
PEMAHAMAN YANG SHAHIH MENGENAI TABARRUK DAN JUGA DALILNYA..
Hadis-hadis tentang tabarruk itu bukan sekedar ada, tapi sudah jelas dipraktekkan para sahabat. Imam al-Bukhari sampai membuat bab khusus tentang tabarruk dengan peninggalan Rasulullah ﷺ.
بَابُ مَا ذُكِرَ مِنْ دِرْعِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَعَصَاهُ وَسَيْفِهِ وَقَدَحِهِ وَخَاتَمِهِ وَمَا اسْتَعْمَلَ الخُلَفَاءُ بَعْدَهُ مِنْ ذُلِكَ مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ قِسْمَتُهُ وَمِنْ شَعْرِهِ وَنَعْلِهِ وَآنِيَتِهِ مِمَّا يَتَبَرَّكُ أَصْحَابُهُ وَغَيْرُهُمْ بَعْدَ وَفَاتِهِ
“Bab yang menyebutkan baju perang, tongkat, pedang, bejana, dan cincin Nabi ﷺ dan barang-barang yang digunakan para Khalifah setelah wafatnya Nabi dari peninggalannya yang tidak dibagikan, rambut, sandal, dan wadah miliknya, dari barang-barang yang dicari berkahnya oleh para sahabat dan selainnya setelah beliau wafat.” (Shahih Bukhari, XI/204)
Benda-benda seperti baju, tongkat, pedang, cincin, bejana, rambut, sandal semuanya disebut sebagai sesuatu yang dicari berkahnya oleh para sahabat bahkan setelah Nabi wafat.
Disinilah pentingnya kita memperhatikan Dengan benar poinnya...
Perhatikan bahwa ..
Semua itu adalah benda mati. Tidak bernyawa, tidak bisa bicara, tidak punya “kemampuan”.
Tapi sahabat bertabarruk dengan itu. Artinya, keberkahan itu bukan soal benda itu hidup atau mati, tapi soal siapa yang benda itu dinisbatkan kepadanya. Dan yang memberi keberkahan, hakikatnya adalah Allah.
Lucunya sekarang ada kelompok yang melarang tabarruk dengan orang shalih setelah wafat, tetapi membolehkan ketika masih hidup.
Alasannya “hidup bisa memberi manfaat, yang mati tidak”.
Tapi logika ini langsung runtuh ketika kita kembali ke hadis diatas 👆 Kalau yang dipakai tabarruk itu rambut, sandal, atau bejana semua itu tidak pernah hidup sejak awal.
Tapi sahabat tetap bertabarruk dan tidak ada yang mengingkari.
Di sini kelihatan dangkalnya parameter “hidup-mati” yang sering dijadikan standar oleh salafi wahabi.
Karena dalam aqidah Ahlussunnah, manfaat dan berkah bukan berasal dari zat manusia atau zat benda itu sendiri. Semuanya adalah sebab, sementara yang memberi manfaat hakiki hanyalah Allah.
Nabi, para sahabat, dan para ulama hanyalah perantara karena kedekatan dan kebaikan mereka. Sama seperti obat hanya sebab, bukan pencipta kesembuhan.
Jadi inti tabarruk itu bukan menyembah, bukan meminta pada mayat, bukan menganggap benda punya kekuatan.
Justru tabarruk adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang dicintai Allah dan berharap Allah memberi berkah melalui sebab itu. Seperti kita menghormati ilmu, shalihin, ulama, atau peninggalan Rasulullah, karena mereka punya kedudukan dan kebaikan yang Allah cintai.
Kalau benda mati saja sahabat tabarruki, lalu kenapa orang shalih yang ilmunya hidup, yang maqamnya tinggi, yang amalnya terus naik kepada Allah setelah wafat malah dianggap tidak boleh?
Di titik ini akan kelihatan pemahaman yg benar tentang siapa yang mengikuti salaf, dan siapa yang sekadar membawa slogan.
Ya semoga Wahabi paham bahwa hidup dan mati tidak jadi perbedaan terkait manfaat yang timbul ... Karna sejatinya semua hanya dari Allah, dan semua itu hanya sebuah wasilah...
يَااَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوااللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan carilah jalan (wasilah/perantara)."
Wallahu alam
Sumber FB : Aqidah Salaf