Ternyata Ulama Salafi Najd Beraqidah Asy'ari!

Ternyata Ulama Salafi Najd Beraqidah Asy'ari!

TERNYATA ULAMA' SALAFI NAJD BERAQIDAH ASY'ARI !!!!

Sebelum membahas aqidah Ulama' Najd terlebih dulu kita pahami metode asy'ariyah dalam memahami sifat Allah. Dalam madzhab Asy'ari cara meyakini sifat Allah khususnya sifat khabariyah digunakan dua metode yaitu Tafwidh makna dan Takwil. Dua metode ini terangkum dalam bait Jauharatu Tauhid berikut:

وكل نص أوهم التشبيها * أوله أو فوض ورم تنزيها

Artinya:

“Setiap nash yang memberi kesan penyerupaan (Allah dengan makhluk), maka takwilkanlah atau serahkan maknanya (tafwīḍ), dan tetaplah berkeyakinan akan pensucian Allah (dari keserupaan).”

Soal takwil menurut hemat kami tidak perlu dijelaskan lebih lanjut karena kita semua cukup memahami itu, mari kita langsung membahas definisi tafwidh pada ungkapan di atas.

Dalam syarah Nadham jauharatu tauhid yang ditulis oleh anak penulis yaitu Syaikh Abdussalam Al Laqqani dijelaskan maksud tafwidh sebagai berikut (Lihat Gambar 1):

وأشار لتنويع الخلاف بقوله (أَوْ فَوَّضَ) عِلْمَ المعنى المُرادِ من 

ذلك النص تفصيلا إليه تعالى ، وَأَوَّلُهُ إجمالا كما هو طريق السلف

Artinya:

“Ia memberi isyarat tentang adanya perbedaan metode (dalam memahami sifat Allah) dengan ucapannya ‘atau tafwīḍ’, yakni MENYERAHKAN PENGETAHUAN TENTANG MAKNA yang dimaksud secara terperinci dari nash tersebut kepada Allah Ta‘ala, sementara maknanya ditakwil secara global. Inilah jalan (manhaj) para salaf.”

Lebih jelas lagi mengenai maksud tafwidh ini secara gamblang didefinisikan oleh Syaikh Muhammad Ad Daghistani dalam Ta'liqnya (Lihat Gambar 2) sebagai berikut:

والمراد من التفويض: صرف اللفظ عن ظاهره، مع عدم التعرض لبيان المعنى المراد منه، بل يترك ويفوض علمه إلى الله تعالى ، بأن يقول: الله أعلم بمراده.

Artinya:

“Yang dimaksud dengan tafwīḍ adalah memalingkan lafaz dari makna lahiriahnya, tanpa menjelaskan makna yang dimaksud darinya; bahkan maknanya ditinggalkan dan PENGETAHUANNYA DISERAHKAN KEPADA ALLAH Ta‘ala, dengan mengatakan: Allah lebih mengetahui maksud-Nya.”

Jadi, tafwidh sifat yang dimaknai Asy'ari adalah dengan menyerahkan makna sifat kepada Allah semata, dan hanya Allah yang tahu hakikat maknanya.

Lalu bagaimana dengan Aqidah Ulama' Salafi Najd ??

Untuk menjawabnya maka kita ambil penjelasan dari kitab "Ad Durar As Saniyyah Fil Ajwibah An Najdiyyah", kitab ini merupakan kumpulan surat-surat Ulama' Najd dari masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai masa dicetaknya buku.

Pada jilid 3 halaman 33-34 disebutkan satu surat dari Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab (Putra Syaikh MBAW) yang menjawab pertanyaan seputar aqidah salafi dalam asma' dan sifat. Beliau mengawali dengan penegasan berikut (Lihat Gambar 4):

الحمد لله رب العالمين، الجواب - وبالله التوفيق - عن المبحث الأول عن آيات الصفات وأحاديثها التي اختلف فيها علماء الإسلام، فنقول: الذي نعتقد وندين الله به، هو مذهب سلف الأمة وأئمتها، من الصحابة والتابعين لهم بإحسان، من الأئمة الأربعة وأصحابهم، رضي الله عنهم أجمعين، وهو: الإيمان بذلك، والإقرار به، وإمراره كما جاء، من غير تشبيه، ولا تمثيل، ولا تعطيل.

Artinya:

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Jawabannya—dengan pertolongan Allah—tentang pembahasan pertama mengenai ayat-ayat sifat dan hadis-hadisnya yang diperselisihkan oleh para ulama Islam adalah sebagai berikut:

Yang kami (Ulama' Najd) yakini dan kami jadikan sebagai keyakinan di hadapan Allah adalah mazhab para salaf umat ini dan para imamnya—dari kalangan sahabat dan para tabi‘in—termasuk para imam yang empat dan para pengikut mereka, semoga Allah meridai mereka semua. Yaitu: mengimani hal-hal tersebut, membenarkannya, dan membiarkannya sebagaimana datangnya, tanpa penyerupaan (tasybīh), tanpa penyamaan (tamtsīl), dan tanpa penolakan atau pengosongan makna (ta‘ṭīl)".

Fokus pada kalimat "membiarkannya sebagaimana datangnya", apa maksudnya dengan membiarkan nash sifat sebagaimana datangnya ?? Apakah dengan ditetapkan maknanya ??

Syaikh Abdullah bin MBAW menjelaskan hal ini dengan berkata (Lihat gambar 5):

بل أقروها كما جاءت، وردوا علمها إلى قائلها، ومعناها إلى المتكلم بها، صادق لا شك في صدقه فصدقوه، 

Artinya:

"Mereka (Sahabat dan Salaf) menetapkannya (Sifat Allah) sebagaimana datangnya, (Yaitu dengan) menyerahkan pengetahuan tentangnya kepada yang mengatakannya, dan maknanya kepada yang menyampaikannya. Mereka meyakini kebenarannya tanpa keraguan, lalu membenarkannya". 

+ Jika dikatakan "Lho kamu salah faham itu, yang dimaksud "yang mengatakan" maksudnya pengucap ayat yaitu orang arab dong ?? Bukan maknanya dikembalikan pada Allah..."

- Kami jawab... ouh tidak, sebab lanjutan lafadznya menunjukkan sebaliknya, lanjutannya sebagai berikut:

ولم يعلموا حقيقة معناها، فسكتوا عما لم يعلموه، 

Artinya:

"Mereka (Sahabat dan salaf) tidak mengetahui hakikat maknanya, mereka pun diam terhadap apa yang tidak mereka ketahui."

- Ungkapan di atas sudah jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud pengucap di kalimat sebelumnya adalah Allah bukan manusia yang mengucapkannya, sebab dikatakan Salaf pun tidak mengetahui hakikat maknanya.

Dan aqidah tafwidh ini disebutkan:

وأخذ ذلك الآخر عن الأول، ووصى بعضهم بعضا بحسن الاتباع

Artinya:

"Sikap ini diterima oleh generasi yang datang kemudian dari generasi sebelumnya, dan sebagian mereka saling mewasiatkan untuk mengikuti dengan sebaik-baiknya".

Nah, Aqidah Tafwidh makna sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Abdullah bin MBAW di atas sama dan diakui dalam Madzhab Asy'ari, artinya kalau anda beraqidah seperti di atas maka aqidah anda juga Asy'ari.

Pertanyaannya "lantas sejak kapan Ulama' Salafi beralih dari aqidah tafwidh makna seperti Syaikh Abdullah bin MBAW di atas menjadi beraqidah menetapkan makna seperti sekarang ??"

Wallahu'alam.

Sumber FB Ustadz : Muhammad Salim Kholili

Akidah putra Muhammad bin Adil Wahhab (pendiri gerakan Wahhabiyah)

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ternyata Ulama Salafi Najd Beraqidah Asy'ari!". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit