Dalil Maulid Nabi Menurut 3 Ulama Besar Bergelar Al-Hafizh

Dalil Maulid Nabi Menurut 3 Ulama Besar Bergelar Al-Hafizh

FAKTA MAULID DARI ULAMA² BESAR 

Al-Hafidz adalah gelar kehormatan bagi ulama besar yang menghafal minimal 100.000 hadits, lengkap dengan silsilah perawi (sanad) dan teksnya (matan). 

Karena syaratnya yang sangat berat, gelar ini tidak bisa disematkan kepada sembarang orang. Jangankan di zaman sekarang, pada zaman dahulu pun jumlah ulama yang sah menyandang gelar ini sangat langka dan bisa dihitung dengan jari di setiap generasinya. 

Nah.. kali ini al Faqir akan menukil dalil perayaan maulid dari tiga ulama besar yg bergelar Al-Hafidz 

- 𝘼𝙡-𝙃𝙖𝙛𝙞𝙙𝙯 𝙄𝙗𝙣𝙪 𝙃𝙖𝙟𝙖𝙧 𝘼𝙡-𝘼𝙨𝙦𝙖𝙡𝙖𝙣𝙞

Tidak ada santri yg tidak mengenal beliau. Guru Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari ini telah menulis ratusan kitab, yg paling fenomenal adalah Kitab Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari. 

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani mengemukakan hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim sebagai dalil perayaan Maulid: 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا: هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى

Saat Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab: 'Ini adalah hari saat Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah'. 

Kemudian Syekh Ibnu Hajar mengomentari hadits tsb: 

فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ. وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ؟ وَعَلَى هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُتَحَرَّى الْيَوْمُ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ

Hadis ini menunjukkan bolehnya bersyukur kepada Allah atas nikmat atau keselamatan yang diberikan pada hari tertentu, lalu momen tersebut diulang setiap tahun. Tentu, tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Rahmat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya momen kelahiran beliau diperingati pada hari yang sama agar serupa dengan kisah Nabi Musa pada hari Asyura. 

- 𝘼𝙡-𝙃𝙖𝙛𝙞𝙙𝙯 𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝 𝙎𝙮𝙖𝙢𝙨𝙪𝙙𝙙𝙞𝙣 𝘽𝙞𝙣 𝙉𝙖𝙨𝙝𝙞𝙧𝙪𝙙𝙙𝙞𝙣 𝘼𝙙-𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨𝙮𝙦𝙞

Beliau seangkatan dengan ibnu Hajar Al-Asqalani. Kedua²nya adalah murid Al-Iraqi, Ibnu Mulaqqin dan Al-Bulqini. 

Kepakarannya di bidang hadits tidak ada yg meragukannya. Bahkan, Imam Al-Maqrizi memberikan pujian setinggi langit dengan berkata: 

طَلَبَ الْحَدِيثَ، فَصَارَ حَافِظَ بِلَادِ الشَّامِ مِنْ غَيْرِ مُنَازِعٍ، وَصَنَّفَ عِدَّةَ مُصَنَّفَاتٍ، وَلَمْ يُخَلِّفْ فِي الشَّامِ بَعْدَهُ مِثْلَهُ

Beliau (Syekh Syamsuddin) menuntut ilmu hadits hingga menjadi ahli hadits (hafidz) wilayah Syam yang tak tertandingi. Beliau menulis banyak kitab, dan tidak ada yang mampu menggantikan kehebatannya di Syam setelah beliau wafat.

Al-Hafizh Imam Syamsuddin Ad-Dimasyqi berkata: 

قَدْ صَحَّ أَنَّ أَبَا لَهَبٍ يُخَفَّفُ عَنْهُ عَذَابُ النَّارِ فِي مِثْلِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِإِعْتَاقِهِ ثُوَيْبَةَ سُرُورًا بِمِيلَادِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa siksa neraka Abu Lahab diringankan setiap hari Senin. Hal ini karena ia pernah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena saking gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Kemudian beliau berkomentar: 

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ ۞ وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدَا

أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا ۞ يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَا

فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُولَ عُمْرِهِ ۞ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا 

Jika orang kafir ini saja yang jelas² dicela dan binasa di neraka selamanya bisa mendapat keringanan azab setiap hari Senin karena pernah gembira atas kelahiran Nabi Muhammad, maka bayangkan betapa besarnya rahmat yang akan diterima oleh seorang hamba yang sepanjang hidupnya selalu gembira dengan Nabi Muhammad dan mati dalam keadaan beriman. 

- 𝘼𝙡 𝙃𝙖𝙛𝙞𝙙𝙯 𝙅𝙖𝙡𝙖𝙡𝙪𝙙𝙙𝙞𝙣 𝘼𝙨-𝙎𝙪𝙮𝙪𝙩𝙝𝙞

Semua santri pasti mengenal ulama besar ini, karena karya-nya lebih 500 kitab, dari yg kecil sampai yg besar. 

Al-Hafizh As-Suyuthi mengajukan sebuah hadits riwayat Imam Al-Baihaqi sebagai dalil pelaksanaan maulid: 

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ

Sungguh Nabi Saw. melakukan 'aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi. 

Padahal, kakek beliau, Abdul Muthalib, sudah mengaqiqahi beliau pada hari ketujuh kelahirannya. Dalam fikih, 'aqiqah tidak disunnahkan untuk diulang dua kali. 

Oleh karena itu, tindakan Rasulullah melakukan 'aqiqah kedua kalinya ini dipahami sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah mengutus beliau sebagai rahmat bagi semesta alam. 

Sumber FB Ustadz : Gus Dewa Menjawab

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Dalil Maulid Nabi Menurut 3 Ulama Besar Bergelar Al-Hafizh". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#dalil #maulid #ulama