Dalil dan Hukum Berdebat dalam Islam

Dalil dan Hukum Berdebat dalam Islam

𝗗𝗔𝗟𝗜𝗟 𝗗𝗔𝗡 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗕𝗘𝗥𝗗𝗘𝗕𝗔𝗧

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq 

Ada dua sikap yang ghuluw atau berlebihan dalam menyikapi masalah hukum boleh tidaknya berdebat dalam Islam. Antara satu pihak yang membolehkan lalu menghadirkan dalil-dalil yang menunjukkan adanya perintah atau kebolehan berdebat, sementara pihak lain ada yang menolak mutlak lalu ia mendatangkan dalil-dalil yang berisi larangan dan celaan terhadap debat. 

 Padahal, jika kita dapati dalam agama ini seperti ada yang kontradiktif, itu bukan karena memang dalil-dalil tersebut benar-benar saling bertentangan, melainkan karena kita yang belum memahami cara mengompromikannya dengan baik. 

Dalil-dalil syariat sering berkaitan dengan banyak hal: kondisi, tujuan, cara, serta dampak yang ditimbulkan. Maka, memahami satu dalil tanpa melihat dalil lain seringkali melahirkan kesimpulan yang keliru.

Di pembahasan ini, saya tidak akan langsung menyimpulkan hukumnya. Saya akan memulai dengan menghadirkan terlebih dahulu dalil-dalil dari kedua sisi secara proporsional: dalil yang menunjukkan kebolehan atau perintah debat, serta dalil yang menunjukkan larangan atau peringatannya. 

Harapannya, supaya kesimpulan hukum yang nanti disampaikan, tidak dianggap sebagai perwakilan dari salah satu dua kubu yang telah disebutkan di atas.

𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁

Berikut ini adalah ayat dan hadits yang sering dijadikan dalil oleh kalangan yang melarang debat atau diskusi ilmiah apapun bentuknya.

𝟭. 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗹 𝗤𝘂𝗿'𝗮𝗻

وَمَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا

“Tidaklah ada yang memperdebatkan ayat-ayat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Ghafir: 4)

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ 

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah (berdebat), bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az Zukhruf: 58)

𝟮. 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗱𝗶𝘁𝘀

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka berada di atas petunjuk, kecuali mereka diberi sifat suka berdebat.” (HR. Tirmidzi)

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud)

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam perbantahan/pertengkaran.” (HR. Bukhari)

𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁

Berikut ini adalah ayat dan hadits yang dijadikan dalil oleh kalangan yang membolehkan debat atau diskusi ilmiah.

𝟭. 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗹 𝗤𝘂𝗿’𝗮𝗻

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”(QS. An Nahl: 125)

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik.”(QS. Al ‘Ankabut: 46)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ

“Tidakkah kamu perhatikan orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya...” (QS. Al Baqarah: 258)

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا

“Mereka berkata: Wahai Nuh, sungguh engkau telah berdebat dengan kami dan engkau telah banyak berdebat dengan kami.” (QS. Hud: 32)

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

“Bahkan Kami lemparkan kebenaran kepada kebatilan, lalu ia menghancurkannya, maka seketika itu kebatilan itu lenyap...”(QS. Al Anbiya: 18)

𝟮. 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗱𝗶𝘁𝘀

احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ، فَقَالَ لَهُ آدَمُ: يَا مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي؟ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى 

“Adam dan Musa saling berdebat. Musa berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Maka Adam berkata: Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menuliskan (Taurat) untukmu dengan tangan-Nya, apakah engkau mencelaku atas sesuatu yang telah Allah takdirkan atasku sebelum aku diciptakan? Maka Adam mengalahkan hujah Musa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Riwayat tentang Ibnu Abbas, saat berdebat dengan kaum khawarij : 

لَمَّا خَرَجَتِ الْحَرُورِيَّةُ اعْتَزَلُوا فِي دَارٍ، وَكَانُوا سِتَّةَ آلَافٍ، فَقُلْتُ لِعَلِيٍّ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَبْرِدْ بِالصَّلَاةِ؛ لَعَلِّي أُكَلِّمُ هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ، قَالَ: إِنِّي أَخَافُهُمْ عَلَيْكَ، قُلْتُ: كَلَّا، فَلَبِسْتُ، وَتَرَجَّلْتُ، ...

 “Ketika kaum Haruriyyah keluar lalu mengasingkan diri di suatu tempat, dan jumlah mereka enam ribu orang, maka aku berkata kepada ‘Ali: Wahai Amirul Mukminin, tundalah shalat, agar aku bisa berbicara dengan kaum ini. ‘Ali berkata: ‘Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mencelakakanmu. Aku berkata: ‘Tidak akan.” (HR. An Nasai)

Simak bahasan lengkapnya di AST Official: 

I. Pengertian debat dan diskusi ilmiah

II. Celaan para ulama kepada perdebatan agama

III. Riwayat debat para nabi dan ulama

IV. Debat antara yang tercela dan terpuji

V. Syarat dan ketentuan debat yang dibolehkan/terpuji

Bersambung...

•┈┈•••○○❁༺ⒶⓈⓉ༻❁○○•••┈┈•

Punya pertanyaan yang butuh penjelasan komprehensif atau sekedar jawaban ringkas yang langsung ke tehnis? Ajukan di : https://astofficial.id/tanya-ustadz

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Dalil dan Hukum Berdebat dalam Islam". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru