
𝗕𝗔𝗕 𝗜𝗜𝗜: 𝗞𝗘𝗗𝗨𝗗𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗚𝗨𝗡𝗚 𝗦𝗔𝗬𝗜𝗗𝗜𝗡𝗔 𝗔𝗕𝗨 𝗕𝗔𝗞𝗔𝗥 & 𝗨𝗠𝗔𝗥
Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Di dalam kitab-kitab Syiah terdapat banyak "hadits" celaan bahkan tuduhan yang berat terhadap para shahabat Nabi ridhwanallahu 'alaihim jami'an, dan tentang ini kami rasa sudah banyak dari kita yang telah mengetahuinya.
Namun yang tak dapat dipungkiri dalam kitab-kitab mereka juga ada banyak riwayat yang menyebutkan hal sebaliknya, yakni berupa penyebutan keutamaan dan kedudukan mulia para shahabat, termasuk di antaranya adalah sayidina Abu Bakar dan Umar radhiyallahu'anhuma.
Dan di seri ketiga ini, secara khusus kita akan menyebutkan adanya riwayat pujian, pembelaan dan pengakuan akan kedudukan agung sayidina Abu Bakar dan Umar dalam kitab-kitab induk kelompok Syiah.
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, dari ‘Urwah bin ‘Abdillah, ia berkata:
سألت أبا جعفر محمد بن علي عليهما السلام عن حلية السيوف، فقال: لا بأس به، قد حلّى أبو بكر الصديق رضي الله عنه سيفه، قلت: فتقول: الصديق؟ قال: فوثب وثبة واستقبل القبلة وقال: نعم الصديق، نعم الصديق، نعم الصديق فمن لم يقل له الصديق فلا صدّق الله له قولاً في الدنيا ولا في الآخرة
Aku bertanya kepada Abu Ja‘far Muhammad bin Ali tentang hiasan pada pedang. Beliau menjawab: “Tidak masalah. Abu Bakar ash Shiddiq juga menghiasi pedangnya.”
Aku berkata:“Engkau menyebutnya ash Shiddiq?”
Maka beliau seketika berdiri, menghadap kiblat, dan berkata: “Ya, ash Shiddiq! Ya, ash Shiddiq! Ya, ash Shiddiq! Barangsiapa tidak menyebutnya ash Shiddiq, maka semoga Allah tidak membenarkan ucapannya di dunia dan di akhirat.”[1]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮, sayidina Ali Bin Abi Thalib berkata:
فمشيت عنـد ذلك إلى أبـي بكر فبـايعته ونهضت في تلك الأحداث حتى زاغ الباطل وزهق وكانت (كلمة الله هي العليا ولو كره الكافرون) فتولى أبو بكر تلك الأمور فيسر وسدد وقارب واقتصد فصحبته مناصحاً وأطعته فيما أطاع الله فيه جاهداً
“…Maka aku pun pergi kepada Abu Bakar lalu membaiatnya, dan aku bangkit dalam berbagai peristiwa hingga kebatilan tersingkir dan lenyap, dan kalimat Allah menjadi tinggi walaupun orang-orang kafir membencinya.
Maka Abu Bakar mengurus perkara tersebut dengan baik, lurus, mendekatkan (kebaikan), dan bersikap pertengahan. Aku pun menemaninya dengan memberikan nasihat dan mentaatinya dalam apa yang ia taati kepada Allah dengan sungguh-sungguh.”[2]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, surat sayidina Ali kepada Muawiyah radhiyallahu’anhuma:
إنه بايَعني القومُ الذين بايعوا أبا بكر، وعمر، وعثمان، على ما بايعوهم عليه، فلم يكن لشاهد أن يختار، ولا للغائب أن يرد، وإنَّما الشورى للمهاجرين والأنصار، فإنِ اجتمعوا على رجُلٍ، وسموه إماماً، كانَ ذلك لله رِضي، فإن خرج من أمرِهِم خارج بطعن، أو بدعة، ردوه إلى ما خرج منه، فإن أبَى قاتلوهُ على اتباعهِ غير سبيل المؤمنين، وولَاه الله ما تولَّى
“Sesungguhnya orang-orang yang telah membaiatku adalah orang-orang yang dahulu membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dengan cara yang sama seperti mereka membaiat ketiganya. Maka tidak ada hak bagi yang hadir untuk memilih yang lain, dan tidak pula bagi yang tidak hadir untuk menolak. Sesungguhnya urusan syura itu milik kaum Muhajirin dan Anshar. Jika mereka sepakat atas seorang laki-laki dan menamakannya sebagai imam, maka itu adalah keridhaan di sisi Allah.
Jika ada yang keluar dari keputusan mereka dengan celaan atau bid‘ah, maka ia dikembalikan kepada apa yang ia tinggalkan. Jika ia menolak, maka diperangi karena mengikuti selain jalan kaum mukminin, dan Allah akan menyerahkannya kepada apa yang ia pilih.”[3]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, sayidina Ali bin Abi Thalib berkata:
وكان أفضلهم في الإسلام كما زعمت وأنصحهم لله ولرسوله الخليفة الصديق والخليفة الفاروق ولعمري أن مكانهما في الإسلام لعظيم وإن المصاب بهما لجرح في الإسلام شديد رحمهما الله وجزاهما بأحسن ما عملاً
“Dan yang paling utama di antara mereka dalam Islam—sebagaimana engkau katakan—dan yang paling tulus kepada Allah dan Rasul-Nya adalah khalifah ash Shiddiq dan khalifah al Faruq. Demi umurku, kedudukan keduanya dalam Islam sangatlah besar, dan musibah (wafatnya) keduanya merupakan luka besar bagi Islam. Semoga Allah merahmati keduanya dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas apa yang mereka lakukan.”[4]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗺𝗮, Muhammad Al Kashif al Ghita’ berkata:
وحين رأى (أي عليّ بن أبي طالب) - أن الخليفتين - أعني الخليفــة الأول والثاني (أي أبو بكر وعمر) بذلا أقصى الجهد في نشر كلمة التوحيد وتجهيز الجنود وتوسيع الفتوح ولم يستأثرا ولم يستبدا بايع وسالم
“Ketika Ali bin Abi Thalib melihat bahwa dua khalifah, yakni khalifah pertama dan kedua (Abu Bakar dan Umar), telah mengerahkan usaha maksimal dalam menyebarkan tauhid, mempersiapkan pasukan, dan memperluas penaklukan, serta tidak bersikap egois atau otoriter, maka ia pun berbaiat dan berdamai.”[5]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗲𝗻𝗮𝗺, Sayidina Ali dalam khutbahnya mengatakan:
ووليهم والٍ فأقام واستقام حتى ضرب الدين بجرانه
“Dan mereka dipimpin oleh seorang pemimpin, maka ia menegakkan (urusan) dan beristiqamah, hingga agama kokoh dan tegak.”[6]
Ibnu Abi al Hadid salah seorang ulama Syiah menjelaskan : “Pemimpin yang dimaksud di sini adalah Umar bin Khattab.”[7]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵, Ibrahim ats Tsaqafi membawakan perkataan sayidina Ali tentang sayidina Umar:
وتولى عمر الأمر وكان مرضيّ السيرة، ميمون
“…Umar memegang urusan (pemerintahan), dan ia adalah orang yang diridhai perjalanan (kepemimpinannya), penuh keberkahan…”[8]
𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗱𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗻, Ketika sayidina Umar meminta pendapat Ali untuk keluar memimpin perang melawan Romawi, beliau berkata kepadanya:
إنك متى تسر إلى هذا العدو بنفسك، فتَلْقَهُم بشخصك فتُنكب، لا تكن للمسلمين كانفة دون أقصى بلادهم، ليس بعدك مرجع يرجعون إليه، فابعث إليهم رجـلاً محْرَباً، واحفز معه أهل البلاء والنصيحة، فإن أظهرك الله فذاك ما تحب، وإن تكن الأُخرى كنت ردءاً للناس ومثابة
“Sesungguhnya jika engkau sendiri berangkat menghadapi musuh ini, lalu engkau bertemu mereka secara langsung kemudian engkau tertimpa musibah (kalah atau terbunuh), maka tidak akan ada lagi tempat perlindungan bagi kaum Muslimin hingga ke ujung negeri mereka. Tidak ada lagi tempat rujukan setelahmu yang bisa mereka kembali kepadanya.
Maka kirimlah kepada mereka seorang panglima yang berpengalaman dalam perang, dan dukunglah ia dengan orang-orang yang memiliki keberanian dan nasihat. Jika Allah memberikan kemenangan kepadamu, itulah yang engkau inginkan. Dan jika terjadi sebaliknya, maka engkau tetap menjadi pelindung bagi manusia dan tempat kembali bagi kaum Muslimin.”[9]
…
𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀, driwayatkan dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya:
سمعتك تقول في الخطبة آنفا اللهم اصلحنا بما اصلحت به الخلفاء الراشدين فمن هما قال حبيباي وعماك ابوبكر وعمر اماما الهدى وشيخا الاسلام ورجلا قريش والمقتدي بهما بعد رسول الله صلى الله عليه وآله من اقتدى بهما عصم ومن اتبع آثارهما هدى الي صراط مستقيم
“Bahwa seorang laki-laki dari Quraisy datang kepada Amirul Mukminin (Ali ) dan berkata: “Aku mendengarmu dalam khutbah tadi berkata: ‘Ya Allah, perbaikilah kami dengan apa yang Engkau perbaiki dengannya para khalifah yang lurus.’ Siapakah mereka?”
Ali menjawab: “Keduanya adalah yang kucintai dan paman-pamanmu: Abu Bakar dan Umar. Keduanya adalah imam petunjuk, pemimpin Islam, dan tokoh Quraisy. Siapa yang mengikuti keduanya setelah Rasulullah ﷺ akan terjaga, dan siapa yang meneladani jejak keduanya akan mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.”[13]
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀, disebutkan dalam hadits Abu Bashir tentang seorang wanita yang datang kepada al imam Ja‘far ash Shadiq radhiyallahu’anhu dan bertanya tentang Abu Bakar dan Umar. Beliau berkata:
تولّيهما. فقالت: فأقول لربي اذا لقيته انك أمرتني بولايتهما ؟ قال نعم.
“Berloyalitaslah kepada keduanya.”
Wanita itu berkata: “Apakah aku boleh mengatakan kepada Rabbku ketika aku bertemu-Nya bahwa engkau memerintahkanku untuk berloyalitas kepada keduanya?”
Beliau menjawab: “Ya.”[14]
𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀, dari ‘Auf bin Malik, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda:
يا ليتني قد لقيت اخواني، فقال أبو بكر وعمر: أولسنا اخوانك آمنا بك وهاجرنا معاك؟ قال: قد آمنتم بي وهاجرتم، ويا ليتني قد لقيت اخواني، فأعادا القول، فقال رسول ﷺ: أنتم أصحابي ولكن اخواني الذين يأتون من بعدكم يؤمنون بي ويحبوني وينصروني ويصدقوني وما رأوني، فيا ليتني قد لقيت اخواني
“Seandainya aku bisa bertemu dengan saudara-saudaraku.” Abu Bakar dan Umar berkata: “Bukankah kami ini saudara-saudaramu? Kami beriman kepadamu dan berhijrah bersamamu.”
Beliau bersabda: “Kalian adalah sahabatku.
Tetapi saudara-saudaraku adalah orang-orang yang datang setelah kalian; mereka beriman kepadaku, mencintaiku, menolongku, dan membenarkanku, padahal mereka tidak pernah melihatku. Maka sungguh aku ingin bertemu dengan saudara-saudaraku itu.”[15]
𝗞𝗲𝗲𝗻𝗮𝗺 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀, Imam keempat menurut Syiah Imamiyah, Ali bin Husain (Zainal Abidin), juga berkata—sebagaimana diriwayatkan oleh ulama mereka Ali bin Abi al Fath al Irbili:
“Sekelompok orang dari Irak datang kepadanya lalu mereka berbicara tentang Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Setelah mereka selesai, beliau berkata: “Beritahukan kepadaku, apakah kalian termasuk: ‘Orang-orang Muhajirin yang pertama… mereka itulah orang-orang yang benar?’”
Mereka menjawab: “Tidak.”
Beliau berkata:“Apakah kalian termasuk: ‘Orang-orang Anshar yang mencintai orang yang berhijrah kepada mereka…?’”
Mereka menjawab: “Tidak.”
Beliau berkata: “Kalian telah berlepas diri dari dua golongan ini, dan aku bersaksi bahwa kalian bukan termasuk orang-orang yang Allah firmankan: ‘Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka berkata: Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, dan jangan jadikan dalam hati kami kebencian terhadap orang-orang beriman…’
Pergilah kalian dariku! Semoga Allah memperlakukan kalian (dengan balasan yang pantas)!”[18]
𝗞𝗲𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀, tokoh besar tafsir Syiah, Ali bin Ibrahim al Qummi berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada Hafshah radhiyallahu’anha:
أفضى إليك سرا فقالت نعم ما هو فقال أن أبا بكر يلي الخلافة بعدي ثم من بعده أبوك فقلت من أخبرك بهذا قال الله أخبرني
“Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah rahasia.’ Ia berkata: ‘Apa itu?’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Abu Bakar akan menjadi khalifah setelahku, kemudian setelahnya ayahmu (Umar).’ Ia bertanya: ‘Siapa yang memberitahumu hal itu? Beliau menjawab: Allah yang memberitahuku.”[19]
Simak bahasan lengkapnya di https://astofficial.id :
I. Sepintas sekilas kitab-kitab rujukan Syiah
II. Kedudukan Agung shahabat Nabi dalam kitab Syiah
III. Kedudukan Agung Abu Bakar dan umar dalam kitab Syiah
IV. Kedudukan Agung beberapa shahabat dalam kitab Syiah
V. Adanya fatwa ulama Syiah yang mengkafirkan pencela shahabat Nabi
________________________________________
[1] Kashf al Ghummah(2/360)
[2] Al Gharat karya ats Tsaqafi (2/ 305)
[3] Nahjul Balaghah, hlm. 530
[4] Syarah Nahj al Balaghah (1/31)
[5] Aslu Asy Syi’ah wa Ushuluha hlm 124
[6] Nahjul Balaghah, hlm. 794
[7] Syarh Nahj al Balaghah (4/519)
[8] Al Gharat (1/307)
[9] Nahjul Balaghah hlm. 296–297
[10] Nahjul Balaghah hlm. 257-258
[11] Nahjul Balaghah hlm. 291
[12] Uyun Akhbar (1/313)
[13] Asy Syafi fil Imamah (3/93)
[14] Ar Raudhah lil Kalini hlm. 29
[15] Bihar al Anwar (52/135)
[16] Asy Syafi fil Imamah (2/248)
[17] Talkhis Asy Syafi’ (2/428)
[18] Kashf al Ghummah (2/291)
Sumber FB Ustdaz : Ahmad Syahrin Thoriq