Kisah Seorang Ulama Wahabi yang Menentang Takwil Ayat Al Qur'an

Kisah Seorang Ulama Wahabi yang Menentang Takwil Ayat Al Qur'an

Di sebuah ruang diskusi yang hangat, duduklah dua sosok ulama dengan latar belakang pemikiran yang berseberangan. Di satu sisi, seorang ulama yang sangat teguh memegang prinsip zahiriyah—memahami setiap kata dalam Al-Qur'an secara tekstual, apa adanya, tanpa celah untuk kiasan atau ta’wil. Beliau adalah seorang yang dihormati, namun takdir Allah menetapkannya sebagai seorang tunanetra.

Di sisi lain, duduklah seorang alim dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang membawa warisan logika Imam Asy’ari dan kelembutan hati para sufi. Baginya, Al-Qur'an adalah samudera makna; terkadang ia adalah hamparan pantai yang jelas, namun sering kali ia adalah palung dalam yang hanya bisa diselami dengan alat bernama akal dan mata hati.

Perdebatan bermula dari masalah sifat-sifat Allah. Ulama yang buta itu bersikeras:

"Jika Allah mengatakan Dia memiliki tangan, maka itu tangan! Jika Allah mengatakan Dia bersemayam di atas Arsy, maka maknanya harus sesuai zahir bahasa. Siapa kita yang berani memalingkan makna kata-kata Allah?"

Ulama Ahlussunnah itu tersenyum tipis, bukan untuk meremehkan, melainkan karena rasa sayang. Ia tahu, jika agama hanya dipahami sebatas teks hitam di atas putih, maka keindahan maknanya akan terpenjara.

"Wahai Syekh," ujar ulama Ahlussunnah itu lembut, "Jika engkau bersikeras bahwa setiap ayat harus dipahami secara zahir dan tekstual tanpa terkecuali, lantas bagaimana engkau memahami firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 72?"

Beliau kemudian membacakan ayat tersebut dengan perlahan:

"Dan barangsiapa yang buta (di dunia) ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih sesat jalannya."

Seketika, ruangan itu senyap.

Ulama Ahlussunnah itu melanjutkan dengan nada yang mengetuk sanubari, "Engkau saat ini tidak bisa melihat dunia. Secara tekstual, engkau adalah seorang yang buta. Jika kita mengharamkan ta'wil (penafsiran maknawi) dan hanya berpegang pada teks, maka ayat ini akan menghakimi bahwa engkau akan bangkit di akhirat kelak dalam keadaan buta dan menjadi orang yang paling sesat jalannya. Apakah engkau rida dengan pemahaman seperti itu?"

Ulama yang buta itu terdiam. Seolah-olah ada petir yang menyambar keyakinan tekstualisnya yang selama ini kaku. Logikanya terbentur pada realitas dirinya sendiri.

Jika ia memaksakan makna zahir, ia mengutuk dirinya sendiri. Namun, jika ia mengakui bahwa "buta" dalam ayat itu bermakna "buta mata hati" (kekafiran), maka ia secara otomatis meruntuhkan ideologinya sendiri bahwa Al-Qur'an tidak boleh di-ta'wil.

Air muka ulama tersebut berubah. Ada sebuah keangkuhan intelektual yang runtuh. Beliau menyadari bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an bukan untuk menjebak hamba-Nya dalam kekakuan huruf, melainkan untuk direnungkan (tadabbur) dengan kedalaman rasa.

Hikmah yang dapat kita petik:

  1. Agama Bukan Sekadar Teks: Memahami agama tanpa melibatkan akal dan konteks adalah seperti membaca peta tanpa memahami arah angin.

  2. Bahaya Kebenaran Tunggal: Sikap merasa paling benar dengan hanya membaca kulit luar sering kali justru menjerumuskan seseorang pada kesimpulan yang tidak masuk akal.

  3. Keadilan Allah: Allah tidak melihat rupa atau keterbatasan fisik, melainkan kesucian hati. Maka, memahami ayat-ayat-Nya pun harus dengan hati yang terbuka, bukan sekadar lisan yang kaku.

Kisah ini menjadi "tamparan" lembut namun membekas bagi siapa saja yang terlalu kaku dalam beragama, mengingatkan bahwa di balik setiap huruf, ada ruh yang harus diresapi.

Semoga bermanfaat 

Sumber FB : Johan Muhammad Isa

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Kisah Seorang Ulama Wahabi yang Menentang Takwil Ayat Al Qur'an". Semoga Allah ï·» senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.