
Salaf, Khalaf, dan Kekeliruan Klaim “Paling Sunnah”: Meluruskan Pemahaman Bid’ah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Istilah salaf dan khalaf sering digunakan dalam diskursus keislaman, khususnya dalam pembahasan bid’ah. Sayangnya, tidak sedikit orang yang menggunakan istilah tersebut secara sempit dan keliru, bahkan menjadikannya alat untuk mengklaim bahwa hanya satu kelompok yang paling sunnah dan paling benar.
Ahlussunnah wal Jama’ah memandang salaf dan khalaf sebagai mata rantai keilmuan yang saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan apalagi dijadikan legitimasi membid’ahkan umat Islam.
Pengertian Salaf dan Khalaf dalam Tradisi Ulama
Secara istilah, salaf merujuk kepada generasi awal umat Islam yang hidup dekat dengan masa Rasulullah ﷺ, seperti sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sedangkan khalaf adalah ulama yang datang setelah mereka hingga masa kini.
Para ulama Ahlussunnah tidak memahami salaf sebagai kelompok eksklusif, melainkan sebagai generasi teladan dalam ilmu, akhlak, dan pengamalan agama.
Salaf Tidak Pernah Mengklaim Diri “Paling Sunnah”
Salah satu kekeliruan besar adalah menganggap bahwa salaf memiliki satu bentuk praktik agama yang kaku dan tidak berubah. Padahal para sahabat sendiri memiliki perbedaan pendapat dalam banyak masalah cabang.
Perbedaan tersebut tidak pernah membuat mereka saling menyesatkan, apalagi mengklaim kelompok lain sebagai ahli bid’ah.
Peran Khalaf dalam Menjaga dan Mengembangkan Ilmu
Ulama khalaf memiliki peran besar dalam menyusun metodologi ilmu, membukukan fiqih, ilmu hadits, ushul fiqih, dan akidah. Tanpa jasa mereka, umat Islam akan kesulitan memahami warisan keilmuan salaf.
Karya-karya imam besar seperti Imam An-Nawawi, Imam Al-Ghazali, dan para ulama mazhab merupakan bukti bahwa inovasi ilmiah bukanlah bid’ah sesat.
Klaim “Paling Sunnah” dan Bahayanya
Mengklaim diri sebagai kelompok paling sunnah sering kali berujung pada sikap merasa paling benar dan meremehkan umat Islam lainnya. Sikap ini bertentangan dengan adab para ulama salaf sendiri.
Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan bahwa kebenaran harus disertai kerendahan hati, bukan kesombongan.
Bid’ah dan Perkara Baru dalam Perspektif Salaf dan Khalaf
Baik salaf maupun khalaf memahami bahwa tidak setiap perkara baru dalam agama otomatis tercela. Selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan kaidah syariat, maka perkara tersebut dapat diterima sebagai kemaslahatan.
Inilah yang menjadi dasar diterimanya banyak praktik keagamaan dan sarana dakwah yang tidak ada secara eksplisit di masa awal Islam.
Kesalahan Metodologis dalam Memahami Sunnah
Sebagian orang memahami sunnah hanya dari sisi bentuk lahiriah, tanpa memperhatikan tujuan dan hikmah syariat. Akibatnya, mereka mudah menyalahkan amalan yang berbeda meski memiliki dasar kuat.
Para ulama Ahlussunnah selalu menekankan pentingnya memahami sunnah secara menyeluruh dan proporsional.
Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah
- Menghormati salaf tanpa menutup pintu ijtihad
- Menghargai ulama khalaf sebagai pewaris ilmu
- Tidak mudah membid’ahkan amalan umat
- Menjaga adab dan persatuan kaum muslimin
Penutup
Salaf dan khalaf bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan satu mata rantai keilmuan dalam Islam. Klaim sepihak sebagai kelompok “paling sunnah” justru bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengedepankan ilmu, adab, dan persatuan umat.