
Sunnah melepas sandal ketika di kuburan
Ada hadis nabawi berkata :
ุฃََّู ุงَّููุจَِّู ุฑَุฃَู ุฑَุฌُูุงً َูู ْุดِู ุจََْูู ุงُْููุจُูุฑِ َูุนََِْููู َูุนْูุงَِู ุณِุจْุชَِّูุชَุงِู ، ََููุงَู: َูุง ุตَุงุญِุจَ ุงูุณِّุจْุชَِّูุชَِْูู، ุฃَِْูู ุณِุจْุชَِّูุชََู! ََููุธَุฑَ ุงูุฑَّุฌُُู ََููู َّุง ุนَุฑََู ุฑَุณَُْูู ุงِููู، ุฎََูุนَُูู َุง َูุฑَู َู ุจِِูู َุง
Bahwa Rosululloh melihat seorang laki² berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal kulit, beliau bersabda: “Wahai orang yang memakai sandal kulit, Lemparkanlah kedua sandalmu.”
Laki-laki tersebut melihat, ternyata yang mengatakan itu adalah Rosululloh, diapun segera melepas dan melemparkan sandalnya. [Hadits diriwayatkan Abu Daud dan annasa’i dan dishohihkan oleh al hakim]
Dari hadis ini secara dzohir menunjukan Rosululloh melarang memakai sandal di kuburan dan memerintahkan untuk melepasnya..
__
Tetapi dalam hadis lain, ada sebuah riwayat yang menyebutkan :
ุฅَِّู ุงْูุนَุจْุฏَ ุฅِุฐَุง ُูุถِุนَ ِูู َูุจْุฑِِู، َูุชَََّููู ุนَُْูู ุฃَุตْุญَุงุจُُู ุฅَُِّูู َِููุณْู َุนُ َูุฑْุนَ ِูุนَุงِِููู ْ
Sesungguhnya seorang hamba apabila telah meninggal dunia ketika diletakkan di dalam kuburnya dan telah pergi orang-orang yang mengantarkannya, sungguh hamba tadi mendengar suara sandal-sandal mereka. [HR. Al-Bukhรขri dan Muslim]
ุฃََّู ุงْูู َِّูุชَ ََููุณْู َุนُ ุฎََْูู ِูุนَุงِِููู ْ ุฅِุฐَุง ََّْูููุง ู ُุฏْุจِุฑِِْูู
Sesungguhnya mayit itu mendengar suara sandal² orang yang mengantarkanya ke kuburan apabila mereka beranjak pergi meninggalkan kuburan.[HR. Al-Bazzar]
Dari hadis ini secara maknawi menjelaskan adanya orang² yang memakai sandal di kuburan dan didengarkan oleh mayit..
__
Kemudian menurut imam nawawi, beliau menjelaskan :
ุงูู ุดููุฑ ูู ู ุฐูุจูุง ุฃูู ูุง ููุฑู ุงูู ุดู ูู ุงูู ูุงุจุฑ ุจุงุงููุนููู ูุงูุฎููู ููุญููู ุง ู ู ู ุตุฑุญ ุจุฐุงูู ู ู ุงุตุญุงุจูุง ุงูุฎุทุงุจู ูุงูุนุจุฏุฑู ูุขุฎุฑูู ููููู ุงูุนุจุฏุฑู ุนู ู ุฐูุจูุง ูู ุฐูุจ ุงูุซุฑ ุงูุนูู ุงุก ูุงู ุงุญู ุฏ ุจู ุฑุญู ู ุงููู ููุฑู ููุงู ุตุงุญุจ ุงูุญุงูู ูุฎูุน ูุนููู ูุญุฏูุซ ุจุดูุฑ ุจู ู ุนุจุฏ ุงูุตุงุญุจู ุงูู ุบุฑูู ุจุงุจู ุงูุฎุตุงุตูุฉ ูุงู “ุจูููู ุง ุงูุง ุฃู ุงุดู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุธุฑ ูุฅุฐุง ุฑุฌู ูู ุดู ูู ุงููุจูุฑ ุนููู ูุนูุงู ููุงู ูุงุตุงุญุจ ุงูุณุจุชุชูู ููุญู ุงูู ุณุจุชุชูู ููุธุฑ ุงูุฑุฌู ููู ุง ุนุฑู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฎูุนูุง “ุฑูุงู ุฃุจู ุฏุงูุฏ ูุงููุณุงุฆู ุจุงุณูุฏ ุญุณู ูุงุญุชุฌ ุฃุตุญุง ุจูุง ุจุญุฏูุซ ุฃูุณ ุฑุถู ุงููู ุนูู ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุงู ” ุงูุนุจุฏ ุฅุฐุง ูุถุน ูู ูุจุฑู ูุชููู ูุฐูุจ ุฃุตุญุงุจู ุญุชู ุฅูู ููุณู ุน ูุฑุน ูุนุงููู ุงุชุงู ู ููุงู ูุงูุนุฏุงู ุงูู ุขุฎุฑ ุงูุญุฏูุซ ” ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ูู ุณูู (ูุฃุฌุจูุง) ุนู ุงูุญุฏูุซ ุงูุงูู ุจุฌูุจูู (ุฃุญุฏูู ุง)ูุจู ุฃุฌุงุจ ุงูุฎุทุงุจู ุงูู ูุดุจู ุงูู ูุฑููู ุง ุงูู ุนูู ูููู ุง ูุงู ุงููุนุงู ุงูุณุจุชูู –ุจูุณุฑ ุงูุณูู-ูู ุงูู ุฏุจูุบุฉ ุจุงููุฑุธ ููู ูุจุงุณ ุฃูู ุงูุชุฑูุฉ ูุงูุชูุนู ูููู ุนููู ุง ูู ุง ูููู ุง ู ู ุงูุฎููุงุก ูุงุญุจ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฃู ูููู ุฏุฎููู ุงูู ูุงุจุฑ ุนูู ุฒู ุงูุชูุงุถุน ููุจุงุณ ุฃูู ุงูุฎุดูุน (ูุงูุซุงูู) ูุนูู ูุงู ูููู ุง ูุฌุงุณุฉ ูุงููุง ูุญู ููุง ุนูู ุชุฃูููู ุงูุฌู ุน ุจูู ุงูุญุฏูุซูู(ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ู ู ุณูู )
Masyhur dalam mazhab kami (Mazhab Syafi’i), tidaklah makruh memakai sandal atau khuf ketika memasuki area pemakaman, Yang menegaskan demikian, yaitu Imam Al Khottobi dari ulama Syafi’iyyah, juga disampaikan oleh Al Abdari dan ulama Syafi’i lainya. Hal ini dinukil oleh Al-Abdari dari pendapat syafi’iyyah dan mayoritas ulama..
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa memakai sandal ketika di kuburan itu dimakruhkan..
Penulis kitab al-Hawi mengatakan bahwa sandal semestinya dilepas seketika memasuki area pemakaman mengingat Hadits dari Basyir bin Ma’bad, salah seorang sahabat yang ma’ruf dengan nama Ibnul Khossosiyyah.
Beliau berkata, Pada suatu hari, saya berjalan bersama Rasulullah, tiba-tiba beliau melihat orang yang berjalan di area pemakaman memakai sandal. Maka beliau menegurnya, “Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu!” Orang tersebut lantas melihat. Ketika itu, dia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah. Lalu dia mencopot sandalnya. [ Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An-Nasai dengan sanad yang hasan]
Para sahabat kami berhujjah dengan hadis Anas dari kanjeng Nabi yang bersabda: ‘Seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya telah berpaling dan pergi meninggalkannya, hingga dia benar² mendengar suara sandal mereka, maka datanglah kepadanya dua malaikat lalu keduanya mendudukkannya, sampai akhir hadis.” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Mereka menjawab hadis yang pertama dengan hadis kedua :
Pertama, dan dengan jawaban ini Al Khaththabi menjawab, kayaknya Nabi memakruhkan kedua sandal itu karena makna yang ada pada keduanya, Sebab sandal sabtiyyah (dengan kasrah pada huruf sin) adalah sandal yang disamak dengan qarazh (sejenis bahan penyamak kulit) dan merupakan pakaian orang-orang yang hidup dalam kemewahan dan kenikmatan. Maka beliau melarangnya karena di dalamnya terdapat unsur kesombongan. Nabi menyukai agar seseorang memasuki kuburan dengan penampilan yang menunjukkan kerendahan hati dan pakaian orang-orang yang khusyuk.
Kedua, barangkali pada kedua sandal itu terdapat najis.
Mereka berkata: kami menafsirkan demikian untuk menjami'kan antara dua hadis tersebut.
[ Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ]
Sumber FB Ustadz : Tsabit Abi Fadhil II