
TANGGAPAN ILMIAH ATAS KLAIM “IJMA’ ULAMA HANBALI MELARANG TABARRUK DAN RIWAYAT IMAM AHMAD ITU SYĀDZ”
Sebagian kalangan Wahhabi mengklaim bahwa para ulama besar madzhab Hanbali seperti Ibnu Qudāmah, al-Imam al-Mardāwī, dan al-Imam al-Hijāwī sepakat melarang tabarruk ke makam Nabi Saw dan orang-orang saleh. Dari sini mereka berani menyimpulkan adanya “ijma’ ulama Hanbali” atas pelarangan tabarruk, lalu menilai riwayat Imam Ahmad bin Hanbal yang membolehkan tabarruk sebagai riwayat syādz yang tidak bisa dijadikan hujjah. Klaim ini terlihat tegas, namun jika ditimbang dengan metodologi Ahlus Sunnah, justru runtuh dari sisi definisi, nukilan, dan kaidah.
Pertama, harus ditegaskan sejak awal bahwa klaim ijma’ Hanbali adalah klaim yang batil. Dalam ushul fiqh Ahlus Sunnah, ijma’ tidak sah hanya dengan menyebut beberapa nama ulama, apalagi jika di dalam madzhab itu sendiri terdapat riwayat yang sahih dan mu‘tabar yang menyelisihinya. Selama masih ada satu riwayat sah dari imam madzhab atau satu imam mu‘tabar yang menyelisihi, maka ijma’ gugur secara otomatis.
Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal yang membolehkan tabarruk datang dari murid terpercaya beliau, Abu Bakr al-Marrūdzī. Ia berkata:
«سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنِ التَّمَسُّحِ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ»
“Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang mengusap kubur Nabi Saw, maka beliau menjawab: tidak mengapa.”
Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Muflih al-Hanbali dalam Al-Furū‘. Ini adalah nash sharih dari Imam Ahmad, bukan qiyas, bukan ijtihad murid, dan bukan riwayat lemah. Dalam kaidah Ahlus Sunnah, riwayat sharih dari imam madzhab tidak boleh dibatalkan hanya karena tidak sesuai dengan selera manhaj muta’akhkhirin.
Kedua, mereka sering membawa nama Ibnu Qudāmah seolah-olah beliau melarang tabarruk. Ini adalah kekeliruan fatal. Ibnu Qudāmah justru berkata dengan sangat jelas dalam Al-Mughnī:
«وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَأْتِيَ قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ فَيَتَبَرَّكَ بِهِ»
“Disunnahkan mendatangi kubur Nabi Saw dan bertabarruk dengannya.”
Ini bukan teks yang samar. Ini penetapan hukum istihbāb. Jika Ibnu Qudāmah melarang tabarruk, mengapa beliau sendiri menuliskannya sebagai amalan sunnah? Yang beliau bahas di tempat lain hanyalah adab dan larangan ghuluw, bukan pengharaman tabarruk secara mutlak.
Ketiga, al-Imam al-Mardāwī, penulis Al-Inṣāf, sering disalahpahami. Al-Mardāwī adalah ulama tarjih yang mencatat perbedaan riwayat dalam madzhab Hanbali. Ketika beliau menyebut bahwa mengusap kubur tidak dianjurkan, itu berada dalam konteks adab ziarah dan kehati-hatian, bukan penetapan bahwa tabarruk itu haram atau bid‘ah. Dalam metodologi Hanbali, ini dikenal sebagai pembahasan kayfiyyah al-‘amal, bukan aṣl al-ḥukm.
Keempat, al-Imam al-Hijāwī, penulis Al-Iqnā‘, juga sering dipakai sebagai dalil pelarangan. Padahal al-Hijāwī hidup pada masa muta’akhkhir dan berbicara dalam kerangka sadd adz-dzarā’i‘, yaitu mencegah ghuluw dan kesalahpahaman orang awam. Pendapat ulama muta’akhkhir tidak bisa membatalkan riwayat sah dari Imam Ahmad, apalagi jika ulama besar sebelumnya seperti Ibnu Qudāmah telah memilih kebolehan tabarruk.
Kelima, klaim bahwa riwayat Imam Ahmad itu syādz adalah klaim yang tidak memenuhi definisi syādz dalam ilmu hadis. Syādz adalah riwayat tsiqah yang menyelisihi riwayat yang lebih kuat dan tidak diamalkan oleh para ulama. Dalam masalah tabarruk, justru riwayat kebolehan diamalkan oleh banyak ulama Ahlus Sunnah lintas madzhab. Maka penyematan label syādz di sini adalah penyalahgunaan istilah ilmiah.
Keenam, patut dipertanyakan: mengapa mereka tidak pernah menyebut Abu Bakr al-Khallāl? Padahal al-Khallāl adalah pengumpul utama madzhab Hanbali. Imam adz-Dzahabi berkata tentang beliau dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’:
«إِلَيْهِ اِنْتَهَتْ رِيَاسَةُ الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ»
“Kepadanyalah berakhir kepemimpinan madzhab Hanbali.”
Jika al-Khallāl dianggap tidak sah atau diabaikan, maka runtuhlah mayoritas khazanah madzhab Hanbali. Tidak dicantumkannya satu pendapat oleh al-Khallāl tidak berarti beliau menolaknya, karena kaidah madzhab menyatakan:
الْعَدَمُ لَا يَدُلُّ عَلَى الْعَدَمِ
(ketiadaan nukilan bukan bukti penolakan).
Ketujuh, ulama Ahlus Sunnah secara tegas membantah cara berpikir yang mengharamkan tabarruk secara mutlak. Imam Taqiyyuddin as-Subkī berkata dalam Syifā’ as-Siqām:
«وَقَدْ ثَبَتَ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ الصَّالِحِينَ، وَلَا يُنْكِرُ ذَلِكَ إِلَّا جَاهِلٌ أَوْ مُعَانِدٌ»
“Telah tetap kebolehan tabarruk dengan peninggalan orang-orang saleh, dan tidak mengingkarinya kecuali orang bodoh atau orang yang membangkang.”
Ini menunjukkan bahwa pengingkaran total terhadap tabarruk bukan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kesimpulan
Tidak ada ijma’ ulama Hanbali yang melarang tabarruk. Yang ada hanyalah perbedaan antara hukum asal tabarruk dan adab pelaksanaannya. Riwayat Imam Ahmad yang membolehkan tabarruk sah secara nukilan, diperkuat oleh murid beliau, dipilih oleh Ibnu Qudāmah, dan tidak dibatalkan oleh al-Mardāwī maupun al-Hijāwī. Menyebut riwayat ini sebagai syādz adalah kesalahan kaidah, kesalahan sejarah, dan kesalahan metodologi. Dalam Ahlus Sunnah, riwayat imam madzhab tidak dihapus hanya karena tidak sesuai dengan manhaj Najd belakangan. Salaf dipahami dengan amanah, bukan diseleksi dengan standar ideologis.
Silahkan kalian saksikan video beliau di link tiktok ini
https://vt.tiktok.com/ZSaNUGLQP/
Oleh : Kelvin Wahidiansyah
Semoga mencerahkan
Barokallahufikum...✍️✍️🙏
#kelvinwahidiansyah #tabarruk #aswaja #wahabi semua orang