

"Kemudian pada pagi hari kelima puluh, aku shalat Subuh di atas atap salah satu rumah kami. Sementara aku duduk dalam keadaan yang telah Allah gambarkan dari diri kami — jiwaku sesak dan bumi terasa sempit bagiku meski seluas-luasnya — tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dari puncak Gunung Sal', dengan suara sekeras-kerasnya: 'Bergembiralah, wahai Ka'ab bin Malik!' Maka aku pun tersungkur sujud, dan aku tahu bahwa kelapangan telah datang dari Allah berupa tobat yang diterima."

"Rasulullah ﷺ telah mengumumkan tobat kami kepada orang-orang seusai shalat Subuh. Orang-orang pun pergi menyampaikan kabar gembira kepada kami. Sebagian menuju kedua sahabatku, sementara seorang lelaki memacu kudanya menuju aku, dan seorang lagi dari suku Aslam berlari dan naik ke puncak gunung — namun suara itulah yang lebih cepat dari kuda."

"Ketika orang yang kudengar suaranya datang menyampaikan kabar gembira itu, aku tanggalkan kedua pakaianku dan kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas berita gembiranya. Demi Allah, tidak ada yang kumiliki hari itu selain keduanya. Aku meminjam dua helai pakaian lalu mengenakannya, kemudian aku berangkat menuju Rasulullah ﷺ. Orang-orang menyambutku bergelombang demi bergelombang, mengucapkan selamat atas tobat Allah kepadaku, mereka berkata: 'Selamat atasmu atas tobat Allah.' Hingga aku masuk ke masjid — dan Rasulullah ﷺ tengah duduk di sana dikelilingi orang-orang. Maka Thalhah bin Ubaidillah bangkit menghampiriku dengan berlari kecil, lalu berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang bangkit menyambutku selain dia." Ka'ab tidak pernah melupakan perlakuan Thalhah tersebut.

"Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena gembira, lalu beliau bersabda: 'Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau jalani sejak ibumu melahirkanmu.' Aku bertanya: 'Apakah ini darimu, ya Rasulullah, ataukah dari Allah?' Beliau menjawab: 'Bukan, melainkan dari Allah.' Dan Rasulullah ﷺ apabila sedang gembira, wajah beliau bercahaya hingga seolah-olah sepotong rembulan, dan hal itu sudah dikenal dari beliau."

"Ketika aku duduk di hadapannya, aku berkata: 'Ya Rasulullah, sesungguhnya sebagai bagian dari tobatku, aku ingin melepaskan seluruh hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan Rasul-Nya.' Beliau bersabda: 'Tahanlah sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.' Aku berkata: 'Kalau begitu, aku tahan bagianku di Khaibar.' Dan aku berkata: 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku dengan kejujuran, dan sesungguhnya bagian dari tobatku adalah bahwa aku tidak akan berkata kecuali jujur selama aku masih hidup.'"

"Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang Allah uji dengan kejujuran dalam perkataan sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ dengan ujian yang lebih baik dari apa yang Allah berikan kepadaku. Demi Allah, aku tidak pernah sengaja berdusta sejak aku mengucapkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, dan aku sungguh berharap Allah menjagaku dalam sisa hidupku.". Kisahnya berakhir di sini.

Begitulah kisah Ka’b dan kedua kawnnya yang lebih memilih jujur mengatakan apa adanya meskipun berkonsekuensi dimarahi dan dihukum. Bagi mereka, lebih baik menjalani hukuman secara terhormat daripada lolos dari hukuman dengan cara berbohong. Tentang merekalah Allah berfirman dalam surat at-Taubah: 188. Kisah ini juga yang membuat nama surat itu dikenal sebagai at-Taubah (Pertobatan).

Mungkin ada yang bertanya mengapa Allah menghukum orang yang telah mengaku jujur tanpa basa-basi dan justru membiarkan orang yang membuat-buat alasan? Jawabannya, dengan cara inilah Allah menulis kisah hamba-hambanya yang spesial dengan tinta emas. Kalau tidak ada hukuman dramatis itu, sejarah akan melupakan mereka bertiga seperti halnya sejarah telah melupakan nama-nama orang yang banyak alasan itu tadi. Sering kali orang baik diuji dengan kisah dramatis agar generasi selanjutnya mampu mengingat dan mengambil pelajaran dari kisah mereka sebab otak manusia cenderung lebih mengingat hal-hal dramatis yang tidak biasa. Semoga bermanfaat.

--------

NB: 

(1) Kedua orang tersebut sebenarnya tidak ikut perang Badar, hanya saja perawi dalam sanad kisah ini lupa hingga menyebut mereka ikut perang Badar.

Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Kisah Kejujuran Ka'ab bin Malik dalam Perang Tabuk". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.