
TABARRUK IMAM SYAFI'I DUSTA ??
Salafi Wahabi mencoba memframing dan menyerang hujjah yg dibawakan oleh Gus Ajir Ubaidillah, seperti contoh tabarruk imam Syafii kepada imam abu Hanifah, oleh mereka riwayat ini dikatakan batil, tapi jika kita telaah Dengan baik, hujjah mereka dalam membatalkan berpatokan pada ulama2 yang memang anti tabarruk, seperti Albani, ibn TAYMIAH, dan juga Ibnul Qayyim...
Padahal tabarruk ini adalah hal yang lumrah dan bahkan banyak dilakukan oleh para ulama, kisahnya bukan hanya imam Syafii, saya akan paparkan sedikit saja dalam postingan saya dalam membahas hal ini...
bahkan juga kisah tabarruk imam Syafii ini banyak dikutip oleh para ulama2 AhluSunnah dalam kitab mereka, jadi tidak heran jika mereka yg anti tabarruk menyatakan dan berusaha mendhaifkan riwyaat ini..
Lantas apakah betul apa yg dikatakan pada wahabi dan ustad dalam video ? Jelas dalam pandangan ulama Ahlu Sunnah Waljamaah banyak yg berpandangan tidak demikian,, oleh karena itu agar bisa memahami dengan baik harus baca sampai tuntas postingan ini...
Kisah tabarruk imam Syafii ini dijelaskan oleh ulama besar dan juga ahli hadis oleh Imam al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin `Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi asy-Syafi`i rahimahullah yang masyhur dengan gelaran Imam Khatib al-Baghdadi, seorang ulama bermazhab Syafi`i yang hidup sekitar tahun 392H – 463H.
Dalam karya beliau yang masyhur “Tarikh Baghdad” pada jilid 1 halaman 123 beliau menulis kisah tabarruk imam Syafi'i melalui jalan daripada al-Qadhi Abu `Abdullah al-Husain bin `Ali bin Muhammad as-Saymari daripada `Umar bin Ibrahim al-Muqri daripada Makram bin Ahmad daripada `Umar bin Ishaq bin Ibrahim daripada `Ali bin Maimun yang menyatakan bahawa beliau mendengar Imam asy-Syafi`i RA berkata: ” Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku menziarahi kubur beliau setiap hari. Apabila aku mempunyai suatu hajat keperluan, aku bershalat dua rakaat, kemudian pergi ke kubur Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisinya, maka dalam masa yang singkat sahaja hajat tersebut ditunaikan. “
Salafi Wahabi dari dlu seperti Albani, ibn TAYMIAH, Ibnul Qoyyim dan bahkan sampai sekarang mereka mempermasalahkan dan mempertikaikan kesahihan kisah tersebut. Maka itu adalah hak mereka dan sebagaimana mereka, kita juga punya hak untuk tidak menerima pendapat ulama2 mereka yg jelas anti dengan tabarruk dan gampang sekali menuduh syirik dan ahli bidah, dan sebaliknya hak kami AhluSunnah Waljamaah menerima pendapat ulama yang mensabitkan kebenaran pada kisah tersebut.
Menurut kajian Imam Khatib al-Baghdadi, segala periwayat kisah tersebut adalah orang – orang yang shaduq dan tsiqah (yakni orang – orang yang dipercayai) dan pandangan beliau ini turut dinukil oleh ulama-ulama lain.
Pihak yang menolak kisah tersebut seperti ulama2 Wahabi yg sekarang dijadikan sebagai hujjah mereka dalam melemahkan kisah ini, seperti al-Albani juga tidak menafikan kedudukan dan status para perawi kisah tersebut bahwa orang – orang kepercayaan selain daripada ” `Umar bin Ishaq bin Ibrahim” yang dikatakan sebagai seorang yang majhul (yakni yang tidak diketahui identitinya). Atas dasar tersebut maka al-Albani menghukumkan kisah tersebut sebagai dhaif bahkan batil.
Jelas penilaian kisah tersebut sebagai batil adalah satu penilaian yang terlampau ngawur kerana beliau gagal mempertimbangkan fakta yang para periwayat lain adalah mereka-mereka yang shaduq dan tsiqah. Sewajarnya perkara ini masuk dalam pertimbangan para Wahabi seperti contohnya al-Albani sebelum menyatakan yang ianya batil.
Menurut penjelasan sebahagian ulama lain, ada kemungkinan ‘Umar bin Ishaq tersebut adalah `Amr bin Ishaq al-Himsi yang merupakan seorang yang diketahui dan boleh dipercayai. Jika ianya benar, maka tidak ada lagi kecacatan pada sanad yang dikemukakan oleh Imam Khatib tersebut.
Selain daripada itu, perlu diberi perhatian juga bahwa kisah ini turut disampaikan melalui jalan lain, antaranya oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam karya beliau “al-Khairat al-Hisan” yang merupakan manaqib Imam Abu Hanifah pada fasal 35 halaman 129 dengan sanad yang shahih dan Imam Ibnu Abil Wafa menyebutkan kisah ini dalam “Tabaqat al-Hanafiyyah” pada halaman 519 dengan sanad lain melalui al-Ghaznawi. Tidak ketinggalan para ulama di masa kita ini turut memuatkan kisah ini dalam karya mereka, misalnya Imam Muhammad Zahid al-Kawthari membawa kisah ini dalam “Maqalat al-Kawthariy” pada halaman 453 dan mengatakan bahawa sanad kisah ini adalah bagus (jayyid). Mufti Muhammad Taqi Uthmani memuatkannya dalam karya beliau “Jahan-e-Deedah“, jika kisah tersebut dianggap sebagai batil, pasti Mufti Muhammad Taqi yang terkenal sebagai seorang ulama bermazhab Hanafi dengan aliran Deobandi tidak akan memuatkannya dalam karya beliau.
Jika ditelaah dengan benar Kisah tabarruk imam Syafii ini jauh dari tuduhan bathil, karena kisah bathil itu adalah kisah di mana rawinya bersatus sangat lemah seperti tertuduh berdutsa.
Memang dalam tarajim tidak ditemukan terjamah yang bernama Umar bin Ishaq bin Ibrahim, dan hanya ditemukan perowi yang bernama ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim. Maka kemungkinanannya adalah ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim. Sebagaimana disebutkan oleh Albani bahwa Ali bin Maimun wafat tahun 247 H dan Amr bin Ishaq datang ke Baghdad pada tahun 341, maka ada kemungkinan Amr mendengar langsung dari Ali bin Maimun, karena sama-sama satu zaman dan satu masa.
Persyaratam isttishal sanad memang diperselisihkan di kalangan ulama. Menurut Imam al-Bukhari, harus ada bukti pernah bertemu antara dua perawi walaupun satu kali. Sementara menurut Imam Muslim, (dan beliau menganggapnya sebagai ijma’ ulama), mencukupkan dengan mungkinnya terjadinya pertemuan antara dua perawi, yaitu hidup dalam satu masa, walaupun tidak ada bukti. Dengan demikian, menurut Imam Muslim, dan mayoritas ulama, kisah tabarruk imam Syafii jelas shahih.”
Dan tuduhan para Wahabi seperti Albani yg melemahkan ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim karena Tidak disebutkan padanya jarh maupun ta’dil, sehingga ia seorang yang berstatus majhuul haal.
Tapi justru ulama ahli hadis seperti imam al-Hakim menilai Sahih hadits yang beliau riwayatkan dari jalam ‘Aamr bin Ishaq bin Ibrahim As-Sakan al-Bukhari.
Ini membuktikan tautsiq beliau secara eksplisit, karena telah ma’ruf dalam kaidah hadits bawasanya pentashihan seorang ulama hadits merupakan cabang dari pentautsiqan.
Berikut hadits yang dinlai sahih oleh imam al-Hakim yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Ishaq as-Sakna al-Bukhari :
حدثنا عمرو بن إسحاق بن إبراهيم السكنى البخاري بنيسابور ثنا أبو علي صالح بن محمد بن حبيب الحافظ ثنا محمد بن عمر بن الوليد الفحام ثنا يحيى بن آدم عن ابن المبارك قال سمعت إبراهيم بن طهمان وتلا قول الله عز وجل الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم فقال حدثني المكتب عن عبد الله بن بريدة عن عمران ابن حصين انه كان به البو أسير فأمره النبي صلى الله عليه وآله ان يصلى على جنب هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه
“ Telah menceritakan pada kami ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim as-Skna al-Bukhari di Naisabur, telah menceritakan pada kami Abu Ali bin Shalih bin Muhamamd bin Habib al-Hafidz, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Umar bin al-Walid al-Fahham, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Ibnul Mubarak, ia bekata…..dan seterunsya…”
(Al-Mustadrak, al-Hakim : 2/299-300)
beliau juga menyebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim itu sahih sesuai syarat imam Bukhari dan Muslim. Ini merupakan salah satu indikasi pentaustiqan imam al-Hakim kepada ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim.
Selain Albani, pentolan salafi yg lain seperti ibn TAYMIAH ini turut melemahkan riwyaat ini, bahkan sering dipakai hujjah oleh para Wahabi..
Seperti ucapan ibn TAYMIAH
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وهذا كذلك معلوم كذبه بالاضطرار عند من له معرفة بالنقل، فإن الشافعي لما قدم بغداد لم يكن ببغداد قبر ينتاب للدعاء عنده البتة، بل ولم يكن هذا على عهد الشافعي معروفا، وقد رأى الشافعي بالحجاز واليمن والشام والعراق ومصر من قبور الأنبياء والصحابة والتابعين، من كان أصحابها عنده وعند المسلمين، أفضل من أبي حنيفة، وأمثاله من العلماء. فما باله لم يتوخ الدعاء إلا عنده. ثم أصحاب أبي حنيفة الذين أدركوه، مثل أبي يوسف ومحمد وزفر والحسن بن زياد وطبقتهم، لم يكونوا يتحرون الدعاء، لا عند قبر أبي حنيفة ولا غيره.
“Dan hal ini demikian juga telah diketahui sebagai kebohongan secara pasti yang dilakukan oleh orang yang mengetahui seluk-beluk penukilan, karena Asy-Syafi’iy saat tiba di Baghdad, tidak ada di kota tersebut kuburan yang dijadikan tempat khusus untuk berdoa. Bahkan ini tidak terjadi di masa Asy-Syafi’iy. Asy-Syafi’iy telah melihat kuburan para Nabi, para shahabat, dan tabi’in di Hijaaz, Yaman, Syaam, dan ‘Iraq, yang mereka itu menurutnya (Asy-Syafi’iy) dan kaum muslimin semuanya lebih utama dibandingkan Abu Hanifah dan yang semisalnya dari kalangan ulama. Lantas, bagaimana mungkin ia hanya menyengaja berdoa di sisi Abu Haniifah saja ? Kemudian para shahabat Abu Haniifah yang bertemu (semasa) dengannya seperti Abu Yusuf, Muhammad (bin Al-Hasan), Zufar, Al-Hasan bin Ziyaad, dan yang setingkat dengan mereka tidaklah bermaksud berdoa di sisi kubur Abu Haniifah ataupun yang lainnya” [Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim, 2/206].
Demikian ucapan ibn TAYMIAH, sengaja saya cantumkan agar pembaca postingan saya ini jelas dan paham bahwa Pernyataan Ibnu Taimiyyah jelas keliru (salah), karena terbukti bahwa banyak sekali kuburan-kuburan yang dijadikan tempat bedoa dan bertawassul serta tabarruk di sisi yg sama dan ada sebelum imam Syafi’i datang ke Baghdad atau setelahnya.
Di antaranya kuburan Ma’ruf al-Khurkhi. Ibnu Khalkan mengatakan :
وأهل بغداد يستسقون بقبره ويقولون قبر معروف ترياق مجرب. وقبره مشهور يزار
“ Penduduk Baghdad (bertawassul) dengan istisqa melalui kuburannya dan mengatakan, “ Kubur Ma’ruf adalah obat yang mujarrab “, dan kuburannya masyhur (terkenal) banyak diziarahi “ (Tarikh Ibnu Khalkan : 2/224)
Dan Ma’ruf al-Khurkhi wafat pada tahun 200 Hijriyyah.
Imam Khathib al-Baghdadi meriwayatkan :
حدثنا أبو عبد الله محمد بن علي بن عبد الله الصوري قال سمعت أبا الحسين محمد بن أحمد بن جميع يقول سمعت أبا عبد الله بن المحاملي يقول: أعرف قبر معروف الكرخي منذ سبعين سنة ما قصده مهموم الا فرج الله همه
“ Telah menceritakan pada kami Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Abdullah ash-Shuri, ie berkata, “ Aku telah mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jami’ berkata, “ Aku mendengar Abu Abdillah bin al-Muhamili berkata, “ Aku mengetahui kuburan Ma’ruf al-Khurkhi sejak 70 tahun, tidaklah sesorang yang suah datang menujunya kecuali Allah akan lapangkan kesusahannya “. (Tarikh Baghdad : 1/135)
Abu Abdillah bin al-Muhamili ini lahir di Baghdad pada tahun 235 H dan wafat pada tahun 330 H.
Seorang ulama salaf bernama Ibrahim al-Harbi (Lahir 198 H) di mana imam Ahmad bin Hanbal pernah memondokkan putranya pada beliau, seorang Hafidz, Faqih dan Mujtahid pernah berkata :
قبر معروفٍ الترياق المجرب
“ Kuburan Ma’ruf al-Kurkhi adalah obat yang mujarrab “,
Al-Khatib al-Baghdadi mengomentarinya : “ Tiryaq adalah obat yang diracik dari berbagai bahan yang dikenal di kalangan para tabib masa lalu karena banyaknya manfaatnya, dan banyak macamnya. Al-Harbi menyerupakan makam Ma’ruf al-Kurkhi dengan obat di dalam banyaknya manfaat,
maka seolah-olah al-Harbi berkata : “ Wahai manusia, datanglah ke kuburan Ma’ruf al-Kurkhi dengan bertabarruk karena banyak manfaat yang akan diperoleh “.(Tarikh Baghdad : 1/122)
Al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan :
باب ما ذكر في مقابر بغداد المخصوصة بالعلماء والزهاد بالجانب الغربي في أعلا المدينة مقابر قريش دفن بها موسى بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب وجماعة من الأفاضل معه أخبرنا القاضي أبو محمد الحسن بن الحسين بن محمد بن رامين الإستراباذي قال أنبأنا أحمد بن جعفر بن حمدان القطيعي قال سمعت الحسن بن إبراهيم أبا علي الخلال يقول ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفر فتوسلت به الا سهل الله تعالى لي ما أحب
“ Bab apa yang disebutkan tentang kuburan-kuburan di Baghdad terkhususkan para ulama , ahli zuhud di sebelah barat daya di pusat kota, terdapat kuburan kuburan Quraisy. Dimakamkan di sana Musa bin Jakfar bin Muhamamd bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan sekelompok dari orang-orang yang utama bersamanya. Telah mengabarkan pada kami al-Qadhi Abu Muhamamd al-hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Ramin al-Istirabadzi, ia berkata telah mengabarkan pada kami Ahmad bin Jakfar bin Hamdan al-Qathi’i, ia berkata aku telah mendengat al-Hasan bin Ibrahim Abu Ali al-Khallal berkata, “ tidaklah aku mendapat kesusahan atas suatu urusan, lalu aku datang menuju kuburan Musa bin Jakfar kemudian aku bertawassul dengannya, kecuali Allah akan memudahkannya bagiku apa yang aku suaki “ (Tarikh Baghdad : 1/120)
Sayyid Musa bin Jakfar ini lahir pada tahun 128 Hijriyyah dan beliau wafat pada tahun 183 Hijriyyah di Baghdad.
Bahkan imam asy-Syafi’i sendiri mengatakan :
قبر موسى الكاظم الترياق المجرب
“ Kuburan Musa al-Kadzhim adalah obat yang mujarrab “ (Tuhfah al-Alim : 2/22)
Maka pernyataan Ibnu Taimiyyah bertentangan dengan fakta sebenarnya.
Selain itu, mereka juga sering menggunakan hujjah dari ucapan Ibnul Qayyim, seperti ucapanya
Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :
فلو كان الدعاء عند القبور، والصلاة عندها، والتبرك بها فضيلة أو سنة أو مباحا، لفعل ذلك المهاجرين والأصار، وسنّوا ذلك لمن بعدهم، ولكن كانوا أعلم بالله ورسوله ودينه من الخلوف التي خلفت بعدهم، وكذلك التابعون لهم بإحسان راحوا على هذه السبيل، وقد كان عندهم من قبور أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بالأمصار عدد كثير، وهم متوافرون، فما منهم من استغاث عند قبر صاحب، ولا دعاه، ولا دعا به، ولا دعا عنده، ولا استشقى به، ولا استسقى به، ولا استنصر به، ومن المعلوم أن مثل هذا مما تتوفّر الهمم على نقله، بل على نقل ما دونه.
“Seandainya berdoa di sisi kuburan, shalat di sisinya, dan mencari berkah dengannya adalah suatu keutamaan atau sesuatu yang disunnahkan atau diperbolehkan; tentunya hal itu pernah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, dan mencontohkannya kepada generasi setelah mereka. Akan tetapi mereka adalah orang yang lebih mengetahui tentang Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya daripada orang-orang yang datang belakangan setelah mereka. Seperti itulah, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in) menempuh jalan ini, padahal di sekitar mereka banyak terdapat makam para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berada di berbagai negeri dan jumlah mereka (tabi’in) pun cukup banyak. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta pertolongan (istighatsah) di sisi makam seorang shahabat, tidak juga berdoa kepadanya, berdoa dengan perantaraannya, berdoa di sisiya, meminta kesembuhan, meminta hujan, dan meminta pertolongan dengannya. Sebagaimana diketahui bahwa hal seperti ini termasuk sesuatu yang memiliki perhatian penuh untuk diriwayatkan, bahkan meriwayatkan hal yang lebih rendah daripada itu”
(Ighaatsatul-Lahfaan, 1/204 dengan sedikit perubahan dinukil melalui perantaraan At-Tabarruk, Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu oleh Dr. Naashir Al-Judai’, hal. 405).
Jelas Pernyataan Ibnul Qayyim pun terlalu terburu-buru, karena tidak sedikit para ulama terdahulu yang berdoa di sisi makam para shalihin.
Adz-Dzhabi ( ulama yg kadang dipakai hujjah oleh Wahabi juga) menukil pernyataan sebagai berikut :
قال ابن خلكان: وكان بكار بن قتيبة تاليا للقرآن، بكاء صالحا دينا، وقبره مشهور قد عرف باستجابة الدعاء عنده
“ Ibnu Khalkan berkata, “ Bakar bin Qutaibah suka membaca al-Quran, banyak menangis, shalih dan agamis, Makamnya sudah masyhur. Dan dikenal dengan terkabulnya doa di dekat makamnya “ (Siyar A’lam an-Nubala : 12/603)
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
ابن زيرك العلامة، شيخ همذان وقبره يزار، ويتبرك به
“Ibnu Zairak, orang yang sangat alim, Syaikh di Hamdzan. Makamnya diziarahi dan dicari berkahnya” (Siyar A’lam an-Nubala : 18/433)
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
أبو الفرج الحنبلي الامام القدوة شيخ الاسلام، أبو الفرج عبد الواحد بن محمد قلت: توفي في ذي الحجة سنة ست وثمانين وأربع مئة، ودفن بمقبرة باب الصغير، وقبره مشهور يزار، ويدعى عنده
“Abu al-Faraj Abdul Wahid bin Muhammad, al-Hanbali yang menjadi imam, panutam dan guru umat Islam. Saya berkata: Ia meninggal pada tahun 486 H, dimakamkan di ‘Pintu Kecil’. Makamnya diziarahi dan dijadikan tempat berdoa di dekatnya” (Siyar A’lam an-Nubala : 19/51)
Adz-Dzhabi juga mengatakan :
وابن لآل الإمام أبو بكر أحمد بن علي بن أحمد الهمذاني . قال شيرويه : كان ثقة أوحد زمانه مفتي همذان له مصنفات في علوم الحديث غير انه كان مشهورا بالفقه. عاش تسعين سنة والدعاء عند قبره مستجاب
“Ibnu La’al, seorang imam. Abu Bakar Ahmad bin Ali bi Ahmad al-Hamdzani. Syairawaih berkata: Ia terpercaya, orang alim tunggal di masanya. Mufti Hamdzan. Ia memiliki banyak karya di bidang hadis. Ia juga masyhur dengan ilmu fikih. Ia hidup 90 tahun. Berdoa di kuburnya adalah mustajab” ( al-Ibar, adz-Dzahabi : 175)
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
صالح بن احمد ابن محمد الحافظ الكثير الصدق المعمر أبو الفضل التميمي الهمذانى ذكره شيرويه في تاريخه فقال: كان ركنا من اركان الحديث ثقة حافظا دينا لا يخاف في الله لومة لائم، وله مصنفات غزيرة، توفى في شعبان سنة اربع وثمانين وثلاث مائة. والدعاء عند قبره مستجاب
“Shaleh bin Ahmad bin Muhammad, al-Hafidz, yang banyak jujurnya, Abu al-Fadlal at-Tamimi al-Hamdzani. Syairawaih menyebutkan dalam Tarikhnya bahwa Ia termasuk ahli hadis, terpercaya, hafidz, dan agamis. Ia tidak takut celaan orang lain dalam agama Allah. Ia punya banyak karya kitab. Meninggal pada 384 H. Berdoa di kuburnya adalah mustajab” (Tadzkirah al-Huffadz : 3/985)
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
علي بن حُميد بن علي بن محمد بن حُميد بن خالد. أبو الحسن الذُّهلي، إمام جامع همذان ورُكن السنة بها. وتوفي في ثاني عشر جمادى الأولى، وقبره يزار ويُتبرك به
“Ali bin Humaid bin Ali bin Muhammad bin Humaid bin Khalid, Abu Hasan ad-Dahli, Imam di masjid Jami’ Hamdzan dan penopang sunah disana. Wafat pada 12 Jumada al-Ula. Makamnya diziarahi dan dicari berkahnya” (Tarikh al-Islam : 7/182)
Ibnu Hibban bercerita :
وَقَبْرُهُ بِسَنَا بَاذٍ خَارِجَ النَّوْقَانِ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ بِجَنْبِ قَبْرِ الرَّشِيْدِ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا كَثِيْرَةً وَمَا حَلَّتْ بِي شِدَّةٌ فِي وَقْتِ مَقَامِي بِطُوْسٍ فَزُرْتُ قَبْرَ عَلِى بْنِ مُوْسَى الرِّضَا صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى جَدِّهِ وَعَلَيْهِ وَدَعَوْتُ اللهَ إِزَالَتَهَا عَنَىَّ إلاَّ اسْتُجِيْبَ لِي وَزَالَتْ عَنِّى تِلْكَ الشِّدَّةُ وَهَذَا شَئٌ جَرَّبْتُهُ مِرَارًا فَوَجَدْتُهُ كَذَلِكَ أَمَاتَنَا اللهُ عَلَى مَحَبَّةِ الْمُصْطَفَى وَأَهْلِ بَيْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ أجْمَعِيْنَ
“Makam Ali bin Musa di Sanabadz sebelah luar Nauqan sudah masyhur dan diziarahi di dekat makam ar-Rasyid. Saya sudah sering berkali-kali. Saya tidak mengalami kesulitan ketika saya berada di Thus kemudian saya berziarah ke makam Ali bin Musa, semoga Salawat dari Allah dihaturkan kepada kakeknya (Nabi Muhammad) dan saya berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untuk saya dan kesulitan itu pun lenyap dari saya. Ini saya alami berkali-kali, dan saya temukan seperti itu. Semoga Allah mematikan kita untuk cinta kepada Nabi dan keluarganya Saw” (ats-Tsiqat, Ibnu Hibban : 8/457)
Ibnul Jauzi al-Hanbali mengatakan :
أحمد القزويني كان من الأولياء المحدثين، توفي في رمضان هذه السنة فشهده أمم لا تحصى، وقبره ظاهر يتبرك به في الطريق إلى معروف الكرخي
“Ahmad al-Quzwaini adalah sebagian dari wali yang ahli hadis. Meninggal di bulan Ramadlan, disaksikan oleh umat yang tak terhingga. Makamnya tampak nyata dan dicari berkahnya, di jalan menuju makam Ma’ruf al-Karakhi” (al-Muntadzam : 5/73
[)
Imam Asy-Syakhawi mengatakan :
عبد الملك بن عبد الحق بن هاشم الحربي المغربي كان صالحاً معتقداً يذكر أن أصله من الينبوع وأنه شريف حسني وقد ولي بمكة مشيخة رباط السيد حسن بن عجلان ومات بها في ليلة السبت ثامن شعبان سنة خمس وأربعين وبنى على رأس قبره نصب بل حوط نعشه وهو مما يزار ويتبرك به
“Abdul Malik bin Abdulhaq orang yang shaleh dan memiliki keyakinan. Ia berasal dari Yanbu’ dan ia adalah syarif dari keturunan Hasan, ia meninggal di Makkah pada tahun 40 H. Makamnya dibangun disisi kepada dan dikelilingi bangunan. ia termasuk yang diziarahi dan dicari berkahnya” (adl-Dlau’ al-Lami’ : 2/470)
Imam Ibnu al-Jazari mengatakan :
وَقَبْرُهُ (عَبْدُ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) بِهَيْتٍ مَعْرُوْفٌ يُزَارُ زُرْتُهُ وَتَبَرِّكْتُ بِهِ
“Makam Abdullah bin Mubarak di Hait sudah dikenal dan diziarahi. Saya menziarahinya dan saya bertabarruk dengannya ” (Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ : 1/198)
Beliau juga mengatakan :
وَدُفِنَ (قَاسِمُ بْنُ فَيْرَهْ) بِالْقَرَافَةِ بَيْنَ مِصْرَ وَالْقَاهِرَةِ بِمَقْبَرَةِ الْقَاضِي الْفَاضِلِ عَبْدِ الرَّحِيْمِ الْبَيْسَانِي وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ مَعْرُوْفٌ يُقصَدُ لِلزِّيَارَةِ وَقَدْ زُرْتُهُ مَرَّاتٍ وَعَرَضَ عَلَيَّ بَعْضُ أَصْحَابِي الشَّاطِبِيَّةِ عِنْدَ قَبْرِهِ وَرَأَيْتُ بَرَكَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ قَبْرِهِ بِالإجَابَةِ رَحِمَهُ اللهُ وَرَضِيَ عَنْهُ
“Qasim bin Fairah dimakamkan di Qarafah, antara Mesir dan Kairo di makam Qadli al-Fadlil Abdurrahim al-Baisani. Makamnya menjadi tujuan ziarah dan saya sudah berziarah berkali-kali. Sebagian pengikut Syatibiyah memperlihatkan kepada saya di dekat makamnya dan saya melihat berkah doa di makam itu terkabul” (Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ : 1/1285)
Dan masih banyak sekali fakta-fakta makam-makam para wali Allah dan shalihin yang makamnya banyak diziarahi dan banyak para ulama terdahulu ataupun belakangan yang berdoa di sisi makamnya dan bahkan bertabarruk dengannya. Maka pernyataan Ibnul Qayim di atas tidak bisa dipegang karena bertentangan (bercanggah) dengan fakta-fakta nyatanya.
Dan jelas kami punya segudang dalil dari para ulama selain dalil kisah tabarruk imam Syafi’i tersebut yang melagalkan tawassul dan tabarruk dengan orang-orang shalih yang sudah wafat, silakan Wahabi mau menolak atau tidak, yang pasti kami AhluSunnah adalah manhaj salaf yg asli akan ikut sebagaimana para ulama salaf melakukan tabarruk, bukan justru menuduh syirik, bidah, dan tuduhan lainya...
Sedangkan apa yg dikatakan Ustad Wahabi dibawah yang menukil serampangan Kalam imam Nawawi dalam mensyarah ucapan imam Syafii, terkait tidak disukainya kuburan dijadikan masjid, maka maksudnya bukan dalam hal menolak tabarruk, karena jelas imam Syafii pernah mengomentari perbuatan para ulama yg bertabarruk dimakam serang yg Sholeh, dan beliau imam asy-Syafi’i sendiri mengatakan :
قبر موسى الكاظم الترياق المجرب
“ Kuburan Musa al-Kadzhim adalah obat yang mujarrab “ (Tuhfah al-Alim : 2/22)
Bayangkan, jika imam Syafii melarang tabarruk tidak mungkin beliau berkata demikian ...
Perlu diketahui bahwa Larangan “membangun masjid di atas kubur” atau “larangan menjadikan kubur sebagai masjid” merupakan kalimat majaz (kiasan) yang maknanya adalah “larangan menjadikan kuburan sebagai kiblat” alias “larangan menyembah kuburan”.
Adapun umat Islam, maka tak pernah sekalipun ada sejarahnya umat Islam menyembah kubur. Umat Islam membina kubur hanya untuk memuliakan ahlul kubur (terlebih kubur orang yang sholeh), menjaga kubur daripada hilang terhapus zaman, dan memudahkan para peziarah untuk berziarah, dalam menemukan kubur di tengah-tengah ribuan kubur lainnya, juga sebagai tempat berteduh para peziarah agar dapat mengenang dan menghayati dengan tenang orang yang ada di dalam kubur beserta amal serta segala jasa dan kebaikannya.
Andaikata beribadah kepada Allah ta’ala disisi kuburan adalah hal yang terlarang maka sama saja mereka telah menghardik Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada beribadah kepada Allah ta’ala disisi kuburan untuk melakukan sholat bagi jenazah yang telah dikubur.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَاتَ إِنْسَانٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَمَاتَ بِاللَّيْلِ فَدَفَنُوهُ لَيْلًا فَلَمَّا أَصْبَحَ أَخْبَرُوهُ فَقَالَ مَا مَنَعَكُمْ أَنْ تُعْلِمُونِي قَالُوا كَانَ اللَّيْلُ فَكَرِهْنَا وَكَانَتْ ظُلْمَةٌ أَنْ نَشُقَّ عَلَيْكَ فَأَتَى قَبْرَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Bila ada orang yang meninggal dunia biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka Beliau bersabda: Mengapa kalian tidak memberi tahu aku? Mereka menjawab: Kejadiannya malam hari, kami khawatir memberatkan anda. Maka kemudian Beliau mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1170).
يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ عَامِرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرًا فَقَالُوا هَذَا دُفِنَ أَوْ دُفِنَتْ الْبَارِحَةَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَصَفَّنَا خَلْفَهُ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا
Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan. Mereka berkata; Ini dikebumikan kemarin. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: Maka Beliau membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1241)
Imam Ahmad semula mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’
قال الحافظ بعد تحريجه بسنده إلى البيهقى قال حدثنا أبو عبدالله الحافظ قال حدثنا ابو العباس بن يعقوب قال حدثنا العباس بن محمد قال سألت يحي بن معين عن القرأءة عند القبر فقال حدثنى مبشر بن أسماعيل الحلبي عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه قال لبنيه إذا أنا مت فضعونى فى قبرى وقولوا بسم الله وعلى سنه رسول الله وسنوا على التراب سنا ثم إقرأوا عند رأسى أول سوره البقرة وخاتمتها فإنى رأيت إبن عمر يستحب ذلك ,قال الحافظ بعد تخريجه هذا موقوف حسن أخريجه أبو بكر الخلال وأخريجه من رواية أبى موسى الحداد وكان صدوقا قال صلينا مع أحمد على جنازة فلما فرغ من ذفنه حبس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا قال له محمد بن قدامة يا أبا عبد الله ما تقول فى مبشر بن إسماعيل قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم قال إنه حدثنى عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرؤا عند قبره فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك قال فقال أحمد للرجل فليقرأ. اه
al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya dengan sanadnya kepada al-Baihaqi, ia berkata ; telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia berkata, telah menceritakan kepada kami al-‘Abbas bin Muhammad, ia berkata, aku bertanya kepada Yahya bin Mu’in tentang pembacaan al-Qur’an disamping qubur, maka ia berkata ; telah menceritakan kepadaku Mubasysyir bin Isma’il al-Halabi dari ‘Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berkata kepada putranya, apabila aku telah wafat, letakkanlah aku didalam kuburku, dan katakanlah oleh kalian “Bismillah wa ‘alaa Sunnati Rasulillah”, kemudian gusurkan tanah diatasku dengan perlahan, selanjutnya bacalah oleh kalian disini kepalaku awal surah al-Baqarah dan mengkhatamkannya, karena sesungguhnya aku melihat Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu. Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya, hadits ini mauquf yang hasan, Abu Bakar al-Khallal telah mentakhrijnya dan ia juga mentakhrijnya dari Abu Musa al-Haddad sedangkan ia orang yang sangat jujur. Ia berkata : kami shalat jenazah bersama bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamannya duduklah seorang laki-laki buta yang membaca al-Qur’an disamping qubur, maka Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping qubur adalah bid’ah”. Maka tatkala kami telah keluar, berkata Ibnu Qudamah kepada Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah, Ibnu Qudamah berkata : engkau menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad berkata : Iya. Ibnu Qudamah berkata : sesungguhnya ia telah menceritakan kepadaku dari Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan apabila dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya disamping kuburnya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki-laki itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.
Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhumaa memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman...
Dsini sudah kita ketahui bahwa apa yg mereka Wahabi sangka adalah tidak benar, pernyataan batil mereka pun jauh dari kata benar,noleh karenaya jika benar ikut manhaj salaf maka kita tidak akan menolak terkait tabarruk ini.. terlebih sampai menuduh kuburiyun, syirik, ahli bidah yg dianggap tempanya dineraja, nauzubillah...
Satu pesan saya jangan cela orang lain dengan tuduhan kuburiyun dan syirik..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).
Wallahu alam
Sumber FB : Aqidah Salaf