๐๐๐๐๐ ๐ค๐จ๐ก๐จ๐ง ๐ฆ๐๐จ๐๐จ๐
๐๐ข๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฒ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ด๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ถ๐ฏ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ถ๐ด๐ต๐ข๐ฅ๐ป.
Jawaban
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Sebagaimana telah disebutkan di bahasan sebelumnya, bahwa tentang membaca doa qunut di waktu shalat Shubuh hukumnya diperbeda pendapatkan oleh para ulama.
Kalangan Syafi’i adalah yang berpendapat sunnah untuk dilakukan terus menerus, Malikiyyah berpendapat kesunnahannya bersifat sesekali saja, sedangkan Kalangan al Hanafiyyah dan al Hanabilah berpendapat bahwa hal tersebut tidak disunnahkan.[1]
Apa saja yang menjadi dasar pendapat yang mensunnahkan ? Mari kita simak sebagian dalil-dalilnya.
๐๐ฎ๐น๐ถ๐น ๐ค๐๐ฟ'๐ฎ๐ป
Firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 238 :
ุญَุงِูุธُูุง ุนََูู ุงูุตَََّููุงุชِ َูุงูุตََّูุงุฉِ ุงُْููุณْุทَู َُูููู ُูุง َِِّููู َูุงِูุชَِูู
"Peliharalah semua shalat dan shalat Wusta. Dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk."
Imam Suyuthi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas :
ุงُููุณุทู: ูู ุงููุฌุฑ ูุงُููููุช ูููุง
"Shalat Wustha' adalah shalat Shubuh dan berqunut di dalamnya."
Berkata al imam Syafi'i rahimahullah :
ََُْููููุชُ ِูู ุตََูุงุฉِ ุงูุตُّุจْุญِ ุจَุนْุฏَ ุงูุฑَّْูุนَุฉِ ุงูุซَّุงَِููุฉِ ََููุชَ ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ََููู ْ َูุชْุฑُْู ุนَِูู َْูุงُู ุงُُْْููููุชَ ِูู ุงูุตُّุจْุญِ َูุทُّ َูุฅَِّูู َุง ََููุชَ ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ุญَِْูู ุฌَุงุกَُู َูุชُْู ุฃَِْูู ุจِุฆْุฑِ ู َุนَُْููุฉَ ุฎَู ْุณَ ุนَุดَุฑَ ََْูููุฉً َูุฏْุนُْู ุนََูู َْููู ٍ ู َِู ุงْูู ُุดْุฑَِِْููู ِูู ุงูุตَََّููุงุชِ َُِّูููุง ุซُู َّ ุชَุฑََู ุงُُْْููููุชَ ِูู ุงูุตَََّููุงุชِ َُِّูููุง
“Imam (hendaknya) melakukan Qunut dalam shalat Shubuh setelah rakaat kedua. Karena sepengetahuan kami Rasulullah ๏ทบ tidak pernah meninggalkan Qunut dalam salat Shubuh.
Beliau ๏ทบ hanya melakukan Qunut ketika sampai kepada beliau kabar terbunuhnya penduduk sumur Maunah selama 15 hari, beliau mendoakan keburukan bagi satu kaum Musyrikin dalam semua shalat, kemudian beliau meninggalkan Qunut dalam semua shalat.
َูุฃَู َّุง ِูู ุตََูุงุฉِ ุงูุตُّุจْุญِ ََููุง ุฃَุนَْูู ُ ุฃََُّูู ุชَุฑََُูู ุจَْู َูุนَْูู ُ ุฃََُّูู ََููุชَ ِูู ุงูุตُّุจْุญِ َูุจَْู َูุชِْู ุฃَِْูู ุจِุฆْุฑِ ู َุนَُْููุฉَ َูุจَุนْุฏُ. ََููุฏْ ََููุชَ ุจَุนْุฏَ ุฑَุณُِْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ุฃَุจُْู ุจَْูุฑٍ َูุนُู َุฑُ َูุนَُِّูู ุจُْู ุฃَุจِู ุทَุงِูุจٍ ุฑَุถَِู ุงُููู ุนَُْููู ْ ُُُّูููู ْ ุจَุนْุฏَ ุงูุฑُُّْููุนِ َูุนُุซْู َุงُู ุฑَุถَِู ุงُููู ุนَُْูู ِูู ุจَุนْุถِ ุฅِู َุงุฑَุชِِู ุซُู َّ َูุฏَّู َ ุงُُْْููููุชَ ุนََูู ุงูุฑُُّْููุนِ ََููุงَู ُِููุฏْุฑَِู ู َْู ุณَุจََู ุจِุงูุตََّูุงุฉِ ุงูุฑَّْูุนَุฉَ.
Adapun dalam shalat Shubuh maka tidak saya ketahui beliau meninggalkannya, bahkan yang kami ketahui beliau sudah melakukan Qunut sebelum terbunuhnya penduduk sumur Maunah dan sesudahnya.
Dan setelah masa Rasulullah ๏ทบ, maka Abu Bakar, Umar dan Ali juga melakukan Qunut setelah ruku'. Sementara Utsman di sebagian masa kepemimpinannya memajukan Qunut sebelum ruku'. Alasan beliau : ’Supaya makmum yang terlambat menemukan raka'at shalat."[2]
๐๐ฎ๐น๐ถ๐น ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐
Hadits Pertama :
ุนَْู ู ُุญَู َّุฏٍ ุจِْู ุณِْูุฑِْูู َูุงَู ُْููุชُ ูุฃََูุณٍ َْูู ََููุชَ ุฑَุณُُูู ุงِููู ِูู ุตَูุงَุฉِ ุงูุตُّุจْุญِ َูุงَู َูุนَู ْ ุจَุนْุฏَ ุงูุฑُُّููุนِ َูุณِูุฑًุง.
“Dari Muhammad bin Sirin, berkata: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah ๏ทบ membaca qunut dalam shalat shubuh ?” Beliau menjawab: “Ya, setelah ruku’ sebentar.” (HR. Muslim)
Hadits Kedua :
ุนَْู ุฃََูุณِ ุจِْู ู َุงٍِูู َูุงَู : ู َุง ุฒَุงَู ุฑَุณُُْูู ุงِููู َُْูููุชُ ِูู ุงَْููุฌْุฑِ ุญَุชَّู َูุงุฑََู ุงูุฏَُّْููุง.
“Dari Anas bin Malik, berkata: “Rasulullah ๏ทบ terus membaca qunut dalam shalat fajar (shubuh) sampai meninggalkan dunia.”(HR. Ahmad dan Baihaqi)
Al Imam Nawawi berkata: “Hadits di atas shahih, diriwayatkan oleh banyak kalangan huffazh dan mereka menilainya shahih.
Di antara yang memastikan keshahihannya adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi, al-Hakim Abu Abdillah dalam beberapa tempat dalam kitab-kitabnya dan al-Baihaqi.
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh al-Daraquthni dari beberapa jalur dengan sanad-sanad yang shahih.”[3]
Hadits Ketiga :
َูุนَْู ุฃَุจِْู ُูุฑَْูุฑَุฉَ ุฃََّู ุฑَุณَُْูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู َูุงَู ุฅِุฐَุง ุฑََูุนَ ุฑَุฃْุณَُู ู َِู ุงูุฑُُّْููุนِ ِْูู ุตَูุงَุฉِ ุงูุตُّุจْุญِ ِْูู ุขَุฎِุฑِ ุฑَْูุนَุฉٍ ََููุชَ.
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ๏ทบ apabila bangun dari ruku’ dalam shalat shubuh pada rakaat akhir, selalu membaca qunut.”[4]
Hadits keempat :
ุฃََّู ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุขِِูู َูุณََّูู َ ََููุชَ ٍูู ุงَْููุฌْุฑِ
"Sesungguhnya Nabi ๏ทบ qunut pada shalat Subuh”.(HR. Ibnu Abi Syaibah)
Hadits kelima :
ََููุชَ ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงููู ُุนََِْููู َูุขِِูู َูุณََّูู َ َูุฃَุจُْู ุจَْูุฑٍ َูุนُู ْุฑَ َูุนُุซْู َุงَู َูุฃَุญْุณِุจَُُููุฑَุงุจِุนٌ ุญَุชَّู َูุงุฑَْูุชُُูู ْ
“Rasulullah ๏ทบ berqunut demikian juga Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka.”(HR. Daraquthni dari Anas)
Al Qurthubi mengomentari hadits diatas ”Yang kuat diperintahkan oleh Rasulullah ๏ทบ adalah berqunut, diriwayatkan Daruquthni dengan isnad yang shahih.”[5]
Hadits keenam :
ุตََّْููุชُ ุฎََْูู ุฑَุณُِْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุขِِูู َูุณََّูู َ َูุฎََْูู ุนُู َุฑَ َََูููุชَ َูุฎََْูู ุนُุซْู َุงَู َََูููุชَ
“Saya shalat di belakang Rasulullah ๏ทบ lalu beliau qunut, dan di belakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut.” (HR. Baihaqi dari Anas)
Hadits ketujuh :
ู َุง ุฒَุงَู ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุขِِูู َูุณََّูู َ َُْูููุชُ ِْูู ุตَูุงَุฉِ ุงْูุตُุจْุญِ ุญَุชَّู ู َุงุชَ
“Terus-menerus Rasulullah ๏ทบ qunut pada shalat Subuh sampai beliau meninggal.”(HR. Ibn Jauzi)
Kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa sebagian hadits-hadits tentang qunut memang lemah, namun ada hadits shahih yang menjadi hujjahnya dan hadits-hadits lemah itu saling menguatkan.
Seperti yang dijelaskan oleh al imam Nawawi dalam kitabnya al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (3/502).
๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ถ๐น ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐พ๐๐ป๐๐.
1. Adanya hadits : “Bahwa Nabi ๏ทบ melarang qunut pada waktu subuh."
Hadist ini dhaif karena periwayatan dari Muhammad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurahman dari Abdullah bin Nafi’ dari bapaknya dari ummu Salamah.
Berkata imam Darulqutni : "Ketiga orang itu adalah lemah dan tidak benar jika Nafi’ mendengar hadits itu dari ummu Salamah”.
Tersebut dalam mizanul I’tidal “Muhammad bin Ya’la’ dikatakan oleh Imam Bukhari bahwa ia banyak menghilangkan hadist, sedangkan Abu Hatim mengatakan matruk.”[6]
2. Adanya hadits : “Qunut pada shalat subuh adalah Bid’ah.”
Hadis ini dhaif sekali karena imam Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Laila al Kufi dan beliau sendiri mengatakan bahwa hadis ini tidak shahih karena Abu Laila itu adalah matruk (Orang yang ditinggalkan haditsnya).
Terlebih lagi pada hadits yang lain Ibnu Abbas sendiri mengatakan : “Bahwasanya Ibnu Abbas melakukan qunut subuh”.
3. Adanya riwayat : “Rasulullah tidak pernah qunut di dalam shalat apapun”.
Menurut Imam Nawawi dalam kitabnya al Majmu' sangatlah dhaif karena perawinya terdapat Muhammad bin Jabir as Suhaili yang ucapannya selalu ditinggalkan oleh ahli hadits.
4. Pendalilan Qunut Shubuh ditinggalkan berdasarkan hadits :
ุนَْู ุฃََูุณٍ ุฃََّู ุฑَุณَُูู ุงِููู ََููุชَ ุดَْูุฑًุง َูุฏْุนُู ุนََูู ุฃَุญَْูุงุกٍ ู ِْู ุฃَุญَْูุงุกِ ุงْูุนَุฑَุจِ ุซُู َّ ุชَุฑََُูู
“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah ๏ทบ membaca qunut selama satu bulan, di dalamnya mendoakan keburukan bagi beberapa suku Arab, kemudian meninggalkannya.” (HR. Muslim)
Al Imam Nawawi menjawab :
ุซู ุชุฑูู ูุงูู ุฑุงุฏ ุชุฑู ุงูุฏุนุงุก ุนูู ุฃููุฆู ุงูููุงุฑ ููุนูุชูู ููุท ูุง ุชุฑู ุฌู ูุน ุงููููุช ุฃู ุชุฑู ุงููููุช ูู ุบูุฑ ุงูุตุจุญ
“Adapun jawaban terhadap ucapan kemudian beliau meninggalkannya (stumma tarakahu), maksudnya adalah meninggalkan doa kecelakaan ke atas orang-orang kafir itu dan meninggalkan laknat terhadap mereka. Bukan meninggalkan seluruh Qunut."
Beliau melanjutkan :
ุฃู ุชุฑู ุงููููุช ูู ุบูุฑ ุงูุตุจุญ ููุฐุง ุงูุชุฃููู ู ุชุนูู ูุฃู ุญุฏูุซ ุฃูุณ ูู ูููู ูู ูุฒู ูููุช ูู ุงูุตุจุญ ุญุชู ูุงุฑู ุงูุฏููุง ุตุญูุญ ุตุฑูุญ ููุฌุจ ุงูุฌู ุน ุจูููู ุง ููุฐุง ุงูุฐู ุฐูุฑูุงู ู ุชุนูู ููุฌู ุน ููุฏ ุฑูู ุงูุจูููู ุจุฅุณูุงุฏู ุนู ุนุจุฏ ุงูุฑุญู ู ุจู ู ูุฏู ุงูุฅู ุงู ุฃูู ูุงู ุฅูู ุง ุชุฑู ุงููุนู ูููุถุญ ูุฐุง ุงูุชุฃููู ุฑูุงูุฉ ุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ุงูุณุงุจูุฉ ููู ูููู : ุซู ุชุฑู ุงูุฏุนุงุก ููู
Atau juga maksudnya adalah meninggalkan qunut di shalat selain shalat Subuh. Penafsiran ini sangat kuat, karena hadits Anas yang berbunyi : “Nabi ๏ทบ tetap qunut Shubuh sampai wafat” merupakan hadits shahih dan jelas, maka wajib dilakukan kompromi diantara dua hadits tersebut. Dan yang kami sebutkan adalah hasil yang benar dari proses penggabungan dua dalil tersebut." [7]
Hal yang sama juga disampaikan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab syarahnya Fath al Bari.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ฝ
Demikianlah diantara hujjah kalangan Syafi'iyyah dan Malikiyyah yang berpendapat bahwa Qunut dalam shalat Shubuh hukumnya adalah sunnah.
Pengetahuan atas dalil ini, tidak harus membuat seseorang merubah pilihan pendapatnya, dari tidak berqunut kemudian berqunut. Cukup membuat kita bisa lebih menghargai perbedaan pendapat ulama dengan tidak menuduh bid'ah, itu sudah sangat bagus...
Berkata imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah :
ุฅِْู ََููุชَ ِูู ุงَْููุฌْุฑِ َูุญَุณٌَู َูุฅِْู َูู ْ َُْูููุชْ َูุญَุณٌَู.
"Berqunut shalat Shubuh itu bagus, tidak berqunut juga bagus." [8]
Kalau berqunut dan yang tidak berqunut semua sama-sama bagus, terus yang nggak bagus yang mana ? Ya yang tidak bagus itu yang paginya tidak shalat Shubuh....
Wallahu a’lam.
___________
[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (34/58).
[2] Al Umm (7/177)
[3]Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (3/504).
[4] Hadits ini bahkan dishahihkan bahkan oleh Syaikh al Albani sendiri dalam shahih al Jami’ ash Shaghir (2/862).
[5] Badr Al Munir (3/624).
[6] Mizanul I’tidal (4/70).
[7] Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (3/505).
[8] Sunan Tirmidzi (2/252)
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
