Istilah Ahlussunnah Dipelintir? Klarifikasi Akidah Aswaja vs Wahabi

Istilah Ahlussunah Yang Diplintir Oleh Wahabi-Taimy

Istilah Ahlussunah Yang Diplintir Oleh Wahabi-Taimy

1. Istbat

Makna aslinya adalah menetapkan shifat bagi Allah. Asy'ariyah adalah kelompok yang terkenal sebagai Ahli itsbat yang telah menghapus kelompok muktazilah dari oanggung sejarah. Muktazilah terkenal dengan prinsipnya yang meniadakan sifat bagi Allah. Bagi mereka Allah hanya Dzat saja tanpa sifat, itu yang membuat mereka disebut sebagai mu'atthilah atau penolak adanya sifat

Wahabi-Taimy lalu mengubah istilah itsbat untuk menetapkan adanya badan, tubuh, organ, anggota tubuh, dan aneka gerakan tubuh bagi Allah. Kelompok Ahlussunah yang menafikan semua itu berdasarkan dalil-dalil sahih mereka gelari sebagai mu'atthilah.

2. Sifat

Makna aslinya adalah atribut atau makna yang melekat pada Dzat. Kata sifat adalah lawan dari kata Dzat. Kata "kepala" bagi manusia adalah sebagian dari dzat manusia itu sedangkan kata "jasad" adalah keseluruhan dzatnya. Sedangkan kata seperti: besar, kecil, kurus, gemuk, putih, hitam, bulat, lonjong, sehat, sakit adalah sifat bagi dzat tersebut. Kata "Dzat" mau pun "sifat" dalam konteks Allah adalah eksistensi yang bukan fisik, bukan jisim, tidak terbayangkan oleh akal manusia sebab akal manusia hanya menjangkau apa yang pernah dilihat dan dikenal di dunia manusia.

Wahabi-Taimy lalu mengubah istilah sifat dalam konteks Allah menjadi bagian-bagian yang menyusun Dzat Allah, semisal wajah, tangan, kaki, dan seterusnya.  Semua maka organ tersebut mereka sebut sebagai sifat Allah, padahal kalau maknanya seperti itu maka seharusnya disebut dzat, bukan sifat. 

3. Sifat Dzatiyah

Makna aslinya adalah sifat esensial yang selaras dengan karakter Dzat. Bila Dzatnya fana, maka karakter sifat esensialnya juga fana. Bila Dzat yang dibicarakan adalah Allah yang qadim dan abadi, maka sifatnya juga qadim dan abadi. Misalnya, sifat dzatiyah manusia adalah terikat dalam ruang dan waktu. Selama dzatnya manusia, maka selama itu dia akan selalu terikat dalam ruang dan waktu yang temporer. Sedangkan Allah pencipta semesta, pencipta ruang dan waktu, sifat esensialnya adalah selalu tidak terkait ruang, waktu atau pun hukum fisika sehingga tidak ada yang menyamainya. Allah juga mempunyai penglihatan. pendengaran. komunikasi, kehendak, kuasa, kehidupan dan pengetahuan yang sangat sempurna hingga terlepas dari segala batasan yang berlaku bagi makhluk, tidak ada dalam ruang, waktu dan tidak terikat hukum fisika. Ini semua yang disebut sifat dzatiyah bagi Allah yang membuat Allah berbeda secara mutlak dengan makluk apa pun.

Wahabi-Taimy lalu ngubah istilah sifat dzatiyah sebagai organ tubuh bagi Allah, semisal wajah, tangan, mata, kaki dan seterusnya. Dalam definisi ini, makna kata "sifat" lalu hilang, berubah sepenuhnya menjadi makna bagian-bagian yang menyusun dzat yang serba fisik, terikat ruang dan waktu. Dalam pemaknaan  seperti ini, perbedaan manusia dan Allah hanya soal ukuran dan besaran kekuatan, sama seperti perbedaan antara Richard Reed dan Galactus dalam semsta marvel. 

Masih banyak istilah lain yang diplintir oleh mereka. Ini sebatas contoh yang paling sering digunakan dalam bab akidah. Tapi bisa apa kita, istilah wahabi sendiri mereka plintir kok. Dunia intelektual semua tahu bahwa Wahabi adalah nisbat pada Muhammad bin Abdul Wahab, tapi mereka memelintirnya kepada Abdul Wahab bin Rustum, seorang politikus yang tidak ada hubungannya sama sekali bahkan tidak punya pengikut dalam bidang akidah dan fikih. Isitilah "ulama salaf" pun mereka pelintir hanya bagi orang yang sepemikiran dengan Ibnu Taimiyah yang faktanya sama sekali bukan salaf, tapi khalaf. 

___________________

Akidah Orang NU

Akidah Orang NU

Kalau anda bertanya pada Wahabi-Taimy bagaimana akidah orang NU, pasti jawabannya semisal bahwa NU menolak sifat Allah, menolak istiwa'-nya Allah atas Arasy, mu'atthilah dan seterusnya. Begitu pula jawaban mereka ketika mereka ditanya tentang Asy'ariyah. Tapi itu tidak akan anda dapat buktinya sebab faktanya adalah kebalikannya.

Hadratus-Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama menulis suatu kitab akidah berjudul al-Risalah al-Tauhidiyah. Di halaman awal-awal saja bisa anda temukan pernyataannya bahwa Allah itu:

استوى على العرش كما قال وعلى المعنى الذي أراد

"Allah istiwa' atas Arays seperti Dia firmankan, dan sesuai dengan makna yang Dia kehendaki"

Itu juga adalah keyakinan Ahlussunnah Wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) seluruhnya. Tidak ada dari mereka yang ingkar sifat yang ditetapkan oleh Allah sendiri atau dinyatakan oleh Rasulullah dalam hadis sahih. 

Masalahnya hanya satu, penetapan sifat (itsbat) ala Ahlussunnah wal Jama'ah memang berbeda dengan penetapan ala Wahabi-Taimy. Aswaja menetapkan sifat dalam koridor tanzih sedangkan Wahabi-Taimy dalam koridor tajsim. Karena istiwa' ditetapkan sesuai dengan makna yang dikehendaki Allah, bukan makna fisik-jasmani yang dikehendaki Ibnu Taimiyah, maka Aswaja dituduh tidak menetapkan istiwa'. Begitu juga yang berlaku untuk sifat lainya.

Akidah Orang NU

Akidah Orang NU

Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Istilah Ahlussunnah Dipelintir? Klarifikasi Akidah Aswaja vs Wahabi". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru