
Al-Imam al-Ghazali menepis keraguan
فإن قلت كلمات الصوفية تنبئ عن مشاهدات انفتحت لهم في طور الولاية، والعقل يقصر عن درك الولاية، وما ذكر تموه تصرف ببضاعة العقل.
Jika engkau berkata: “Ucapan-ucapan kaum sufi menunjukkan adanya pengalaman penyaksian (musyahadat) yang tersingkap bagi mereka dalam tingkatan kewalian, sementara akal tidak mampu menjangkau hakikat kewalian. Apa yang disebutkan tadi hanyalah rekayasa penilaian dengan menggunakan keterbatasan akal semata.”
فاعلم أنه لا يجوز أن يظهر في طور الولاية ما يقضى العقل باستحالته. نعم يجوز أن يظهر فيها ما يقصر العقل عنه، بمعنى أنه لا يدركه بمجرد العقل.. مثاله: أن يجوز أن یکاشف الولى بأن فلانا سيموت غدا، ولا يدرك ببضاعة العقل، بل يقصر العقل عنه، ولا يجوز أن يكاشف بأن الله غذا سيخلق مثل نفسه فإن ذلك يحيله العقل، لا أنه يقصر عنه وأبعد من ذلك أن يقول: إن الله سيصیرتی نفسه اى اصير أنا هو لأن معناه أني حادث، والله يجعلني قديما، ولست خالق السموات والأرضين، والله يجعلني خالق السموات والأرضين، وهذا معنى قوله نظرت فإذا أنا هو - إذا لم يؤول وحمل على ظاهره.
Ketahuilah bahwa tidak boleh muncul dalam tingkatan kewalian sesuatu yang menurut akal dipastikan mustahil.
Ya, boleh saja muncul dalam tingkat kewalian itu hal-hal yang tidak mampu dijangkau oleh akal, dalam arti tidak bisa diketahui hanya dengan akal biasa.
Contoh: boleh saja seorang wali diberi kasyaf bahwa seseorang akan meninggal besok. Hal ini tidak dapat diketahui dengan kemampuan akal biasa, melainkan akal memang tidak mampu menjangkaunya.
Namun tidak boleh terjadi kasyaf bahwa Allah besok akan menciptakan sesuatu yang serupa dengan diri-Nya, karena hal itu mustahil menurut akal, bukan sekadar tidak terjangkau, tetapi memang ditolak oleh akal.
Lebih jauh lagi, jika seseorang mengatakan: “Sesungguhnya Allah akan menjadikanku sebagai diri-Nya,” yakni aku menjadi Dia. Sebab maknanya adalah bahwa aku yang bersifat makhluk (baru) akan dijadikan oleh Allah sebagai sesuatu yang qadim.
Padahal aku bukan pencipta langit dan bumi, lalu Allah menjadikanku sebagai penciptanya. Inilah makna dari ucapan: “Aku melihat, ternyata aku adalah Dia,” jika tidak ditakwil dan dipahami secara lahiriah.
ومن صدق بمثل هذا المحال، فقد انخلع عن غريزة العقل، ولم يتميز عنده ما يعلم عما يعلم فيصدق بأنه يجوز أن يكاشف ولى بأن الشريعة باطلة وأنها إن كانت حقا فقد يقلبها الله باطلا وأنه جعل جميع أقاويل الأنبياء كذبا
Sesiapa yang membenarkan hal yang mustahil seperti ini, maka ia telah melepaskan diri dari fitrah akal, dan tidak lagi mampu membedakan antara apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui.
Sehingga ia pun bisa mempercayai bahwa mungkin saja seorang wali mendapat kasyaf bahwa syariat itu batil, atau bahwa jika sebelumnya benar, maka Allah membalikkannya menjadi batil, dan bahwa Allah menjadikan seluruh ucapan para nabi sebagai dusta.
ومن قال: يستحيل أن ينقلب الصدق كذبا فإنما يقول ببضاعة العقل؛ فإن انقلاب الصدق كذبا ليس بأبعد من انقلاب الحادث قديما، والعبد ربا.
Dan sesiapa yang berkata: “Mustahil kebenaran berubah menjadi kebatilan,” sesungguhnya ia mengatakannya berdasarkan kemampuan akal. Sebab perubahan kebenaran menjadi kebatilan tidaklah lebih jauh (lebih mustahil) daripada perubahan sesuatu yang baru (makhluk) menjadi qadim, atau seorang hamba menjadi Tuhan.
ومن لا يفرق بين ما أحاله العقل وبين ما لا يناله العقل، فهو أخس من أن يخاطب فليترك وجهله
Dan sesiapa yang tidak dapat membedakan antara hal yang mustahil menurut akal dan hal yang tidak terjangkau oleh akal, maka ia terlalu rendah untuk diajak berbicara.
Maka biarkanlah dia bersama kebodohannya.
المقصد الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى
Sumber FB Ustadz : Nur Hasim