Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Menjaga Umat dari Bid’ah dan Penyimpangan Tanpa Sikap Berlebihan

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Menjaga Umat dari Bid’ah dan Penyimpangan Tanpa Sikap Berlebihan

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Menjaga Umat dari Bid’ah dan Penyimpangan Tanpa Sikap Berlebihan

Menjaga kemurnian ajaran Islam dari bid’ah dan penyimpangan merupakan kewajiban seluruh umat. Namun kewajiban ini harus dijalankan dengan ilmu, adab, dan kebijaksanaan. Di sinilah Ahlussunnah wal Jama’ah menawarkan manhaj yang seimbang, tidak berlebihan dalam menghukumi, dan tidak pula meremehkan penyimpangan.

Sejarah Islam membuktikan bahwa sikap ekstrem—baik terlalu keras maupun terlalu longgar—sama-sama berbahaya bagi keutuhan umat.

Makna Menjaga Agama Menurut Manhaj Aswaja

Menjaga agama bukan berarti memusuhi sesama muslim atau mencari-cari kesalahan. Menjaga agama adalah memastikan bahwa pemahaman dan praktik keislaman tetap berada dalam koridor Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama mu’tabar.

Ahlussunnah wal Jama’ah memahami bahwa tidak semua perkara baru otomatis sesat, sebagaimana tidak semua perbedaan dapat ditoleransi.

Bahaya Ghuluw dalam Memerangi Bid’ah

Ghuluw (berlebihan) dalam memerangi bid’ah sering muncul dalam bentuk mudah mengkafirkan, menyesatkan, atau menuduh tanpa ilmu. Sikap ini justru bertentangan dengan tujuan syariat yang menjaga agama dan persatuan.

Para ulama menegaskan bahwa kekerasan dalam sikap sering kali lahir dari pemahaman yang dangkal dan semangat yang tidak dibarengi ilmu.

Bahaya Tafrith: Meremehkan Penyimpangan

Sebaliknya, tafrith—yakni sikap terlalu longgar—juga berbahaya. Menganggap semua praktik agama sebagai benar tanpa pengujian ilmiah dapat membuka pintu penyimpangan akidah dan ibadah.

Ahlussunnah wal Jama’ah menolak sikap permisif yang mengaburkan batas antara sunnah dan bid’ah.

Jalan Tengah Ahlussunnah wal Jama’ah

Manhaj Aswaja berdiri di tengah: tegas dalam prinsip, lembut dalam pendekatan. Ulama Ahlussunnah selalu mendahulukan penjelasan, pendidikan, dan nasihat sebelum vonis.

Bid’ah ditolak dengan hujjah, bukan dengan celaan. Kesalahan diperbaiki dengan ilmu, bukan dengan kebencian.

Peran Ulama dalam Menjaga Keseimbangan

Ulama berperan sebagai penjaga keseimbangan umat. Mereka memahami maqashid syariah, realitas masyarakat, dan dampak sosial dari sebuah fatwa. Oleh karena itu, pendapat ulama tidak lahir dari emosi, melainkan dari pertimbangan yang matang.

Mengabaikan peran ulama dan menggantikannya dengan opini pribadi merupakan pintu utama penyimpangan.

Adab Ikhtilaf sebagai Benteng Persatuan

Ahlussunnah wal Jama’ah menempatkan adab ikhtilaf sebagai benteng persatuan. Perbedaan disikapi dengan lapang dada selama masih berada dalam wilayah ijtihad.

Dengan adab inilah umat Islam mampu bertahan melewati berbagai fitnah sepanjang sejarah.

Langkah Praktis Menjaga Diri dari Penyimpangan

  • Belajar agama dari ulama mu’tabar
  • Tidak tergesa-gesa dalam menghukumi
  • Membedakan bid’ah hakiki dan khilafiyah
  • Mengutamakan persatuan dan maslahat umat

Penutup Pilar

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah hadir sebagai jalan keselamatan, menjaga umat dari penyimpangan tanpa terjatuh pada sikap berlebihan. Dengan keseimbangan antara ilmu, adab, dan hikmah, umat Islam dapat terus beragama secara lurus, damai, dan penuh rahmat.

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Menjaga Umat dari Bid’ah dan Penyimpangan Tanpa Sikap Berlebihan". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit