Bahaya Mudah Membid'ahkan dan Menyesatkan: Dari Fanatisme Menuju Perpecahan Umat

Bahaya Mudah Membid'ahkan dan Menyesatkan Dari Fanatisme Menuju Perpecahan Umat

Bahaya Mudah Membid’ahkan dan Menyesatkan: Dari Fanatisme Menuju Perpecahan Umat

Fenomena mudah membid’ahkan dan menyesatkan sesama muslim merupakan salah satu penyakit serius dalam kehidupan beragama. Sikap ini tidak hanya menyebabkan perpecahan, tetapi juga mencederai adab ilmiah dan akhlak Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Padahal, para ulama sejak generasi salaf telah menegaskan bahwa tidak setiap perbedaan atau amalan yang tidak dikenal oleh seseorang dapat langsung dihukumi sebagai bid’ah sesat.

Makna Membid’ahkan dan Menyesatkan

Membid’ahkan berarti menilai suatu amalan sebagai bid’ah tercela, sedangkan menyesatkan adalah menghukumi pelakunya berada di luar jalan kebenaran. Dua sikap ini memiliki konsekuensi besar dan tidak boleh dilakukan kecuali dengan ilmu yang mendalam.

Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa hukum atas suatu amalan harus dikembalikan kepada kaidah syariat dan penjelasan ulama mu’tabar, bukan perasaan atau logika pribadi.

Bahaya Fanatisme Kelompok

Fanatisme kelompok sering menjadi pemicu utama sikap mudah membid’ahkan. Seseorang hanya menerima kebenaran dari kelompoknya sendiri dan menolak pendapat ulama lain meski memiliki dasar kuat.

Fanatisme semacam ini bertentangan dengan manhaj ulama salaf yang saling menghormati perbedaan ijtihad dan menjaga persaudaraan.

Perbedaan Tidak Selalu Menunjukkan Kesesatan

Sejarah Islam mencatat banyak perbedaan pendapat di kalangan sahabat dan ulama besar dalam masalah cabang. Namun perbedaan tersebut tidak pernah dijadikan alasan untuk saling menyesatkan.

Ahlussunnah wal Jama’ah membedakan antara perbedaan ijtihadiyah yang dibenarkan dan penyimpangan yang benar-benar menyimpang dari prinsip dasar agama.

Dampak Negatif Sikap Mudah Menyesatkan

Sikap mudah menyesatkan melahirkan suasana saling curiga, memutus ukhuwah, dan menutup pintu dialog ilmiah. Bahkan, tidak jarang menyebabkan umat menjauh dari dakwah Islam yang seharusnya rahmatan lil ‘alamin.

Lebih jauh, sikap ini dapat merusak citra Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akhlak dan kebijaksanaan.

Teladan Ulama Ahlussunnah dalam Menyikapi Perbedaan

Para imam mazhab menunjukkan keteladanan luar biasa dalam menyikapi perbedaan. Mereka tegas dalam prinsip, namun lembut dalam pendekatan dan tidak mudah menghakimi.

Imam-imam besar selalu mengingatkan bahwa kebenaran ijtihad bersifat zhanni dan tidak pantas dijadikan alasan untuk memvonis sesama muslim.

Prinsip Kehati-hatian dalam Menilai Bid’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah menekankan sikap wara’ dan kehati-hatian dalam menilai bid’ah. Kesalahan dalam menghukumi amalan orang lain dapat berakibat dosa besar jika dilakukan tanpa dasar yang jelas.

Oleh karena itu, para ulama selalu mendahulukan klarifikasi, penjelasan ilmiah, dan nasihat yang bijak.

Langkah Menjaga Persatuan Umat

  • Memperdalam ilmu agama dari ulama mu’tabar
  • Menghindari fanatisme sempit
  • Mengutamakan adab dalam berdakwah
  • Membedakan antara khilafiyah dan penyimpangan

Penutup

Mudah membid’ahkan dan menyesatkan bukanlah ciri Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebaliknya, manhaj Aswaja mengajarkan keseimbangan antara ketegasan dalam prinsip dan kelapangan dalam menyikapi perbedaan. Dengan menjaga adab dan persatuan, umat Islam dapat terhindar dari perpecahan dan tetap berada di atas jalan yang lurus.

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Bahaya Mudah Membid'ahkan dan Menyesatkan: Dari Fanatisme Menuju Perpecahan Umat". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit