Ketika Doa Nabi SAW Ditolak Allah, Apa yang Terjadi pada Umat?

Ketika Doa Nabi SAW Ditolak Allah, Apa yang Terjadi pada Umat?

KETIKA DOA NABI SAW DITOLAK

Sebagai seorang nabi yang paling utama, wajarlah bila beliau memiliki kedekatan khusus dan posisi yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. 

Salah satu bukti tak terbantahkan dari kedekatan itu adalah bagaimana setiap doa yang meluncur dari lisan suci beliau selalu diijabah dalam waktu yang teramat singkat.

Sejarah mencatat sebuah peristiwa menakjubkan pada suatu hari Jumat, ketika musim paceklik yang mencekik menimpa kota Madinah. 

Saat Nabi sedang berkhutbah, seseorang meminta beliau berdoa agar hujan turun. Di detik itu juga, Nabi mengangkat kedua tangannya ke langit. 

Dan keajaiban pun terjadi. Tangan yang terangkat ke langit itu belum diturunkan, lafaz doa itu belum diakhiri, tapi rintik hujan seketika sudah turun membasahi bumi. 

Betapa dekatnya Allah kepada sang Nabi tercinta. Belum selesai ia bermunajat, langit sudah menjawabnya.

Keistimewaan ini bahkan melampaui batas dunia. Kelak di akhirat, orang-orang yang sudah terjerembab di dalam kerak neraka sekalipun bisa ditarik keluar melalui fasilitas khusus, hak prerogatif mutlak yang hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW: asy-syafa'ah Al-Kubra.

Jika kita menengok kisah-kisah di dalam Al-Qur'an tentang nasib umat-umat terdahulu, kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, hingga kaum Luth, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengelak dari kebinasaan total ketika mereka menolak beriman. 

Sunnatullah menetapkan bahwa kekufuran massal akan dibalas dengan kehancuran massal. Badai, banjir bah, gempa bumi, hingga hujan batu meratakan peradaban mereka tanpa sisa.

Namun, demi menjaga kemuliaan umat Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berkenan "mengubah" sunnatullah tersebut. Sebuah anomali sejarah terjadi. 

Mekkah tidak pernah diratakan dengan tanah meskipun penduduknya bertahun-tahun tenggelam dalam kekafiran dan memusuhi Nabi. 

Begitu juga dengan Thaif; kota itu tidak pernah dihujani batu panas dari langit, meskipun penduduknya dengan keji menghujani tubuh Nabi Muhammad SAW dengan batu hingga berdarah.

Se-kafir apa pun, se-fasik apa pun, umat Nabi Muhammad SAW dijamin tidak akan pernah dibinasakan secara total dari muka bumi oleh azab dari langit. 

Semua itu semata-mata karena Allah menerima doa dan permohonan sang kekasih.

Hingga pada suatu hari, dari lisan yang tak pernah ditolak doanya itu, mengalir permohonan pamungkas mengenai masa depan umatnya.

سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا »

Aku meminta kepada Tuhanku tiga hal, maka Dia memberiku dua hal dan menolak satu hal. 

Aku meminta kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dengan paceklik (kekeringan panjang), maka Dia mengabulkannya. 

Aku meminta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan penenggelaman (banjir/bencana alam), maka Dia mengabulkannya. 

Dan aku meminta kepada-Nya agar tidak menjadikan kehancuran di antara sesama mereka sendiri, namun Dia menolaknya.(HR. Muslim)

Nabi meminta tiga perkara yang semuanya bermuara pada keselamatan umatnya.

1. Jangan hancurkan mereka dengan kekeringan yang meluas.Allah mengabulkannya.

2. Jangan hancurkan mereka dengan banjir dan bencana alam yang menumpas habis.Allah menjaminnya.

Tetapi, tatkala Nabi meminta permohonan yang ketiga: 

3. Jangan hancurkan umat ini akibat ulah mereka sendiri yang saling cakar-cakaran, di situlah Allah menolaknya. Doa itu tidak dikabulkan.

Penolakan inilah yang kelak melahirkan sejarah paling kelam. 

Umat Islam selamat dari invasi bangsa asing, namun mereka hancur berkeping-keping oleh pedang saudara mereka sendiri. 

Mereka selamat dari badai dan gempa, tetapi mereka luluh lantak oleh perebutan kekuasaan yang dibungkus dengan jubah agama.

Mari kita menelusuri jejak-jejak penolakan doa tersebut. Mengapa umat ini begitu mudah terjerumus dalam perpecahan teologis yang mematikan? 

Mengapa harus terjadi perang antara sesama shahabat, baik perang Jamal atau perang Shiffin? 

Kenapa di balik kejayaan umat, juga menyisakan residu konflik berdarah akibat perebutan kekuasaan antara dinasti?

Mengapa harus lahir aliran-aliran teologis dan ilmu Kalam yang saling berdebat kusir tiada akhir sekedar untuk memberi legitimasi kepada kelompoknya?

Kenapa urusan perebutan kekuasaan sampai akhirnya harus melahirkan stempel-stempel ilmiyah bahkan jadi doktrin aliran aqidah?

Kenapa harus lahir kelompok-kelompok khawarij, Syiah, qadariyah, jabariyah, mu'tazilah dan turunannya?

Kita butuh analisa sejarah yang jujur, adil, seimbang dan kritis, yang bisa menjelaskan peta alur kejadian dalam sejarah umat.

Ini penting agar kita tidak terus-menerus mengulangi kesalahan sejarah dengan saling mencakar di atas mimbar maupun di medan laga.

-----( bersambung ke bagian 2)---- 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Sarwat

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ketika Doa Nabi SAW Ditolak Allah, Apa yang Terjadi pada Umat?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.