Gerhana, Ramadhan dan Perdebatan KHGT vs Imkan Rukyat

Gerhana Ramadhan dan Perdebatan KHGT vs Imkan Rukyat

Saya kira saya sudah pensiun membahas perbandingan antara metode hisab imkan rukyat dengan KHGT. Namun ternyata saya salah.

Kemarin saat scroll media sosial, saya menemukan satu postingan yang cukup menggelitik. Intinya, penulis menjadikan terjadinya gerhana bulan sebagai validasi kebenaran KHGT. Menurutnya, berdasarkan KHGT gerhana terjadi tepat pada malam 15 Ramadhan, sesuai standar astronomis, karena gerhana bulan memang terjadi pada puncak purnama.

Sebaliknya, jika memakai standar MABIMS dengan imkan rukyat, gerhana kemarin terjadi pada tanggal 14 Ramadhan, yang menurutnya berarti bukan tengah bulan secara astronomis.

Terus terang saya agak miris membaca cara berpikir seperti ini. Sebab andai penulis tersebut memahami bahwa siklus bulan tidak pernah tepat 30 hari penuh, tentu ia akan tahu bahwa puncak purnama tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama. Ia bisa terjadi pada tanggal 14, kadang pada tanggal 15. Gerhana pada tanggal 15 bukanlah sesuatu yang mutlak. Dalam siklus bulan yang rata-rata sekitar 29 setengah hari, pergeseran seperti itu justru hal yang sangat wajar.

Tapi urusan ini justru memantik lintasan pikiran lain yang menurut saya tidak boleh diabaikan. Dalam syariat, ada ibadah yang memang disunnahkan pada pertengahan bulan, yaitu puasa ayyamul bidh. Sejak dahulu kaum muslimin mengenal ayyamul bidh sebagai puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah. Ini bukan sekadar kebiasaan ulama, tetapi berdasarkan hadis Nabi ﷺ:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Puasa ayyamul bidh dilakukan ketika bulan sedang terang-benderang. Dalam pengamatan tradisional umat Islam: tanggal 13 adalah awal purnama, tanggal 14 adalah puncaknya, dan tanggal 15 adalah penghujungnya. Menariknya, kalau kita perhatikan teks hadis ini, secara implisit, puncak purnama justru berada pada malam 14, bukan malam 15.

Ini menunjukkan bahwa dalam praktik fikih, siklus bulan yang dijadikan patokan memang sedikit berbeda dari siklus astronomis murni. Fikih mengikuti realitas rukyat dan pengalaman pengamatan hilal yang diwariskan dalam tradisi syariat. Karena itu saya pribadi berpendapat, menurut keyakinan saya, dalam urusan ibadah, standar yang seharusnya dipakai adalah standar fikih yang berlandaskan wahyu, bukan standar sains yang terus berkembang.

Namun kalau ada yang ingin konsisten menjadikan astronomi sebagai standar ibadah, maka konsekuensinya tidak berhenti pada penentuan awal bulan saja.

Jadwal puasa ayyamul bidh juga harus ikut direvisi. Bukan lagi 13–14–15 dengan malam 14 sebagai puncak purnama, tetapi menjadi 14–15–16 dengan malam 15 sebagai puncak purnama.

Benar kan?

---

Terkait kelemahan KHGT secara dalil (misalnya riwayat Kuraib dan Ibnu Abbas tentang perbedaan mathla’) serta secara astronomis (bahwa bulan tidak mungkin terlihat di seluruh permukaan bumi dalam satu waktu karena ada fase terbit dan terbenamnya), hal itu sudah pernah saya bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya. Silakan dicek kembali. Semoga bermanfaat.

---

Sebagai kader, saya merasa dialektika ilmiah di dalam organisasi perlu terus dihidupkan. Dalam beberapa isu saya bisa saja sepakat dengan keputusan organisasi, seperti pengelolaan tambang, selama prinsip tidak tergadaikan.

Namun untuk KHGT, saya masih memiliki beberapa isykal, dan saya rasa saya berhak menyampaikannya. Bukankah tidak ada yang maksum kecuali Rasulullah ﷺ? Dan bukankah KHGT, bisa saja nanti ditinggalkan, sebagaimana standar wujudul hilal sebelumnya juga ditinggalkan?

Sebab dalam tradisi ilmu, pertanyaan yang jujur tidak pernah meruntuhkan kebenaran—ia hanya menyingkapkannya.

Sumber FB Ustadz : Fakhry Emil Habib 

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Gerhana, Ramadhan dan Perdebatan KHGT vs Imkan Rukyat". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.